Aku bisa menghalau semua rintangan dan menebas semua rumput liar yang akan merusak tamanku.
Aku juga sanggup untuk menunggumu kembali.
Namun, apakah akan ada jaminan untukku jika aku memutuskan untuk menunggumu di sisa umurku
Dapatkah engkau memastikan penantianku tidak akan sia-sia?
Aku menunggumu di Festival Bunga Cherry di Jinhae.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Normalitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalan
Di sebuah hotel dalam acara Lingkar Penulis pukul 08.00 WIB. Di sana ada acara semacam pameran karya tulis yang telah dibukukan.
"Lihat deh, ini keknya menarik banget. Pesona Anastasia," kata Mirna.
"Design covernya bagus," sahut Nila.
"Hi!" Sapa Si Peri Tampan. "Oh, hi!"sapa cewek-cewek itu.
Tak lama kemudian tampak sosok Mala dari lobby depan. Mata Robin tertuju pada Mala yang memakai outfit casual juga.
"Cute," kata Mirna.
"Sepertinya aku kalah pesona," bisik Nila.
"Jangan merasa rendah diri gitu," kata Mirna.
"Mala!" panggil Robin.
Mala datang dengan beberapa anak produksi.
"Mas Robin, Nila..aku ke sana dulu ya," kata Mirna.
"Iya, hati-hati," kata Nila.
"Meski sudah mantan, tampaknya Robin memang belum bisa move on dari Mala," kata seseorang.
Mirna terlanjur kepo, hal itu memunculkan jiwa paparazinya.
"Ya, bayangin aja udah 2 tahun pacaran. Tiba-tiba aja putus," kata seseorang yang lain.
" Robin terlalu posesif," kata gadis berambut pendek sebahu.
"Mala cemburu karena Robin mengantar anak line pulang," sahut gadis berambut pirang.
Kemudian dua orang tersebut pergi.
"Ternyata mereka pernah terlibat cinlok," gumam Mirna.
"Apa sebaiknya kukatakan kepada Nila?" bisiknya dalam hati.
"Bukkkk!" Mirnaa menabrak tubuh seseorang.
"Mas Surya.." bisiknya dalam hati.
"Bukankah dia tidak mau datang," gumamnya.
"Maaf, Pak.." ucap Mirna kepada Surya.
"Oh, tidak apa-apa," jawab Surya.
"Hey! Kalian berdua, ayo kita cari tempat duduk untuk ngobrol," panggil Robin yang kebetulan melihat.
Mirna mengangguk-angguk. Ia merasa canggung, deg-degan, takut salah tingkah.
"Tolong, panggil Nila, Mir!" kata Robin.
"Oke," jawab Mirna.
Kemudian menelpon Nila untuk segera mendatangi meja mereka.
Tak lama kemudian datang Nila.
Kursinya pas berempat.
"Kamu suka baca novel apa,bro?" tanya Robin membuka percakapan.
"Apa aja aku suka sih, tapi lebih suka ke genre action," jawab Surya.
"Kalau kamu Mir?" tanya Robin.
"Aku suka genre romantis," jawab Mirna.
"Lebih banyak halunya ya?" kata Robin.
"Kebanyakan novel adalah halu. Karena tidak real," sahut Mirna.
"That's right!" Surya sependapat.
"Pak Surya ke sini sama siapa?" tanya Mirna.
"Ada Mas Rifat , tapi dia lagi nyari buku. Kamu?" tanya Surya balik.
"Sama Mas Robin dan Nila," ujar Mirna.
"Nah gitu dong Rob, adek-adeknya dimong," kata Surya.
"Mas Robin sangat peduli sama kita berdua , Pak. Kami selama 2 hari diingatkannya terus untuk datang ke sini," sahut Nila.
"Yaps, betul!" sahut Mirna.
"Iya, dong. Aku kan senior yang baik. Jadi kalian juga harus mencontoh perilaku saya. Peduli terhadap se-sa-ma! Ingat tuh!" sahut Robin.
