Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Permintaan Merapat
"Hai, isteri orang," sapa Genta manakala ia membawa nampan makan dan duduk di hadapan Aira.
Aira tersenyum kecut. "Makasih, lho,Dok, sudah diingatkan terus kalau saya ini sudah menikah," jawab Aira seraya menyantap sarapan yang kesiangan.
"Habis, kenapa semua jaga malam dibabat? Memangnya kamu nggak diprotes suami?"
Aira menggeleng. "Suami saya pergi tugas, Dok. Kayaknya udah lebih dari seming ... eh, sebulan ternyata, hehe ...."
Genta menatap heran, seraya beberapa kali menggeleng. Ia menyantap sarapannya sembari sesekali memperhatikan Aira.
"Jadi, beneran ya, kamu dijodohin?"
Uhuk!
Aira seketika terbatuk dan nyaris menyemburkan makanan yang baru saja akan ia telan.
Ergh! Sinta emang mulutnya nggak bisa dipercaya, batin Aira kesal.
"Dokter tahu dari mana?"
"Desas desus di IGD."
Aira menaikkan alis kanannya. Ada desas desus? Tentang gue? batin Aira.
"Gosip aja itu, Dok."
Genta mengangguk. "Tapi, saya juga nggak pernah lihat kamu pacaran sama tentara itu. Hidupmu, kan, kamu habiskan di IGD, Aira."
Sedetik itu juga, raut wajah Aira berubah. Ia merengek seperti anak kecil, lalu meletakkan kepala di atas meja makannya. Melihat hal itu, Genta tersenyum.
"Nggak ada salahnya dijodohin juga. Umurmu juga sudah cukup untuk menikah. Orang-orang kayak kita ini, kadang suka nggak ada waktu buat cari jodoh. Kecuali, memang ketemu jodohnya yang nggak jauh-jauh dari rumah sakit," ucap Genta seraya tersenyum.
"Kayak Dokter Genta dan Dokter Alina," ujar Aira kemudian.
"Kapan-kapan mainlah ke rumah. Alina nanyain kamu terus tu."
"Siap, laksanakan! Saya udah mirip istri tentara belum, Dok? Hehe ...."
Genta kembali tertawa. Ia memang dikenal akrab dan dekat dengan junior dan teman sejawat serta para perawat. Terutama, rekan kerjanya di IGD. Namun, dibalik senyum dan kedekatan itu, banyak orang yang menilai Genta terlalu kaku untuk soal pekerjaan. Kadang juga sulit memberi izin cuti. Genta pernah terlibat masalah dengan seorang dokter junior, yang menurut orang-orang adalah "dokter titipan" karena merupakan anak dari kolega pemilik rumah sakit.
Namun, karena kinerjanya tidak baik dan pernah tidur di saat waktu jaga malam, padahal IGD sedang sibuk-sibuknya. Akhirnya, Genta melaporkan hal tersebut pada Direktur Rumah sakit. Berujung pada surat peringatan yang lamgsung diberikan oleh direktur. Dari kejadian itu, Aira semakin kagum dengan sosok atasannya itu. Tidak ada celah untuk bisa bersantai-santai. Semua yang menjadi rekan kerja harus saling bantu.
"Oh, iya, kamu nggak jadi ambil spesialis, Aira? Saya bisa bantu kasih rekomendasi kamu untuk itu. Pengalaman 2 tahun di IGD rasanya cukup untuk mendaftar ke spesialis. Nggak kepingin?" tanya Genta usai menyelesaikan santap siangnya.
"Ya, mau, Dok. Cuma masih memantapkan hati. Saya juga merasa pengalaman saya masih kurang, jadi masih ragu-ragu mau maju atau enggak."
Genta tersenyum. Ia menatap Aira dengan saksama. Sejak Aira datang ke rumah sakit tempatnya bekerja, Genta menilai, Aira adalah orang yang gigih, bekerja keras, mau belajar, tapi jarang mengeluh.
"Jangan ragu. Saya yakin, kemampuan kamu akan bertambah seiring berjalannya waktu. Jika memang ingin mengambil spesialis, langsung putuskan saja. Saya bisa bantu kamu untuk memberikan rekomendasi. Ragunya karena merasa kurang pengalaman atau masih bingung mau ambil spesialis apa?"
Aira tersenyum kaku. "Dua-duanya, Dok. Awalnya, saya mantap ambil spesialis bedah, tapi setelah papa saya sakit dan pada akhirnya meninggal, saya jadi kepikiran mau ambil spesialis jantung."
"Mantapkan saja dulu. Kalau sudah siap, bilang sama saya. Saya akan bantu untuk rekomendasinya. Yang paling penting, suami setuju."
Eh ... itu dia masalahnya, batin Aira. Ia hanya mengangguk tanpa berkata sepatah katapun.
Besok, Aira mendapat jatah turun jaga. Ia menyempatkan diri untuk pulang ke rumah setelah kurang lebih tiga hari memilih untuk istirahat di rumah sakit.
Jam enam pagi Aira sampai di rumahnya. Ia melihat Rahma sudah menyirami tanaman di halaman.
"Inget pulang juga, Ra?" sindir Rahma seraya tersenyum.
"Ck! Mama! Aira kerja, Ma."
"Kerja ya ingat pulang. Apalagi kamu sudah menikah! Nanti suami siapa yang ngurusin?"
Aira berjalan malas masuk ke rumah. Ia menuju dapur dan langsung mengambil air dingin dan meneguknya hingga tandas. Belum selesai air itu masuk dengan tuntas di kerongkongannya, ia melihat sosok asing berdiri tanpa atasan dengan rambut setengah basah.
