Di hari yang sama, **Kirana Halim** ditinggalkan kekasih empat tahunnya hanya karena dianggap "tidak selevel"—dan di hari yang sama pula, nomor teleponnya diserahkan sang ayah kepada penagih utang demi utang keluarga **Rp 2 miliar**. Malam itu, dalam keadaan mabuk dan hancur lebur, Kirana melakukan satu kesalahan fatal: tidur dengan bosnya sendiri—**Arka**, manajer dingin yang diam-diam diidamkan seluruh karyawati **PT Cakra Nusantara**.
Paginya, Kirana cuma ingin menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Tapi Pak Bos yang biasanya tak tersentuh itu malah berubah jadi pria yang tak sudi melepasnya.
"Anggap saja tidak pernah terjadi, Pak."
"Kamu terlalu manis. Mana bisa kulepas?"
Dari karyawan kontrak bergaji **Rp 6 juta**, Kirana bertekad naik dengan tangannya sendiri—memenangkan tender, diangkat jadi karyawan tetap, naik jadi manajer, sampai kursi direktur. Sementara itu, fitur **"JodohMatch"** di aplikasi Belio terus mencocokkan jodohnya sesuai penghasilan: dari satpam, pegawai kantoran… sampai akhirnya menunjuk pria yang sama—Arka.
Di antara mantan yang menyesal, saingan anak konglomerat, cinta lama yang tiba-tiba kembali, tekanan "bibit-bebet-bobot", dan badai keluarga yang merenggut segalanya, hanya satu hal yang tak pernah berubah: **Arka selalu memilih Kirana.** Dan Kirana? Ia bersumpah akan menjadi perempuan yang pantas—untuk Arka, dan untuk siapa pun.
Tapi kalau pada akhirnya takdir benar-benar mempertemukan mereka lagi… kira-kira, siapa yang akan melamar lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 007: Gendongan di Depan Semua
Wajahnya tidak lagi tenang.
Arka berlutut di depan Kirana tanpa peduli debu lapangan menempel di celana training-nya. Tangannya bergerak cepat, tapi tidak kasar, menyentuh sisi pergelangan kaki Kirana yang mulai memerah.
"Sakit di sini?"
Kirana menggigit bibir. "Sedikit."
"Jangan bohong."
Ia menekan lebih pelan. Nyeri langsung menyambar.
"Ah!"
Mata Arka naik, tajam. "Sandi, mobil."
Sandi yang baru sampai langsung mengangguk. "Siap, Pak."
Wanda berdiri di belakang kerumunan dengan wajah cemas yang terlalu rapi. "Pak Arka, tadi saya nggak sengaja. Saya benar-benar..."
Arka tidak menoleh. "Mundur."
Satu kata itu membuat kerumunan mendadak sunyi.
Kirana panik. "Pak, saya bisa jalan. Ini cuma keseleo."
"Kamu tidak bisa berdiri."
"Bisa kalau pelan-pelan."
Arka menatapnya seperti ia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal. "Kira, diam sebentar."
Sebelum Kirana sempat memprotes, Arka menyelipkan satu tangan di belakang punggungnya dan satu lagi di bawah lututnya. Tubuh Kirana terangkat dari tanah dalam satu gerakan mudah.
Lapangan meledak.
"Astaga!"
"Pak Bos gendong Bu Kirana!"
"Cepat foto!"
Suara kamera ponsel terdengar dari beberapa arah. Kirana langsung menutup wajah dengan kedua tangan, tapi itu hanya membuat posisinya semakin memalukan. Ia bisa merasakan lengan Arka kuat menahan tubuhnya, dada pria itu dekat sekali dengan bahunya, aroma mint dan keringat bersih bercampur dengan udara panas lapangan.
"Turunkan saya," bisiknya.
"Tidak."
"Semua orang lihat."
"Bagus. Biar mereka tahu jangan main-main kalau kamu cedera."
"Itu bukan inti masalahnya."
"Bagi saya itu inti masalahnya."
Kirana ingin marah, tapi rasa sakit di kakinya dan panas di wajahnya membuat semua kalimat tersangkut. Di antara kerumunan, ia melihat Mbak Yanti mengangkat ponsel sambil mulutnya membentuk kata maaf tanpa benar-benar berhenti merekam.
