PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amukan Kuda Betina Liar
“Aduh!!”
Giri memekik kesakitan ketika tulang keringnya terkena tendangan maut dari Aiza. Semua yang ada di dalam ruangan hanya terbengong saja melihat sikap bar-bar Aiza. Daren yang sudah tahu watak keturunan Fahri dan Putri seperti apa, hanya menatapnya santai. Dia juga melarang anak buahnya yang lain untuk ikut campur. Mereka hanya diminta menjadi penonton saja. Melihat pertunjukkan kuda liar betina mengamuk.
“Eh lo siapa sih? Bar-bar banget jadi cewek! Kita ngga kenal ya, dan gue ngga pernah ganggu hidup lo!” seru Giri seraya menunjuk wajah Aiza.
Aiza menangkap jari telunjuk Giri yang mengarah ke wajahnya. Dia memelintir jari pria itu sampai terdengar pekikannya lagi barulah Aiza melepaskannya. Mata Giri semakin nyalang melihat pada Aiza.
“Elo orang yang udah nyabotase laptop gue kan?!” seru Aiza sambil melotot pada Giri. Tentu saja Giri terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Aiza berhasil mengetahui perbuatannya.
“Kenapa diam? Lo pikir gue bego sampai ngga tahu kalau elo yang ada di belakang semua kejadian sial yang nimpa gue?”
“Jangan asal nuduh ya!”
“Udah salah, masih ngelak aja. Pake songong lagi!”
Dengan kesal Aiza menoyor kepala Giri beberapa kali. Kalau saja pria itu mau mengakui dan meminta maaf, mungkin dirinya tidak akan sekesal ini. Tapi sikap Giri membuatnya semakin ini menyiksa dan mempermalukannya.
Kesal terus dipermalukan oleh Aiza, Giri menarik tangan Aiza kemudian mencekalnya. Namun dengan cepat Aiza menarik tangannya hingga tubuh Giri mengarah padanya. Lalu dengan kekuatan bahunya dia membanting pria itu ke lantai.
“Aaarrggghhh..” Giri berteriak kesakitan.
“Akui kesalahan lo. Dan bilang sama Maya, kalau dia berani, hadapi gue langsung! Ngga usah pake cara pengecut kaya gini. Eh ngga usah.. biar gue sendiri yang ngurus cewek lo! Dasar cowok ngga guna, ngga ada harga dirinya. Mau aja diperalat ama cewek!”
Aiza menendang bokong Giri yang masih terbaring di lantai. Seluruh anggota tim IT yang semuanya berjenis kelamin laki-laki hanya bisa menahan nafas sambil meringis melihat rekan kerjanya mendapat kekerasan fisik dari Aiza. Pegawai baru yang cantik namun ternyata buas seperti macan betina.
“Bang Daren.. aku serahin nih si ikan teri sama abang. Terserah mau diapain juga. Digantung di tiang bendera juga ngga apa-apa. Atau minta aja ide sama bang Bibie, bagusnya diapain nih orang.”
Setelah mengatakan itu, Aiza segera keluar dari ruangan. Dia bergegas kembali ke ruang kerjanya. Rasanya sudah tidak sabar untuk memberi pembalasan pada Maya. Sesampainya di dalam ruangan, tanpa basa-basi, Aiza langsung menarik tangan Maya dan menyeretnya masuk ke dalam ruangan Haris. Tentu saja pria itu terkejut dengan kedatangan Aiza yang tiba-tiba.
“Aiza! Ada apa ini?” tanya Haris dengan nada kesal.
“Maaf, pak. Saya cuma mau meluruskan dan meminta keadilan. Seperti yang bapak bilang, kalau pekerjaan saya tidak ada yang benar. Sekarang saya bawa biang keroknya. Dia yang udah bikin kerjaan saya jadi kacau.”
Aiza mendorong tubuh Maya hingga ke depan meja Haris. Semua karyawan yang ada di divisi promosi langsung berkumpul di depan ruangan Haris. Mata Haris menatap tajam pada Aiza. Dia berdiri kemudian membantu Maya yang tengah menangis. Aiza hanya berdecih saja melihat sikap Maya yang bermain sebagai korban.
“Aiza, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu kasar seperti ini? Maya itu rekan kerjamu!”
“Harusnya bapak bilang itu sama Maya, bukan saya! Dia yang cari gara-gara duluan. Dia yang udah sabotase hasil kerja saya!”
“Bohong, pak. Itu fitnah, saya ngga tahu apa yang dia bilang,” jawab Maya dengan wajah memelas.
