Pratama Attarilah Putra Wijaya (Tama), adalah seorang yang usil dan jahil. Sejak kecil dia sering menjahili anak dari sahabat ibunya, Kiara. Akankah kejahilan itu terus berlanjut dan menumbuhkan cinta?
Mikhaila Azzariyah Putri Wijaya(Mikha), dia lahir lebih lambat 2 menit dari saudara kembarnnya Tama. Mikha yang memiliki sifat lugu dan polos bertemu dengan seorang pemuda bernama Dion Sebastian yang memiliki sifat jutek dan temperamental. Dan suatu kesalah pahaman membuat mereka terpaksa harus menikah. Akankah keduanya saling jatuh cinta, ketika ternyata di hati Dion sudah ada wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
'Ehem'
Mikha langsung berbalik setelah mendengar suara deheman seseorang dari belakangnya. Matanya terbelalak ketika melihat sosok di hadapannya.
"Apa yang baru saja kamu katakan!" kata Dion dengan memberikan tatapan tajamnya kepada Mikha.
"Memang apa yang aku katakan?" jawab Mikha yang pura-pura lupa dengan apa yang dia katakan.
"Kau bilang kalau aku adalah orang miskin yang berpura-pura menjadi orang kaya,"
"Kapan aku bilang begitu," sekali lagi Mikha mencoba untuk berkilah.
Dion benar-benar geram di buatnya, dia hanya bisa mengeratkan gigi menghadapi gadis di depannya. "Ikut, aku!" titahnya kepada Mikha.
"Kemana?" tanya Mikha dengan wajah polosnya.
"Astaga...tentu saja ke ruanganku. Bukankah kamu ke sini untuk bekerja denganku?" tanya Dion yang semakin marah.
"Sebenarnya aku tidak ingin ke sini, tapi karena kamu menyuruhku, makanya aku ke sini." jawab Mikha santai.
Dion hanya bisa menggelengkan kepalanya menghadapi gadis di depannya. Gadis itu sama sekali tidak ada rasa takut sedikitpun terhadapnya.
"Baik, karena kamu tidak ingin berada di sini, kamu boleh pergi sekarang juga!"
"Terimakasih Tuan, akhirnya kamu mengijinkan aku pulang juga," kata Mikha senang. Namun kesenangan Mikha langsung sirna tatkala Dion mengucapkan jurus andalannya.
"Tapi sekarang juga lunasi hutangmu padaku!" itulah jurus andalan Dion yang pasti bisa membuat Mikha langsung tunduk di hadapannya.
"Tuan, yang baik hati, aku hanya bercanda barusan. Jangan marah ya!" pinta Mikha dengan mengangkat jarinya membentuk huruf V, bahkan dia sengaja memasang senyum yang menampakkan gigi-gigi putihnya agar Dion bisa kembali mencabut ucapannya.
"Bukannya kamu sendiri yang minta untuk pergi dari sini?" tanya Dion yang sengaja ingin mengerjai gadis di hadapannya. Bahkan Dion berpura-pura berbalik dan tidak memperdulikan Mikha. Dion melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan tempat itu. Mikha dengan cepat mengejarnya.
"Tuan yang baik hati aku mohon, tolong beri aku pekerjaan agar aku bisa melunasi semua hutangku!" pinta Mikha dan kali ini dia terpaksa harus berbicara dengan nada yang di buat semanis mungkin.
"Tidak ada pekerjaan untukmu, jadi segera lunasi hutangmu padaku!"
"Dasar cowok nyebelin! Dia pasti sengaja membuat aku memohon seperti ini? Awas saja nanti, aku pasti bisa balik mengerjaimu," ancam Mikha dalam hati.
"Ayolah Tuan! Aku janji, aku pasti akan bekerja dengan sungguh-sungguh!" pinta Mikha sekali lagi.
Dion kembali menatap Mikha.
"Baiklah, karena kamu memaksa aku akan memberimu pekerjaan," ucap Dion.
"Terimakasih, Tuan," balas Mikha.
"Ayo ikut!" titah Dion pada Mikha
"Kemana?" tanya Mikha lugu.
"Tentu saja ke ruanganku," jawab Dion lagi.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Mikha mengikuti Dion ke ruangannya.
Dion langsung duduk di kursi kebesarannya, diikuti oleh Mikha. Gadis itu juga duduk di bangku kosong yang ada di hadapan Dion.
"Siapa yang menyuruhmu duduk?" tanya Dion dengan memberikan tatapan tajamnya kepada Mikha.
"Tidak ada, tapi karena aku capek makanya aku duduk," jawab Mikha cuek.
"Hei, kamu itu bekerja untukku sekarang. Jadi mulai saat ini kamu harus mendengarkan perintahku. Mengerti!"