Nila dan Mirna saling berpandangan. Robin mulai berkutbah.
Mereka menyerahkan daftar menu yang dipesan.
***
"Pak Surya tinggal dimana?" tanya Mirna.
"Saya di blok M. By the way, panggil saja "mas" ya. Biar ga terlalu formal," kata Surya.
"Biar ga terlalu ketuaan juga. Heehee," Sahut Nila.
"Nah, itu paham. Eh, ga gitu juga sih. Hehe," ujar Surya sambil tersenyum malu.
"Saya ini awet muda . Sembarangan aja," kata Surya.
"Elaaaahh...kalian malah berdebat. Eh, itu menu kita datang. Horee...horee," kata Robin kegirangan.
"Sabar ya guys, senior kalian ini memang suka 'heri'. Heboh sendiri," kata Surya.
Mirna tersenyum. Sebenarnya ia malu.
Kalian tahu kan guys gimana rasanya satu meja sama orang yang kita suka.
Ia memandangi Surya yang tengah mengiris steak.
"Rumput Ilalang," bisiknya dalam hati.
Ia tersenyum-senyum sendiri.
Seperti tidak percaya kalau bisa duduk berhadapan seperti ini.
"Apa ini mimpi?" bisiknya dalam hati.
"Haaakkk...buka mulut kamu sis. Cumi tepungnya gurih sekali," kata Nila.
(Berasa ada iklan tepung bumbu goreng yang lagi lewat😂)
Tangan Nila nyelonong di depan mukanya.
"Ah, anak ini mengagetkan saja," gumam Mirna.
Nila menginjak kaki Mirna karena gemes.
"Aww.." bisik Mirna.
"Eh, maaf sis. Ga sengaja!" sahut Nila.
"Kalau ketahuan bisa menang.." bisik Nila padanya.
"Menanggung malu," kata Nila .
"Makasih. Dalem banget kata-katanya," sahut Mirna lirih.
Kemudian Mirna nyengir dan melahap suapan dari Nila.
"Enak?" tanyaa Nila.
"Iya, asinnya pas banget.." kata Mirna menjawab.
"Mas Rifat!" teriak Robin ke arah lobby caffe.
"Bro, gue dapet buku ini. Karya temen gue," kata Rifat.
"Ambil kursi dulu. Bahas bukunya nanti. Pesen apa bro?" kata Robin. Rifat mengambil kursi duduk dekat Robin.
"Jadi ada yang mau traktir kah ini? Kebetulan saya lapar," sahut Rifat.
"Go Dutch!" kata Robin.
(Alias sendiri-sendiri).
"Wah, sadisnya," kata Rifat.
"Mba, beef, potato, dan lemontea ya!" kata Rifat.
"Halo mbaknya..Assalmu'alaikum," kata Rifat.
"Wa'alaikumussalam wr.wb," jawab cewe-cewe.
"Jadi cuma mbaknya aja ini yang disalamin. Kita engga? Hiks," kata Surya.
"Eh, Assalamu'alaikum ,Masnya.." kata Rifat.
"Wa'alaikumussalam wr.wb," jawab cowo-cowo.
"Assalamu'alaikum ya akhi ya ukhti, salam sayang hai saudaraku," Rifat menyanyi.
"Sebentar lagi qosidahan," kata Nila mengomentari.
Robin dan Surya ketawa.
"Kok gue gak kenal mereka bro.." kata Rifat.
"Kenalin.. mereka anggota baruku. Ini Mirna, satunya lagi Nila," Robin memperkenalkan.
"Kenalin guys! Valaq!" kata Robin.
"Pakai qolqolah.." kata Surya.
"Hey, Kuyang! Kurang ajar sekali gue dibilang Valak. Emang setan?" kata Rifat ga terima.
Kuyang adalah siluman berwujud kepala manusia dengan isi tubuh yang menempel tanpa kulit dan anggota badan yang dapat terbang untuk mencari darah bayi atau darah wanita setelah melahirkan. Makhluk ini dikenal masyarakat di Kalimantan. Ada yang menyebutnya hantu organ.
