Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 8》
Emily fokus dengan makanan tanpa menghiraukan suasana sekitar, ia terkagum karna hidangan yang di buat sangatlah lezat, bukan hanya itu tapi tampilan nya juga sangat cantik.
Hanya saja ia agak kecewa karna porsi hidangan yang sedikit, ini karna para pelayan sudah membagi porsinya pada sebuah piring, jadi para tamu hanya tinggal memakannya saja.
"Makanlah bagian ku" Emily terkejut karna Albert memberikan sepiring hidangan untuknya, di mata Emily pria itu terlihat sangat tampan.
Sebenarnya Albert sudah memperhatikan bagaimana dirinya ketika sedang makan di mansion, selalu menyantap banyak makanan.
Bibi Vei selalu memasak lebih karna takut ia tidak kenyang.
Sesi makan bersama ini akan segera menjadi sesi perbincangan ketika para orang tua sudah selesai menyantap hidangan, oh tentu saja sekarang waktunya..
Berbagai topik mulai di perbincangkan, mulai dari bisnis, investor, lalu masalah keluarga, topik terakhir itu selalu paling sensitif di antara yang lain.
"Saya dengar orang tua dari Nona Emily suka berjudi, sehingga kalian sudah pindah ke beberapa kontrakkan karna kehilangan rumah"
Emily menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum tersenyum dan mengangguk menyetujui pernyataan dari Ibu suaminya ini.
"Apa kau masih bekerja?" tanya wanita itu lagi padanya.
"Sekarang saya sudah tidak bekerja, karna Tuan Albert meminta saya untuk tetap tinggal di rumah"
Saat ini, untuk menyakinkan perkataannya, Emily menggandeng tangan Albert sambil tersenyum.
"Wah, berarti kau tidak membawa apapun saat masuk ke keluarga kami ya?"
Pertanyaan itu terlalu tajam, Emily dapat melihat bagaimana Albert menahan amarahnya, mungkin saja sebentar lagi ia akan segera meledak, namun dengan lembut Emily mulai menggenggam tangannya dan tersenyum, lalu ia menatap wajah wanita tadi.
"Ya, namun saya sudah memberikan hati dan seluruh jiwa saya untuk anak anda, bukankah ini cukup?" ucap Emily.
Keluarga lain yang hadir disana begitu kaget dengan ucapan Emily kali ini, mereka berfikir bagaimana bisa Albert membawa seorang menantu yang seperti itu.
Lagian seharusnya orang tua memeriksa latar belakang sebelum mereka menikah, namun justru sebaliknya, sehingga tidak dapat menyalahkan siapapun.
"Ya, saya juga tidak peduli, saya hanya butuh Emily bersama saya," ketegasan Albert membuat Ibunya terdiam.
Ayah Albert yang melihat pertengkaran keluarganya hanya diam, ia tak ingin ikut campur karna merasa bahwa itu adalah hak mereka untuk menikah.
Di tengah perbincangan itu, Daniel kembali menyalakan rokok, ia menghisapnya di dalam ruang makan tanpa ingin keluar dari sana.
Hal ini membuat Emily secara sadar dapat mencium bau asap, ia mencoba menahan rasa sesak di dada namun akhirnya terbatuk-batuk sehingga Albert meliriknya.
Dengan suaranya yang dingin, Albert berkata, "Daniel, sudah ku katakan pergilah keluar jika ingin merokok, aku tidak akan mengatakannya untuk kesekian kalinya lagi!"
Daniel yang mendapat perkataan itu tidak mengubris sama sekali, malahan ia makin menyesap puntung rokok di tangannya dan menghembuskannya ke arah Emily dengan sengaja.
Emily akhirnya berdiri dari kursi dan agak menjauh dari sana, ia benar tidak ingin merasakan serangan asma saat ini.
Albert yang melihat hal itu menatap salah satu pengawal yang berdiri tak jauh dari Daniel dan memerintahkan untuk mematikan rokok itu.
Pengawal itu segera berjalan ke arah Daniel lalu mengulurkan tangan untuk mengambil rokok darinya.
Tentu saja dalam keadaan ini Daniel tidak bisa untuk menolak karna perbedaan fisik yang jauh, pengawal itu jelas lebih tinggi dan berotot darinya.
