Suyitno merubah namanya menjadi Alex, semua bermula dari ketidak sengajaan yang terjadi disebuah persimpangan jalan.
Seiring berjalannya waktu Suyitno menemukan jati dirinya yang sebenarnya, rahasia yang tidak pernah dia ketahui sepanjang umurnya. Bahkan ibunya yang selalu menutup cerita darinya tentang masa lalu yang terjadi sehingga dirinya hadir di dunia ini.
"Kamu bukan orang lain untuk diriku, tapi ada hubungan darah yang lebih dari itu" kata tuan Ali suatu hari pada Alex.
"Ibu bukannya tidak mau bercerita yang sebenarnya, tapi ada hal yang harus ibu lakukan untuk melindungi dirimu" ucapan ibu Suyitno semakin membuat Suyitno penasaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Mungkinkah Suyitno adalah takdir dan karma lain dari kehidupan dimasa lalu, mampukah Suyitno menerima segala hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya?
Lalu ke mana cintanya akan berlabuh setelah semua terbuka dan mengetahui siapa dirinya ?
"Cinta tidak memandang dari apa yang ada, tapi lebih dari sebuah rasa untuk selalu ada bagaimana pun keadaanya."
Siapa yang berkata demikian saat Suyitno tidak mempercayai cintanya?
Mirna, Meilan atau mungkin mis Lina?
Waktu memang membuat rahasianya sendiri untuk kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tergoda 3
Aku pun memutuskan langsung pulang dengan perasaan yang setengah kecewa dan tak jadi membeli gorengan buat ibu .
Aku kecewa dengan statusku dan pandangan orang yang merendahkan kehidupanku.
Tapi aku juga kecewa dengan perasaanku sendiri yang ...
entahlah ,terasa sesak dada ini dan seperti ada yang mencubit - cubit mengingat lamaran haji Roni meskipun tentu saja itu bukan acara lamaran .
**********
Berhari - hari Suyitno memikirkan banyak hal ,sehingga lebih banyak melamun .
Seperti siang ini ,dia masih saja duduk - duduk dibale bambu teras depan rumahnya .
Ibunya sudah mengajaknya ke kebun pagi tadi tapi Suyitno tidak menyahut cuma melihat dan mengangguk saja .
Dengan menggeleng pelan dan mengusap rambut kepala Suyitno ibunya pamit .
" ibu berangkat ,kamu kalo ndhak mau ikut dirumah saja "
" jangan kemana - mana ,kalau lapar sudah ada makanan dimeja dapur "
Ibunya bergegas pergi tanpa memaksa lagi ,tentu dia maklum karena semalam anaknya sudah cerita tentang percakapan yang didengarnya secara tak sengaja diwarung kemaren .
" sabar ya le ... tidak semua orang menilai diri kita dari apa yang kita punya "
" meskipun tak menampik bahwa lebih banyak orang yang bersikap demikian "
" kamu harus tetap yakin dan jadi diri sendiri"
" aku mau merantau saja Bu ,sapa tahu aku bisa menjadi orang kaya dengan kerja dikota "
Suyitno mengutarakan maksudnya untuk pergi merantau ,tapi sepertinya ibunya tidak memberi ijin .
Ibunya memang tidak menjawab ' tidak ' tapi dari perkataanya menyiratkan keberatan akan niat anaknya .
" kota tak selalu menjanjikan masa depan yang cerah le... "
" kadang kota malah lebih kejam memperlakukan dirimu "
Perkataan ibunya terdengar pilu ,ada getar kesedihan yang tertahan dari setiap kata yang keluar dari nada bicaranya .
Suyitno tak paham kenapa ,pun tak bisa memprediksi dengan exspresi wajah ibunya karena malam itu mereka bicar tak saling berhadapan .
Dengan langkah sedikit tergesa sorenya Suyitno berjalan kearah kebun ,menyusul ibunya yang belum juga pulang .
Ini bukan waktu tanam ataupun panen ,ibunya hanya pergi untuk menyiangi rumput - rumput yang mungkin menganggu tanaman sayurnya .
Tapi kenapa sampai sore ibunya tak kunjung balik???
Belum juga sampai di kebun Suyitno seperti mendengar suara orang yang berdebat dan ...
" harusnya kamu kenalkan Suyitno dengan keluarga bapaknya biar dirawat dan dapat pendidikan "
" apa kamu gak ada niat untuk itu Sri ??? "
" kasian dia ,harusnya hidupnya lebih baik gak hanya jadi pemuda kampung macam sekarang "
Suara orang yang bicara itu ... pak RT ,Suyitno melotot kaget dan ibunya yang diam menunduk .
Tunggu ... ibunya tidak diam tapi menangis .
Ibunya menangis, terlihat dari guncangan bahu ibunya meskipun tanpa suara .
Bertambah bingung dirinya saat pak RT melanjutkan kata - katanya .
" tidak semua hal terjadi seperti apa yang kamu pikirkan "
" kamu juga harus memikirkan masa depannya "
" keegoisan mu mengikatnya "
Setelah kalimat terakhir pak RT berlalu dan tampak kaget menyadari sosok yang mereka bicarakan hadir dengan sedikit bingung dengan yang dia dengar .
Dengan berdehem menetralkan dirinya yang terkejut pak RT berlalu tanpa kata ,melewati Suyitno yang membuka mulut hampir bertanya tapi tak juga bersuara .
Masih menunggu ibunya meredakan tangis ,Suyitno sibuk dengan pikirannya .
Banyak hal yang ingin dia tanyakan .
Mungkin nanti setelah sampai dirumah ibunya bersedia cerita tanpa dia tanya .
Malam semakin beranjak ,tapi ibunya tetap diam seperti menghindar dari Suyitno .
Ada saja yang dikerjakan hanya untuk sekedar menghindari pertanyaan anaknya .
Membersihkan alat - alat makan dan perlengkapan dapur dengan pelan ,agar memakan waktu .
Setelahnya mengambil cucian kering untuk dilipat dikamar ,dan akhirnya malam benar - benar telah larut .
Sebelum ibunya benar - tertidur ,Suyitno menghampiri ibunya dan berkata lirih diambang pintu kamar .
" Bu .... aku tahu ibu belum siap cerita "
" tak apa ,aku pun tak akan maksa dan berusaha mencari tahu "
" mungkin menurut ibu aku memang lebih baik tidak tahu apa - apa "
Suyitno berlalu dan masuk kamarnya sendiri ,merebahkan badan diranjang tua yang berdecit dan menatap langit - langit kamar .
Menghitung bambu penyangga genteng atap rumah ,menghalau gelisah yang terus merasuki kepalanya .
Sesekali terdengar tarikan nafas panjang karena banyaknya tanya yang tak menemukan jawaban.
Malam itu matanya terus terjaga dalam gelisah, tak terpejam sama sekali .
30-10-2023 | 14.40