NovelToon NovelToon
Wanita Kontrak Sang CEO

Wanita Kontrak Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kontras Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

Ariana termenung di hadapan Lily. matanya masih berkaca-kaca namun kosong. memandang arah yang pudar di depannya. hatinya masih berkecamuk. ucapan-ucapan dokter soal kondisi ibunya terus terngiang yang dipikirannya. dia belum siap kehilangan satu-satunya wanita yang dia punya sekarang.

" Aku ada satu jalan keluar buat kamu. Tapi Aku nggak tahu kamu mau apa nggak sama pekerjaan ini." Ucap Lily setelah beberapa menit mereka berdiam duduk di dalam kafe.

" Apa pun itu. Akan aku lakukan. Saat ini aku udah nggak punya pilihan lain untuk memilih pekerjaan yang cocok atau tidak cocok untukku. Aku harus melakukan sesuatu untuk membayar biaya operasi ibu." Jawab Ariana dengan penuh keyakinan.

Ariana tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan pada sahabatnya itu. pekerjaannya sebagai waiters hanya cukup untuk biaya makan mereka sehari-hari.

" Jual diri." Kata Lily singkat.

Tak percaya sahabatnya akan menyuruhnya menjual dirinya untuk mendapatkan uang dengan cepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pekerjaan Baru * ++

 Saya sudah beri tanda untuk bab dewasa nya ya. Jadi kalau yang nggak suka bisa skip. Jadi jangan bilang othor nakal ya. Kan sudah di kasi tahu duluan.

Terima kasih.

Memulai Pekerjaan Baru

Di dalam sebuah ruangan pribadi di sebuah kantor besar di Jakarta. Seorang pria berperawakan tinggi tegap dengan rahang tegas yang menghiasi wajah tampannya kini tengah duduk sembari membaca satu persatu berkas pekerjaan yang harus dia pelajari.

Pria itu benar-benar terlihat tengah serius membaca halaman demi halaman yang ada pada berkas-berkas tersebut.

Tok

tok

tok

tak berapa lama seorang yang kini tengah memasuki ruangan Gibran masuk dengan pakaian seksinya seraya tersenyum kepada pria tersebut pria itu sudah tahu jika seseorang yang baru saja memasuki ruangannya saat ini adalah Megan seorang wanita yang sudah resmi resmi menjadi calon tunangannya.

" Gibran kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?"  Ucap wanita itu yang saat ini tengah berdiri tepat di depan meja Gibran.

" Aku sedang tidak memegang hp." Jawab Gibran acuh tanpa mengalihkan pandangannya.

" Selalu itu saja menjadi alasanmu. Kamu selalu saja mengabaikanku Gibran. Kamu lupa kalau aku ini adalah tunanganmu?"

" Pekerjaanku benar-benar sangat banyak Megan. Kamu lihat sendiri bahkan aku tidak mempunyai kesempatan untuk bermain handphone." Jawab Gibran sembari memperlihatkan berkas-berkasnya saat ini dia pegang.

" Padahal aku mau mengajak kamu untuk makan siang."

" Tapi aku ada meeting di luar sebentar lagi. Jadi sebaik nya kamu pulang lah." Tolak Gibran.

" Aku tidak akan pulang sebelum makan siang dengan mu." Ucap Megan.

" Silahkan menunggu karena aku akan segera pergi begitu Liam menjemput ku. Jadi kalau kamu masih ingin makan siang dengan ku. Tunggu saja di sini sampai aku kembali."

" Kamu benar - benar menyebalkan, Gibran. Aku mau ke toilet dulu." Ucap Megan.

Gibran hanya diam tidak menanggapi apa yang Megan katakan barusan. Dia tetap fokus dengan pekerjaannya.

Setelah beberapa saat dalam toilet, Megan kemudian kembali lagi ke depan Gibran. Wanita itu duduk di atas meja di samping tumpukan berkas lembaran penting.

" Gibran." Panggil wanita itu.

" Kenapa?"  Jawab Gibran tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang saat ini dia lihat.

" Lihat aku Gibran." Panggil Megan lagi.

Gibran kemudian menegakkan kepalanya menatap Megan yang saat ini ada di hadapannya. Saat melihat penampilan Megan sekarang Gibran benar - benar kaget.

Saat ini dari jarak yang sangat dekat Gibran bisa melihat belahan dada Megan yang terpampang dengan jelas di hadapannya. Bagaimana tidak Megan kini tengah membuka blusnya sehingga kedua dadanya yang terbungkus oleh penutup bra berwarna merah menyala tersebut benar-benar terlihat jelas.

