Di Bukit Firdaus, satu nama menentukan nasib semua orang: Macan.
Rana baru sembilan belas tahun. Ia hanya ingin bekerja, menjaga neneknya, dan turun bukit tanpa berurusan dengan siapa pun. Tapi penguasa bukit itu sudah melihatnya, dan di wilayah Macan, apa yang diinginkannya akan menjadi miliknya. "Kamu atas namaku."
Rana menolak. Macan tidak terbiasa ditolak. Antara pesta bukit, pengintaian, dan kunjungan intim di balik jeruji, batas antara paksaan dan hasrat semakin kabur. Rahasia keluarga, sekutu yang berkhianat, dan musuh yang mengincar dari bayang-bayang membuat cinta mereka berbahaya.
Seberapa jauh seorang laki-laki berani melindungi apa yang ia klaim sebagai miliknya? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bruna Mattos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi
Rana (narasi)
Aku bangun karena alarm ponsel, lalu mandi dan memakai set pakaian dalam warna nude, jeans hitam yang sobek di lutut, croptop putih, dan sepatu kets hitam. Setelah parfum dan riasan tipis, rambutku kubiarkan terurai. Kuambil tasku, keluar rumah, dan langsung bertemu pengecer yang sama di depan pintu.
"Selamat pagi." kataku.
"Pagi, Bu Bos, kita ke mana?" tanyanya, dan aku memutar bola mata.
"Ke rumah sakit, yang kemarin." kataku.
Dia mengambil mobil, aku naik, dan kami pergi ke rumah sakit tanpa bicara.
"Namamu siapa?" tanyaku.
"Yohanes. Tapi semua orang manggil saya Joni." katanya.
Aku hanya mengangguk. Dia menepikan mobil di depan rumah sakit, aku turun dan masuk. Di resepsionis kutanyakan nenekku, dan katanya beliau sedang dioperasi. Aku ke ruang tunggu dan duduk berdoa, memohon kesembuhan untuk nenekku.
"Rana." Kudengar suara yang kukenal memanggilku.
"Halo." kataku, dan kulihat dokter Reza.
"Kemarin aku menunggu kamu telepon." katanya.
"Aku nggak sempat, banyak yang terjadi." kataku sedih. Dia duduk di sampingku dan bertanya.
"Kamu sudah sarapan?"
Aku menggeleng, dan dia berkata.
"Kalau begitu ke kafe di dalam sini saja, kita minum kopi." Aku mengangguk.
Kami ke kafe, dan dia memesan dua kopi dan dua roti keju.
"Kamu butuh sesuatu, Rana? Apa pun, bilang saja ke aku." katanya.
"Terima kasih banyak, Dok, tapi aku baik-baik saja." kataku sambil menyeruput kopi.
Selesai minum kopi, dia menatapku dan berkata.
"Boleh aku tanya sesuatu, Rana?"
"Silakan, Dok." kataku.
"Kamu dapat uang dari mana untuk operasi nenekmu?"
"Itu nggak penting." kataku.
"Kalau kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa." katanya.
Aku hanya mengangguk, kami keluar dari kafe dan kembali ke ruang tunggu.
"Bapak nggak kerja hari ini?" tanyaku.
"Aku libur, dan aku datang untuk menemani kamu. Dan sudah kubilang jangan panggil aku Bapak, umurku 33 tahun. Kamu menganggapku setua itu?" katanya.
"Tentu saja nggak, Dokter nggak kelihatan seumur itu." kataku.
Dokter Reza Firmansyah 👆 Dokter umum.
Dia menemaniku berjam-jam di situ sampai dokter datang memanggilku untuk bicara.
"Rana, operasinya berhasil, tapi sekarang kita harus menunggu pemulihannya. Semuanya tergantung tubuh beliau." katanya.
"Boleh saya lihat beliau?" tanyaku.
"Maaf, belum boleh. Beliau sudah di ICU. Semuanya tergantung apakah beliau membaik. Besok Anda boleh melihatnya." katanya.
"Terima kasih banyak, Dok." kataku.
Dokter itu pergi, lalu dokter Reza menghampiriku.
"Ayo, Rana, aku antar kamu pulang. Kamu harus istirahat." katanya.
"Terima kasih, Dok, tapi aku sudah ada tumpangan. Terima kasih banyak sudah menemaniku di saat seperti ini." kataku sambil memeluknya, dan dia balas memelukku erat. Kurasakan dia mengendus leherku.
Aku jadi risi dan melepaskan diri dari pelukannya, berpamitan, lalu keluar. Joni sudah menungguku di luar, aku naik mobil, dan dia mengantarku pulang.
Hari-hari ini aku bahkan tak sanggup berangkat kerja, hidupku jadi kacau. Dokter Reza tampan dan baik sekali padaku. Aku sudah sadar dia punya maksud tertentu padaku, tapi aku tak boleh membahayakannya. Kalau di waktu lain, aku pasti akan memberinya kesempatan.
Sampai rumah, kulihat jam, sudah pukul dua siang. Aku makan mi instan, naik ke kamar, mandi, memakai baju santai, lalu berbaring dan langsung tertidur.
Aku terbangun karena suara orang memanggil. Kulihat dari jendela, ternyata Dinda. Aku turun dan membukakan pagar untuknya.
"Hai, Ran, aku datang mau tanya kabar nenekmu." katanya sambil memelukku.
"Beliau sudah menjalani operasi hari ini, tapi kita harus menunggu bagaimana reaksinya terhadap obat." kataku sedih.
"Jangan sedih, pasti semuanya baik-baik saja." katanya.
"Eh, nonton film yuk, sambil makan popcorn." katanya.
"Di rumah nggak ada popcorn, jadi tunggu aku ganti baju, kita ke minimarket." kataku, dan dia setuju.
Aku memakai gaun hitam longgar dan sandal tali, mengikat rambut jadi sanggul longgar, dan siap. Kuambil ponsel dan kartuku, lalu kami keluar rumah.
Begitu aku keluar pagar, Joni langsung menghampiri.
"Mau ke suatu tempat, Bu Bos?" tanyanya.
"Cuma ke minimarket, Joni, dan jalan kaki, kamu di sini saja." kataku kesal. Dia menatapku dan menggeleng.
Kami meninggalkan rumah dan turun dari bukit, dan Dinda tak berhenti tertawa.
"Kenapa, kamu gila?" kataku.
"Udah segini ya, para pengecer manggil kamu Bu Bos, kamu dikawal." katanya sambil melihat Joni berjalan di belakang kami.
"Jangan dibahas, aku sudah kesal soal itu." kataku.
Sampai di minimarket aku mengambil keranjang kecil, dan kami mengambil Coca-Cola, Doritos, keripik kentang, popcorn, dan beberapa permen.
Saat kami keluar dari minimarket, kurasakan seseorang menarik lenganku dengan kuat, membuatku tersentak ke belakang.