Arella atau sering dipanggil Arel adalah siswi tercantik disekolahnya. Banyak sekali cowok tampan yang berbaris ingin menjadi kekasihnya. Namun, entah seperti apa tipe cowok yang disukai oleh Arel. Sejauh ini Arel tidak tertarik pada cowok manapun.
Bahkan Rey saja yang gantengnya luar biasa dan menjadi pangerannya para siswi disekolahnya, ia tolak begitu saja. Selama ini Arel tidak pernah jatuh cinta pada cowok. Entahlah, tidak ada cowok yang menarik perhatiannya sejauh ini.
Sehingga suatu hari, disekolahnya kedatangan siswa transfer dan kebetulan satu kelas dengannya. Awalnya ia biasa saja pada siswa pindahan itu. Namun, semakin Arel sering bertemu dan berbicara dengannya hatinya mulai tergerak dan luluh.
Apakah siswa baru itu adalah tipe yang Arel suka?
Memangnya seperti apa sih tipe cowok yang disukai oleh Arel?
penasaran? Yuk, mampir! Kali aja minat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid transfer
Setelah makan pizza terlalu banyak Arel benar-benar kekenyangan. Sampai-sampai saat tiba dirumah, ia tidak kuat untuk melakukan aktivitas apapun lagi, selain berbaring diranjangnya yang empuk. Sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
Arel memikirkan perbincangan dengan Bundanya tentang pria yang bernama Metra alias mantan pacarnya dulu. Saat Arel bertanya apa Bundanya masih mencintainya, Arel bisa terka dan lihat dari raut wajahnya yang seketika berubah.
"Sepertinya, Bunda masih menyukai pria itu," gumam Arel terus terpikirkan.
"Hmmm... Cinta yah? Aku bahkan tidak tahu seperti apa rasanya jatuh cinta," lanjutnya lagi. Kini matanya mulai diserang oleh rasa kantuk, karena malam pun sudah semakin larut. Hingga Arel pun tidak sadar, ia mulai terlelap tidur. Meninggalkan malam, dan menunggu datangnya pagi yang cerah dengan hangatnya pelukan dari mentari yang terbit dari sebelah Timur.
Malam yang singkat telah lenyap dengan munculnya sang mentari yang bersinar dengan gagahnya dari arah Timur. Sinarnya yang hangat seolah memberi semangat untuk setiap makhluk hidup agar menyambut hari yang baru lagi. Cahayanya yang terang membangunkan setiap mata yang terpejam, Dan kembali melakukan aktivitas hari ini.
"Arel, bangun sayang!" teriak Amelia membangunkan Arel yang masih terlelap tidur, sambil membuka tirai jendela kamarnya. Sehingga silaunya sinar mentari yang masuk lewat sela-sela jendela, dan mengenai matanya yang terpejam, Arel bangun dengan mata yang masih rapat seolah ada lem yang merekat dikelopak matanya.
Arel menggeliat dan mengucek kedua matanya berusaha untuk melebarkan pandanganya. "Ayo bangun sayang! Kamu bukannya harus sekolah? Nanti telat lho!" seru Amelia dengan tegas pada Arel.
Arel bangun dan duduk dengan mata yang masih rekat menutup. Melihat Arel yang sulit bangun, Amelia pun memasang alarm tepat pada jam 06:05. Satu menit sebelum alrm berbunyi. Dan pada saat yang tepat untuk alarm berbunyi Ameli mendekatkannya ditelinga Arel.
Kriinnggg...
Suaranya yang nyaring dan lantang, membuat Arel sontak bangun terbelalak kaget bukan main.
"Bunda!" seru Arel merengek.
"Bangun!"
"Arel sudah bangun!"
"Masa bangun tapi matanya masih merem. Ayo cepat mandi, Bunda mau nyiapin sarapan."
"Iyah, iyah! Bunda nakal!" seru Arel mengumpat seraya berlari kekamar mandi.
"Apa? Dasar anak ini!" seru Amelia menggeleng sambil menyungging senyum.
Usai Arel mandi dan menyiapkan segala perlatan sekolahnya. Ia segera pergi kemeja makan untuk sarapan bersama Bundanya. Arel duduk dan mulai mengambil selembar roti dan selai cokelat. Sementara Bundanya menuangkan segelas susu untuk Arel.
"Bun?"
"Hmm..?"
"Apa Bunda tidak ingin mencari pasangan hidup lagi?" tanya Arel tiba-tiba. Terlintas pikiran seperti itu dibenaknya setelah bertemu dengan Metra semalam.
Amelia menyungging senyum. "Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu? Dulu saja, kamu melarang keras Bunda untuk dekat sama pria lain," balas Amelia.
"Yah, waktu itu kan aku masih kecil, Bun. Waktu itu aku masih tidak menerima kalau ada yang menggantikan Papah."
"Lantas? Kamu bertanya seperti ini tiba-tiba mengapa?"
"Yah, Arel rasa Bunda masih berhak untuk mendapat kebahagiaan Bunda."
Amelia kini tertawa kecil. "Terimakasih karena kamu sudah memperhatikan Bunda. Tapi, siapa yang mau sama wanita tua janda beranak satu, seperti Bunda ini?"
