Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 7.
Gama :
nanti pulang sama gue
Aurora :
tapi nunggu murid yang lain pada pulang
Gama :
hem
Aurora mengajukan permintaan bahwa jangan sampai ada orang yang tahu bahwa mereka pacaran, eh apa bisa di sebut pacaran karna mereka bukan pacaran karna saling suka, tapi karna ada maksud tertentu.
Aurora takut di serang oleh fans Gama meskipun tidak ada cewek-cewek yang berani mendekati Gama secara terang terangan tapi Aurora tahu bahwa banyak cewek-cewek yang mendambakan Gama menjadi pacar mereka.
"Gimana, gimana tadi." Tanya Zara heboh.
"Enggak gimana gimana." Sahut Aurora kalem.
"Serius anjir." Sebal Zara.
"Gue juga serius."
Aurora menahan tawa melihat Zara yang mulai kesal dengan tingkah Aurora yang cuek, habisnya Aurora tahu Zara tidak bisa di pegang ucapannya.
Karna sekarang jam kos guru yang mengajar di kelas Aurora tidak bisa hadir karna suaminya sakit akhirnya hanya di kasih tugas yang di share di group kelas, Aurora yang sedang fokus mengejarkan tugas terganggu dengan Zara yang terus mengoceh di sampingnya.
"Apa sih ah ganggu mulu lo."
"Ya makanya kasih tau gue."
"Kan udah gue kasih tau."
"Mana ada lo kasih tau gue."
Billy kakak kelas Aurora datang ke kelasnya sekarang bukan sendiri tapi dengan Alviano Mahendra, Alviano termasuk most wanted di sekolah ia cowok tertampan urutan kedua yang di gandrungi oleh cewek-cewek sekolah ini.
Alviano juga termasuk jadi incaran Zara, tapi bukan karna tampangnya yang ganteng Zara mengincar bokong cowok yang seksi, montok aneh kan memang aneh, tapi Zara selalu memerhatikan Alviano secara diam-diam.
Zara juga selalu membicarakan tentang bokong Alviano yang montok, sampai Aurora dan Khanza jengah mendengarkannya, seperti seperti sekarang Zara terlihat berpura-pura fokus pada buku pelajaran, padahal aslinya Zara menahan diri untuk tidak berteriak karna Alviano ada di sebelahnya.
"Lagi apa nih?." Tanya Billy.
Mereka bertiga menghiraukan Billy tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
"Anjir tega banget nggak ada jawab gue." Protes Billy
"Apa sih jamet?!." Tukas Khanza.
"Jamet, jamet gini gue ganteng ya." Tukas Billy pd sambil mengibaskan rambut ke belakang belaga sok keren.
"Ganteng kalau di liat dari ari ari." Saut Zara.
"Eh, Neng Zara mau nggak abang nafkahi?." Goda Billy sampai matanya di kedip kedip.
"Nggak." Jawab Zara tegas.
Alviano hanya diam memerhatikan Billy yang sedang menggoda Zara.
"Eh Al lo kok diem aja." Ujar Billy.
"Terus gue harus apa?."
"Ya ngomong lah."
"Ini gue dah ngomong."
"Serah lo deh."
"Eh Zara, lo kok jadi kalem gini biasanya juga banyak tingkah lo." Tanya Billy heran kepada Zara karna biasanya gadis ini selalu mengumpatinya atau memukulinya.
Aurora dan Khanza menatap kearah arah menahan tawa karna tahu kenapa Zara menjadi pendiem seperti ini siapa lagi kalau bukan karna Alviano ada di sini.
"Apa sih berisik."
"Jangan ganggu dia lagi fokus belajar." Bela Alviano kepada Zara.
Zara yang mendengar belaan dari Alviano merasa perutnya bergejolak entah kenapa Zara jadi ingin tersenyum salah tingkah, tapi Zara mencoba menahannya.
"Halah, bego juga nggak akan nyantol di otak lo juga." Hina Billy tanpa di saring.
Zara yang kesal akhirnya melemparkan tempat alat tulis kearah Billy dan tepat mengenai kepala Billy.
Duk...
"ADOH sakit pala gue." Rintih Billy.
" MAMPUS LO MAKANYA JANGAN HINA GUE LO, KENA BATUNYA KAN!!." Teriak Zara di depan muka Billy
Zara yang ingin meluapkan emosinya seketika diam setelah Alviano memegang tangannya lembut, yang mana membuat Zara menjadi kalem lagi.
Aurora dan Khanza cengo melihat Zara bisa setenang itu, hanya karna di pegang tangannya oleh sosok Alviano, Aurora harus mengingat moment langka ini.
