pernahkah kau membayangkan terjebak dalam novel favorit, hanya untuk menyadari bahwa kau adalah tokoh antagonis yang paling tidak berguna, tetapi Thanzi bukan tipe yang pasrah pada takdir apalagi dengan takdir yang di tulis oleh manusia, takdir yang di berikan oleh tuhan saja dia tidak pasrah begitu saja. sebuah kecelakaan konyol yang membuatnya terlempar ke dunia fantasi, dan setelah di pikir-pikir, Thanz memiliki kesempatan untuk mengubah plot cerita dimana para tokoh utama yang terlalu operfower sehingga membawa bencana besar. dia akan memastikan semuanya seimbang meskipun dirinya harus jadi penggangu paling menyebalkan. bisakah satu penjahat figuran ini mengubah jalannya takdir dunia fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Xg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kelicikan
Demonstrasi Bakat yang Menggemparkan di
Aula ujian kedua telah disulap menjadi panggung pertunjukan megah. Lantainya dilapisi karpet beludru merah, dan tribun-tribun menjulang tinggi di sekeliling area. Tak seperti ujian tulis yang sunyi, kali ini suasana dipenuhi keriuhan.
Anggota keluarga para siswa diizinkan menonton, duduk di tribun VIP. Termasuk Marquess Aerion dan Lady Elara yang tampak duduk di salah satu kursi terdepan, ditemani Michael yang ceria. Tatapan mereka kecuali Michael, sesekali mencuri pandang ke arah Thanzi, masih dipenuhi rasa jijik dan kebencian yang mendalam.
"Selamat datang, para calon ksatria dan penyihir!" Suara seorang instruktur menggelegar di seluruh aula.
"Ujian kedua adalah demonstrasi bakat! Setiap peserta akan diberikan waktu untuk memperlihatkan kemampuan terbaik mereka. Entah itu sihir, keterampilan pedang, kekuatan fisik, atau bahkan kepandaian dalam taktik. Yang menunjukkan bakat paling hebat akan berkesempatan lanjut ke ujian berikutnya!"
Nama-nama mulai dipanggil. Yang pertama, tentu saja, adalah para bintang akademi.
Demonstrasi Pangeran Lyra adalah yang paling ditunggu.
"silakan pangeran Lyra, untuk maju"
Dengan anggun, ia melangkah maju dan, dengan tanpa basabasi ia melambaikan tangannya, memanggil bola-bola cahaya paling murni yang berkilau di udara, membentuk pola rumit yang memukau mata.
Ia memanipulasi cahaya itu menjadi bentuk naga raksasa yang melayang di atas panggung, mengeluarkan auman cahaya yang memekakkan telinga namun indah.
Ia menyelesaikan demonstrasinya dengan menciptakan ilusi kota bersinar di telapak tangannya. Kemampuan sihir cahayanya sungguh luar biasa.
"Luar biasa! Benar-benar bakat yang tak tertandingi!" seru seorang bangsawan di tribun, tepuk tangan riuh.
"Itulah harapan kekaisaran kita!" sahut yang lain.
Kemudian, giliran Elian, putra Duke.
Dengan pedang di tangannya, ia melakukan serangkaian gerakan yang begitu cepat dan presisi hingga mata sulit mengikutinya. Setiap tebasan menghasilkan desiran angin yang kuat, dan puncaknya, ia membelah sebuah balok baja padat menjadi dua hanya dengan satu ayunan pedang, meninggalkan bekas kilatan perak di udara. Kekuatan fisiknya sungguh brutal dan menakjubkan.
Kerumunan bersorak-sorai, terkesima dengan bakat alami dan kekuatan luar biasa yang mereka tunjukkan.
Thanzi hanya mengamati dari barisan peserta. 'Hmph, terlalu mudah. Mereka bahkan tidak perlu berusaha keras untuk tampil mengesankan,' pikirnya datar.
Di dalam benaknya, ia menganalisis setiap gerakan, setiap celah kecil, setiap kelemahan tersembunyi yang mungkin tidak disadari siapa pun.
Lalu giliran Michael. Adiknya melangkah maju dengan senyum cerah. Dengan gerakan tangan yang anggun, ia memanggil pusaran angin kecil yang dengan cepat tumbuh menjadi badai mini di tengah aula.
Badai itu mengangkat berbagai objek ke udara, lalu dengan satu sentakan tangan, Michael membanting semuanya ke tanah tanpa kerusakan, menunjukkan kontrol sihir angin yang sempurna dan kekuatan mentah yang luar biasa untuk usianya.
"Luar biasa! Tuan Muda Michael memang yang terbaik!" teriak para pelayan keluarga Marquess dari tribun, sorakan bangga mereka mengalahkan suara orang lain.
Marquess Aerion tersenyum puas, membusungkan dada, sementara Lady Elara tampak sangat bangga.
Thanzi hanya meliriknya, ekspresinya sulit dibaca. Kekuatan yang sangat terkendali dan tak terkendali. Michael, kau tidak tahu betapa bahayanya itu, pikir Thanzi, merasakan kekhawatiran samar.
Dan kemudian, nama Thanzi dipanggil.