"Kenapa tidak? Bunda sangat cantik, pintar masak, pintar mengurus rumah, dan juga berkarir. Toh, Bunda juga belum terlalu tua!" sambar Arel dengan antusias memuji setiap kelebihan yang Bundanya miliki.
"Benarkah? Tapi, Bunda sudah bersyukur dan bahagia dengan adanya kamu bersama Bunda," balas Amelia menyentuh hati Arel.
Arel baru sadar, bahwa selama ini Bundanya mengalami begitu kesulitan demi dirinya. Setelah bertemu Metra semalam, Arel bisa melihat bahwa Bundanya begitu kesepian. Sebab itu, ia mendadak bertanya seperti itu pada Amelia.
"Oh? Kita sudah telat. Ayo, habiskan sarapanmu!" ujar Amelia diikuti anggukan Arel. Dengan cepat Arel menurut dan menghabiskan sarapannya dan segelas susunya sampai habis.
Andaikan aku tahu seperti apa rasanya jatuh cinta. Mungkin aku akan mengerti perasaan Bunda saat ini. Kenapa aku tidak bisa mencintai seseorang dalam hidupku selama ini. Adakah cinta yang akan aku temui? Oh tuhan! Kuharap aku menemukannya. Agar aku bisa tahu dan bisa merasakan apa yang Bunda rasakan kepada pria yang dicintainya. bathin Arel lirih.
Seperti biasanya, Amelia selalu mengantar Arel sebelum berangkat ngantor. Begitulah setiap pagi yang dilakukan oleh mereka. Arel melambai pada Bundanya yang kini kian melaju pergi menuju kantor. Arel pun hendak masuk kedalam gedung sekolahnya yang cukup mewah dan elit. Tiba-tiba ia merasa bersyukur dan menatap gedung sekolahnya dengan penuh makna.
"Semua kehidupan baik yang kujalani ini, adalah kerja keras Bunda selama ini. Aku, tidak akan mengecewakannya, dan kelak akulah yang akan membahagiakan Bunda. Sama seperti Bunda yang selalu membuatku bahagia," gumamnya seraya melangkah masuk kedalam gedung dengan senyum kebanggaan terhadap Bundanya.
Tapi lagi-lagi Arel dibuat malas berada disekolah karena para lelaki yang masih megejarnya. Walau Arel selalu menolak mereka dengan tegas dan keras. Tetapi mereka bukannya menyerah dan menjauh, malah semakin menggila untuk mendapatkan Arel.
Arel yang dikejutkan dengan beberpa lelaki dari berbagai kelas, dari junior hingga senior kini tengah mengantri menunggu kedatangannya didepan kelasnya. Arel yang melihat itu, mengurungkan niatnya untuk meneruskan langkahnya menuju kelas karena merasa takut. Ia memutar balik langkahnya dan segera lari menjauh. Salah satu lelaki dari sekian yang menunggunya melihat Arel yang tengah kabur dan menghindari mereka.
"Itu Arel!" serunya seraya menunjuk kepada Arel yang kini sedang berlari secepat mungkin dikoridor sekolah. Para lelaki gila itu mengejarnya dan membuat Arel takut karena itu.
"Aaaa...!! Bundaa..!! Aku membenci semua lelaki!!" teriaknya dengan lantang sambil berlari. "Aku tidak ingin jatuh cintaaa!!" serunya lagi.
Arel berlari kemana pun ia bisa menghindar. Tiba-tiba seseorang menarik Arel dan bersembunyi dibawah tangga. Orang itu membungkam mulut Arel. Lelaki berkacamata, berambut hitam pekat sedikit berponi, hidungnya mancung dan bola matanya yang hitam pekat, dan berkulit kuning langsat dan juga manis.
Lelaki yang mengejar Arel mengira Arel kabur keatas. Lantas mereka menaiki tangga dengan ribut. Arel merasa lega akhirnya para lelaki yang mengejarnya telah pergi jauh dari hadapannya. lelaki yang kini tengah bersamanya melepaskan bungkamannya. Sejenak pandangan mereka saling beradu.
Mata itu.. bathin Arel. Seolah ia mengenal tatapan mata lelaki yang ada dihadapannya ini.
"Kau sudah aman," ucap lelaki itu sikapnya berubah menjadi culun seraya memebenarkan kacamatanya. Dan sorotan matanya berubah menjadi lebih hangat.
"Ah iyah. Terimakasih sudah menyelamatkanku dari mereka semua," balas Arel.
"Sepertinya kamu sangat populer disekolah ini," balasnya.
"Ahh.. Tidak juga. Mereka hanya sedikit gila dan juga sangat mengganggu. Ngomong-ngomong kamu murid baru, yah? Aku baru melihatmu," tanya Arel.
"Iyah, aku murid transfer. Namaku Satrya EL," balasnya memperkenalkan diri.
"Hallo, Satrya! Aku Arella," balas Arel berjabat tangan dengan Satrya dan saling melontarkan senyum satu sama lain. Senyuman Satrya terlihat sangat indah dan manis dengan lesung dipipi sebelah kananya.
by the way..... thank you so much thor.....
😍😍😍😍😘😘😘😘😘