“Kamu jangan asal nuduh. Setelah melakukan kesalahan, kamu melemparkan kesalahan pada orang lain. Kamu pikir saya tidak bisa pecat kamu, hah?” berang Haris.
“Pecat aja! Bapak pikir saya takut dipecat? Tapi sebelum dipecat, saya minta keadilan! Saya korban di sini, dan dia pelakunya! Saya tidak terima kalau saya dipecat tapi dia ngga kasih sanksi apa-apa!” telunjuk Aiza menunjuk pada Maya.
“Aiza, kamu kenapa? Saya punya salah apa sama kamu? Kalau saya pernah nyinggung kamu, saya minta maaf.”
Aiza berjalan mendekati Maya. Refleks gadis itu beringsut mundur dan bersembunyi di belakang punggung Haris.
“Saya kasih kamu satu kesempatan. Katakan siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Kalau kamu mengatakannya, aku akan melepaskanmu!” seru Aiza.
“Aiza! Jangan kurang ajar kamu!” hardik Haris.
“Bapak sebagai pimpinan harusnya bisa bersikap bijak. Harusnya bapak netral dan tidak memihak. Tapi sikap bapak ini menunjukkan kalau bapak malah melindunginya.”
“Harusnya kamu bercermin. Dengan sikapmu yang seperti ini, apa pantas kamu mendapatkan pembelaan dari saya?”
“Kadang yang terlihat buruk, belum tentu buruk. Dan yang terlihat baik itu baik.”
Setelah mengatakan itu Aiza segera keluar dari ruangan. Sebenarnya dia ingin menyelesaikan masalah ini hingga tuntas. Tapi melihat sikap Haris yang sedari awal selalu memojokkannya dan sekarang begitu membela Maya, membuatnya muak. Dia memilih untuk pulang saja. Gadis itu segera membereskan barang-barangnya, kemudian keluar dari ruangan.
Zain keluar dari lift. Mendengar yang terjadi di divisi IT dan promosi, Irzal memerintahkan sekretarisnya itu untuk memanggil Aiza, Giri, Daren, Maya dan Haris ke ruangannya. Sebagai pimpinan, dia harus turun langsung membereskan permasalahan ini.
“Aiza.. kamu diminta ke ruangan pak Irzal.”
“Iya,” jawab Aiza pelan. Dia segera masuk ke dalam lift.
Sepeninggal Aiza, Zain segera masuk ke ruang divisi promosi. Dia memanggil Haris dan Maya untuk mengikutinya ke ruangan Irzal. Haris cukup permasalahan ini ternyata sudah sampai ke telinga sang pimpinan. Sambil menenangkan Maya, Haris mengajak gadis itu menuju ruangan Irzal.
Ketika Haris dan Maya masuk ke dalam ruangan, di sana sudah ada Aiza, Daren dan Giri. Maya terkejut melihat temannya ternyata juga ikut dipanggil. Hatinya langsung was-was, sepertinya apa yang dilakukannya sudah terbongkar. Dengan isyarat mata Irzal meminta Haris dan Maya untuk duduk.
“Bisa kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Irzal.
“Maaf, pak. Saya juga tidak tahu ada apa-apa. Tiba-tiba Aiza datang ke ruangan saya sambil membawa Maya. Dia menuduh Maya sudah menyabotase pekerjaannya.”
Ketika mengatakan itu, Haris melihat pada Aiza. Gadis itu hanya diam saja sambil melipat kedua tangannya. pandangannya tertuju ke arah lain. Malas rasanya melihat pada Maya, Giri atau pun Haris.
“Saya beri kesempatan pada Maya dan Giri untuk mengakui perbuatannya,” ujar Irzal lagi.
“Maaf pak, saya benar-benar tidak mengerti,” jawab Giri.
“Pikirkan baik-baik apa yang akan kalian katakan. Kalau kalian pikir saya tidak tahu apa-apa, kalian salah besar! sebelum kesabaran saya habis, cepat katakan!”
Mendengar nada suara Irzal yang sudah meninggi dilengkapi dengan wajahnya yang mengeras, nyali Giri menciut juga. Akhirnya dia mengakui perbuatannya. Karena Giri sudah mengakuinya, Maya pun tak kuasa mengelak. Kepala gadis itu tertunduk ketika Haris melihatnya dengan tatapan kecewa. Ternyata dia sudah membela orang yang salah.
“Siapa yang sudah menyuruhmu?” tanya Irzal seraya menatap tajam Giri dan Maya.
🍄🍄🍄
Besok aku libur ya🤗