Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Damar yang Mulai Bergerak
Aroma cerutu memenuhi ruang kerja itu. Tipis, pekat, dan menyesakkan.
Damar Virello duduk santai di kursi kulit hitamnya, sambil memutar gelas whiskey di tangan kanan.
Tatapannya b lurus ke layar besar di depannya, menampilkan rekaman CCTV mansion keluarga Virello.
Dan dekat di layar itu, Arkan sedang menggenggam tangan Alya, terlalu lembut untuk seorang monster seperti Arkan.
Sudut bibir Damar terangkat pelan, "Jadi akhirnya kamu mulai lemah juga, adikku."
Pria bertato di sampingnya menunduk hormat, "Orang-orang kita sudah memastikan, Tuan. Kalau Arkan sudah mulai menutup beberapa jalur bisnis untuk melindungi istrinya."
"Melindungi?" Damar tertawa pendek. "Dia bahkan tidak pernah melindungi dirinya sendiri."
Ia mematikan layar dengan satu sentuhan, sebagian ruangan langsung gelap.
Namun pikiran Damar justru semakin terang, selama bertahun-tahun, Arkan selalu sempurna. Terlalu sulit disentuh, dan terlalu dingin untuk dimanipulasi.
Tapi sekarang, Alya Maheswari menjadi celah pertama dalam pertahanan Arkan Virello. Dan Damar akan menghancurkan celah itu secara perlahan.
"Di mana wanita itu sekarang?" tanyanya tenang.
"Dia berada di mansion, Tuan."
"Bagaimana dengan para pengawalnya?"
"Para pengawal semakin diperketat," ucap pria yang berada di sampingnya.
Damar menyeringai kecil, "Arkan terlalu panik."
Ia berdiri, dan menuju jendela besar apartemennya. Cahaya kota Jakarta memantul di matanya yang gelap.
"Kamu tahu, kenapa orang kuat selalu kalah?"
Pria bertato itu hanya diam, dan tidak menjawab pertanyaan dari Damar.
"Karena mereka mulai punya sesuatu yang takut mereka akan kehilangan sesuatu itu, dan Alya adalah ketakutan baru bagi Arkan," lanjut Damar, sambil meminum whiskeynya hingga habis.
Sementara itu, mansion Virello terasa jauh lebih sunyi, Alya berdiri di balkon kamar, sambil memeluk dirinya sendiri.
Angin malan menerbangkan rambut panjangnya, tapi pikirannya jauh lebih kacau dibanding udara dingin itu.
Bab sebelumnya masih membekas di dadanya, tatapan Arkan, nada suaranya, cara pria itu menariknya menjauh dari ruang bawah mansion tadi malam.
Seolah Arkan takut sesuatu terjadi padanya, dan itu membuat Alya semakin bingung.
Karena pria seperti Arkan, tidak seharusnya bisa peduli pada siapa pun.
Pintu kamar terbuka pelan, Alya langsung menoleh. Arkan masuk tanpa suara, ia masih mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing atas terbuka. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya tetap tajam seperti biasa.
"Apa kamu belum tidur?" tanyanya dingin.
Alya memalingkan wajah, "Aku tidak mengantuk."
Arkan melepas jam tangannya, "Apa kamu menangis lagi?"
"Aku tidak menangis," jawab Alya datar.
"Tapi kamu sangat buruk dalam berbohong, Alya."
Alya menggigit bibir bawahnya pelan, entah kenapa, akhir-akhir ini Arkan selalu bisa membaca dirinya terlalu mudah. Dan itu sangat menakutkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi di keluarga ini?" tanya Alya akhirnya.
Arkan berhenti bergerak, dan malam itu raut wajah Arkan berubah sedikit.
"Kamu tidak perlu tahu apa pun, Alya."
"Kenapa aku nggak perlu tahu? Aku juga berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena sekarang aku ini istrimu."
