NovelToon NovelToon
PEMAKSAAN BERUJUNG CINTA

PEMAKSAAN BERUJUNG CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Lari Saat Hamil
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: SariRani

Sir Leonardo, Komandan Militer Inggris, memburu pemberontak yang membunuh orang tuanya. Setelah berhasil menemukan si pemberontak dan membunuhnya beserta istri tapi menyisakan putri mereka. Balas dendam Leo tidak berhenti hanya dengan kematian pembunuh kedua oran tuanya, namun menjadikan putri si pemberontak sebagai pelampiasan amarah, nafsu, gairah dan perasaan lainnya. Apa yang terjadi dengan putri si pemberontak kemudian? Apakah dia akan bertahan atau menyerang balik seorang Leonardo?

Cerita lainnya :
1. Putri Jenderal bersama Mafia (Haile & Antonio)
2. Putri Duke bersama Bos Wine (Katy & Terios)
3. Cinta saudara Tiri (Eliza & Zane)

Mana cerita pemaksaan cinta yang paling kalian sukai? Jangan lupa dukung author yaaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGGIL AKU "SIR"

Kembali ke Zane yang sudah menghadap kedepan Leo di ruang kerja majikannya itu.

"Bagaimana? Eliza sudah bertemu Agatha?" tanya Leo.

"Saat tadi kamu datang, Nona Agatha masih mandi tapi Eliza menunggunya" jawab Zane.

Leo hanya mengangguk paham.

"Duduklah" suruhnya.

Zane duduk di kursi depan Leo.

"Aku ingin menanyakan sesuatu yang privasi" ujar komandan militer berusia 28 tahun itu.

"Silahkan, Sir" sahut Zane.

"Hmm..kamu dokter kan? Pasti sangat paham soal ilmu reproduksi manusia" awal Leo.

Kening Zane langsung mengerut keheranan dengan ungkapan pria itu.

"I..iya, saya cukup paham, Sir" sahutnya.

"Apakah kamu bisa membuatkan obat atau sesuatu pencegah kehamilan untuk wanita?" tanya Leo.

Semakin jelas arah pembicaraan pria itu bagi Dokter Zane.

"Bisa, Sir. Apakah Sir Leo menginginkannya?" tanya balik.

Leo mengangguk.

"Buatkan untukku, hari ini dalam jumlah yang bisa digunakan selama sebulan secara rutin" mintanya.

"Baik, akan saya siapkan segera" sahut Zane.

"Oh iya, aku juga mau tanya. Apakah milik gadis perawan saat berhubungan selalu berdarah?" tanya Leo.

"Tidak selalu, tapi kebanyakan. Biasanya pertama kali berhubungan memang akan ada bercak darah dalam kasus tertentu, tapi juga ada yang tidak. Hanya seorang pria yang bisa merasakan dan kejujuran wanitanya" jawab Zane.

"Hmmm...apakah hanya masuk sebentar sekitar 30 detik sampai semenit tanpa pelepasan bisa membuat hamil?" tanya Leo lagi.

"Tidak bisa dipastikan. Bisa saja tanpa sadar selama waktu singkat itu si pria mengeluarkannya meskipun setetes, atau juga bisa saat pra-ejakulasi membuat pembuahan terjadi" jawab Zane.

"Berarti bisa hamil?" tanya Leo lagi dan lagi.

Zane mengangguk.

"Jika melakukan hubungan tanpa pengaman, untuk antisipasi darurat adalah meminum obat darurat pencegah kehamilan. Paling bagus 24 jam setelah berhubungan segera meminumnya" jelasnya.

"Oke, sekarang cepat bawakan aku pilnya" minta Leo.

Zane langsung berdiri.

"Siap, Sir" sahutnya lalu izin pergi dari ruang kerja untuk melaksanakan tugas.

Leo memijat pelipisnya.

"Aku tidak akan menghamili wanita itu. Bisa saja dia seenaknya membunuh calon anakku dan membuatku kehilangan. Cukup orang tuaku yang mereka bunuh" gumamnya.

Kemudian pria ini memilih untuk melihat kondisi Agatha di pondok sambil menunggu obat pencegah kehamilan yang dibawakan oleh Zane.

Di pondok belakang rumah Keluarga Davarza, Eliza sudah bertemu Agatha. Respon keduanya sama sama hangat.

Eliza menunjukkan sikap tenang tanpa ada rasa permusuhan kepada anak pemberontak yang dijadikan sandera majikannya.

Agatha juga menunjukkan sikap positif tanpa mencari gara gara.

Penampilan Agatha pun saat ini sudah bersih memakai pakaian baru lalu rambutnya pun sedikit masih basah karena sehabis keramas. Wajahnya semakin cerah setelah dibersihkan.

Mata abu abunya begitu mencolok serta rambut merahnya semakin terang terkena sinar matahari terik.

"Apakah orang Skotland memang kebanyakan memiliki rambut merah sepertimu?" tanya Eliza disela sela ia membantu Agatha menata isi pondok.

"Ya, kebanyakan memang berambut merah seperti ini. Tapi banyak juga yang tidak" jawab Agatha.

"Oh begitu ya. Ibuku memiliki keluarga jauh di Skotland, seingatku saat aku berusia 4 tahun, aku pernah dibawa kesana tapi keluargaku tidak ada yang berambut semerah ini" jelas Eliza.