"Nah, sudah saling kenal kan kalian?" kata Robin.
"Btw, ini jomblo semua kah?" tanya Nila dengan lugunya.
"Jomblo meronta-ronta?" kata Rifat.
"Kalau sudah nikah pasti kita ngajak pasangan sendiri guys. Apalagi aku. Ga ada ya jalan sama kalian.. berkeliaran sampai malam gini," kata Robin.
"Betul itu mba," kata Surya. Rifat mengangguk-angguk.
"Wah, sama dong," jawab Nila dengan lantang. Mirna tersenyum.
"Mbaknya, kita yang hampir rebutan susu di koperasi kemarin kan?" tanya Rifat kepada Nila.
Mirna tertawa, ternyata dibahas juga.
"Wahhh...memangnya susu apa sampai rebutan begitu?" Robin kepo.
"Susu kerbau!" sahut Rifat.
Wkwkwkkk...
"Serius?" tanya Surya.
"Eaaakkk," kata Mirna menggoda. Nila mulai tersipu malu.
"Ah iya, pak. Kemarin itu tinggal satu botol aja. Ga sengaja, sih.." kata Nila.
"Panggil aja mas. Biar ga terlalu formal," kata Rifat.
Nila langsung menginjak kaki Mirna. Mirna langsung tersedak.
"Minum..minum...minum..air..air..air," Robin langsung membukakan mineral untuknya.
"Wah, perhatian sekali si Robin," ujar Rifat menggoda.
"Iya dong , senior berwatak kesatria," kata Robin.
"Kesatria Bajaj?" kata Rifat.
Semua tertawa.
"Tidak sopan," sahut Robin.
"Aku juga mau dong mas dibukain mineralnya," kata Nila.
"O...pa..pasti...semua dapat giliran.." kata Robin nyengir sambil melihati mereka satu per satu.
Lalu yang lain ketawa.
"Ini..yaa...ini...untuk Nila juga. Mas Surya dan Mas Rifat mau dibukakan juga kah?" tanya Robin dengan ekspresinya yang nylengeh.
"Boleh juga...setidaknya sekali dalam seumur hidup," sahut Rifat sambil nyengir.
"Nah, ini dia pesanan Mas Rifat. Biar saya saja yang meletakkan piringnya ,Mas.." ujar Robin ke waitressnya.
"Aku terpukau," ucap Surya.
Yang lain tertawa. Suasana menjadi ramai.
"Jadi?" tanya Robin memandang Rifat dan Nila.
"Jadi apanya?" tanya Rifat.
"Ehm, kelanjutan dari rebutan susu kemarin," kata Robin. Yang lain pada nyengir.
"Oh itu..akhirnya saya mengalah. Ga enak dong rebutan susu sama cewek. Ga boleh egois. Ehm," kata Rifat sambil membaiki kerah.
"Oh..ngunu toh.." sahut Robin.
"Jangan-jangan...kalian jodoh?" kata Robin sambil menusuk cumi di piring Nila.
"Jangan, Rob. Bentar lagi habis cuminya," kata Rifat melarang.
"Satu doang.." sahut Robin.
"Makan aja..aku udah makan banyak," kata Nila.
"Makasih yah.." kata Robin menggeser piring cumi ke mejanya dan menatap sinis Rifat.
"Hhh.." kata Robin.
"Apa-apaan sih, Rif?" kata Robin.
Rifat menahan piring itu supaya tidak berpindah.
Yang lain tertawa.
"Kekanakan," kata Rifat.
"Karena cumi aku rela menahan gengsi," kata Robin.
"Rob.. Rob..," kata Surya menggeleng.
"Btw, sebenernya kita di sini cuma numpang makan aja ya. Ga terlalu ke eventnya," kata Surya.
"Iya," kata Mirna.
"Betul," kata Robin.
"Ah, engga juga. Kalian aja yang seperti itu," kata Rifat.
"Iya, cuma Mas Rifat aja ya yang menikmati eventnya," sahut Nila.