Wanda berdiri kaku. Senyumnya hilang.
Arka membawa Kirana melewati lapangan seolah tidak ada ratusan mata menempel di punggung mereka.
***
Klinik terdekat berada lima belas menit dari lapangan. Di dalam mobil, Kirana duduk di kursi belakang dengan kaki ditopang jaket Arka yang dilipat. Ia sudah tiga kali mengatakan tidak perlu ke dokter. Arka mengabaikan ketiganya.
Di klinik, perawat memeriksa bengkak di pergelangan kakinya, lalu dokter muda memastikan tidak ada retak tulang.
"Sprain ringan. Dikompres, istirahat, jangan banyak jalan dulu dua tiga hari. Kalau bengkaknya tambah parah, kontrol lagi."
"Perlu foto rontgen?" tanya Arka.
Dokter tersenyum sopan. "Untuk sekarang belum perlu, Pak. Tapi kalau Bapak khawatir, bisa."
"Saya khawatir."
Kirana menoleh cepat. "Pak Arka."
Arka menatapnya. "Apa?"
"Dokternya bilang belum perlu."
"Saya dengar."
"Berarti ikuti dokter."
Dokter muda itu menahan senyum. Perawat pura-pura merapikan meja.
Akhirnya Arka mengalah, tapi hanya setelah memastikan obat, kompres dingin, dan perban elastisnya lengkap. Ia membayar di kasir sebelum Kirana sempat membuka dompet.
"Saya bisa bayar sendiri," kata Kirana.
"Saya yang bawa kamu ke klinik."
"Karena Bapak memaksa."
"Karena kamu jatuh."
"Karena lomba kantor."
"Karena Wanda terlalu dekat di belakangmu."
Kirana terdiam.
Arka melihat lurus ke depan saat mereka keluar dari klinik. Suaranya rendah. "Saya tidak suka orang menyakiti kamu lalu berlindung di balik kata nggak sengaja."
Kalimat itu lebih kuat daripada obat nyeri yang baru ia minum.
Kirana menatap profil wajahnya. "Bapak lihat?"
"Saya lihat cukup."
"Kalau Bapak mempermasalahkan itu, orang kantor akan makin ramai."
"Kalau saya diam, dia akan mengulang."
"Saya bisa urus sendiri."
"Saya tahu kamu bisa." Arka menoleh singkat. "Tapi bisa bukan berarti harus selalu sendirian."
Ponsel Kirana bergetar tanpa henti sepanjang perjalanan pulang. Grup WhatsApp kantor sudah berubah menjadi pasar malam.
Mbak Yanti: Ini bukti Pak Bos punya refleks superhero.
Seseorang mengirim foto Arka mengangkat Kirana dari lapangan. Dalam foto itu, wajah Kirana tertutup tangan, tapi lengan Arka yang memeluknya terlihat jelas.
Rekan kantor: Cocok banget kayak adegan drakor.
Yang lain: Sensor IoT kalah panas sama sensor hati Pak Bos.
Lalu muncul video pendek. Dari sudut kamera yang goyang, terlihat Arka menerobos kerumunan, berlutut, lalu mengangkat Kirana tanpa bertanya pada siapa pun. Suara orang-orang di belakang terdengar riuh, sementara Wanda tampak berdiri kaku di tepi frame.
Mbak Yanti: Yang tadi bilang nggak sengaja kok mukanya pucat banget ya?
Beberapa orang langsung mengirim emoji tutup mulut. Tidak ada yang menyebut nama Wanda, tapi semua orang tahu siapa yang dimaksud.
Kirana tahu besok pantry akan menjadi ruang sidang tidak resmi untuk mereka berdua, lengkap dengan kopi sachet dan tatapan ingin tahu.
Kirana ingin membuang ponselnya keluar jendela.
Lalu pesan pribadi dari Mega masuk.
Mega: LO DIGENDONG PAK ARKA??? KIRANA HALIM JAWAB GUE.
Kirana memejamkan mata.
Hidupnya resmi tidak bisa pura-pura normal.
***
Arka mengantar Kirana sampai depan pintu kos. Tangga sempit menuju lantai dua membuatnya hampir kembali mengangkat Kirana, tapi kali ini ia menolak dengan tatapan yang cukup galak.
