Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.
Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.
Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.
Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status yang Menggantung
Pagi itu, Cika terbangun lebih awal dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya naik, tetapi matanya sudah sulit terpejam kembali sejak mendengar bunyi notifikasi semalam yang masih terngiang di kepalanya. Sebuah email dari HRD YukBelanja masuk ke kotaknya, memberitahu bahwa ia diterima bekerja dan diminta hadir untuk pengisian data karyawan serta orientasi awal.
Tangannya sedikit gemetar saat membuka kembali email itu, seolah memastikan bahwa semua yang ia baca semalam benar-benar nyata. Seharusnya ini menjadi kabar yang membahagiakan, sesuatu yang ia tunggu sejak lama. Namun entah mengapa, ada rasa sesak yang muncul di dadanya, seolah ada sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.
Pagi itu, apartemen Al masih terasa sepi. Pintu kamar pria itu masih tertutup, dan tidak terdengar suara apa pun dari dalam. Keheningan itu justru membuat pikiran Cika semakin berisik.
Ia bangkit perlahan dari tempat tidur, lalu berjalan menuju dapur dan mulai menyiapkan kopi seperti biasa. Sejak dua hari terakhir tinggal di apartemen ini, tubuhnya seolah mulai terbiasa mengambil alih peran-peran kecil yang sebelumnya terasa asing. Menyapu lantai, menyeduh kopi, hingga menyiapkan sarapan sederhana, semuanya dilakukan tanpa perlu dipikirkan terlalu lama.
Meskipun apartemen ini masih didominasi warna hitam dan putih yang terasa dingin, kehadiran aktivitas kecil itu perlahan memberi kehidupan pada ruang yang sebelumnya terasa kosong.
Saat aroma kopi mulai memenuhi ruangan, pintu kamar Al akhirnya terbuka.
Lelaki itu berjalan keluar dengan langkah santai, masih mengenakan kaus abu-abu dan celana training gelap. Rambutnya sedikit berantakan, namun justru membuat wajahnya terlihat lebih santai dibandingkan biasanya.
“Pagi,” gumamnya pelan sambil mengambil cangkir yang sudah disiapkan di meja.
“Pagi,” jawab Cika lirih, matanya lebih banyak tertuju pada cangkir di tangannya.
Al menyesap kopinya sebentar, lalu melirik Cika yang tampak tidak seperti biasanya. “Kamu kenapa? Kurang tidur?”
Cika ragu sejenak sebelum menjawab. Ia menarik napas pelan, mencoba menyusun kata-kata yang tepat.
“Aku… dapat email semalam. Dari YukBelanja.”
Al sedikit mengangkat alisnya. “Kabar baik?”
Cika mengangguk. “Aku diterima. Disuruh datang hari ini jam sepuluh, untuk pengisian data awal.”
“Selamat,” ujar Al dengan tulus, namun pandangannya tidak lepas dari wajah Cika. “Tapi kenapa kamu terlihat cemas?”
Cika menggigit bibir bawahnya, lalu menunduk sedikit. “Aku bingung harus mengisi apa di bagian status keluarga. Kalau aku tulis menikah, mereka pasti akan tahu aku istri Pak Al…”
Kalimat itu menggantung.
Al terdiam sejenak, lalu menatap Cika dengan lebih serius.
“Kita memang menikah,” ucapnya pelan namun tegas.
“Iya,” jawab Cika hampir berbisik. “Tapi ini pernikahan kontrak. Mereka tidak tahu konteksnya. Aku takut… nanti malah jadi bahan pembicaraan di kantor. Aku juga tidak mau dianggap memanfaatkan posisi…”
Al menarik napas perlahan, lalu meletakkan cangkirnya di meja. Ia menyilangkan tangan dan bersandar sedikit, seolah sedang memikirkan sesuatu dengan serius.
“Kalau kamu merasa lebih nyaman menulis belum menikah, aku tidak akan memaksa,” katanya akhirnya. “Tapi kalau kamu memilih jujur, aku akan pastikan tidak ada yang merendahkan kamu karena itu.”
Cika terdiam.
Ia tidak langsung menjawab.
“Aku hanya tidak mau merusak citra kamu di kantor,” lanjutnya pelan. “Aku ini… bukan siapa-siapa.”
“Cika.”
Suara Al kali ini lebih dalam, membuat Cika refleks menatapnya.
