Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.
“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.
“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”
Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:
“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Tulang Retak, Air Mata Taktik”
"Tat... tat... tat..."
Langkah santai seorang pria berbaju lusuh berubah cepat saat ia menyusuri lorong sunyi. Matanya menyipit melihat pemandangan di depan, sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri.
Seorang lelaki tampak sibuk menciumi seorang perempuan dengan panasnya, tubuh sang wanita terhimpit pada dinding kayu yang hampir roboh. Di bawah salah satu kakinya, kepala seseorang diinjak tanpa ampun; wajah korban remuk, bibir pecah, darah dan air liur menetes ke tanah, menjadi lumpur merah kusam.
Liu mempercepat langkah lalu berhenti di dekat mereka.
"Aku dapat lumayan banyak, bos," katanya sambil menyerahkan sebuah kantong kecil ke telapak tangan bosnya.
Begitu merasakan beban kantong itu, lelaki yang sedang mencium akhirnya menghentikan aksinya. Ia menepuk pinggul wanita itu, mengusirnya halus. Wanita itu mendengus, merapikan pakaiannya, lalu pergi tanpa menoleh.
"Siapa korbanmu?" tanya sang bos, Wong.
Ia mengangkat kakinya sedikit, memberi ruang napas untuk pria yang diinjaknya. Korban itu menggeliat lega... sebelum Wong menjatuhkan dirinya duduk di punggungnya, meremukkan sisa harapan hidup yang tadi sempat muncul. Punggung itu berbunyi seperti bambu tua yang dipatahkan.
"Anu, bos... lelaki pincang," jawab Liu.
"Hahaha... pria yang malang. Sudah cacat, masih harus kehilangan uangnya."
"Bos, tidak lihat tadi? Si pincang itu badannya besar, tapi waktu kusenggol, hampir saja dia mencium lumpur. Tapi..." Liu menelan ludah, geli sekaligus iri. "Dia punya istri cantik yang mengekorinya, bos."
Wong mengangkat alis, senyumnya miring.
"Pasti istrinya itu sisa dari rumah bordil yang sudah tak laku lagi. Sayang sekali kau cuma berani mencuri uang receh. Kalau saja kau berani menculiknya, kita bisa bergantian menikmati daging muda itu. Yang mungil dan lembut biasanya terasa jauh lebih nikmat."
Ia mengucapkannya sambil mengelus rambut pria yang ditindihnya, matanya memudar mengikuti bayangan kotor yang berputar dalam pikirannya.
Belum sempat ia melanjutkan khayalannya,
Tiba-tiba ia merasakan tangan halus memeluk lehernya dari belakang. Sebuah bisikan lembut merayap ke telinganya.
"Aku juga merindukan sentuhan pria sehat dan tangguh...suara erangan kalian nanti pasti akan sangat merangsang telingaku..."
Wong memejamkan mata, membiarkan sensasi itu menari di kulitnya.
Di depannya, mata Liu membelalak ketakutan.
"B... bos...?" Liu berusaha menyadarkannya.
Terlambat.
Krekkk.
"Aaaaahhh-!"
Suara tulang patah menggema di lorong. Wong menjerit, sadar bahwa sentuhan tadi bukan khayalan... tapi seseorang yang benar-benar menyentuhnya. Lorong itu berubah menjadi ruang eksekusi.
Liu tersentak, buru-buru berjongkok mengangkat bosnya yang tersungkur dengan posisi tubuh begitu absurd; tangan kanan Wong menekuk ke belakang seperti ranting patah. Lelaki itu menjerit seperti babi disembelih, napasnya tersengal antara sakit dan panik.
"Bos...!" Liu mencoba menegakkan tubuhnya, tapi karena badan Wong besar dan berat, mereka justru terjerembap bersama.
"Sialan! Kau apakan bosku?!" Liu menjerit, suaranya bergetar. Tatapannya naik, memandang gadis kecil yang berdiri santai di depan mereka sambil melempar-lemparkan uang di telapak tangannya. Mata gadis itu geli, seperti baru menepuk nyamuk, bukan mematahkan tulang manusia.
"Jalang brengsek..." Wong memaki, napasnya terputus-putus. Sedikit saja ia bergerak, tulangnya seperti dibelit api.
Gadis itu menyeringai tipis.
"Sayang sekali... aku cuma membelai. Bukankah kau tadi ingin bermain desahan denganku? Aku memang bisa klimaks hanya dari mendengar eraman lawanku... tapi ternyata kau payah."
Jia mengibaskan debu dari tangannya.
"Lain kali kalau mau berkhayal, pilih lawan yang lebih lemah."
"Anjing!" Liu melepaskan Wong, berdiri, lalu melayangkan pukulan lurus ke wajah Jia. Namun gadis itu hanya melangkah mundur, membuat pukulan itu meleset dan membuat Liu terhuyung, mrnghantam tembok.
Liu segera meraih sebatang kayu tebal yang tergeletak di samping, lalu mengayunkannya dengan sekuat tenaga.
PRANG!
Udara berdesir keras, tapi Jia sudah melompat ke samping.
Ia memutar badan dan memukul lagi dengan gerakan membabi buta.
PRANG!
Kali ini pun hanya menyapu angin.
Jia bergerak lincah menghindar, seolah sedang menari, sementara Liu makin kalap dan napasnya mulai terengah-engah.
Ia memukul lagi. Prang. Tetap meleset.