Megan kemudian mengelus kedua dadanya dari balik kain tersebut dengan gerakan menggoda berusaha untuk menarik perhatian Gibran.

" Gibran." Panggil wanita itu dengan nada yang manja.

Gibran hanya diam tanpa ekspresi sembari menatap wanita itu.

" Apa kamu tidak ingin menyentuhnya kemudian memainkannya dengan menggunakan tanganmu itu?" Tanya Megan sembari mengambil sebelah tangan Gibran kemudian menggenggamnya. Sedangkan  tangan yang satu lainnya milik Megan meremas dada nya secara bergantian.

Tok

Tok

Tok

" Masuk." Titah Gibran.

Liam masuk ke dalam ruangan Gibran dan menunduk saat melihat penampilan Megan.

" Bos, sudah waktu nya." Kata Liam.

" Ayo." Ucap Gibran bangkit dari duduk nya dan melangkah pergi.

" Gibran... Gibran... Kamu mau kemana Gibran..." Panggil Megan dengan memekik.

Tapi Gibran dan Liam terus saja melangkah keluar dari ruangan itu tanpa mempedulikan teriakan Megan.

*

*

*

*

*

Sejak pagi mami Miya sudah menyiapkan yang terbaik untuk Ariana mulai dari mempersiapkan diri Ariana agar terlihat bersih serta menyediakan gaun yang sangat seksi untuk dipakai Ariana saat bertemu dengan klien pertamanya.

Ariana menatap dirinya dari pantulan cermin yang ada di depannya. Dugaannya ternyata benar saat ini kedua belahan dada nya tercetak dengan sangat jelas. Tak hanya itu kedua puncak dadanya itu benar-benar terlihat sangat menonjol.

Ariana merasa sangat tidak nyaman saat ini karena memang sebelumnya dia tidak pernah berpenampilan seperti ini.

Ariana kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia lalu pasrah. Saat ini sudah hampir 10 menit dirinya berada di dalam toilet.

Ariana kemudian memilih untuk keluar Ariana kemudian menghampiri mami Miya

" Kamu terlihat sangat seksi saat ini Ria." Ucap Mami Miya saat menatap Ariana yang baru saja keluar dari toilet.

"minum ini terlebih dahulu." Ucap maminya sembari memberikan dua buah pil dan segelas air kepada Ariana.

" Apa ini Mami." Tanya Ariana.

" Ini adalah pil pencegah kehamilan. Kamu tidak ingin hamil saat melakukan pekerjaanmu kan."

" Iya Mami aku tidak mau." Jawab Ariana.

" Kalau begitu minum lah." Ucapnya.

Ariana kemudian mengambil 2 butir pil dan segelas air dari tangan Mami Miya kemudian meminumnya.

"  Jangan lupa gunakan pil pencegah kehamilan itu secara rutin." Ucap mami Miya sembari menyerahkan beberapa tablet pil pencegah kehamilan kepada Ariana.

Ariana kemudian menerimanya.

" Terima kasih Mami." Ucapnya.

Dia bersyukur karena Mami Miya mengingatkannya untuk menggunakan alat kontrasepsi karena dia tidak tahu hal apa yang akan terjadi karena kecerobohannya itu nantinya.

" Sekarang pergi lah. Jangan sampai klien pertama mu menunggu kamu terlalu lama."

*

*

*

*

Pintu kamar pun terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri di hadapan Ariana. Bahkan Ariana sempat menelan saliva nya dengan berat saat bertatapan dengan pria itu.

Pria yang sangat tampan. Belum pernah Ariana bertemu dengan pria setampan ini sebelum nya. Selama ini dia hanya melihat pria tampan di drama korea yang dia tonton setiap malam.

" Selamat siang, tuan." Ucap Ariana menunduk.

" Saya Ria. Perempuan bayaran tuan."

" Masuk lah." Ucap Gibran lembut.

Ariana masuk lebih dalam seraya memperhatikan sudut kamar yang akan menjadi saksi saat dia menyerahkan kesucian nya nanti nya.

" Duduk lah. Apa kamu mau makan dulu?" Tawar Gibran.

" Terima kasih, Tuan. Saya tidak lapar." Jawab Ariana.

" Saya sudah membayar mu mahal. Apa bisa kita memulai nya sekarang?" Tanya Gibran.

" Apa saya boleh mengambil udara sebentar. Saya sangat gugup sekarang." Pinta Ariana.

" Silahkan. Tapi aku tidak mau menunggu lama."