“Jangan bilang kamu bukan siapa-siapa,” lanjut Al dengan tenang, namun jelas. “Kita memang membuat kesepakatan, tapi sekarang kamu istriku. Kontrak atau bukan, itu tidak mengubah fakta itu.”
Cika terpaku.
Ada sesuatu dalam nada suara Al yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
“Dan satu hal lagi,” tambah Al setelah jeda singkat. “Di kantor, orang-orang tidak peduli dengan cerita di balik status. Mereka hanya melihat apa yang terlihat.”
Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa membuat dada Cika semakin terasa berat.
Hari itu, Cika berangkat ke kantor dengan perasaan yang belum sepenuhnya tenang. Setelah mempertimbangkan semuanya, ia akhirnya memutuskan untuk menuliskan statusnya sesuai kenyataan.
Menikah.
Keputusan yang sederhana di atas kertas, tetapi terasa berat saat harus dijalani.
Gedung YukBelanja tampak sama seperti saat ia datang untuk wawancara, megah dan sibuk seperti biasa. Namun kali ini, langkah Cika terasa berbeda. Ia tidak lagi datang sebagai pelamar, melainkan sebagai seseorang yang telah diterima.
Di ruang pelatihan, beberapa peserta orientasi sudah duduk rapi. Wajah-wajah yang sempat ia lihat sebelumnya kini kembali muncul, sebagian menyapa dengan canggung, sebagian hanya saling mengangguk.
Cika duduk di deretan tengah, mencoba menyesuaikan diri.
Tak lama kemudian, staf HR datang dan membagikan formulir. Cika mulai mengisinya dengan teliti, satu per satu, tanpa ingin melewatkan apa pun.
Namun saat sampai di bagian status keluarga, tangannya sempat berhenti.
Ia menarik napas pelan.
Lalu menulis.
Menikah.
Beberapa menit kemudian, formulir itu dikumpulkan. Saat staf HR mengambil kertas miliknya, pandangannya sempat berhenti sejenak.
“Selamat ya, sudah menikah. Baru ya?” tanyanya dengan senyum ringan.
Cika mengangguk sedikit gugup. “Baru dua hari.”
“Wah, semoga langgeng,” jawabnya singkat sebelum melanjutkan ke peserta lain.
Cika tersenyum kecil.
Namun entah kenapa, ia merasa beberapa orang di sekitarnya mulai melirik sekilas ke arahnya, meskipun tidak ada yang benar-benar mengatakan apa pun.
Sore harinya, saat Cika kembali ke apartemen, Al sudah duduk di ruang tamu dengan laptop di pangkuannya. Wajahnya terlihat fokus, tetapi langsung menoleh ketika mendengar pintu terbuka.
“Bagaimana tadi?” tanyanya.
“Baik,” jawab Cika sambil melepas sepatu. “Aku isi semua. Aku tulis sesuai kenyataan.”
Al menutup laptopnya perlahan. “Kamu yakin dengan itu?”
Cika mengangguk. “Aku tidak mau memulai dengan kebohongan. Kalau nanti mereka tahu dari orang lain, justru bisa lebih buruk.”
Al tersenyum tipis. “Keputusan yang berani.”
Cika berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas. Ia menatap isinya yang masih sangat minim.
“Sepertinya kita harus belanja bahan makanan,” ujarnya pelan.
Al berdiri dan ikut melihat ke dalam. “Kamu benar. Besok kita pergi.”
Cika sedikit terkejut. “Kita?”
Al menoleh singkat. “Aku juga makan, kan?”
Cika tertawa kecil tanpa sadar.
Namun di balik itu, ada rasa lain yang mulai muncul—sesuatu yang perlahan membuat batas di antara mereka terasa tidak sejelas sebelumnya.
Malam harinya, Cika berdiri di balkon kecil apartemen, menatap lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan. Angin malam menyentuh wajahnya, membawa ketenangan yang ia butuhkan setelah hari yang cukup panjang.
Namun pikirannya tetap tidak benar-benar diam.
Pekerjaan baru.
Status baru.
Dan pria yang kini tinggal bersamanya.
Al mungkin bukan tipe pria yang menunjukkan perhatian dengan cara yang jelas. Namun justru itu yang membuat setiap hal kecil terasa lebih berarti—seperti caranya berbicara pagi tadi, atau bagaimana ia tidak membiarkan Cika merendahkan dirinya sendiri.
Hal-hal kecil itu perlahan meninggalkan jejak.
Bukan hanya di apartemen ini.
Tapi juga… di hatinya.