➦➣ISTRI RASA DEPKOLEKTOR 2↻
☔︎︎_FAV, LIKE, COMMENT_☔︎︎
🧨NO BOOM LIKE!🗡
Mencintaimu adalah kebahagiaan sederhana, tetapi memilikimu tuk jadi duniaku. ~Reyhan Aditya.
Rasa ini seperti baru bagiku, rindu yang membelenggu tak tau tuk siapa. Dia atau seseorang yang tak mampu ku ingat. ~ Asma.
Kamu hanya milikku, tataplah disisiku hingga akhir napasku. ~ Kendrick Al Zafran.
Antara rindu dan belenggu dalam cinta semu, kisah lalu merajut asa dalam penantian—perjuangan sang suami menyadarkan rembulan malamnya.
Bak kupu-kupu tak menemukan jalan pulang, langkahnya tertatih mengharapkan dekapan hangat sang kekasih halal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IDR 8#Bebas sebatas Kata, Sama-sama Dingin
Pertanyaan nona muda membuat Pak Supir menganggukkan kepala seraya menjelaskan bahwa disekitar tempat mereka berada memiliki beberapa cafe epik yang bisa dijadikan tempat untuk menunggu. Setelah mendengar tiga cafe pertama, sang nona memilih cafe kedua sebagai tujuan menikmati waktu penantian.
Bagaimana tidak? Meski dibiarkan seorang diri, ia tetap harus menunggu prianya untuk bepergian. Padahal hanya ingin jalan-jalan tapi berakhir kesendirian. Jika dibilang sendiri, tidak juga karena beberapa bodyguard dengan sigap berkeliaran di sekitarnya.
Namun jarak yang menjadi syaratnya sedikit memberikan kebebasan. Heran sendiri dengan sikap sang suami. Kenapa harus memberi keamanan sampai segitunya? Ya meski menjadi istri orang berada. Apa harus melakukan semua itu?
"Permisi, ini pesanannya." Pelayan meletakkan cup cappucino rasa alpukat ke atas meja. "Nona tidak mau pesan camilan atau kue? Disini cake coklat melting menjadi favorit, loh."
"Terima kasih, tapi ini sudah cukup." jawab gadis itu tersenyum manis tanpa ingin memperpanjang obrolan.
Pelayan mengangguk lalu pergi meninggalkan pelanggannya. Sementara sang pelanggan mengambil ponsel dari atas meja. Kemudian memotret cup coffee yang sengaja dilakukan untuk dikirim sebagai bukti keberadaannya. Jika dipikirkan hidup berubah menjadi sangkar meski ia berharap memiliki kebebasan mengepakkan sayap.
Setelah mengirim gambar ke nomor suaminya. Barulah ia menikmati waktu menyeruput minuman dingin yang bisa mengalihkan perhatiannya. Niat hati hanya ingin duduk dan bersantai tetapi pikirannya justru entah kemana. Hati terasa kosong.
Apa yang terjadi? Kehidupan dikelilingi orang-orang yang menyayangi bahkan semua kebutuhan tercukupi tanpa harus meminta. Ketika semua jelas sempurna, lalu rasa gelisah yang semakin menyerang pikirannya berasal dari mana? Seolah-olah semua miliknya hanyalah kepalsuan.
"Apa yang harus ku lakukan? Jika ingin mendapatkan ingatan, bisakah melihat pemandangan sekitar tanpa harus diikuti bodyguard. Bagaimana caraku pergi dari sini?" gumamnya memikirkan sesuatu yang dirasa perlu dilakukan tanpa harus berpikir ulang.
Berpura-pura sibuk memainkan sedotan di atas cup. Lirikan mata memperhatikan setiap pergerakan para bodyguard yang terbagi menjadi dua bagian. Team pertama yang hanya dua orang ikut masuk ke dalam cafe menjadi pelanggan, lalu team dua dengan jumlah lima orang terlihat berdiri di depan pintu.
Meski mereka terlihat seperti orang awam. Kenyataannya adalah setiap bodyguard memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi. Hal itu terbukti ketika tadi saat keluar dari mobil ia hampir saja membentur pintu mobil. Akan tetapi tiba-tiba seorang bodyguard langsung menghalangi pintu dengan tangan.
Untuk mengecoh orang yang waspada tentu sulit hanya saja ia ingin bepergian tanpa harus diawasi. Apalagi diikuti seperti orang penting. Bukankah suaminya yang anak konglomerat, lalu kenapa justru ia yang mendapatkan pengawalan ketat? Aneh meski sang suami menjelaskan tentang kekhawatiran hati akan kondisinya saat ini.
Tangan melambai pada seorang pelayan yang kebetulan berada di depan mata, "Mba, mau tanya apa ada ruang baca? Pak sopir mengatakan disini tersedia ruangan khusus bagi para pelanggan yang suka baca."
"Non mau baca, ya. Kalau gitu mari saya antar ke tempatnya." Pelayan itu mengulurkan tangan mempersilahkan sang pelanggan untuk mengikutinya.
Setiap pergerakannya menjadi perubahan suasana. Kemanapun langkah kaki melangkah pasti diawasi. Akan tetapi ketika melihatnya masuk ke ruangan bertulisan library. Bodyguard yang berada di dalam cafe kembali duduk ke tempat semula. Seketika ia bernapas lega.
Pintu ruangan terbuka bersambut ruangan luas dengan beberapa rak di penuhi buku. Pelayan mempersilahkan masuk meski di dalam hanya ia seorang. Suasana jauh lebih baik ketika tempat yang ia pikir tidak memiliki kebebasan. Justru memberikan kenyamanan.
