Kisah cinta rumit terjalin di antara empat bersaudara, seorang wanita hadir menjadi rebutan.
Dialah Art Tara Biancasandra, seorang wanita cantik yang memiliki nasib buruk semenjak memiliki ibu tiri. Nasibnya berubah setelah mengenal seorang pria kaya yang memanfaatkan dirinya. Dari sanalah ia mendapatkan kisah asmaranya yang rumit, segala keluh kesah kehidupan di dapatinya mulai dari hal baik hingga hal buruk.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Apakah ia mampu menghadapi asmara jajar genjang itu?
Tidak ada permasalahan yang tidak mendapatkan jalan keluarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rha Setia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AJG 06
"Aku pergi." Tara berpamitan dengan dua kata sederhana itu. Lantas, ia berlalu begitu saja dari hadapan kedua orang yang selalu menjadi penyemangat hidupnya, penyemangat jiwa yang hampir saja lenyap dari tubuhnya. Jika saja tidak ada mereka, ia belum bisa memastikan nasib umurnya.
Tiga belas tahun silam, ia sempat ingin mengakhiri hidupnya dengan menegak racun.
Beruntung ia mengurungkan niatnya setelah mengingat pembalasan dendamnya. Terlalu mudah bagi ketiga orangtuanya jika kehilangan dirinya, lebih baik ia membuat mereka menderita terlebih dahulu sebelum ia mengakhiri hidupnya.
Namun, hingga kini semua itu belum tercapai, kadang kala rasa iba masih menjadi sebuah dilema.
Ia membatin penuh lirihan, jika keinginan itu adalah sebuah dosa besar yang membuat ia mendapat hukuman dari-Nya. Lamunan tajam itu tertanam dalam jiwanya, hingga ia sampai tak sadar akan sesuatu, langkahnya telah menepi di hadapan seorang pria yang menjadi objek intipan anaknya sesaat lalu.
"Mommy!" Suara imut gadis cilik itu berhasil memecah lamunan Tara, suara itu membuatnya menatap si gadis cilik, seulas senyuman riang tersirat dari wajahnya, ia menyambut dua tangan imut yang menengadah meminta pangkuan kepadanya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya ayah dari si gadis cilik itu, ia segera melontarkan pertanyaannya saat melihat sang wanita yang selalu diincar hatinya, kini sosok itu berada di hadapannya.
"A … aku mau …," sahut Tara terbata-bata ketika sang waktu mendesaknya sebelum ia mendapatkan alasan tepat untuknya.
"Mommy aku punya mainan balu!" seru manja si gadis cilik, ia menyela ucapan wanita yang telah menatapnya penuh gemas, syukurlah karena gadis cilik itu menyelanya, sehingga ia tak perlu mencari alasan untuk menjawab pertanyaan dari pria itu, pria yang kini menatapnya lekat-lekat.
Segera saja Tara meraih tubuh gadis cilik itu ke dalam pangkuannya, ketika ia melihat anak itu mengacungkan sebuah benda, benda yang digenggam olehnya untuk diperlihatkan kepada Tara.
"Jangan bilang kamu ngikutin aku?" tukas pria itu dengan percaya diri, hal itu membuat sang wanita yang kini duduk besebrangan dengan dirinya meluapkan dengusan penyangkalannya.
"Aku lihat dia," tunjuk Tara pada si gadis cilik yang tengah asik bermain di atas pangkuannya, hal itu membuat sang pria terkekeh gemas, apalagi saat mendengar alasan klasik penuh dusta itu.
"Kamu udah makan?" tanya sang pria dengan penuh kelembutan. Namun, kalimatnya membuat wanita itu melirih di sana, saat ingatannya membayang kepada anak semata wayangnya, anak yang belum pernah bertemu dengan ayahnya.
Seharusnya hari ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan ayah dan anak itu, namun batinnya masih belum mendapat persiapan diri untuk menerima segala risikonya jika saja itu terjadi. "Jack aku … " ucapannya terpenggal saat tenggorokannya tersendat lirihan batinnya.
"Kenapa?" tanya Jackson dengan nada penasaran, tatapan mata intens itu tertuju pada wanita itu.
Hening, suasana hening di antara mereka, hal itu membuat Jackson menggunakan kesempatannya menilik wajah jelita yang berada di hadapannya, paras yang selalu mencuri hatinya sejak dua tahun silam, kini ia menemukannya kembali.
Ia menepati janji untuk menemukan wanita yang telah ternoda olehnya di malam itu, malam saat pertama kali ia mendapat tugas dari sang ayah untuk menggantikan pekerjaannnya, suatu pekerjaan yang mengharuskan ia menemui seseorang di sana.
Tidak! Seharusnya ia tidak sepenuhnya menepati janjinya. Ia berjanji untuk segera menemukannya tiga tahun setelahnya. Namun nyatanya, di usianya yang ke tiga puluh tahun, ia baru menemukan wanita itu.
Kini dua tahun sudah ia mengungkap perasaannya kepada wanita itu, namun hingga kini ia belum berhasil meraih hati sang belahan jiwa.
"Art!" sapa Jackson melenting membuat wanita di hadapannya tersadar dari lamunannya, ia segera mengarahkan pandangannya kepadanya. "Kamu inget dua belas tahun lalu, apa yang kita lakuin di lantai lima bangunan ini?" Ia mendongak seolah menatap langit-langit bangunan itu. Nyatanya, ia tersenyum kala mengingat malam indah yang tidak pernah terlupakan itu.
"Jack, kamu nyebelin!” sahut Tara, ia bersungut tegas saat rasa malu merangkak menjalari tubuhnya hingga bergejolak membuat wajahnya tertunduk. Enggan rasanya ia mengingat kejadian itu, peristiwa yang selalu membuat wajahnya merona, sesuatu hal yang membuat Jackson --pria yang masih duduk besebrangan dengannya-- tertawa gemas saat melihat tingkah kikuknya.
