"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tante jangan pergi
Siti menarik napas panjang, menatap bayangannya sendiri di cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang masih rata.
“Aku pergi bukan karena benci. Tapi karena sayang... sayang sama rumah ini, sama Mas Yusuf, sama Mbak Nora, sama Haikal," bisiknya pelan.
Ia mulai memasukkan beberapa helai bajunya ke dalam tas kecil. Tidak banyak yang ia punya. Hanya pakaian seadanya, mukena lusuh pemberian ibunya dulu, dan buku tabungan dengan sisa gaji yang jarang ia pakai.
Baru saja ia menutup resleting tas, pintu kamar diketuk pelan.
“Siti...” Suara Yusuf terdengar ragu dari balik pintu.
Siti terdiam. Jantungnya berdebar. Untuk sesaat ia ingin mengabaikannya dan pergi diam-diam. Tapi tangannya bergerak sendiri membuka pintu.
Yusuf berdiri di sana, kemejanya sudah rapi. Tapi matanya menatap tas yang Siti pegang.“Kamu mau ke mana?” tanyanya, suaranya rendah.
Siti menunduk. “Saya pamit, Mas. Saya rasa... lebih baik saya tidak di sini lagi. Biar Mbak Nora tenang. Biar Haikal tidak bingung. Biar Mas juga tidak serba salah terus.”
Yusuf menghela napas, memijat pangkal hidungnya. “Kamu pikir dengan pergi semua masalah selesai?”
“Bukan selesai, Mas. Tapi setidaknya tidak tambah parah,” jawab Siti lirih. “Saya tahu Mas hanya berusaha adil. Tapi keadilan Mas itu melukai Mbak Nora. Dan saya tidak mau jadi alasan luka itu.”
Untuk beberapa detik, hanya hening di antara mereka. Sampai akhirnya Yusuf berkata, pelan tapi tegas:
“Kalau kamu pergi sekarang, kamu menzalimi anak yang ada di kandunganmu. Dia berhak punya ayah. Dan aku... aku berhak bertanggung jawab.”
Air mata yang Siti tahan akhirnya jatuh juga. “Tapi saya juga tidak mau menzalimi perasaan Mbak Nora, Mas. Beliau istri pertama. Ibu dari anak Mas. Saya ini siapa? Saya cuma...”
“Kamu ibu dari anakku juga,” potong Yusuf. “Dengar Siti, aku menikahimu bukan karena nafsu semata. Malam itu salah, iya. Tapi aku memilih bertanggung jawab karena aku lelaki. Dan aku tidak akan lari. Aku juga tidak akan membiarkan kamu lari.”
Dari ujung lorong, Nora melihat keduanya. Dadanya sesak. Amarah, cemburu, dan takut bercampur jadi satu. Tapi saat melihat Haikal mengintip dari balik pintu kamarnya dengan mata bingung, hati Nora mencelos.
_Tega kah aku membuat anakku tumbuh dalam rumah yang penuh teriakan?_ batinnya.
Nora melangkah mendekat. Siti refleks menunduk, menyembunyikan tasnya ke belakang. Yusuf menoleh.
“Mas, antar Haikal sudah telat,” ucap Nora datar, menghindari tatap mata Siti. Lalu ia menoleh ke Siti sepersekian detik. “Kamu... kalau mau pergi, pergi saja. Tapi jangan harap Mas Yusuf akan lepas tanggung jawab. Gaji kamu tetap akan dikirim tiap bulan buat anak itu. Anggap saja kamu dulu pernah numpang kerja di sini.”
Kata-kata itu lebih tajam dari pisau. Siti menggigit bibir, menahan tangis. Yusuf mengepalkan tangan.
“Nora, cukup,” ujar Yusuf. “Kalau kamu terus begini, kamu yang justru mendorong Siti pergi. Apa itu yang kamu mau? Rumah ini kehilangan satu orang lagi?”
Nora tertegun. Haikal tiba-tiba bersuara dari belakang, “Papa, Tante Siti mau ke mana? Tante Siti nggak boleh pergi. Nanti siapa yang bikin susu vanila buat Haikal?”Ternyata Haikal masih sangat menyayangi Siti. Karena selama ini Haikal begitu dekat dengan siti. Sedari Haikal masih kecil, sitilah yang merawat dan menjaganya. Entah apa yang membuat bocah itu bisa bicara tidak sopan pada Siti semalam.
Kalimat polos itu meruntuhkan pertahanan semua orang di sana. Siti langsung berjongkok, memeluk Haikal erat. “Tante di sini, Sayang. Tante nggak ke mana-mana...”
Nora memalingkan wajah, tapi air matanya sudah tidak bisa dibendung. Yusuf menatap istrinya, lalu menatap Siti yang memeluk anaknya.
Masalah ini tidak akan selesai hari ini. Tapi untuk pertama kalinya, Nora sadar: mengusir Siti bukan solusi. Karena yang hancur bukan cuma Siti... tapi juga Yusuf, dan Haikal.
“Mas berangkat dulu,” ucap Yusuf akhirnya, memecah hening. Ia mengusap kepala Haikal, menatap Nora lama, lalu menatap Siti sekilas. “Siti, kamu istirahat. Jangan ke mana-mana sebelum aku pulang. Kita bicara lagi nanti malam. Bertiga.”
Yusuf pergi, meninggalkan dua perempuan dengan luka dan posisi yang sama rumitnya, serta seorang anak kecil yang tidak mengerti kenapa orang dewasa serumit ini.
Siti menutup pintu kamar pelan. Tasnya ia geser ke bawah kolong tempat tidur. Mungkin belum hari ini ia pergi. Mungkin ia harus dengar dulu apa kata “bicara bertiga” nanti malam.
Bersambung....
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