Niat hati ingin kabur tapi setelah berpikir ulang. Maka lebih baik mencari buku bacaan yang bisa menjadi teman penantian. Deretan novel berbagai genre mengalihkan seluruh rasa di hati. Dilihatnya satu per satu judul hingga menemukan tiga judul yang menarik.
Lalu memilih tempat duduk dekat jendela yang ternyata bersebelahan dengan lapangan mini perumahan di belakang cafe. Dunia memang sempit sehingga harus saling berbagi ruang untuk satu sama lain. Yah, sama seperti kehidupan yang memiliki tujuan masing-masing.
"Story of last memories. Hmm, kupikir kisahnya akan memberikan pengalaman." Dibukannya halaman pertama, lalu dengan fokus mulai menikmati kata demi kata yang terangkai menjadi sebuah cerita.
Kesibukan gadis itu mencapai kesendirian dalam ketenangan. Sementara di dalam ruangan lain yang terjadi cukup menegangkan. Dua pria yang saling berhadapan hanya saling pandang tanpa pembicaraan. Kenapa begitu kaku?
"Maaf, sebenarnya apa yang Anda inginkan? Tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan dan diam seperti patung selama sepuluh menit." tegur sang CEO membuat tamu tak diundang menyandarkan punggung ke belakang.
Sikap arogan dengan wajah datar tanpa senyuman justru menyedekapkan kedua tangan. Pria itu menatap intens ke arah pemilik perusahaan yang duduk di hadapannya, "Apakah terlalu sulit bertemu dengan Anda, Tuan Reyhan Aditya? Sejak beberapa waktu selalu mengundur pertemuan dan hari ini, kenapa Anda kembali ke dunia bisnis?"
"Aku kembali demi keluarga. Apa ada masalah untukmu, Tuan Kendrick Al Zafran?" tanya Rey balik tanpa rasa takut.
Pada dasarnya kedua perusahaan sudah memiliki nama di rute berbeda dalam dunia bisnis. Sehingga tidak akan begitu berpengaruh jika menolak kerjasama hanya saja perubahan keputusan bisa menjadi rentanggan sayap mencapai puncak kesuksesan bagi kedua pihak.
"Tidak ada urusannya denganku, tapi kudengar istrimu menghilang. Apa itu benar? Bagaimana jika aku membantumu dan sebagai gantinya, kita sepakat bekerjasama. Deal?" Al mengulurkan tangan tanpa menyadari hasil dari tawaran yang diajukan bisa membawa Asma pergi dari kehidupan tentramnya.
Tawaran terdengar menggiurkan tetapi bisnis is bisnis dan tidak bisa dicampur aduk dengan privasinya. Tak peduli seberapa besar pengaruh yang dimiliki kedua belah pihak. Bukan berarti bisa seenak hati. Meski tawaran itu tidak salah, tetap saja terdengar meremehkan.
Rey tersenyum sinis tanpa ingin mengalihkan tatapan matanya, "To the point saja. Katakan tujuanmu yang sebenarnya! Seorang tuan muda yang selalu sibuk sempat datang ke kantor kecilku ini. Apa yang membawa langkah kakimu menapaki gedung perusahaanku."
"Kontrak fashion yang akan diselenggarakan di gedung milik Anda." jawab Al tanpa basa basi memulai Rey menahan napas.
Kontrak yang dimaksud masih dalam peninjauan dan memiliki tenggat waktu tiga bulan lagi bahkan tahap perencanaan saja baru mencapai tahap tengah. Lalu kenapa putra tunggal keluarga Zafran datang seorang diri hanya untuk memastikan kerjasama dengannya.
Bukannya tidak percaya kemampuan si tuan muda hanya saja sebagai pebisnis harus teliti tanpa memikirkan untung yang tampak jelas di depan mata. Yah, satu tanda tangan persetujuan sudah cukup menjadi jalan kesuksesan pada puncak tertinggi. Akan tetapi apa arti kekuasaan ketika hidup masih memerlukan penyesuaian.
"Kenapa aku harus menerimamu sebagai partner? Di antara pebisnis muda masih banyak kandidat yang esok datang ke kantorku dan mungkin menawarkan hal sama seperti yang kamu tawarkan. Apa aku harus menerima mereka juga?
"Pertama ingatlah, bisnis bukan tempat kompromi antar sesama pemimpin karena baik aku maupun kamu memiliki tanggung jawab yang sama. Jika memang kontrak itu sangat penting, silahkan buat proposal dan kirim ke perusahaanku.
"Tuah Kendrick Al Zafran yang terhormat, perusahaanku membutuhkan real action sebagai bentuk keseriusan. So?" Rey sengaja berterus terang tanpa agar di antara keduanya tisak terjadi kesalahan.
Tindakan Rey bisa dibenarkan karena ia sendiri pasti melakukan hal sama jika di posisi pria itu. "Anda benar, untuk apa hanya basa basi." Diambilnya map yang tergeletak di sisi kiri tempat duduk, lalu diletakkan ke atas meja. "Proposal proyek fashion. Silahkan dibaca!"
Map berwarna putih menjadi akhir dari argumen kedua pebisnis muda itu hingga terdengar suara dering ponsel yang mengalihkan perhatian Al. Pria itu menerima panggilan dari salah satu bodyguard yang memberikan laporan tentang keberadaan Asma.
"What's?" Tangannya mengepal, tatapan mata terbelalak dengan bibir kelu menyentak kesadarannya. Laporan sang anak buah membawa langkah kakinya pergi meninggalkan ruangan Rey tanpa permisi.