Ariana berjalan pelan menuju balkon. Di sana Ariana menatap gedung - gedung tinggi yang berbaris. Dia menarik nafas dalam - dalam dan membuang nua perlahan.

Tak terasa air mata Ariana menetes di pipi nya. Semalaman dia sudah meyakinkan diri nya untuk melakukan nya dengan baik. Tapi hari ini dia sangat merasa takut.

Dan Gibran tentu bisa melihat raut wajah yang berbeda dengan Ariana. Gibran yang di penuhi rasa penasaran nya berjalan mendekati Ariana.

Namun saat akan dekat, Ariana tiba - tiba berbalik dan hampir jatuh saat tangan kekar Gibran menopang pinggang Ariana sehingga dua pasang mata bertemu dengan intens.

" Kamu jauh lebih cantik saat di lihat dari dekat seperti ini. Jarang mami Miya memiliki perempuan seperti kamu. Kamu benar - benar berbeda." Ucap Gibran memuji Ariana.

Perlahan Gibran mendekat kan bibir nya dengan bibir Ariana dan mencium nya perlahan. Ariana bisa merasakan hangat nya bibir Gibran menyentuh bibir nya.

" Sekarang puaskan aku, Ria." Ucap Gibran saat dia melepas ciuman pertama mereka.

Ariana tidak tahu dia harus berbuat apa. Dia tidak tahu bagaimana mengawali hubungan semacam ini karena ini pertama bagi nya.

" Bisa tuan mengajari saya? Ini yang pertama bagi saya." Pinta Ariana.

" Baiklah. Aku akan mengajari mu."

Gibran pun membawa Ariana masuk dari balkon dan mendudukkan Ariana di pangkuan nya di atas ranjang.

Tanpa ragu Gibran langsung meraup bibir kenyal Ariana kembali. Ingin sekali Ariana menolak nya. Tapi mengingat keadaan ibu nya sekarang, dia harus melakukan nya dengan baik.

Gibran melumat bibir itu dengan buas nya. Mengecap rasa manis dari bibir yang belum pernah tersentuh itu. Ariana memejamkan mata nya. Dia tidak yakin mampu melihat wajah tampan Gibran dari jarak sedekat ini.

" Sambut aku, Ria." Kata Gibran karena Ariana tidak membalas ciuman nya.

Gibran kembali melabuhkan ciuman dalam nya. Menyusupkan lidah nya ke dalam mulut Ariana.

Mengabsen setiap inci rongga mulut Ariana. Membuat Ariana merasa aneh tapi lama kelamaan Ariana menikmati nya juga.

Gibran meletakkan kedua tangan Ariana di leher nya. Dan memberikan sedikit remasan di bokong Ariana saat dia memeluk Ariana.

Ariana merasakan bagian bawah nya berkedut aneh. Padahal biasa nya tak seperti ini. Hingga Gibran mulai membuka gaun Ariana itu dan membuang nya ke sembarang arah.

Gibran menurunkan tali yang terikat pada leher Ariana, membuat pakaian tipis itu hampir terbuka. Gibran membuka kain penutup dua bulatan kenyal di dada Ariana dan dengan cepat dia mengulum ujung nya membuat Ariana mendesah menikmatinya.

" Sshhh... aahhh..." Desah Ariana dengan mata terpejam

Sebelah tangan nya aktif bekerja meremas lembut sebelah buah kenyal itu membuat Ariana kembali memejamkan mata nya sedikit menikmati perlakuan pria itu di tubuhnya.

" Oughh... aaahhh...." Desah Ariana lagi.

" Berapa ukuran bra mu, Ria?" Tanya Gibran di sela kegiatan menyusu nya.

" 35 tuan." Jawab Ariana lirih.

" Aku suka. Sangat memuaskan." Gibran menghentikan kegiatan nya.

Dia pun dengan cepat menelanjangi wanita itu dan membawa Ariana ke dalam pelukan nya sampai mendudukkan Ariana di pangkuan nya.

Gibran mulai melanjutkan permainan nya, dia juga menyelipkan jari tengah nya di kacang kecil yang terjepit di antar irisan daging tanpa tulang, mengusap nya lembut, membuat Ariana bergerak tak karuan.

" Sshh... aahhh... ahh..."

" Kau membuat senjata ku menegang dengan cepat, Ari."

" Ahhhsss..." Ariana memekik saat jari tengah Gibran menerobos masuk ke dalam inti nya tanpa permisi.

" Kamu menikmati nya?" Tanya Gibran.

Ariana diam. Dia lebih memilih tidak menjawab. Karena dia tidak ingin menyakiti hatinya sendiri dengan jawaban yang dia berikan nantinya.