"Saya bisa naik pelan-pelan."
"Saya di belakang."
"Jangan terlalu dekat."
"Kalau kamu jatuh?"
"Saya tidak akan jatuh kalau Bapak tidak bikin saya gugup."
Arka diam sebentar. Lalu, sangat pelan, ia berkata, "Jadi saya bikin kamu gugup."
Kirana hampir salah pijak.
"Itu bukan pengakuan."
"Saya tidak bilang itu pengakuan."
Ia berhasil masuk kamar dengan martabat yang tersisa sedikit. Arka meletakkan kantong obat di meja kecil, lalu ponselnya berdering.
Nama di layar: Oma.
Wajah Arka berubah lebih lembut sebelum ia mengangkat telepon.
"Oma."
Suara perempuan tua terdengar cukup keras dari speaker karena kamar Kirana kecil. "Arka, kamu di mana? Oma lihat foto di grup keluarga Kelvin. Kamu gendong perempuan?"
Kirana membeku di tepi kasur.
Arka menutup mata sebentar. "Oma, itu urusan kantor. Dia cedera."
"Cantik?"
"Oma."
"Jawab saja. Kalau sudah berani gendong di depan orang banyak, kapan bawa pulang calon ke rumah?"
Wajah Kirana terasa terbakar sampai telinga.
Arka meliriknya. Untuk pertama kalinya hari itu, ia terlihat hampir salah tingkah. "Nanti Arka telepon lagi."
"Jangan nanti terus. Oma sudah tua."
"Oma sehat sekali untuk menekan cucu sendiri."
Tawa Oma Mei terdengar hangat sebelum telepon diputus.
Kamar mendadak terlalu sunyi.
Kirana menatap kantong obat. "Bapak sebaiknya pulang."
"Istirahat. Kakinya dikompres dua puluh menit."
"Saya tahu."
"Makan dulu sebelum minum obat."
"Saya tahu."
"Kamu punya makanan?"
Kirana hendak menjawab ada, lalu ingat isi kamarnya hanya mi instan dan martabak sisa Mega semalam.
Arka membaca wajahnya terlalu cepat. "Saya beli."
"Pak Arka, jangan."
"Saya bukan bertanya."
Ia pergi sebelum Kirana bisa menyusun bantahan.
Malam turun perlahan. Kaki Kirana berdenyut, tapi yang lebih mengganggu adalah foto di grup WA dan suara Oma Mei yang terus berputar di kepala. Kapan bawa pulang calon?
Calon apa? Mereka bahkan bukan apa-apa.
Sekitar pukul delapan, pintu kamar diketuk.
Kirana membuka pintu dengan satu tangan berpegangan pada dinding.
Arka berdiri di luar, masih memakai kaus gathering, rambutnya sedikit berantakan. Di tangannya ada paper bag dari restoran rumahan terkenal.
"Sup buntut," katanya.
Kirana menatap kantong itu. "Bapak balik cuma untuk ini?"
"Kamu tidak bisa masak."
"Saya bisa pesan online."
"Ini lebih cepat."
"Pak Arka."
"Kira." Suaranya turun, tidak lagi sekeras di kantor atau lapangan. "Makan dulu. Setelah itu kamu boleh marah lagi."
Entah karena kakinya sakit, karena sup itu masih mengepul hangat, atau karena hari ini terlalu panjang, Kirana akhirnya mundur dan membiarkannya masuk.
Arka meletakkan sup di meja, membuka tutupnya, lalu menyodorkan sendok. Kuah hangat beraroma pala dan cengkeh memenuhi kamar kos sempit itu, membuatnya mendadak terasa tidak terlalu menyedihkan.
Kirana mengambil sendok.
"Ini tetap tidak berarti apa-apa," katanya pelan.
Arka duduk di kursi plastik, menatapnya dengan mata yang terlalu tenang.
"Kalau begitu makan saja sesuatu yang tidak berarti apa-apa."
Kirana menunduk, menyendok kuah pertama, dan gagal menahan hangat yang perlahan naik ke dadanya.
woyyyyyyyy,,,buruan,,,,ayo baca novel ini,,, sumpah,,, bagus banget ceritanya,,,