Kemuning seorang gadis kecil murid sekolah dasar di desa yang cukup makmur. Dia diasuh oleh kakek dan neneknya.
sehari-hari dia sering dibully oleh teman-temannya di sekolah karena lahir tanpa ayah dan ibunya adalah bekerja sebagai TKW di Korea Selatan.
Ibunya pulang dalam keadaan hamil tanpa suami. Setelah melahirkan beberapa bulan kemudian ibunya kembali bekerja di Korea dan sejak saat itu Kemuning tumbuh besar dalam pengasuhan kakek dan neneknya.
Bagaimana Kemuning menghadapi bullian dari teman-temannya? Bagaimana nasib Kemuning di masa depan dengan labelnya sebagai anak Haram?
ikuti keseruan kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Soehardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8. Bi Inah punya motor baru
Bude Tinah membawa lauk makan siang mereka untuk cucunya. Terpaksa nenek harus masak lagi untuk makan malam.
“Nek nanti malam Kemuning mau makan sama lele goreng.”
“Iya nanti biar kakek mancing lele buat makan malam.” Kata nenek.
“Kemuning boleh main sama Fajar nek?”
“Boleh tapi sebelum ashar harus sudah pulang ya.”
“Iya nek,” jawab Kemuning sambil bergegas ke rumah Fajar.
Dirumah Fajar ternyata dia sedang membantu ibunya menjemur baju yang sudah dicuci ibunya.
“Jar kamu ga main?” Tanya Kemuning.
“Bagaimana kalau kita ke sawah cari rumput krokot?”
“Baiklah sebentar aku bawa rinjeng kecil. (wadah berbentuk ember terbuat dari anyaman bambu)
Di pedesaan rumput itu tumbuh liar bercita rasa agak pahit textur agak liat sangat disukai warga setempat. Dikota banyak yang mengkonsumsinya untuk obat herbal karena khasiatnya menyembuhkan penyakit kronis tapi di desa warga mengkonsumsinya sebagai sayuran pendamping.
Fajar dan Kemuning berjalan di pematang sawah. Di pinggiran petak sawah yang belum disiangi banyak tumbuh rumput. Rumput yang tidak memiliki faedah dibuang tetapi rumput yang bisa dimakan dikumpulkan untuk di olah menjadi makanan.
Akhirnya Fajar dan Kemuning berhasil mengumpulkan rumput krokot serinjing kecil. Mereka pulang bersama-sama dengan kakek.
“Kek nanti malam Kemuning mau makan sama lele. Kakek pulang dari sawah mancing dulu ya.”
“Iya nanti kakek pancing kan ikan lele peliharaan kakek.” Jawab kakek sambil memanggul cangkulnya.
Mereka memberikan rumput krokot itu kepada nenek yang segera membersihkannya dan merebusnya nenek minta tolong kakek mengambilkan kelapa yang tidak terlalu tua untuk dibuat urap.
Kakek memetik kelapa yang tumbuh di halaman belakang rumahnya lalu diberikan kepada nenek sudah dalam bentuk kupasan.
Nenek memasak urap sayur dari rumput dan lele goreng. Diberikannya urap sayur dan gorengan lele untuk keluarga Fajar.
Sore itu lek Agus datang dan menanyakan kepada Kemuning apakah dia sudah membuat video dan foto hari ini. Kemuning menyerahkan handphonenya kepada lek Agus yang mengedit video nya dan menguploadnya di akun biru Kemuning supaya ibunya yang bekerja di luar negeri tahu bagaimana kehidupan putrinya di desa. Selain itu Kemuning dapat penghasilan dari konten-kontennya yang diatur lek Agus.
Fajar pulang membawa urap rumput krokot dan lele goreng.
“Ini dari neneknya Kemuning bu, krokotnya tadi Fajar mencarinya bersama Kemuning.”
“Iya terimakasih nak. Sebentar lagi kamu sudah tidak perlu lagi susah payah mencari makanan di sawah dan di hutan. Ibu akan bekerja kembali di pabrik. Kau tidak apa-apa kan di rumah sendiri?”
“Bagaimana dengan adik Bu?
“Nanti ibu akan mencari orang untuk menjaga adik.”
Keesokan harinya ibunya Fajar mulai mengurus pencairan dana pensiun dari perusahaan dan setelah menandatangani tangani sejumlah berkas maka tinggal menunggu saja nanti otomatis akan ditransfer ke rekening ibunya Fajar.
“Inah kowe mulai mlebu kerjo Senin wae yo.” (Inah kamu mulai masuk kerja hari Senin ya).
“Enggih pak. Maturnuwun.” (Iya pak terima kasih)
Setelah urusan dengan perusahaan selesai janda beranak dua itu mengurus haknya di kantor BPJS ketenagakerjaan dan setelah menandatangani tangani sejumlah dokumen dia pulang.
Inah merasa lega akhirnya dia mendapatkan haknya untuk pendidikan anaknya pun sudah mendapatkan beasiswa dari BPJS ketenagakerjaan hingga jenjang S1.
Sebelum pulang dia mampir membeli fried chicken kesukaan anaknya. Dia mampir ke rumah adiknya untuk mengembalikan motor yang dipinjamnya.
“Bagaimana urusannya mbak apa semua sudah beres?”
