Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
selamat datang kembali (7)
Keesokan paginya, matahari akhirnya kembali menampakkan diri setelah dua hari berturut-turut hujan mengguyur kota.
Udara masih terasa sejuk ketika para siswa mulai memenuhi halaman SMA Bintang Nusantara. Suara bel pertama belum berbunyi, tetapi beberapa kelas sudah ramai oleh obrolan dan tawa.
Di kelas XI-B, Tasya baru saja meletakkan tasnya ketika seseorang menarik pelan kursi di sebelahnya.
"Nay!" Tasya menoleh dengan wajah berbinar.
"Kamu masuk!" Naya tersenyum kecil.
"Demamnya udah turun." ucap Naya dengan senyumnya
"Masih pucat." tanya Tasya dengan sedikit khawatir
"Nggak separah kemarin." Tasya mengembuskan napas lega.
"Syukurlah. Kemarin ruang OSIS berasa beda." Naya mengernyit heran.
"Beda?" tanya naya
"Iya."
"Kenapa?" Tasya mengangkat bahu.
"Nggak tahu. Pokoknya sepi aja." Naya hanya tersenyum tipis. Ia mengira Tasya hanya sedang bercanda.
Bel masuk pun berbunyi, Hari itu berjalan seperti biasa. Guru datang silih berganti, tugas menumpuk seperti biasanya, dan waktu terasa bergerak lebih cepat dari yang Naya kira.
Sesekali ia masih batuk pelan, tetapi kondisinya jauh lebih baik dibandingkan kemarin.
---
Pukul tiga sore. Ruang OSIS mulai kembali dipenuhi anggota panitia. Steven datang sambil membawa gulungan spanduk. Siska membawa beberapa desain poster. Tasya sibuk menyalakan laptop.
Naya masuk paling akhir sambil membawa map biru berisi notulen yang sudah ia rapikan. Baru saja ia melangkah melewati pintu, sebuah suara menyapanya.
"Udah sehat?" Naya mendongak. Arga berdiri di dekat papan tulis dengan spidol di tangan. Tatapan mereka bertemu sesaat, hanya sesaat.
"Iya, Kak."
"Masih pusing?"
"Udah nggak."
"Bagus." Arga mengangguk kecil,dan tanpa ia sadari ia juga tersenyum. lalu kembali menulis jadwal di papan tulis. Percakapan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Namun tanpa sadar, Steven yang berdiri di samping Arga menyenggol pelan lengannya.
"Ketua."
"Hm?"
"Baru datang langsung dicek dan di senyumin."
"Apa?"
"Naya." Arga mengernyit heran.
"Cuma nanya." ucap Arga menyangkalnya.
"Iya, iya." steven tertawa kecil.
"Tenang aja." Arga hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Baginya memang tidak ada yang aneh.
Ia hanya memastikan anggota panitianya sudah benar-benar sehat sebelum kembali bekerja. Sesederhana itu.
---
Rapat dimulai tepat pukul tiga lewat sepuluh menit.
"Agenda hari ini ada tiga." Arga membuka map di hadapannya.
"Pembagian stan bazar, daftar penampil yang udah fix, sama evaluasi proposal sponsor." Naya langsung membuka buku catatannya. Tangannya bergerak lincah menuliskan setiap poin penting.
Sesekali Arga berhenti berbicara.
"Nay."
"Iya?"
"Yang barusan jangan lupa dikasih tanda bintang."
"Oke."
Beberapa menit kemudian.
"Nay."
"Iya?"
"Kalau yang ini dipisah aja."
"Siap."
Tanpa disadari, koordinasi mereka mulai terasa sangat alami. Arga tidak perlu menjelaskan terlalu panjang. Naya sudah mengerti. Begitu pula sebaliknya. Beberapa anggota panitia saling berpandangan.
"Enak ya kalau ketua sama sekretaris udah klop." bisik Siska pelan.
"Iya." jawab Rena sambil tersenyum.
"Mereka cepet nyambung." Kalimat itu terdengar pelan.
Namun cukup membuat pipi Naya terasa menghangat.
Untung saja Arga tidak mendengarnya.
---
Rapat selesai lebih cepat dari biasanya.