“Aku ga inget sama kejadiannya kamu ngerti!" Apa yang ia lakukan malah kian membuat pria di hadapannya makin merasa gemas saat melihat tingkahnya.
"Biar kamu inget, makanya aku selalu ngingetin kamu kalau aku cowo pertama kamu. Dan harapan aku, aku jadi yang terakhir buat kamu." Jackson mempertegas rayuan dengan nada lembutnya.
Namun, rupanya apa yang ia lakukan membuat sang wanita --yang masih membawa si gadis cilik dalam pangkuannya-- menatap ia dengan penuh emosi.
Selalu saja Jackson menyerukan rayuan-rayuan manisnya saat ia berbincang dengan wanita itu, setiap rayuan gombalnya pastilah membuat batin sang wanita berseru dilema di sana.
"Jack!" Tara memekik, ia bermaksud ingin menghentikan aksi pria yang telah menatap wajahnya tanpa berkedip itu. Sayangnya itu gagal dan percuma, hal yang sia-sia.
Jackson kembali terkekeh, ia tahu pasti bagaimana perasaan wanita itu, wanita yang mulai belingasatan terhadapnya. Bahwa sang wanita pun memiliki rasa suka terhadapnya, bahkan bisa dikatakan mencintainya.
Hanya saja, ia belum memahami apa yang salah, mengapa wanita sang pujaan hati itu selalu menolaknya, ia mengira penolakan itu berdasar pada rasa trauma atas kehidupan sang wanita di masa lalu, kehidupan yang sempat mengalami percintaan keji dengan seorang konglomerat bejat selama empat tahun lamanya.
Ia tidak yakin dengan itu, bahkan ia sampai menerka jika wanita --yang kini menatapnya penuh heran-- itu masih menginginkan pria berwajah garang tersebut.
Namun ia menyangkalnya tatkala sang pikiran bertanya, Jika sang wanita masih menginginkan lelaki bejat itu, mengapa sang wanita melarikan diri dari genggamannya dua tahun silam?
"Kamu lucu kalau malu Art Tara," rayu Jackson yang segera mengakhiri bayangannya dengan celotehan penuh rayuan, sesuatu hal yang kembali membuat wajah sang wanita merona tanpa bisa dicegahnya.
"Jack, aku bosen denger rayuan kamu," dengus Tara, wanita itu coba mengendalikan diri dengan cara mengeluarkan tatapan murkanya, tatapan yang seolah emosinya telah merangkak dari dalam angan. Nyatanya, ia masih tidak mampu menahan rasa cerianya yang tercurah dari ungkapan pujian itu.
"Tapi muka kamu bilang kamu suka itu," balas Jackson yang kian menggoda, godaan yang membuat sang wanita kian kehilangan kendali atas diri untuk tidak mencurahkan rasa malunya, peluh kecil berhamburan di balik permukaan kulit dahinya.
"Mommy mau makan?" tanya si gadis cilik yang lagi-lagi melerai situasi canggung antar mereka, hingga membuat wanita yang dianggapnya sebagai ibunya itu melega tanpa pelantara.
"Iya sayang mommy mau makan," balas Tara menjawab pertanyaan gadis cilik itu disertai senyuman manisnya, hal tersebut membuat pria di hadapannya mengunci tatapannya pada bibir yang terangkat itu.
"Sorry, aku lupa!" seru Jackson, ia lupa jika dirinya belum menawarkan sebuah santapan untuk wanita yang kini menatapnya penuh cibiran. "Mau makan apa?"
"Aku udah kenyang sama rayuan kamu," sahut Tara menepis dengan lembut, ia merasa apabila perutnya telah terpenuhi asupan gizinya setelah ia menyantap makan siang bersama anaknya saat lalu.
"Kamu masih aja malu sayang, kamu sebenarnya suka itu 'kan?" balas Jackson penuh harapan jika sang wanita --yang kini menatapnya penuh penyesalan-- akan menjawab persetujuannya. Namun, apa yang ia harapkan tidak semanis itu untuk segera terkabul.
"Jack, kamu ga pantes gombal-gombalan gitu, kamu udah punya anak remaja, masih mikir kalau kamu itu anak abege?"
Mengejutkan! Kelopak mata Jackson membelalak nyalang, mengingat dirinya telah menodai wanita di hadapannya dua belas tahun silam. Pikiran buruk mulai berkumandang dari dalam ingatannya. Namun, sebisa mungkin ia memastikan tanpa harus menyahut pikiran buruk tanpa bukti itu. "Anak remaja? Dia masih umur 3 taun, Art Tara," balasnya sambil menunjuk anaknya dengan dagunya.
Kali ini, kelopak mata Tara yang terbuka lebar, tatkala menyadari ucapan yang ia lontarkan sebelumnya hampir saja mencelakainya. Kelopak matanya kian melebar saat ia melihat sang anak semata wayangnya, kini sedang berdiri di belakang pria itu, yang kini mengalihkan arah wajahnya mengikuti arah pandangnya.
•
•
•
•
Tbc
hmm...apakah jackson tahu bahwasanya dia telah jadi seorang ayah??
semoga segera dipertemukan oleh takdir.
dan perasaan mendalam antara kasihan sesal dan tumbuhnya cinta ...
mengapa pula sikap nya sungguh terlihat kejam ke tara,mungkinkah tara anak yg tdk di inginkan kelahirannya??
selamat berjuang tara,menata masa depan dengan peluh halalmu.
ujian terberat tara akan segera dimulai,kenapa kebablasan?kenapa tdk dengerin sahabat kamu tara
saya langsung cus ngingip visualnya mom😁