Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 19 KELUARGA DEWANGGA
3 BULAN BERLALU
Hubungan Alien dan Erlangga semakin membaik kini masa tugas di Bandung sudah selesai dan akhirnya mereka berdua bisa pulang ke Jakarta.
Erlangga akan membawa Aline pulang ke kediaman Dewangga. Sekalian memperkenalkan calon istrinya kepada seluruh keluarganya.
Begitu pun dengan Aline selama tiga bulan ini. Ia sudah tidak mengetahui kabar ayahnya, ibu dan adik tirinya, mereka bener-bener menghilang dan tidak memberi kabar kepadanya setelah memutuskan hubungan dengannya.
Kini Aline berada di dalam mobil bersama Erlangga. Akhir-akhir ini kesehatan Aline sedikit memburuk karena kehamilannya yang sangat menguras tenaga bahkan di malam hari pun ia tidak hentinya memuntahkan apapun yang ia makan.
Erlangga menatap calon istrinya yang berada di samping, raut wajahnya tampak terlihat pucat. "Sayang, apa kamu masih ngerasa nggak enak badan? Kalau begitu kita cari penginapan dulu, ya. Agar kamu bisa istirahat."
Aline menggeleng pelan sambil menyandarkan kepalannya pada bahu Erlangga. "Aku nggak apa-apa kok, berapa jam lagi kita sampai?" tanya Aline dengan nada lirih.
"Kurang lebih kita akan sampai satu jam lagi."
"Kalau begitu aku tidur dulu, kalau udah nyampe bangunin aku."
Tangan kanan Erlangga yang tidak memegang setir terulur mengelus kepala Aline dengan lembut saat melihat wanita itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Erlangga melajukan mobilnya membelah kota di tengah malam hari, hanya suara mesin yang menderu halus dan dengkuran kecil dari Aline yang mengisi suasana di dalam mobil.
Satu jam kemudian mobil itu tiba di depan sebuah rumah berlantai tiga.
Erlangga sejenak menatap Aline yang masih tertidur. Ia mengelus lembut pipi wanita itu yang membuatnya melenguh kecil.
"Sayang, kita sudah sampai."
Aline langsung mengerjapkan matanya, seketika matanya membulat saat melihat sebuah rumah mewah di hadapannya.
"Ini beneran rumah kamu?" tanya Aline nada suaranya terdengar rasa cemas dan takut. "Aku merasa... aku nggak pantes." tangan Aline mulai terasa dingin saat menggenggam tangan Erlangga.
Erlangga yang merasakan tangan Aline menjadi dingin, berusaha menyalurkan kekuatannya pada wanitanya yang sedang merasa tidak percaya diri. Ia membalas genggaman tangan itu.
"Nggak perlu khawatir, Sayang! Tenang. Ada aku. Semua keluargaku pasti terima kamu dengan baik." kata Erlangga suaranya terdengar lembut dan menenangkan.
Tiba-tiba Erlangga turun dan membukakan pintu mobil untuk Aline. Setelah itu Erlangga menuntun Aline melangkah menuju pintu utama.
Saat tiba di depan pintu, Aline semakin mengeratkan genggaman tangannya pada jemari tangan Erlangga.
Erlangga yang merasakan itu mengelus punggung tangan Aline berusaha menenangkannya. Kemudian ia menekan bel rumah itu.
Ting! Nong! Ting! Nong!
Tidak membutuhkan waktu lama pintu itu terbuka. Menampilkan seorang asisten rumah tangga yang sudah pauh baya.
"Asalamualaikum, Mbok!"
"Waalaikumsalam. Aden Erlangga! Mbok pikir siapa."
Sejenak Mbok Inah melirik ke arah Aline.
"Siapa perempuan yang bersama Aden Erlangga, cantik sekali?" batin Mbok Inah bertanya-tanya penuh rasa penasaran.
Erlangga membawa Aline masuk ke dalam rumah. Seketika suasana ornamen mewah menyambut pemandangan Aline.
"Mami sama Daddy di mana. Mbok?" tanya Erlangga.
"Kebetulan Tuan dan Nyonya sudah istirahat, hanya ada Aden Bram dan juga Istrinya yang belum tidur, apa perlu Mbok panggilkan." tawar Mbok Inah.
"Tidak perlu Mbok, kebetulan saya juga mau langsung istirahat." tolak Erlangga dengan halus.