Byuuur!
Air minum segera menyembur dari mulut Aira. Terkejut saat melihat Baskara berdiri di depan mata. Aira mengerjap beberapa kali, ia memindai Baskara dari ujung kepala hingga kaki.
"Halo, Ai ... kaget ya?"tanya Baskara seraya berjalan mendekati isterinya.
"Kamu ... ngapain nggak pake baju?"
Aira menggeram kesal. Ia pun mendorong Baskara ke kamar agar segera mengenakan pakaiannya.
"Itu ada mama! Emang nggak malu nggak pake baju gitu? Lagian kamu kapan pulang? Kok tiba-tiba banget ada di sini?" tanya Aira kesal. Ya kesal, karena Baskara tiba-tiba datang. Terkadang, Aira butuh persiapan mental untuk menghadapi kenyataan bahwa sekarang pria yang ada di hadapannya itu adalah suaminya.
"Barusan, terus aku langsung ke sini," jawab Baskara seraya mengenakan kaos. "Maaf, jadinya lama."
Aira mengerutkan dahi saat melihat satu luka baru yang sudah mengering di tubuh Baskara. Luka di pundaknya itu ...Luka tembak? Batin Aira.
"Maaf karena nggak bilang-bilang. Kamu marah, Ai?"
Aira terkesiap. Ia pun menggeleng. Matanya mengerjap beberapa kali. Ada hal yang sedikit berbeda pada Baskara. Rambutnya sedikit lebih panjang dari sebelumnya. Beberapa bekas luka di wajah yang juga sudah mengering, dan ada satu goresan luka sedikit memanjang di bawah matanya. Aira terus memindai, tapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Kamu baru pulang, Ai?" tanya Baskara.
Aira terkesiap dengan pertanyaan itu, lalu tersenyum tipis sembari mengangguk. "Habis jaga malam. Biasanya, sih, kalau turun jaga tetap tidur di rumah sakit, tapi kali ini pengen pulang. Nengokin mama."
Baskara mengangguk. Hubungannya dengan Aira terasa sangat canggung. Ia menatap kedua tangannya yang kasar. Bayangan akan tugasnya kemarin kembali terlintas dalam ingatannya.
Baskara dan tim Alpha mendapat tugas untuk menyelamatkan beberapa orang masyarakat yang disandera di Desa Walemapu. Perlawanan sengit diberikan oleh kawanan kelompok separatis bersenjata di sana. Baskara berhasil menyelamatkan seluruh sandera, tapi saat berjalan menuju helikopter, ia tertembak. Satu peluru bersarang di pundak. Beruntung peluru tersebut tidak mengenai organ vitalnya, sehingga Baskara dapat diselamatkan.
"Kamu kenapa, Ai? Kok diam? Marah, ya? Maaf, kalau kemarin aku tiba-tiba ninggalin kamu di hotel untuk tugas. Maaf juga kalau selama ini nggak bisa ngabarin karena nggak sempat pegang ponsel dan ...."
Aira menatap Baskara. Ia menggeleng seraya tersenyum.
"Aku nggak marah. Aku paham kok situasinya. Papaku dulu juga tentara. Udah biasa juga lihat mama ditinggal tugas. Maaf, kalau jadi canggung karena jujur aku kaget lihat kamu ada di rumahku. Kadang aku masih harus nyiapin mental untuk ini. Maaf."
Baskara mengangguk paham. Ia menatap Aira lekat-lekat. Selama tugas dan selama pemulihan di rumah sakit hanya wajah Aira yang memenuhi ingatan Baskara. Terlebih saat peluru menghantam tubuhnya, wajah Aira kembali terlintas. Baskara cukup lega karena ia dapat melihat Aira secara langsung. Baskara paham, proses pernikahannya dengan Aira tanpa rencana, ia pun juga butuh ruang untuk memahami kondisinya sebelum akhirnya bisa menerim kalau Aira kini adalah isterinya.
"Aku ke sini awalnya mau ajak kamu tinggal di asrama, tapi kalau kamu nggak siap, nggak masalah. Bisa ditunda lain waktu," ucap Baskara lembut.
"Pindah ke asrama? Di rumah itu ada siapa?"
"Aku."
"Hah? Berdua doang gitu dirumah, Bas?"
"Ya, iyalah. Namanya juga udah menikah, kita cuma tinggal berdua aja, tapi tenang, ada dua kamar di sana. Kita tetap bisa jaga privasi masing-masing. Senyamannya kamu aja, Ai. Cuma ... kalau nggak sekarang kayaknya aku bakal repot lagi kasih alasan sama orang kompleks dan komandanku, mereka nanyain kamu. Aku bingung mau kasih alasan apa lagi," ucap Baskara.
Alis kanan Aira terangkat. "Kok bisa mereka nanyain aku? Emangnya kamu cerita apa aja sama mereka? Bilang kalau kita dijodohin?"
"Ya enggaklah! Nggak ada yang tahu kalau soal itu. Ya, kamu, kan, tahu ditempatku sebelum nikah harus izin. Ada jenjang-jenjang izinnya itu, termasuk menghadap pejabat-pejabat di batalyon. Kemarin, kan, karena permintaan ayahku soal menghadap itu di skip, bisa dilakukan setelah menikah. Ini makanya aku mau ajak kamu, kalau bisa sekalian aja merapat ke asrama, Ai."
Aira melongo. Ia beberapa kali mengerjapkan mata tidak percaya.
Mati gue! Nggak ada persiapan buat tinggal serumah sama Baskara. Batin Aira.
"Jadi gimana, Ai, permintaan merapanya?"
_____________________