cerita ini mengisahkan kembali tentang Aisyah dan Ikhsan. Aisyah yang awal nya begitu di cintai oleh Ikhsan, Aisyah yang adalah segalanya dan impian Ikhsan. Karna sebuah kesalahpahaman membuat Ikhsan membenci Aisyah sampai ke tulang. untuk melampiasakan kebencian ini, Ikhsan menikahi Aisyah tapi bukan karna cinta melainkan benci.
hari - hari Aisyah berlangsung dengan banyak nya gangguan dari Ikhsan. mampukah Aisyah tetap mempertahankan rumah tangga nya? akan kah Ikhsan jatuh hati lagi pada Aisyah?
yuk ikuti kisah nya di Pernikahan Paksaan.
Di sarankan untuk membaca Novel 'Cinta yang Rumit' lebih dulu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Boneka mainan (Selesai Revisi)
***
"Akhh ... Udah jam tujuh! Habislah aku," desis Aisyah menatap jam weker di tangannya yang baru saja di ambilnya dari nakas.
Aisyah segera berlari menuruni tangga dengan terburu-buru. Meski tubuhnya lemah, dia harus tetap bangkit. Masih dengan kepanikan yang sama nan menggebu. Dia yakin kali ini bukan hanya cibiran, melainkan hukuman juga akan diberikan oleh Ikhsan atas keterlambatannya ini.
"Eh.... Makanan?? Kok banyak? Ini ilusi? Kok bisa?" gumam Aisyah menatap aneh pada begitu banyak makanan beraneka jenis yang sudah tertata rapi di meja makan. Menambah keindahan tampilan makanan itu sendiri. Sungguh penyajian yang begitu estetik. Aisyah menampar pelan pipi kanannya. Sekedar memastikan bahwa yang terjadi pagi ini adalah nyata. Tapi ia masih bingung, tidak mungkin kan Ikhsan sang big boss mau masak? Tidak! itu satu kejadian yang tak kan mungkin pernah terjadi.
Aisyah masih menganggap ini mimpi, hingga ia memutuskan untuk memakan makanan berbagai jenis yang tersaji di hadapannya ini. Mencobanya adalah jalan terbaik.
"Enak ... renyah." tanggap Aisyah menilai udang goreng yang baru di lahapnya. Mungkin lapar, atau enak, Aisyah memakan beberapa lagi. Belum habis udang di mulut nya sudah di tambah dengan udang lainnya. Karna keasyikan makan, ia pun lupa alasan kenapa ia makan. Aisyah harusnya makan sedikit untuk menjawab, Sebenarnya itu mimpi atau ilusi, kan?
"Kau ini perempuan atau monster?"
"Uhuk!! Uhuk!!"
Suara dengan nada khasnya yang selalu memekikkan telinga Aisyah, yah dia Ikhsan Arsindath yang baru saja turun dari anak tangga terakhir. Nyinyiran Ikhsan di pagi hari ini sukses membuat Aisyah tersedak. Padahal masih pagi, sungguh malang takdir Aisyah.
Melihat Aisyah yang tengah kesusahan menelan udang yang besar itu. Ikhsan berlari dengan wajah khawatirnya. Menyodorkan Air mineral kepada Aisyah.
"Makasih. Huuuuhhhh!" kata Aisyah yang sudah meneguk hampir satu gelas Air itu. terlihat air yang tadi penuh sekarang kurang dari seperempat. Dia mencoba mengatur nafasnya kembali dengan normal.
"Punya etika makan enggak sih? bisa lebih anggun tidak? Kau terlihat seperti monster." cibir Ikhsan yang menatap tajam Aisyah dengan mata elang miliknya. Aisyah kali ini hanya menunduk, tak ingin berkomentar. Sarapan cibiran sepagi ini sudah cukup untuk menjadi sarapan bagi Aisyah serta mencubit hatinya yang rapuh.
"Kamu kenapa bisa tersedak?! Makanya kalau makan itu perlahan." tanya Ikhsan duduk di kursinya. kursi yang biasa ia gunakan saat duduk di meja makan.
"Karna kamu lah!! Coba kamu gak ngagetin aku. Kan aku gak keselek! Sakit ini tenggorokan tau." sahut Aisyah memegangi tenggorokan kesayangannya, ia menatap malas Ikhsan. Dia baru sadar akan perkataannya yang polos itu saat Ikhsan sudah menusuknya dengan tatapan balik yang begitu dingin.
"Maaf tuan tidak salah, aku yang salah. Karna ceroboh, melihat makanan sebanyak ini di meja, aku pikir ini ilusi jadi aku mencobanya. Dan ternyata ini asli."
"Baguslah sadar diri. Kau harus terbiasa dengan kata sadar diri."
"Lalu, siapa yang memasaknya?" tanya Aisyah yang kali ini benar-benar bingung.
"Itu saya yang masak nyonya muda. " sambung seorang pelayan pria. Dengan sedikit keriput di wajahnya, ia sepertinya sudah memasuki usia yang di sebut kaum paruh baya.