Melihat Ariana yang hanya diam, Gibran kembali melayangkan ciuman mesra nya pada Ariana. Tangan nya juga bergerak keluar masuk, membuat Ariana melenguh pelan, meski sakit tapi sangat terasa nikmat.

Gibran bangkit dan bergerak turun dengan memberikan kecupan basah di seluruh tubuh Ariana, dari atas sampai bawah. Hingga puncaknya kepala pria itu tenggelam di antara paha Ariana.

" Ahhh..." Ariana melenguh saat merasakan lidah pria itu menari - nari di intinya, bahkan memutar - mutar di area klitoris nya.

" Aahh... tuan... sshh... ahhh.. geli tuan... ahhh..."

Gibran tak mendengarkan dan tetap asyik dengan kegiatan nya. Sudah lama dia tak memanjakan diri dengan cairan wanita.

Ariana sampai menjambak rambut Gibran hingga membuat rambut klimis pria itu acak - acakan karena ulahnya, tapi Gibran tak marah sedikit pun, hanya menganggap hal ini wajar.

Gibran masih asyik menikmati rasa memabukkan dari lembah basah di antara dua paha Ariana, dia mencecap rasa yang begitu menyegarkan bagi dirinya yang sudah sangat merindukan Ariana.

" tuan... saya ingin pipis..."

" Keluar kan saja, sayang. Aku masih belum apa - apa." Jawab Gibran tanpa menghentikan gerak lidahnya di kacang kecil milik Ariana.

" Aahh... tuan... aahhh...." Ariana mendesah ketika dia merasakan sensasi yang luar biasa nikmat dan melegakan.

Gibran tahu Ariana baru saja meraih pelepasan pertama nya. Dia langsung menelan habis cairan itu dengan rakus bahkan menjilati sisa - sisa cairan wanita itu.

Gibran menatap Ariana yang juga tengah menatap nya. Nafas nya tersengal setelah pelepasan pertama nya.

Gibran berdiri, dia membuka kemeja dan ikat pinggang nya lalu menurunkan celana bahan bahan nya. Hanya menyisakan celana boxer dengan bagian depan yang menggembung.

GLEK

Ariana menelan ludah nya dengan kasar. Tubuh Gibran sangat menggoda, tubuhnya terlalu menggiurkan untuk di sentuh. Perut depan seperti roti sobek yang berjejer rapi di perut nya, serta bidang dengan bulu - bulu halus yang tidak pernah Ariana lihat sebelum nya.

" Kenapa melihat ku seperti itu, Ria? Apa kamu ingin menyentuh nya? Silahkan." Tawar Gibran, hingga membuat Ariana merona.

Gibran kembali mengungkung tubuh polos Ariana, membuat Ariana refleks menahan dada bidang Gibran dengan kedua tangan nya.

Serrr

Darah Ariana terasa berdesir hebat, hanya karena telah menyentuh kulit Gibran.

Gibran kembali mencium Ariana dan menggerayangi tubuh seksi perempuan bayaran nya itu.

Hingga puncak nya Gibran membuka celana boxer nya di depan Ariana.

Gibran mulai menekan senjata nya dengan perlahan ke dalam lobang kecil yang masih sempit milik Ariana.

Ariana menggigit bibir bawah nya menahan rasa sakit saat benda itu merengsek masuk memenuhi inti milik nya.

" Aahh..."

Ariana mendesah sekali ketika Gibran berhasil menenggelamkan seluruh milik nya ke dalam lobang kecil itu.

Gibran kemudian mengecup kening Ariana dengan lembut.

" Pelan- pelan, tuan." Ucap Ariana saat pria itu mulai menggerakkan pinggulnya dengan pelan.

Ariana memejamkan mata nya. Dia masih merasakan sakit, tapi tidak sesakit saat benda itu masuk tadi.

" Emmmm..." Ariana melenguh pelan, saat Gibran kembali mengulum puncak dada nya dengan rakus tanpa menghentikan gerakan maju mundur nya.

Gibran tersenyum samar, dia yakin Ariana sudah menikmati penyatuan kenikmatan ini. Jadi dia bergerak lebih cepat, membuat Ariana memekik karena terkejut.

" Tuan, pelan - pelan." Rengek Ariana.

Tapi bukan Gibran namanya jika dia menurut begitu saja. Dia malah semakin mempercepat gerakan nya, membuat tubuh Ariana berguncang.

" Ahh..." Ariana kembali menikmati pelepasan kedua nya. Bahkan Gibran belum merasakan apa - apa kecuali senjata nya yang semakin terjepit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!