Alesya Ramania Syahreza, anak seorang pengusaha kaya yang cukup terkenal di kotanya.
Dia merupakan gadis yang sangat centil dan cerewet, tapi ia juga menjadi idola di kampus karena kecantikannya.
Alesya sangat sulit dia atur, bahkan dia sering melakukan hal hal yang seharusnya tidak ia lakukan.
Sampai pada akhirnya papahnya mencarikan supir untuk mengawasinya, awalnya Alesya tidak mau karena ia merasa tidak bebas kalau memiliki seorang supir.
Tapi setelah melihat supir yang begitu tampan ia pun langsung mau, dan pada akhirnya mereka jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putry Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapat Pekerjaan
Setelah selesai sarapan Alesya langsung berdiri dari duduknya, dan beranjak meninggalkan ruang makan.
Ia keluar rumah menuju ke halaman, di sana sudah ada pak Darius yang berdiri disamping mobil Alesya.
Alesya menghampiri pak Darius, dengan wajah kesalnya. "Kenapa sih pak Darius itu mau di suruh sama daddy buat mengantarkan aku!?"
"Itu nona, saya_"
Pak Darius belum selesai bicara Alesya langsung nyrocos lagi. "Ohh iya pak, bapak juga di suruh kan untuk mencarikan supir baru untukku?, duh pak Darius ini tidak usah repot repot, palingan supir baru nanti akan mengundurkan diri lagi, lagian daddy tuh gak ada bosen bosennya ya cari supir buat aku aduhh." Alesya terus berbicara panjang lebar.
Pak Darius mengernyitkan keningnya, ia menghela nafas dalam dalam. "Ayo nona lebih baik no masuk, ini sudah siang." Sambil membuka pintu mobil belakang.
Alesya menatap tajam pak Darius. "Ihh pak Darius gimana sih, aku kan sedang berbicara!"
Pak Darius tidak menghiraukan Alesya, ia beranjak dan masuk kedalam mobil.
"Ihhhh." Alesya menghentak hentakan kakinya dengan kesal. "Kenapa sih semua menyebalkan, bi Rukma dan pak Darius sama saja tidak pengertian denganku!"
Tiiiinnnnnnn
Pak Darius memencet tombol klakson, karena Alesya belum juga masuk.
Alesya menutup kedua telinganya. "Iya iya, sabar." Ia pun masuk kedalam mobil.
Pak Darius pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan halaman rumah.
*
*
*
Tok tok tok
Chris mengetuk pintu rumah Sean. "Sean!! keluarlah."
Ceklek
Gia membuka pintunya. "Kak Chris? ada apa?"
Chris langsung merapikan rambutnya ke belakang, dan tersenyum genit. "Ehhh Gia cantik, makin hari makin cantik aja kamu."
Gia mengernyitkan keningnya. "Apaan sih kak, kalau kakak mencari kak Sean dia ada di dalam, ya sudah aku permisi dulu, sudah terlambat ini." Gia beranjak.
"Gia!!". Sean berlari keluar mengejar Gia. "Kau tidak mau di antar?"
"Tidak usah kak, lagi pula halte bus nya kan dekat, sepertinya kak Chris ada urusan denganmu." Sambil melirik Chris dengan ekor matanya.
"Ya sudah kak aku berangkat dulu." Imbuh Gia, lalu beranjak.
"Ya sudah hati hati." Teriak Sean pada Gia yang semakin menjauh.
Chris menghampiri Sean dan menepuk pundaknya. "Heyy, kau masih cari kerja kan?"
Sean memandang wajah Chris, dan sepertinya ia serius. "Iya masih, apa ada pekerjaan?"
Chris mengangguk. "Iya dan ini gajinya lumayan besar."
"Apa itu, kau tidak macam macam kan?"
"Macam macam apa maksudmu, aku serius."
Sean beranjak. "Ayo duduk saja."
Meraka pun duduk di kursi depan rumah.
"Jadi apa pekerjaannya?" tanya Sean.
"Mmm kata pamanku sih cuman jadi supir, sekaligus untuk menjaga anak majikannya".
"Majikan pamanmu?"
"Iya, dan kau tau majikannya itu orang yang sangat kaya, pasti gajinya besar."
"Memangnya anaknya umur berapa?"
Chris diam sejenak sambil berpikir. "Sepertinya sih seumuran adikmu."
Sean sedikit terkejut. "Hahh seumuran adik ku, kok masih dijaga?"
Chris menghela nafasnya, ia menepuk pundak Sean. "Biasa lah orang kaya memang seperti itu, jadi bagaimana kau mau tidak?"
Sean meyakinkan dirinya, ia pun mengangguk. "Ya sudah aku mau."
Tiba tiba ponsel Chris berdering tanda ada telfon masuk, ia pun segera mengambil ponselnya di saku celana, dan melihat siapa yang menelfon dan ternyata itu paman Darius, ia pun segera menggeser tombol hijau.
Chris menempelkan ponselnya di telinga. "Halo paman, ada apa?"
"Bagaimana Chris, apa kau menemukannya?, kalau kau belum menemukannya biar paman yang cari sendiri saja nanti." Suara pak Darius dari sebrang sana.
"Ehhh jangan dong paman, ini temanku mau mengambil pekerjaan itu."
"Temanmu yang mana?"
"Sean, paman kenal kan anaknya bu Yessie itu loh."
"Ohhh iya iya paman tau, ya sudah besok suruh dia kesini dan jangan lupa bawa beberapa pakaiannya sekalian, karena dia akan menginap, nanti paman kirim alamatnya."
Sambungan telfon pun terputus.
Chris menggaruk garuk kepalanya. "Aduh Sean tapi harus menginap, apa kau bisa?"
"Menginap?" Sean berpikir sejenak, ia teringat ibunya, dia berpikir apakah bisa Gia merawat ibunya sendirian. "Huhh bagaimana ya."
"Ya mungkin ada hari liburnya, kan nanti kalau libur kau bisa pulang, lagi pula tidak terlalu jauh kok."
"Pergilah saja nak, ibu tidak apa apa." Tiba tiba ibu keluar menghampiri mereka, dan sepertinya sudah mendengar semua pembicaraan mereka.
Sean berdiri dari duduknya, ia memandang wajah ibunya, ada rasa tidak tega kalau harus meninggalkan ibunya. "Ibu benar tidak apa apa?"
Bu Yessie mengelus pundak Sean. "Tidak apa apa nak, kan ada Gia yang menjaga ibu."
"Tapi dia kan juga bekerja bu, pulangnya juga malam."
Ibu tersenyum, ia meyakinkan Sean bahwa dirinya baik baik saja. "Ibu baik baik saja nak, kau tidak usah mengkhawatirkan ibu."
Chris berdiri dari duduknya. "Jadi bagaimana, kau mau tidak."
Sean menatap wajah ibunya, dan ibunya hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ya sudah Chris aku mau." Sean mengangguk.
Chris menepuk pundak Sean. "Oke, ya sudah aku permisi dulu ya, mari bu." Ia tersenyum pada bu Yessie kemudian langsung beranjak meninggalkan tempat itu.
*
*
*
*
*
*
*
Bonus foto, babang Sean yang tampan.😁😍
aku nyicil baca dan like y thor, aku simpan jd favorite
salam dari aku dan mntan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya
bisa aja cri visualnya
7clike buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..