"Dia selalu menikmati momen acara guys," kata Robin.
"Aku lebih suka kita kumpul begini. Di PT belum tentu bisa begini. Ada gap diantara kita. Etika dan formalitas lebih tepatnya," kata Mirna.
"Saya setuju," kata Surya.
"Aku juga," kata Nila.
"Sepertinya ada sosok penyatu kita malam ini," kata Surya.
"Ehm," Robin dengan ekspresi pedenya.
"Iya, kamu ,Rob.." kata Surya.
"Thank's ya, Mas Robin," kata Nila.
"Sama-sama, Nila. Btw, cuma Nila sajakah? Yang lain?" tanya Robin.
"Kamsahabnida," ucap Mirna.
"Gomaweo! Merçi! Thankyou! Syukron!Terima kasih!" kata Rifat.
"Matur suwun," kata Surya.
"Gwenchana..gwenchana!" jawab Robin.
Kata-katanya menimbulkan gelak tawa.
"Rrrrrrroaarrrrrrr," Rifat geregetan.
"Katty Perry," kata Surya.
"Tepat sekali," sahut Robin.
"I got the eye of the tiger a fighter. Dancing through the fire," Mirna menyanyikan lagunya sambil memukuli meja dengan sumpit.
"Cause I am a champion and you're gonna hear me roar," lanjut Surya sampil menghitung ketukan lagu di meja makan.
"Louder, louder than a lion. 'cause I am a champion and you're gonna hear me roar," Rifat juga melanjutkan lagunya.
"Oh..oh..oh..oh..oh..oh," Lanjut Robin.
"Oh..oh..oh..oh..oh..oh," Sambung semuanya.
"Maaf, Mba dan Masnya... sebentar lagi stand kami mau tutup," kata Mas-mas waitressnya.
"Oh..oh..oh..oh..oh..oh," sambung lagi semuanya.
"Kita berisik makanya diusir guys," kata Rifat.
Masnya tertawa.
"Oke, baik mas. Terima kasih," kata Surya.
"Ayo guys, go Dutch!" kata Robin.
"Woyy terpalnya!" teriak Rifat.
"Lu pikir camping?" sahut Robin.
Rifat nyengir.
"Harusnya kita tadi di lounge aja, di sana sampai pagi," kata Robin.
"Ga baik sampai pagi," kata Surya.
Setelah ke kasir mereka berpisah.
Mereka berpisah.
🐥
Sampai kosan..🌃
"Yes!" kata Mirna.
Nila memeluk Mirna.
"Malam ini seru ya? Lihatlah ekspresi mereka semua tadi ketawa-tawa. Kita nyanyi-nyanyi," kata Nila.
"Bener banget. Semoga bisa begini lagi," kata Mirna gantian memeluk Nila.
"Happy!" kata Mirna.
Akhir yang bahagia buat semua nya😊😊😊
Sukses untuj karya selanjutnya ya thor dan tetap semangat 🥰🥰🥰
Dari awal kurang tegas soalnya, klo emang ga serius sama Mirna lepasin aja.
Karena Mirna orang nya tulus dan baik dan banyak yang suka sama Mirna.
Semoga Mirna bahagia ya thor....
Semangat ya thor 😊😊😊😊
Akhirnya semuanya aman 😊😊
Semangat ya thor 🥰🥰🥰
Semakin dewasa Mirna tapi masih berharap dengan Surya.
Dan semoga Hyeo Ri mendapatkan pasangan yang baik 😍
Semangat ya thor dan lanjutkan ceritanya 😘😘😘
Semakin seru kisah Mirna, Hyeo Ri dan Ruumi....
Semangat ya thor, sehat selalu agar bisa up terussss 😍😍😍😍
Semangat ya thor....
5 like buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..
10 like buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..
Belum bisa wujudin apa harapan ibu nya, semoga jodoh Mirna yg baik n tegas n sayang ya thor....
Ditunggu crazy up nya thor hehehehe
Semangat ya 😍😍😍