"Alhamdulillah." Steven meregangkan badan.
"Rekor."
"Baru satu jam." Siska tertawa.
"Itu karena sekretarisnya udah balik."
"Eh, iya juga." Semua orang tertawa kecil. Naya hanya tersenyum malu. Arga ikut menoleh ke arah Naya.
"Lumayan kerasa bedanya." Semua langsung mengangguk setuju.
"Makanya jangan sakit lagi." ucap Steven bercanda.
"Iya." sahut beberapa yang lain.
Naya tertawa pelan, tawa itu membuat Arga menoleh dan memandanginya namun tidak ada yang menyadarinya sama sekali karena mereka sedang pada bercanda.
"Iya, siap."
Arga tidak ikut menambahkan apa pun. Ia hanya membereskan map-map di atas meja.
Namun dalam hati, ia mengakui satu hal. Rapat memang jauh lebih mudah ketika Naya ada.
---
Sore mulai berganti senja. Sebagian anggota panitia berpamitan lebih dulu.
"Nay, aku duluan ya." Tasya melambaikan tangan.
"Iya, hati-hati." Tak lama kemudian, ruang OSIS kembali sepi. Yang tersisa hanya Arga dan Naya.
Arga sedang menyusun proposal ke dalam lemari arsip. Sementara Naya merapikan kursi-kursi yang bergeser.
"Nggak usah sendirian." kata Arga.
"Aku bantu."
"Nggak apa-apa, Kak."
"Cuma bentar."
Tanpa menunggu jawaban, Arga mengangkat dua kursi sekaligus dan meletakkannya di sudut ruangan. Gerakannya cepat. Dalam beberapa menit, ruangan kembali rapi.
"Nah."
"Selesai." Naya tersenyum melihatnya.
"Makasih."
"Sama-sama."
Mereka berjalan keluar bersama. Koridor sekolah sudah hampir kosong.
Angin sore bertiup pelan membawa aroma rumput yang baru dipotong.
"Nay."
"Iya?"
"Besok kalau masih belum enak badan..." Arga berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"...jangan dipaksain." Naya menatapnya beberapa detik.
"Iya."
"Soalnya..." Arga menggaruk tengkuknya.
"...kalau sakitnya tambah parah malah repot." Naya mengangguk pelan.
Ia tahu.
Yang dimaksud Arga mungkin adalah repot untuk kepanitiaan. Repot karena sekretaris tidak bisa bekerja. Ia tidak ingin mengartikan lebih.
Tidak boleh.
Namun di sudut hatinya yang paling kecil, tetap muncul sebuah harapan yang berusaha ia tekan sendiri. Sesampainya di gerbang sekolah, angkot Naya belum juga datang.
"Kamu nunggu di sini aja." kata Arga.
"Aku ke koperasi bentar."
"Oke." Lima menit kemudian Arga kembali. Di tangannya ada sekotak susu hangat.
"Nih." Naya tampak kebingunga, lalu menatap Arga.
"Buat aku?" tanya Naya sembari menunjuk dirinya sendiri
"Iya."
"Tadi koperasinya masih buka, katanya habis sakit jangan kebanyakan minum es." Naya menerima kotak susu itu dengan kedua tangan.
"Makasih, Kak." ucapnya dengan senyuman kecil.
"Sama-sama." Tidak ada lagi percakapan. Tak lama kemudian angkot datang.
Naya naik sambil sesekali melirik ke arah Arga yang masih berdiri di dekat gerbang sekolah. Baru setelah angkot bergerak meninggalkan sekolah, Arga berbalik dan berjalan menuju parkiran sepeda.
Ia tidak menyadari bahwa hal kecil yang baru saja ia lakukan akan terus diingat Naya selama bertahun-tahun. Karena bagi Arga...
Membelikan susu hanyalah bentuk perhatian kepada teman yang baru sembuh. Sedangkan bagi Naya...
Perhatian sekecil apa pun dari Arga selalu berhasil menemukan tempat di hatinya.
Dan tanpa disadari keduanya, jarak di antara mereka perlahan mulai berubah. Masih belum bisa disebut cinta.
Tetapi sudah lebih dekat daripada sekadar ketua panitia dan sekretaris.
......................
soon to bee.....