Siapa yang tidak mengenal Rayna Almahyra Farobi. Putri satu-satunya tuan Ardhi Al Farobi dan Tsurayya Ednika Frederick
Rayna, alias Ina memiliki seorang kakak lelaki bernama Rayhan Putra Farobi dan dua orang adik lelaki bernama Rayyan Alvarendra Farobi dan Rayendra Putra Farobi
Kebayang ya.. satu anak perempuan dikelilingi bodyguard-bodyguard kesayangan
Ina, gadis yang lembut, berwibawa, cerdas dengan segudang prestasi.
Lean, putra dari Leon (baca Love Story yaa) yang jatuh cinta pada Ina sejak pandangan pertama
Bagaimana kisah mereka?
Akankah Lean menjadi generasi ke 3 yang kandas percintaannya dengan satu keturunan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qnoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 7
Leo memperhatikan Lean meninju dan menendang samsak sejak 1 jam yang lalu. Peluh menetes dan membasahi tubuhnya. Samsak yang digunakan termasuk yang ringan sehingga bisa memantul dan berputar
Lean memilih samsak itu dengan tujuan melatih kelincahan dan kewaspadaannya karena gerakan samsak ketika berbalik tidak bisa di prediksi. Semakin kuat pukulan dan tendangan, semakin kuat pula putaran dan pantulan samsak
Terbayang Ina dan Ian pun menggunakan samsak ini untuk berlatih beladiri dasar dari Daddy nya. Teringat saat Ina berhasil menghindari samsak berayun untuk pertama kalinya, saat Ina semakin mahir dan lincah, saat Ina.. saat Ina.. Ina.. Ina...
Pria itu menggeram dan semakin bersemangat memukuli samsak di depannya
"Boy…" teriak Leo
Lean menghentikan gerakan samsak dengan lengannya. Tatapannya dialihkan ke arah Leo yang masih menatapnya. Nafas Lean terdengar ngos-ngosan
"Istirahatlah. Nanti ototmu bisa terluka." Kata Leo mengingatkan
Lean menghela nafas berat. Di bukanya sarung tinju dan headband yang terlihat basah karena keringat
Dengan tampilan Lean saat itu, tak di pungkiri sosok Lean menjadi salah satu incaran di kampus. Lengan nya berotot dengan perut sixpack yang basah karena keringat. Tampilan rambutnya yang sedikit gondrong pun agak berantakan membuat wajahnya lebih terlihat lebih mempesona
Leo melempar sebotol air mineral pada Lean yang langsung ditangkap oleh pemuda itu
"Mau cerita ke daddy?" Tanya Leo sambil melihat Lean menenggak air mineral hingga separuh botol
"Apa yang mau daddy dengar?" Tanya Lean
"Apa saja yang mau kau ceritakan."
Lean terdiam sambil menatap air mineral di tangannya
"Ina menolakku.." kata Lean. Pemuda itu kembali meneguk air mineral lalu mengguyurkan ke wajahnya
Seumur hidup, tidak ada seorang wanitapun yang menolak pesona Lean. Hal ini sedikit melukai harga dirinya
"Apa sudah ada pemuda lain?" Tanya Leo
Lean menggeleng
"Ina tidak mau pacaran, daddy. Dia mau fokus untuk sekolahnya. Dia bilang kalau aku serius, aku harus menemui.. ayahnya." Kata Lean sambil menatap Leo
Leo menghela nafas
"Well.. berarti kita punya waktu sampai kelulusan Ina." Kata Leo
Kening Lean berkerut
"Maksudnya?"
"Kau punya waktu untuk menarik hatinya dan ayah bundanya, sedangkan aku punya waktu mempersiapkan diri bertemu orangtuanya.." kata Leo
Lean dan Leo saling memandang, lalu mereka tertawa bersama
"Bagaimana bisnis cafe mu?" Tanya Leo
"Sudah mulai ada pemasukan yang stabil. Aku harus terus berinovasi, terutama dari segi masakan. Mahasiswa biasanya menginginkan makanan yang lezat di lidah dan ramah di kantong." Kata Lean sambil bersandar di sofa kulit
"Bagus, setidaknya kau punya pekerjaan yang bisa dibanggakan di depan Ardhi Al Farobi." Kata Leo
"Sebagai pemilik cafe?" Tanya Lean ragu. Dari cerita Leo, Lean tahu perusahaan raksasa milik Frederick Groups Company.