Setelah adegan yang mencekam itu berakhir, Albert memanggil Emily untuk kembali duduk di sampingnya. "Kau tidak papa?" tanya Albert.
"Ya" jawabnya.
Emily belum lama tinggal bersama Albert, namun ia sudah mengerti bagaimana temperamen lelaki itu, dia amat pandai menggunakan kata-kata yang menakutkan lawan, juga memiliki tekanan untuk mendapat apa yang ia inginkan.
Begitu mereka selesai makan, kini semua pergi ke museum yang di buat khusus untuk keluarga mereka, di sana terdapat banyak barang antik, juga beberapa barang yang di beli dari pelelangan.
Lukisan, guci, patung, kalung, dan masih banyak hal lain. Mereka berbincang satu sama lain sembari mereka melihat seisi museum itu.
Awalnya Emily berjalan bersama Albert, namun lelaki itu meminta izin keluar untuk melakukan sesuatu.
"Jika kau bosan, ajaklah salah satu pelayan untuk mengantarkan mu berkeliling," Itulah pesan yang Albert katakan sebelum meninggalkan nya.
Emily hanya bisa patuh dan melakukan seperti yang ia perintahkan, ini juga karna ia tidak ingin berbicara dengan keluarga lain, ia malas untuk merangkai sebuah cerita, lebih baik ia berjalan-jalan saja.
Rumah itu begitu bagus dengan pemandangan yang indah, sepertinya setiap bulan ada jadwal pemotongan rumput, sehingga tanaman dan rumput di depan begitu rapih di pandang.
Kolam di tengah halaman itu juga menyala karna di pasangkan lampu, Emily merasa bagai melihat lukisan secara langsung.
Kehidupan nyatanya berbeda dengan apa yang ia dapatkan sekarang, setidaknya Emily sudah tidak merasakan kekurangan.
"Saya akan duduk di sini sebentar, anda bisa pergi meninggalkan saya," ucap Emily pada pelayan yang mengajaknya berkeliling, sekarang ia tengah duduk di depan kolam dan menatap ke arah bintang dan bulan yang bercahaya terang pada malam itu.
Tanpa ia sadari, Daniel sedang berjalan ke arahnya. "Apa Kakak ipar tidak ingin minum?"
Daniel membawa dua gelas anggur merah, ia menawarkan satu pada Emily namun dengan lembut Emily menolaknya. "Tidak perlu," ucap Emily.
Daniel tentu tidak bisa memaksakan kehendaknya, ia memilih duduk di samping gadis itu dan menyesap salah satu gelas tadi.
Emily mulai duduk menjauh, ia tidak bisa melupakan bahwa orang di hadapannya ini baru saja memulai pertengkaran dengan suaminya.
Ia harus hati-hati dengan niat tersembunyi yang mungkin pria itu bawa.
"Mengapa kau menikahi nya?" tanya Daniel, ia membuka topik pembicaraan terlebih dahulu.
"Ha? Mengapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja karna kami saling mencintai"
Mendengar jawaban Emily, ia tertawa terbahak-bahak, Albert yang ia kenal adalah seseorang yang licik, bahkan seluruh pegawai yang bekerja di rumah ini di berikan gaji tambahan olehnya tanpa sepengetahuan kakeknya.
Ia mengontrol setiap tindakan yang terjadi di rumah ketika ia tidak ada disana, begitu juga dengan seluruh perusahaan yang ia kelola, tepat dalam genggamannya.
Sembari memikirkan semua itu, Daniel menolehkan pandangan dan melihat wajah Emily.
'Ia cukup cantik,' pikirnya dalam hati.
Mungkin karna cahaya bulan yang memantul pada wajah Emily, ia jadi sedikit terpesona, ia menahan pandangannya dan bertanya, "Menurutku kalian hanya menikah karna sebuah kesepakatan, mana mungkin seseorang yang tidak pernah menjalin hubungan, secara mendadak mengumumkan pernikahannya"
Emily tidak peduli dengan hal itu, ia harus tetap kokoh agar tidak membocorkan rahasia kontrak mereka.
"Terserah anda saja, saya permisi duluan," Emily hendak berdiri namun tangannya di cekal oleh Daniel.