"Mungkin keluarga mu yang di Skotland bukan asli orang Skotland murni atau sudah campuran. Kalau keluargaku masih murni. Ayah dan ibuku asli keturunan Skotland" sahut Agatha.

"Bisa seperti itu ya. Memang keluarga ibuku keturunan campuran lebih tepatnya memilih nomaden" ujar Eliza.

Agatha mengangguk paham.

Lalu kedua wanita itu mendengar suara langkah kaki tegap seseorang mendekat ke arah pondok hingga berdiri didepan pitnu.

"Tuan muda!" seru Eliza terkejut.

Agatha menoleh kearah pintu.

"Selamat siang, Tuan Muda" sapanya santai.

Leo menatap wanita sanderanya dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik.

"Siapa yang menyuruhmu memanggilku tuan muda?" tanyanya datar.

"Saya hanya memanggil anda seperti Eliza memanggil anda" jawab Agatha berani.

"Jangan menjadi wanita yang munafik. Aku tau pikiranmu yang penuh pemberontakan itu. Lebih baik jika bertemu denganku, kamu diam" suruh Leo.

Agatha tertunduk namun hatinya memanas.

"Aku tidak ingin mendengar kamu memangilku tuan muda lagi. Panggil aku, Sir. Mengerti?" lanjut Leo dan sanderanya mengangguk.

"Baik, Sir" sahut Agatha.

Lalu Leo menatap Eliza.

"Eliza, aku ingin kamu menemani dan mengawasi wanita ini selama tinggal di kawasan rumah keluarga Davarza. Tapi aku tidak ingin kamu bekerja sama dengannya untuk melepaskannya dari sini. Kamu bukan pengkhianat bukan? Aku sudah menganggap mu serta keluargamu adalah keluargaku sendiri" ucapnya.

"Dan satu lagi..." lanjutnya sambil menyodorkan sebuah obat dalam kemasan.

"Pastikan, wanita ini meminumnya setiap hari jika habis mintalah kepada Zane" tambah Leo.

"Ternyata banyak omong juga pria ini" batin Agatha dalam diam.

"Baik, Tuan Muda" sahut Eliza.

"Sekali lagi aku peringatkanmu, untuk bekerjasama dengan Eliza memenuhi perintahku" ujar Leo menatap Agath.

"Baik, Sir" sahut Agatha.

Leo pun membalik punggungnya dan hendak meninggalkan pondok.

Namun ia hentikan sesaat dan menoleh kebelakang.

"Nanti malam aku akan kesini, siapkan dirimu" ujarnya dan tanpa menunggu jawaban dari sanderanya, ia pergi berjalan tegap dan gagah menuju rumahnya.

Kedua tangan Agatha mengepal kuat. Eliza memperhatikannya.

"Aku harap kamu bisa membantuku ya, Agatha. Jangan berfikiran untuk mengkhianati Tuan Muda atau memberontak" ujar Eliza.

"Dan minumlah obat ini" lanjutnya.

Agatha menatap Eliza.

"Selama kamu mau berteman dan menemaniku disini, aku akan menuruti apa katamu" ujarnya dengan senyuman tipis.

Eliza membalas dengan senyuman tipis juga lalu memberikan satu butir obat dari kemasan yang ia bawa dan berikan kepada Agatha.

Agatha menerimanya dan langsung ia telan tanpa protes.

"Aku rasa, tuanmu itu memberikan obat pencegah kehamilan untukku" celetuk Agatha kemudian.

Eliza yang sudah menduganya pun hanya mengangguk pelan. Ia sudah semakin yakin dugaannya benar saat Leo mengatakan akan datang ke pondok malam ini.

"Lebih baik seperti itu, Agatha. Tidak mungkin kalian memiliki anak karena riwayat pertumpahan darah diantara negara kalian. Lebih baik, seperti ini. Tuanku juga tidak akan terlalu menyakitimu jika kamu menurut" ujar Eliza.

Agatha hanya bisa memberikan senyuman tipis.

Lalu keduanya pun melanjutkan menata isi pondok hingga 1 jam kemudian, sudah pukul 12 siang lebih. Eliza dipanggil ibunya untuk membantu memasak makan siang untuk seisi rumah serta security maupun pekerja yang lain.

Agatha sendiri di pondok dan merebahkan dirinya diatas ranjang sambil menatap langit langit kamarnya.

"Jika malam ini, pria brengsek itu meminta ku untuk melayaninya, apa aku bunuh saja dia dan lebih baik mempertaruhkan hidupku untuk balas dendam?" batinnya.

"Atau aku biarkan diriku menjadi pemuasnya dan ketika tiba waktunya, dia akan luluh dengan sendirinya lalu melepaskanku?" lanjutnya dalam hati.

Dirinya kebingungan. Jika dia nekat, bisa saja demi menjaga kehormatan hidupnya, ia langsung memilih untuk merelakan nyawanya, tapi ia harus memikirkan kehidupan adiknya yang belum ia ketahui keadannya.

"Aku tidak bisa nekat. Adikku masih ada di tangan pria brengsek itu. Jika aku berani melawannya sekarang, bisa bisa adikku dan yang lain semakin terancam keberadaannya" lanjutnya lagi.

Agatha memilih beristirahat dan menutup mata setelah memikirkan keputusannya barusan.

1
Mia Camelia
aduh leo kau kejam😂
Mia Camelia
semangat thor😄
cerita nya seru👍
SariRani: Terima kasih kakak 🙏🏻 mohon dukungannya biar semangat berimajinasi hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!