Noda hitam yang sudah mengotori tak akan bisa di hapus oleh waktu. Menikahi perempuan yang pernah di sakiti tidak menjadikannya terobati. Tapi justru dendam akan menjadi bumbu rumah tangga. Tapi kini ia meminta maaf dengan kedatangan dirinya yang telah bertransformasi menjadi ustadz, apakah akan ada ujung dendam?
Simak kisahnya,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma .R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7.Awal pembalasan
"Mina, kita pulang yuk, besok kita ke sini lagi," panggil Athar menatap Mina yang masih berinteraksi dengan anak panti.
"Sebentar," Mina bersiap siap untuk berangkat, sebelum ia pergi ia memberikan sebuah sapu tangan kesayangannya pada Aisha. "Ambillah ini, anggap saja ini pengesahan karena aku telah menjadi umi mu," ucap Mina tersenyum hangat menatap Aisha.
"Makasih umi," ucap Aisha yang tampak bahagia karena hari ini telah banyak menghabiskan waktu bersama Mina.
Mina berjalan menuju mobil karena Athar telah menunggu Mina di mobil. "Terimakasih telah bersikap baik pada anak anak panti," ucap Athar menoleh ke arah Mina.
"Iya," jawab Mina singkat.
"Oh ya, aku tadi bertanya, apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa memaafkan ku, Mina, aku benar-benar takut jika Allah mencabut nyawaku sebelum aku mendapat maaf dari mu," tutur Athar, ia melanjutkan pembicaraan yang tadi terpotong.
"Sudahlah, tunggu saja hingga aku mulai melupakan itu, aku juga tidak mungkin kan menyuruhmu membangun tujuh candi seperti cerita orang tua terdahulu,"
Athar tersenyum, "kamu ada ada aja, aku serius loh, tapi kalau masalah bangun membangun, jangan suruh bangun candi dong, minimal masjid kek,kita kan Islam," lanjut Athar.
"Ah sudah..ayok jalan, jangan bahas itu lagi, aku buru-buru pulang nih," ujar Mina, ia harus segera sampai ke rumah karena Tante Maya akan datang sore ini untuk memberikan sesuatu.
...***...
Sore hari, Mina tampak menyelinap ke depan gerbang untuk menemui Tante Maya. Tepat saat ia sampai di gerbang, Tante Maya sudah menunggunya di sana.
"Ini dia racunnya, taburkan di makanan ataupun minuman Athar, ingat! pintar lah mengatur situasi, jangan sampai ketahuan!" pesan Tante Maya.
"Iya tan," jawab Mina dan buru-buru kembali memasuki rumah. Kini Mina akan menjalankan misi pertamanya untuk menyiksa Athar. Dimulai dari yang ringan yaitu memberi racun yang bisa menyebabkan diare.
Malam hari, Athar tampak baru pulang dari mesjid, kini ia masuk ke dalam kamar dan mendapati Mina yang tengah asyik main Hp di sana.
"Udah sholat?" tanya Athar.
"Udah mas," jawab Mina.
"Maasyaa Allah, kenapa ya, aku rasanya sangat bahagia jika kamu memanggil ku dengan panggilan mas, bisakah kamu selalu melakukan itu?"
"Iya..tentu saja bisa mas Athar," jawab Mina, mulai sekarang ia terpaksa harus bersikap manis pada Athar agar tidak di curigai.
Athar duduk di bangku kerjanya, kini ia menyalakan laptop dan menyambung pekerjaan kantor yang harus ia selesaikan.
Mina memanfaatkan kesempatan ini, ia bergegas ke dapur untuk membuatkan kopi spesial untuk Athar. Diam diam Mina menaburkan bubuk racun itu di kopi Athar.
"Mas..ini ada kopi," ucap Mina sembari meletakkan kopi di meja Athar. Ia tak merasa ragu untuk membalaskan dendamnya pada Athar. "Ini baru permulaan Athar, yang kurasakan dulu masih jauh lebih sakit," batin Mina, tak sadar matanya kini berkaca kaca tapi ia berusaha membendung air matanya.
"Makasih ya," ucap Athar memaparkan senyum manis nya.