"Kamu siapa?" Aisyah mengernyitkan sebelah alisnya.
"Saya kepala pelayan Damar, yang sebelumnya di tugas kan mengurus Vila ini. Bahkan sebelum anda datang ke sini."
"Oh, lalu beberapa hari ini kemana? "
"Pulang kampung nyonya. Maaf, karna kepergian saya anda harus bersusah payah mengurus Vila ini."
"Eh gitu yah ... Ralat nih pak. Saya bukan nyonya rumah ini, saya sama kayak bapak. Pelayan di Vila ini. Cuma sekedar babu,"
Entah kenapa, Ikhsan yang mendengar penuturan Aisyah ini. Yang mengaku bahwa dia bukan nyonya rumah ini. Membuat hati Ikhsan sakit dan tersulut api, harus Ikhsan akui, ia tidak suka mendengar Aisyah menyebut dirinya sendiri babu.
"Oh yah, maaf yah pak. Karna saya telat bangun, bapak jadi ngerjain semuanya sendiri. Sekarang biar saya aja yang beresin dapur." Kata Aisyah membuka suaranya lagi.
Sudah habis tingkat kesabaran Ikhsan, ia mencengkam kuat pergelangan tangan Aisyah, menarik paksa gadis mungil itu ke atas tangga. Aisyah sendiri masih dengan posisi meronta, Ikhsan menarik paksa Aisyah masuk ke kamarnya.
"Apa sih?! Sakit!" pekik Aisyah meringis lirih. Tampak ada bekas lingkaran merah di pergelangan tangannya karna cengkeraman Ikhsan.
"Kamu! Beraninya melawan perintah ku!" bentak Ikhsan keras, yang masih mencengkam kuat pergelangan Aisyah. Menatap intens gadis ini.
"Dimana aku melawan perintah mu? Apa yang salah?!"
Ikhsan diam membeku, terbenam akan pikirannya sendiri. Dimana kesalahan Aisyah sebenarnya? Ikhsan tidak tahu, yang ia tahu dia terbakar emosi saat mendengar Aisyah bukan lah nyonya rumah ini.
"Ah... Aku tahu, tuan marah karna aku terlambat bangun dan tidak memasak untuk mu kan. Oke, dalam hal itu aku bersalah. Kau bisa menghukum ku. Tapi tidak dengan mematahkan pergelangan tangan ku kan? ini sakit. lepas oke?"
Ikhsan menyadarinya, betapa kuat cengkramannya. Perlahan ia melepaskan nya, namun pandangan Ikhsan lekat tak lepas dari pergelangan kulit putih berlingkar kan bekas merah membiru itu. Melihat itu lagi-lagi Ikhsan merasakan sakit, kali ini bahkan lebih sakit di ikuti dengan rasa sesak di dalam dadanya.
"Mulai hari ini, kamu tidur di kamar tamu! Bukan kamar pembantu!" titah Ikhsan yang sifat nya mutlak dan seenaknya.
"Hah? Apa? Tuan muda bilang apa?" tanya Aisyah yang sepertinya lagi ngehalu.
"Aku bilang, mulai hari ini kamu tidur di kamar tamu! Dan jangan kerjakan tugas pembantu lagi, karna sudah ada pelayan Damar yang profesional. Aku tidak mau barang-barang ku hancur semua karna keteledoran mu!" Ikhsan pergi begitu saja meninggal kan Aisyah yang masih bingung dengan pikiran nya sendiri.
***
"Ternyata barang ku itu banyak yah. Ahh~ Akhirnya selesai juga." Ucap Aisyah menghela napas lega, membantingkan badan mungilnya di kasur yang empuk dan lebar itu, dengan seprei motif langit dan awan berwarna biru dan putih.
Yah, atas titah Ikhsan, Aisyah pindah ke kamar tamu yang jauh berlipat ganda lebih besar dari kamar pembantu. Ia menatap langit kamarnya, sambil merenungkan semua kesalahannya. Kepedihan, luka, penyesalan, yang dulu sudah ia pendam susah payah perlahan terbuka lagi. Dan saat ini, Aisyah juga tidak tau bagaimana cara menutupnya.
Apa Ikhsan memang begitu membenci ku? Sebenci itu kah? Sampai tidak memiliki belas kasihan pada ku? yah dia membenciku sampai membuat nya menjadikan ku boneka mainan nya kan?! Apa memang benar-benar seseru itu untuk mempermainkan diri ku ini? sebegitu ren-dah kah aku?
***
secantik apa Aisyah..😂😂😂
rupanya Ari.
lebih mengerikan
selamat ikhsan bakal jadi bpk
cinta seperti coklat....mengalahkan segalanya😀😀😀
mungkin hanya ada di novel 😀😀😀
ikhsan melakukan itu biar bisa bersama Aisyah.😂😂😂
semakin seruuuu
yg misahkan kita hanya koma atau kuburan.