Mbok Inah mengangguk pelan.
Setelah itu Erlangga membawa Aline ke lantai dua menuju kamarnya. Erlangga merasakan ketegangan di genggaman Aline hanya tersenyum tipis.
"Tidak perlu takut, Sayang! Kamu calon istriku dan sekaligus Ibu dari anakku. Tidak perlu merasa rendah diri karena kamu punya aku. Sekarang rumah ini akan menjadi tempat tinggal kamu nantinya." kata Erlangga sambil mensejajarkan langkahnya dengan Aline.
Aline masih tetap diam seolah masih terkejut dan tidak percaya dengan pria yang ada di sampingnya. Ia tidak pernah menyangka jika Erlangga ternyata memiliki segalanya.
Hingga keduanya tiba di depan pintu kamar. Seketika jantung Aline berdebar sangat kencang.
Erlangga perlahan membuka pintu tersebut, seketika aroma maskulin menyambut indra penciuman Aline. Ia mulai melangkah masuk mengikuti langkah Erlangga dari belakang.
Ia melihat sekeliling ruangan itu, kamar yang bernuansa abu-abu. Beberapa rak buku tampak berjejer rapi, sepertinya buku-buku medis milik Erlangga, pikir Aline.
Erlangga mendekat ke arahnya. Tatapanya memancarkan cinta yang dalam dan senyum hangat yang tidak pernah Aline lihat sebelumnya.
"Kita tidur satu kamar?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Aline saat melihat tatapan aneh pria itu.
Erlangga mengangguk pela. "Iya! Memang kamu mau tidur di mana, hmm." bisik Erlangga, nada suaranya tersirat penuh makna.
Erlangga semakin mengikis jarak di antara mereka, hingga Aline dengan refleks melangkah mundur sampai menempel pada dinding.
Kedekatan mereka membuat jantung Aline semakin tidak menentu. Aroma tubuh Erlangga membuatnya semakin kehilangan akal.
Erlangga yang melihat wajah Aline bersemu merah terkekeh kecil dalam hati.
Namun, tidak lama kemudian gejolak dalam perut Aline kembali muncul ia tidak bisa menahannya lagi dan detik itu juga Aline memuntahkan isian perutnya di hadapan Erlangga.
Huek... Huek...
"A-kku ingin ke kamar mandi, jangan menggodaku lagi." lirih Aline dengan raut wajah lemas sambil membekap mulut dengan kedua tangannya.
Erlangga mulai cemas, ia pikir bisa menenangkan wanita itu agar tidak merasa tegang malah berakhir seperti ini.
Dengan sigap ia langsung menuntun Aline menuju kamar mandi.
Di dalam kamar yang lain, tampak seorang wanita paruh baya dan pria paruh baya seketika terlonjak kaget saat mereka samar-samar mendengar suara seseorang yang sedang muntah.
"Daddy itu suara siapa? Apakah putra bungsu kita sudah kembali?" tanya Alya Dewangga tampak khawatir. Ia seorang wanita paruh baya yang memiliki dua putra dan masih terlihat muda.
Pria paruh baya yang tengah memeluk istrinya menggeleng pelan, tanda bahwa ia sendiri tidak tau.
"Nggak tau Mom, coba kita lihat mungkin saja memang Erlangga sudah selesai bertugas di Bandung." usul Kusuma Dewangga pria paruh baya yang masih terlihat gagah.
"Ya udah ayok cepet bangun. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan putra kita, ngapain masih peluk-peluk aja sih!" gerutu Alya. Ia langsung melepaskan tangan suaminya dan beranjak dari tempat tidur lalu menarik tangan suaminya ke luar kamar.
Di kamar lain, Erlangga tampak tengah dilanda rasa khawatir. Bagaimana tidak. Aline tidak hentinya memuntahkan isian perutnya di wastafel yang bahkan tidak ada apa-apanya karena Aline sama sekali belum makan apapun.
Ia mengusap-ngusap tengkuk leher Aline dengan lembut sambil memberikan minyak angin. "Gimana udah mendingan belum?"
Aline menggeleng lemas. "Ternyata hamil itu sangat melelahkan..." lirihnya.
"Hamil..." kedua pasangan paruh baya itu membeku saat mendengar kalimat itu. Mereka saling melirik satu sama lain saat sudah berada di kamar putranya.
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