"Thanzi!"
Bisikan tak sedap mulai beredar di antara penonton. Itu dia anak yang dibuang! Beraninya dia muncul lagi!
Thanzi melangkah ke area demonstrasi, dengan ekspresi tenang. Seorang remaja bernama Corvin, anak dari Earl yang memiliki sihir kegelapan kecil dan dikenal licik, kini berdiri di samping para profesor sebagai asisten.
Ia melirik Thanzi dengan seringai lebar, matanya dipenuhi niat jahat. Corvin tahu apa yang diminta Marquess Aerion darinya, mempermalukan Thanzi secara total.
"Jadi, kau benar-benar berani muncul lagi, Thanzi yang tak berguna? Apa yang akan kau tunjukkan? Kebodohanmu?" Corvin berbisik, cukup keras agar Thanzi mendengarnya.
Thanzi hanya menatapnya, matanya tanpa emosi. Ia mengerti. Ini adalah pembalasan dendam dari orang tuanya, menggunakan Corvin sebagai alat.
"Baiklah, Thanzi, apa bakat yang akan kau tunjukkan?" tanya instruktur.
"Apakah kau punya kemampuan sihir, pedang, atau sesuatu yang lain?"
Thanzi tidak memiliki bakat sihir atau kekuatan fisik yang mengesankan. Ia hanya mengandalkan kelincahan tubuh kurus dan pengetahuannya tentang taktik serta kelemahan yang ia serap dari novel.
Dan ini adalah momennya. Ia tidak akan mati di sini, bukan sebagai pecundang.
Dengan tenang, Thanzi melangkah ke tengah arena. Ia menatap Corvin yang masih menyeringai, lalu ke arah Marquess Aerion dan Lady Elara yang menatapnya dengan jijik. Sebuah seringai tipis, hampir tak terlihat, muncul di bibirnya.
"Aku akan menunjukkan... kelicikan," kata Thanzi, suaranya pelan tapi terdengar jelas.
Kerumunan berbisik. Kelicikan? Apa itu bakat?
Instruktur mengernyit. "Kelicikan? Jelaskan maksudmu, Tuan Muda Thanzi."
"Aku akan menunjukkan bagaimana kelemahan terbesar seseorang bisa dimanfaatkan," Thanzi menjawab, matanya menyorot tajam ke arah Corvin.
"Dan bagaimana bakat, jika tidak diimbangi kecerdasan, bisa menjadi bumerang."
Corvin tertawa sinis. "Omong kosong! Anak bodoh sepertimu tidak akan tahu apa-apa tentang bakat dan kelicikan!"
Thanzi mengabaikan Corvin. Ia melihat ke arah instruktur. "Bisakah saya meminta asisten?"
Instruktur ragu, tapi mengangguk. "Tentu, siapa?"
Thanzi menunjuk ke arah Corvin. "Dia."
Corvin tercengang. "Apa?! Aku tidak akan—"
"Corvin, sebagai asisten, kau harus mematuhi instruksi," instruktur itu memotong tegas.
Corvin dengan enggan melangkah ke tengah arena, wajahnya masam.
Thanzi menatap Corvin. "Baiklah, Corvin. Aku akan menunjukkan kepadamu apa artinya manipulasi dari sebuah kelicikan. Bayangkan kau adalah musuh yang kuat dan aku adalah seorang penyusup yang lemah. Tugasmu adalah menghalangiku agar tidak bisa mendekatimu. Bebas menggunakan sihir atau gerakan apa pun, tapi tidak ada kontak fisik langsung yang berbahaya. Tujuanmu adalah mengintimidasiku agar aku menyerah. Setuju?"
Corvin menyeringai. "Mudah! Aku akan membuatmu menangis!"
Thanzi hanya tersenyum samar. Corvin mulai melemparkan bola-bola bayangan dan menjalar akarnya, mencoba mengurung Thanzi. Thanzi tidak melawan. Ia hanya menghindar dengan gerakan aneh, sesekali tersandung, dan mengeluarkan suara panik yang dibuat-buat, seperti pecundang yang ketakutan.
"Ha! Lihat saja, dasar pengecut!" Corvin mengejek, menikmati Thanzi yang 'ketakutan'. Ia semakin bersemangat, melancarkan serangan yang lebih besar dan mencolok, mencoba memaksa Thanzi menyerah. Corvin terus bergerak, meremehkan, dan bahkan sesekali melemparkan ejekan pribadi.
Namun, di setiap gerakannya, di setiap serangannya, Corvin tanpa sadar masuk ke dalam pola yang Thanzi ciptakan. Ia mengarahkan Corvin secara halus, memanipulasi setiap reaksinya. Thanzi tahu, Corvin adalah orang yang suka memamerkan kekuatannya dan meremehkan lawan. Dan itu adalah kelemahan terbesarnya.
Ketika Corvin melancarkan serangan sihir kegelapan besar yang membuat Thanzi pura-pura terpojok di sudut, ia melihat celahnya.
"Sekarang!" bisik Thanzi. Dengan kecepatan luar biasa, ia tiba-tiba berlari kencang.