“Iya Nar alhamdulilah semua beres dan aku akan mulai bekerja secepatnya. Aku akan minta adiknya Surti untuk menjaga anakku apa bisa?”
“Sur…Surti” panggil Narti kepada pembantunya yang tergopoh-gopoh keluar dari dapur.
“Ada apa bu?” Tanya Surti
“Adikmu wes oleh gawean rung?”(Adikmu sudah dapat pekerjaan belum?”
“Dereng (belum)”
“Sur aku butuh orang untuk menjaga gendis kalau nanti aku mulai masuk kerja, kira-kira adikmu bisa gak kerja dirumahku? Sabtu Minggu libur. Masuk hari Senin sama Jum'at saja.
“Enggih bu mangke kulo sampek ne.” (Iya Bu nanti saya sampaikan).
“Alhamdulillah mbak semua lancar urusannya. Kalau kamu kerja aku bantu sesekali menengok anakmu yang dirumah. Nunggu kamu disini juga nggak apa-apa. Toh Surti sama adiknya bersaudara momong disini sambil ngobrol sama kakaknya.”
“Iya Nar makasih banyak atas bantuanmu. Beberapa kali pinjam motor mu buat wira wiri. Nanti kalau sudah cair aku bakal beli sendiri.”
“Selama belum cair dan masih butuh nggak apa-apa kamu pakai dulu mbak toh aku juga nggak pernah kemana-mana. Tadinya aku mau ngajari kamu bisnis online tapi hp mu rusak. Jangan lupa beli hp baru mbak.”
“Iya Nar itu sudah pasti. Aku tidak keberatan kamu ajari bisnis online walaupun kerja di pabrik.”
“Iya gampang itu. Pokoknya selesaikan urusanmu dulu.”
“Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu Nar. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam hati-hati mbak.”
Hari berganti hari,hari Jum'at siang Inah meminta tolong adiknya untuk mengantarkan ke ATM untuk mengecek apakah dana pensiun suaminya almarhum sudah masuk ke rekeningnya atau belum. Gendis dia tinggal bersama dengan ART adiknya
Inah setengah berteriak “Alhamdulillah ya Allah” sambil mengamati jumlah saldonya yang diluar expektasinya.
Inah mengambil secukupnya untuk kebutuhan dapur dan mengajak adiknya ke dealer motor hari itu juga dia akan membeli motor baru untuk dipakai bekerja hari Senin.
Dia membeli Yamaha fazzio warna biru muda yang sesuai dengan impiannya selama ini secara tunai.
“Langsung kamu naiki saja mbak.” Kata Narti sambil menstarter motornya sendiri.
“Iya Nar dengan senang hati aku akan membawanya pulang. Tapi kita nanti melewati rumah mertuaku ya.” Ujarnya sakit hatinya terhadap mertuanya membuatnya ingin jahil sesekali.
“Siiip….let’s goo…” balas Narti.
Mereka mengendarai motor sendiri-sendiri. Motor Inah yang masih kinclong membuat warga desa menoleh ke arahnya si janda miskin tiba-tiba kaya dan memiliki motor sendiri?.
Sesampainya di rumah Narti Inah berbisik “kalau mertuaku mulai mempertanyakan motorku aku akan bilang kalau kau yang membantu kredit motorku ya. Kalau dia tahu aku beli motor pakai uang pesangon anaknya pasti nanti dirampas. Surat-surat motorku tolong kamu bawa dulu sampai keadaan aman baru ku ambil.”
“Iya tidak apa-apa. Disimpan dirumahku lebih aman.” Jawab Narti.
Dugaanya benar, siang itu sebelum Fajar pulang sekolah ibu mertuanya datang sambil menggedor-gedor pintunya.
“Ada apa bu datang ke rumah orang kayak rentenir nagih hutang saja.” ketus Inah yang sangat lelah dengan sikapnya selama dia jadi menantunya.
“Kurang ajar kamu ya tidak punya sopan santun sama mertua.”
“Mertua dari Hongkong. Wong anakmu sudah meninggal kok, berarti ya sudah bukan mertua lagi tapi mantan mertua.”
“Dapat uang darimana kamu beli motor baru apa masih ada tabungannya anakku yang kamu sembunyikan?”
“Enak saja, saya beli motor ini kredit dibantu Narti adik saya. Tidak ada hubungannya dengan anakmu.”
“Kalau begitu biar motornya dipakai adikmu saja kamu toh dirumah saja tidak kemana-mana. Kalau pergi paling juga ke pasar bisa jalan kaki wong dekat.”
“Mulai hari Senin saya sudah bekerja lagi di pabrik makanya saya beli motor. Maaf kalau anakmu butuh motor suruh beli sendiri, jangan merampok motor orang.”
“Kamu sekarang makin kurang ajar ya. Kamu itu harus menghormati mertuamu dan dengan saudara iparmu tidak boleh hitung-hitungan.”
“Suamiku sudah meninggal dunia, sampeyan bukan mertuaku lagi dan adik almarhum suamiku bukan iparku lagi. Silahkan pergi bu jangan ganggu hidupku lagi. Kalau nekat merampas motorku terpaksa akan saya laporkan ke polisi.” Ancam Inah yang sudah muak dengan keserakahan mantan mertuanya.