Leo tertawa kecil
"Ardhi.. dia mendidik anak-anaknya dengan baik. Dengan uang yang ia punya, ia bisa saja membelikan mobil sport untuk tiap anaknya. Tapi, dia tidak seperti itu. Dia tidak memandang seseorang hanya dari materi saja." Kata Leo
Leo memandang Lean
"Kau tenang saja." Leo tersenyum pada Lean
***
Braak
Suara pintu kamar Ray dibanting membuat Ina dan Sumi yang berada di ruang TV terkejut
Aya sedang berada di butik. Kalau wanita itu ada, tentu ia sudah naik ke atas dan bertanya pada Ray
"Bi.. Abang kenapa?" Tanya Ina
"Nggak tahu non. Nggak biasanya den Ray begitu." Kata Sumi sambil memandang Ina bingung
Ina beranjak dan naik menuju kamar Ray. Diketuknya perlahan pintu Ray
"Bang.. ini Ina. Boleh masuk?" Tanya Ina
Tidak ada jawaban dari dalam
Ina mendesah. Mungkin bang Ray butuh waktu sendiri. Gadis itu berbalik hendak pergi. Baru tiga langkah, terdengar suara pintu terbuka. Ina menoleh, nampak Ray di depan pintu dengan wajah kusut
"Abang.. baik-baik aja?" Tanya Ina
Ray mengangguk
"Ada apa Na?" Tanya Ray
"Nggak.. Ina cuma mastiin keadaan abang aja. Nggak biasanya abang banting-banting pintu kayak tadi."
Ray tersenyum terpaksa
"Maaf ya kalau bikin kaget. Abang lagi suntuk banget."
"Mau cerita?"
Ray menggeleng
"Ya udah, abang istirahat aja dulu." Kata Ina
Ray mengangguk. Pemuda itu segera menutup pintu kamarnya. Kali ini lebih pelan
Ina mendesah.
"Bang Ray pasti lagi banyak masalah." Bathin Ina
Melihat Ray, Ina jadi teringat dengan Lean. Semenjak pembicaraan terakhir mereka, Lean tidak pernah muncul lagi
Ketika Ina dan Ian mengunjungi Leo pun Lean tidak ada di Apartemen Gading. "Sibuk." Kata Leo
Gadis itu segera beranjak pergi menuruni tangga.
***
Ina memandang cafe di depannya. Ia melirik lagi alamat yang diberikan Leo kemarin untuk memastikan tempat yang ia datangi benar
"Gengs…" Ina mengeja nama Cafe di depannya. Dilangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam cafe
Suasana Gengs Cafe terkesan casual, di dominasi oleh warna coklat,hitam dan gold. Aroma kopi menguar di sana. Beberapa tempat terlihat instagramable dengan alunan musik yang easy listening.
Cafe tidak terlalu penuh, karenanya Ina bisa sambil melihat-lihat suasana di sana. Ina merasa enjoy berada di sana walau baru pertama kalinya
"Halo cantik, selamat datang di Gengs. Saya Ero, bisa saya bantu?" Sapa seorang pemuda berpakaian abu muda celana hitam dan memakai celemek kecil di pinggang
Ina berfikir, Ero adalah salah satu pekerja cafe karena beberapa orang terlihat dengan seragam yang sama
"Ng...saya mau ketemu kak Lean. Ada?" Tanya Ina
Ero mengenyitkan kening
"Ina.." sebuah suara yang Ina kenal memanggil. Ina tersenyum melihat Lean menghampirinya. Lean juga menggunakan seragam yang sama dengan Ero
"Kok bisa sampe sini?" Tanya Lean. Pemuda itu melihat ke arah Ero
"Temen gue." Kata Lean sambil mengedipkan mata
Ero mengangguk sambi tersenyum pada Ina lalu meninggalkan Ina bersama Lean
"Ina tahu dari uncle. Sibuk bang?" Tanya Ina sambil melihat ke belakang Lean
"Nggak juga. Masih sepi pengunjung jadi nggak terlalu hectic. Yuk sini." Lean menarik tangan Ina untuk duduk di salah satu kursi
"Mau nyobain apa? Biar abang traktir." Kata Lean sambil menyerahkan daftar menu
"Sering-sering aja bang." Ina menimpali sambil tertawa.
Gadis itu membaca sejenak daftar menu
"Apa rekomendasi abang?" Tanya Ina
"Biasanya mahasiswa pada order Crispy chicken sama SingThai." Kata Lean
"SingThai?" Ina membeo
"Singkong Thailand. Mau nyobain?"
Ina mengangguk
"Ok, sebentar ya." Kata Lean. Pemuda itu segera pergi ke dapur. Tak lama ia kembali sambil membawa minuman Orange Soda
"Silakan di minum."
Ina menyeruput minumannya. Matanya menatap Lean
"Rasanya mirip.."
"Sama Flavoured Soda buatan kamu. Emang pakai resep kamu." Kata Lean tersenyum
"Abang hafal emang?" Tanya Ina
"Hafal lah. Kan kamu suka bikin buat Daddy kalau berkunjung. Ya abang nebak-nebak siy campurannya apa. Tapi nggak bisa sama persis ya." Kata Lean
"Nggak siy, udah enak kok." Ina kembali menyeruput minumannya
"Tapi lebih cakep kalau di kasih orange slice sebagai pemanis bang. Tambahin daun mint." Kata Ina
"Iya, bagus juga ya. Nggak kepikiran. Thanks Na." Kata Lean tersenyum
Ina pun ikut tersenyum
ga seru klo ga baca novel sebelumnya..
cerita ini sebenarnya sangat bagus
ayo bantu ramaikan
sedih tapi Yo pingin ketawa
mati aku 🤣🤣🤣
ternyata kisahnya sambung menyambung...
aku jadi fans mu sekarang Thor...
cerita mu keren keren...