Bukan lari untuk menyerang, melainkan lari memutari Corvin, yang sedang sibuk memamerkan kekuatannya. Lalu, dengan gerakan tidak terduga, Thanzi melompat.
Bukan lompatan seorang ksatria, melainkan lompatan putus asa yang diatur sempurna. Ia melompat melewati kepala Corvin, yang sibuk fokus pada mantra di depannya.
Corvin, yang tidak menyangka Thanzi akan melakukan gerakan seberani dan sekonyol itu, terkejut. Ia tersentak, keseimbangannya sedikit goyah. Ia baru menyadari bahwa Thanzi telah berada di belakangnya.
Thanzi mendarat di belakang Corvin. Ia tidak menggunakan sihir atau pedang. Ia hanya menggunakan kekuatan fisiknya yang sederhana, namun dengan presisi mematikan. Ia menendang tumit Corvin dengan keras, membuat lututnya tertekuk. Corvin terhuyung. Saat ia mencoba berbalik, Thanzi mendorong punggungnya sekuat tenaga, lalu menarik bahunya, membuatnya kehilangan keseimbangan sepenuhnya dan berputar.
KRAK!
Corvin jatuh terjerembap dengan wajah menghantam lantai arena, terdengar jelas suara hidungnya yang mungkin patah.
Ia terkapar, mengerang kesakitan, terbatuk-batuk. Sebuah demonstrasi yang brutal, namun juga menunjukkan bagaimana kelicikan bisa mengalahkan kekuatan.
Aula itu hening total. Semua orang tercengang. Termasuk para profesor. Termasuk Marquess Aerion dan Lady Elara. Termasuk Pangeran Lyra, Elian, dan bahkan Michael.
Kabar tentang betapa bodoh dan tidak berbakatnya Thanzi sudah menyebar luas. Tapi nyatanya, seorang anak Marquess yang dianggap tidak berguna, yang tidak punya bakat sihir atau kekuatan fisik, baru saja mengalahkan seorang penyihir licik dengan bakat dan tubuh yang lebih besar. Itu semua berkat gerakan tipuan yang cerdik dan kelicikannya yang jauh lebih licik dari lawannya.
Thanzi berdiri di atas Corvin yang mengerang kesakitan.
"Wah, wah... seorang Corvin kalah dengan seseorang yang tidak punya bakat apa pun. Bukankah itu sangat memalukan?" ejek Thanzi.
Thanzi menatapnya dengan pandangan dingin. Ia ingat betul bagaimana Corvin tadi mencoba menyakitinya. Amarah Thanzi yang asli mungkin telah memicu reaksi itu, tapi Thanzi dari Bumi tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi. Ia tidak segan.
"Karena kau berusaha mengincar nyawaku, maka kau harus menerima akibatnya," katanya, suaranya pelan dan menusuk.
Dengan sekuat tenaga yang ia miliki, Thanzi mengayunkan kakinya, dan menendang keras tepat ke tirik vital sisi tubuh Corvin yang terkapar di lantai.
BUAGH!
Suara tendangan itu bergema. Corvin menjerit kesakitan, meringkuk, terbatuk-batuk.
"Arghh... uhuk... uhuk..."
Hal itu membuat orang-orang yang tercengang tadi kini benar-benar terkejut. Mereka dapat melihat "jahatnya" seorang Thanzi yang sebenarnya.
Thanzi yang dianggap tidak berguna itu, Thanzi yang selalu disebut bodoh, kini menunjukkan sisi kejam yang tidak segan-segan menginjak-injak lawan yang sudah kalah. Ia tidak menunjukkan belas kasihan, tidak seperti pahlawan yang selalu disanjung.
"Orang selalu memandang Thanzi jahat dan kejam, jadi sebaiknya aku tunjukkan saja apa yang namanya jahat dan kejam itu," pikirnya dalam hati.
Marquess Aerion dan Lady Elara berdiri dari kursi mereka, wajah mereka pucat pasi. Ini bukan Thanzi yang mereka kenal. Ini adalah sesuatu yang asing dan mengerikan.
"Seseorang... selidiki Thanzi!" desis Marquess Aerion, suaranya pelan namun penuh ketegangan, memerintahkan salah satu pengawalnya.
"Apa yang terjadi padanya? Mengapa dia bisa tiba-tiba sehebat ini?! Dan kenapa dia begitu..." Marquess Aerion tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, tapi semua orang tahu maksudnya.
Mengapa dia begitu kejam dan licik, tidak seperti Thanzi yang dulu mudah dipancing emosi?
Thanzi melirik ke arah mereka, seringai tipis namun tengil terukir di wajahnya. Ia sengaja melakukannya. Ia ingin mereka semua melihat. Ia ingin mereka tahu bahwa Thanzi yang mereka remehkan itu tidak lagi sama. Ini adalah peringatan.
Di dunianya dulu, Thanzi mungkin sebatang kara dan sering dihina, tapi ia adalah seorang jenius dalam mengamati, menganalisis, dan memanfaatkan situasi.
Sekarang, di dunia ini, ia akan menggunakan semua kecerdasan dan kelicikannya untuk bertahan hidup dan mengubah takdir.
'Ini baru permulaan.'