"Udah, jangan di ladenin orang kayak Billy." Tukas Alviano kepada Zara.
Zara tidak membalas hanya mengangguk pelan tanpa menatap kerah Alviano, Zara tidak berani menatap kearah Alviano karna sekarang pipinya terasa panas kalau sampai ketahuan oleh Alviano atau teman temannya mau di taruh dimana mukanya ini, kalau Zara ketahuan sedang salah tingkah.
Waktu pulang sudah berbunyi nyaring semua murid keluar, mereka berjalan keluarga beriringan.
"Ra lo mau naek gojek lagi?." Tanya Khanza.
Aurora mengangguk ia tidak memberitahu mereka kalau Aurora sekarang pulang bareng sama Gama, bahkan mereka tidak tahu Aurora sudah jadian dengan Gama.
"Gapapa lo sendiri nunggu gojeknya?." Tanya Zara.
"Iya gapapa."
"Yaudah gue sama Khanza duluan ya best." Pamit Zara dan Khanza.
Aurora mengangguk pelan dan melambaikan tangan kearah mobil yang di kendarai oleh Zara.
Aurora melangkah kearah lumayan jauh dari area yang selalu banyak murid sekolahnya berada, Aurora menunggu Gama di belakang sekolah yang jarang ada murid ke sini.
Tin... Tin... Tin...
Aurora mengangkat kepalanya dan melihat mobil BMW, segera Aurora masuk karna ia tahu ini mobil Gama.
"Hai." Sapa Aurora.
"Hai."
Tidak ada percakapan selama perjalanan pulang sebelum Gama bersuara memecah keheningan.
"Mau makan dulu di luar?." Tanya Gama.
"Eh, nggak usah nanti aja di rumah."
"Kakak laper?."
Gama menggeleng."Enggak, gue takut lo laper jadi gue nawarin mau makan dulu."
Aurora tersenyum kecil."Laper sih, tapi aku mau makan di rumah aja."
Gama mengangguk.
"Kakak mau makan bersama di rumah? tapi mungkin makananya apa adanya." Tawar Aurora.
"Boleh?." Tanya Gama.
"Ya boleh lah, masa nggak boleh."
Gama tersenyum kecil ia kembali fokus berkendara dan suasana kembali hening.
Sesampainya di rumah Aurora Gama memarkirkan mobilnya tepan di depan rumah Aurora, karna rumah Aurora bukan di gang yang sempit jadi masih bisa untuk parkir di depan rumahnya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh nak ganteng dateng lagi." Sapa ibu Larasati.
Gama tersenyum sopan dan mengulurkan tangan kearah ibu larasati untuk mencium tangannya.
"Iya tan."
"Eh panggil aja ibu, jangan tante."
Gama mengangguk kecil dan ibu larasati menyuruh Gama masuk kerumah dan seperti biasa Aurora selalu di abaikan kalau ada Gama yang datang ke rumah.
Kebetulan hari ini ada ayah Damar sedang di rumah Aurora tanpa malu di sini ada Gama langsung gelendotan kepada sang ayah, ayahnya yang sudah terbiasa dengan tingkah Aurora yang manja ini mengelus kepada Aurora lembut, membiarkan Aurora memeluknya tanpa melepaskannya.
"Heh, nggak malu ini ada Gama?." Tegur Ibu Larasati.
Ayah Damar yang mendengar istrinya menyebut seorang pria menengok kearah samping, dan ya benar ada pria berdiri di belakang istrinya ayah Damar tidak tahu siapa dia.
"Siapa bu?." Tanya Ayah Damar.
"Oh ini Gama yah dia temennya Ara."
Gama yang merasa di panggil berjalan kearah ayahnya Aurora sambil tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya untuk menyalimi ayahnya Aurora, Ayah Damar melepaskan pelukan Aurora dan menyapa Gama.
"Sini nak duduk, gapapa di sini apa mau di ruang tamu aja?."
"Di sini aja tan eh bu."
"Yaudah, ibu mau masak lagi jangan dulu langsung pulang ya nanti kita makan bareng."
Gama mengangguk tersenyum.
"Heh! ganti itu seragam kamu bukannya gelendotan mulu." Ngomel Ibu Larasati.
Aurora mengerucutkan bibir kesal kearah ibunya.
"Udah sana ganti baju dulu." Ujar Ayah Damar sambil mengusap kepala Aurora sayang.
Aurora dengan terpaksa melangkahkan kaki ke arah kamarnya sambil menghentakkan kaki karna kesal.
Ibu Larasati geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak sulungnya yang manja itu, berbanding terbalik dengan Gama yang merasa lucu dengan tingkah Aurora.