Jia menghindar seperti bermain-main, sementara Liu makin naik darah sampai napasnya kacau. Dari sudut pandangnya, ia melihat Wong berhasil bangun sedikit, tangan kirinya merogoh pisau kecil. Wong menggertakkan gigi, mengerahkan sisa tenaganya untuk menusukkan bilah itu ke pinggang Jia yang membelakanginya.
"Aaaaaa! Mati kau, jalang!" teriak Wong, mendorong tubuhnya maju.
Brugg! Tendangan putar Jia menghantam wajah Wong duluan. Lelaki itu terlempar, jatuh tepat di bawah kaki pria yang tadi diinjaknya, seperti karma yang turun dengan bentuk fisik.
Melihat itu, Liu mengambil kesempatan. Ia menghantam punggung Jia dengan kayu.
Buggh!
Tubuh Jia tersentak ke depan. Rasa panas menjalar dari punggung hingga bahunya.
Pandangannya sempat bergetar.
"Sial..." untung bukan kepala."
Untuk sesaat lengan kirinya terasa mati rasa. Kakinya bahkan sempat goyah setengah langkah.
Liu tertawa puas.
"Haha! Kena kau, jalang! Rasakan ini lagi!"
Ia kembali mengangkat balok itu tinggi-tinggi.
Jia mengangkat tangan untuk menangkis, namun alisnya berkerut. Sial. Kalau pukulan berikutnya mendarat, lengannya bisa retak.
Jia merasa perhitungannya mulai meleset.
Namun-
Buag!
Sebuah tendangan keras menyantap dada Liu. Tubuhnya terlempar. Baru ia sempat membuka mulut, puakk! Sebuah pukulan menghantam wajahnya.
"Ampun..." erangnya dengan sisa napas dua persen.
Buagg!
Pukulan terakhir membuat tubuh kurusnya tumbang total.
Jia terdiam sejenak, menelan ludah susah payah. Bukan karena Liu. Karena pria yang berdiri di depannya.
Su Hao.
Jia merasa masalahnya bukan lagi dua preman di tanah.
Masalah sebenarnya adalah suaminya.
Dan suaminya terlihat jauh lebih marah daripada kedua preman itu digabung menjadi satu.
Ia berdiri dengan napas berat, tangannya berdarah, wajahnya keras seperti batu yang ingin membunuh batu lain. Aura pria itu lebih menyeramkan daripada Hulk yang menahan amukan, dan tenangnya justru jauh lebih menakutkan. Yang lebih menegangkan lagi adalah ketika ia memutar badan dan menatap istrinya seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Mampus aku..." batin Jia.
Pria itu melangkah mendekat. Langkah pincangnya memang berjinjit pelan, tetapi di mata Jia, gerakan itu berubah seperti adegan horor di mana monster merangkak perlahan menuju mangsanya. Bulu kuduk Jia langsung meremang.
"Aku akan membantingnya," ia membatin, mencari sisa keberanian. "Kubanting. Berengsek, dia cuma manusia pincang."
Lalu Su Hao melangkah lagi.
Satu langkah, dua langkah.
Entah kenapa, keberanian yang baru saja dikumpulkannya langsung kabur entah ke mana.
"Hiks... hiks... hue..." tangis Jia pecah. Entah itu takut sungguhan atau sandiwara otomatis saat panik. Yang jelas, air matanya mengalir tanpa usaha, bakat alamiah.
Wajah Su Hao langsung melunak. Ia berlari tertatih menghampiri, mengangkat tubuh istrinya dengan panik.
"Jia, Jia... aku di sini. Maaf... aku terlambat menemukanmu." Suaranya retak oleh kekhawatiran.
Di balik punggung Su Hao, sudut bibir Jia berkedut.
Saat memastikan pria itu benar-benar mempercayainya, senyum kecil perlahan muncul di wajahnya. lalu melemaskan seluruh otot dan menyelipkan wajah ke ceruk leher suaminya.
Hangat, aman, dan memanjakan seperti pelukan pencuri yang tidak ketahuan.
"Hiks... pria jelek itu menculikku saat aku mencari kamar mandi. Aku tahu aku cantik... seksi... menggoda... tapi kenapa, kenapa, huee... harus dipukul juga..." Isaknya makin kencang.
"Syukurlah pria itu datang menolongku." Ia menunjuk pria babak belur tadi, dan pria itu buru-buru berpura-pura pingsan lebih dalam. "Mungkin dia mati... hu... hu... kepalaku sakit, badanku sakit, hatiku sakit..."
"Maaf, sayang... aku kira kau kabur. Aku berusaha mencarimu..." Su Hao bergetar menenangkannya.
Untung dua pria tadi pingsan. Kalau tidak, mereka pasti akan protes keras, karena kenyataannya merekalah yang disiksa habis-habisan oleh gadis kecil itu. Sementara korban pertama yang babak belur itu... memilih pura-pura tidak dengar apa pun.
Begitu yakin Su Hao mempercayainya, keberanian Jia perlahan kembali.
Jia mencengkeram rambut Su Hao, balasan kecil karena sempat dibuat takut.
Pria itu memekik lirih, tetap memeluk istrinya erat agar tidak jatuh.
Su Hao pun melangkah pergi sambil menggendong istrinya yang masih terisak.
Pria yang pura-pura pingsan itu akhirnya berani bernapas.
" Aku masih hidup..." desisnya lemah.