Mikha mendengus kesal, dia segera bangkit dari tempatnya duduk.
"Aku sudah bangun. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Mikha dengan menahan rasa kesalnya.
"Tidak ada, aku hanya butuh seseorang untuk menemaniku saja," jawab Dion sekenanya.
"Apa!!" teriak Mikha, "Jangan teriak! Telingaku masih normal." Dion menutup telinganya denga kedua telapak tangannya.
"Heh, cowok nyebelin! Memangnya aku tidak punya kesibukan lain apa, hingga harus diam di sini?!" kata Mikha yang semakin kesal dengan sikap Dion.
"Kenapa? Inikan memang pekerjaanmu? Harusnya kamu tuh besyukur, karena aku cuma memberimu pekerjaan untuk diam di sini," jawab Dion.
"Kenapa tidak sekalian saja kamu suruh aku berdiri di depan perusahaan ini?!"
"Wah, aku rasa idemu bagus juga. Baiklah mulai besok tugasmu adalah berdiri di depan perusahaan ini. Dan apa pun yang terjadi kamu harus tetap stay di sana," kata Dion yang memang sengaja ingin membuat Mikha marah. Dion merasa senang saat melihat Mikha terus cemberut dan marah kepadanya. Bahkan melihat semua tingkahnya barusan membuat dia lupa akan rasa kesalnya terhadap kekasihnya, Cantika.
"Dasar cowok nyebelin!" umpat Mikha, namun dia hanya bisa mengatakannya dalam hati.
*****
Di kampus xx
Tama langsung duduk di depan Kiara, dia memperhatikan Kiara yang sedang fokus membaca buku.
"Kamu sangat cantik Kia," puji Tama dalam hati. Entah sejak kapan Tama merasakan perasaan lain terhadap gadis yang ada di depannya. Padahal sejak kecil dia sangat hobi menjahili gadis itu.
"Serius amat." Sontak suara Tama barusan membuat Kiara menatap ke arahnya.
"Kapan kamu datang, Tam?" tanya Kiara seraya menutup buku yang sedang dia baca.
"Baru saja," jawab Tama.
"Mana Mikha?" tanya Kiara.
"Barusan dia ngabarin, katanya dia ada urusan lain," jelas Tama.
"Sayang sekali, padahal aku ingin bercerita sesuatu sama dia," ucap Kiara.
"Kenapa tidak cerita padaku saja!" suruh Tama.
"Tidak ada yang perlu di ceritakan sebenarnya, aku cuma ingin bilang padanya kalau hari ini aku jadian sama Zeno," jawab Kiara.
Duarrttt
Seketika rasa sakit menghinggapi hati Tama. Namun dia berusaha menyembunyikan perasaan itu dari hadapan gadis yang saat ini sedang duduk di depannnya. Gadis itu tersenyum manis sambil terus bercerita soal kekasihnya yang bernama Zeno.
"Ohya, Tam. Menurutmu cowok bakalan senang kalau di kasih hadiah apa sama kekasihnya?" tanya Kiara kepada Tama.
Orang yang di ajak bicara itu malah diam, entah apa yang di pikirkan oleh Tama hingga dia tidak mendengar pertanyaan yang di berikan oleh Kiara.
"Hello, Tam. Tama," Mikha melambaikan tangannya di depan wajah Tama.
Tama langsung tersadar dari lamunannya.
"Maaf, Kia. Aku ada mata kuliah lagi, aku permisi!" Tanpa menunggu jawaban dari Kiara, Tama sudah pergi meninggalkannya.
"Ada apa dengan Tama ya?" gumam Kiara. Namun kemudian dia kembali fokus dengan buku di depannya.
*****
Tama kembali ke kelasnya, "Kenapa aku jadi pecundang seperti ini?" batin Tama.
Dia mencoba mengalihkan pikirannya dengan memainkan permainan online dari ponselnya. Namun kenyataannya, itu tidak bisa mengalihkan pikirannya dari seorang yang bernama Kiara.
"Tidak! Aku tidak boleh kalah sebelum berperang, aku harus bisa mengambil perhatian Kiara." Lagi-lagi Tama bermonolog.
Tama berhenti memainkan game online dan mematikan ponselnya. Dia segera menaruh ponsel miliknya itu ke dalam saku celana. Dia kembali bangkit dari posisinya untuk kembali ke tempat Kiara. Namun ketika dia sampai di perpustakaan, Kiara sudah tidak ada di sana.
"Kenapa tadi aku bisa bersikap bodoh? seharusnya aku bisa berpura-pura untuk tidak terpengaruh."
"Terpengaruh apa?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang Tama.
## Jangan lupa like, komen dan votenya ya. Author tunggu🤗🤗
biasanya tmn dket membanggongkan😭