"Kamu hanya perlu untuk tetap hidup, hanya itu yang harus kamu tahu."
Jawaban itu membuat dada Alya terasa sesak, "Aku benci jika kamu selalu bicara seolah aku ini tahanan di rumah ini."
Arkan berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat napas Alya terasa lebih berat.
"Kalau aku benar-benar ingin menjadikanmu tahanan," suara Arkan terdengar rendah dan dingin. "Kamu bahkan tidak akan bisa berdiri di balkon ini sendirian."
Alya menatap tajam pria di depannya, "Lalu kenapa aku masih berada di sini?"
Arkan diam beberapa detik, dan keheningan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah bentakan.
Karena Alya mulai takut mendengar jawaban sebenarnya, tatapan Arkan turun ke wajahnya.
"Aku juga belum menemukan alasannya," ucap pria itu pelan.
Jantung Alya berdegup dengan cepat, ia merasa jawaban itu paling jujur sejak mereka menikah.
Dan itu berbahaya, karena perlahan, tembok dingin yang Alya bangun mulai retak.
Tiba-tiba...
BRAK!
Suara keras dari lantai bawah membuat Alya tersentak, tatapan Arkan langsung berubah dingin dalam sekejap.
Insting monsternya kembali hidup, pria itu segera menarik tangan Alya ke belakang tubuhnya.
"Jangan keluar dari kamar."
"Suara apa itu?"
Namun Arkan sudah mengambil pistol dari laci meja, mata Alya langsung membelalak.
Suara langkah kaki cepat terdengar dari koridor luar, lalu pintu kamar diketuk degan keras.
"Tuan Arkan!" suara pengawal terdengar panik. "Ada penyusup!"
"Sial! Aku sudah bilang, perketat penjagaan," umpat Arkan kesal.
"Maaf, Tuan. Tapi mereka menyerang gudang belakang."
Alya bisa melihat rahang Arkan mengeras, pria itu menoleh cepat padanya. "Kunci pintu setelah aku keluar."
"Arkan, tapi..."
"Jangan membantah, Alya."
Namun kali ini, Alya melihat ada ketakutan dalam diri Arka. Bukan takut untuk dirinya sendiri, tapi takut kehilangan seseorang. Dan Alya sadar, orang itu adalah dirinya.
Arkan membuka pintu dengan kasar, lalu menghilang bersama beberapa anak buahnya.
Alya berdiri mematung beberapa detik, sebelum perlahan berjalan menuju meja Arkan. Pistol lain tergeletak di sana, tangannya gemetar saat menyentuh benda itu.
Seumur hidup Alya, ia belum pernah sedekat ini dengan dunia gelap keluarga Virello. Namun sekarang, ia malah berdiri tepat di tengah perang mereka.
Dan entah kenapa, nama Damar terus muncul di kepalanya.
Di tempat lain, Damar duduk santai di dalam mobil hitamnya, sambil melihat kobaran api kecil dari kejauhan.
Gudang belakang mansion Virello terbakar, dan itu hanya cukup untuk memberi sebuah pesan.
Ponselnya berdering, Damar mengangkatnya dengan wajah dingin.
...📞...
"Bagaimana reaksinya?"
Suara dari seberang terdengar gugup.
^^^"Arkan keluar sendiri, Tuan."^^^
Senyuman Damar perlahan muncul.
"Bagus. Aku ingin Arkan merasa kehilangan sedikit demi sedikit."
^^^"Dan wanita itu, bagaimana?"^^^
Damar tersenyum tipis.
"Kirim seseorang untuk mengawasinya."
^^^"Dan kalau ada kesempatan, apa yang akan kita lakukan?"^^^
Kali ini dari balik telepon, suara Damar berubah sangat pelan.
"Jika ada kesempatan, culik dia. Dan bawa Alya padaku."
Setelah telepon terputus, Damar tersenyum licik dengan masih menatap kobaran api kecil itu.