"Kok nggak di minum? kamu nggak suka kopi ya, maaf ya, ya udah aku balikin aja kopinya,"
"Nggak ..nggak..aku suka kok, ini aku minum kok," Athar perlahan meminum Kopi buatan Mina itu. Dari rasanya pun sebenarnya sudah agak aneh, tapi Athar tidak ingin membuat Mina tersinggung.
Beberapa menit kemudian, barulah perut Athar terasa sakit, tampak Athar berlari terbirit-birit ke Toilet.
Mina merasa rencananya berhasil, hingga ia tertawa lepas. buru-buru ia menelpon Tante Maya untuk memberi tau bahwa rencananya berhasil.
"halo Tan, rencana kita berhasil," ucap Mina di telpon.
"Bagus! pintar kamu Mina, oke tetap pantau dia ya, pastikan dia tersiksa," ucap Tante Maya dan mematikan telepon.
Ternyata di sisi lain, Tante Nurul mendengar perkataan Maya di telpon.
"Apa yang kalian rencanakan?" tanya Nurul yang mulai mencurigai Maya.
"apaan sih, nggak ada, ini cuma bicarain masalah butik aku yang di urus sama kepercayaan ku di sana," elak Maya, ia tau betul bahwa Nurul pasti akan menentang rencananya dengan Mina.
"May, dengar ya, jangan berbuat aneh aneh, aku mungkin nggak tau, tapi Allah maha tau, jangan pernah kamu melakukan hal konyol seperti dulu yang kamu lakukan pada suami kamu," tegas Nurul, ia mengingat kejadian dimana Maya di selingkuhi suaminya, dan Maya merencanakan pembunuhan pada suaminya, untungnya Nurul berhasil mencegatnya.
"Kamu tenang aja deh, aku tuh nggak lakuin apa apa," tegas Maya meyakinkan Nurul.
Nurul pun berusaha meyakini perkataan Maya tersebut.
...***...
Di sisi lain Liana tengah melamun di keheningan malam. Tampaknya ia masih tak bisa merelakan Athar yang menikahi gadis lain.
"Sudah ku bilang dari dulu, jika kamu memang menyukai dia, terus terang saja dari awal," ucap Sakinah, pengurus panti yang paling senior.
Liana terkejut dengan kedatangan Sakina itu. "Eh kamu kak, nggak lah, aku sadar diri kok, ustadz Athar itu terlalu sempurna, tak mungkin aku bisa memilikinya,"
"Jangan berkata seperti itu Lia, kamu kan lihat sendiri, istri mas Athar itu juga kelihatan biasa biasa aja kok, sudah kubilang dari dulu kalau tipe wanita mas Athar itu tidak terlalu tinggi, tapi kamu masih nggak percaya," jelas Sakina.
"Dia cantik kak,"
"Kamu juga cantik," balas Sakina.
"Dia baik kak,"
"Kamu jauh lebih baik, tapi sayangnya kamu tidak percaya diri," balas Sakina.
...*****...
Sudah kali ke empat Athar berlari ke toilet, tapi Mina tak melakukan apa pun untuk mengobati Athar. Justru Mina tertawa lepas melihat Athar tampak lesu.
Athar kembali ke kamar dengan langkah kaki yang lemah. "Mina, tolong panggilkan ayah ya, sepertinya aku harus pergi berobat," pinta Athar.
"Sepertinya ayah sudah tidur," jawab Mina dengan teganya, padahal ia belum mengeceknya.
Athar masih tampak kesakitan memegang perutnya. Hingga kini keringat bercucuran di tubuhnya.
"Sudahlah mas, tahan saja dulu hingga pagi hari, besok barulah kamu berobat," ucap Mina kemudian ia menarik selimut untuk tidur.
Athar hanya duduk di sofa, matanya tak bisa tidur dengan keadaan sakit. "Mina," panggil Athar.
"HM..." sahut Mina.
"Tolong ambilkan obat diare di lemari depan," pinta Athar dengan nada suara yang lemah.
Mina tak menjawab ia pura pura tertidur, membiarkan Athar kesakitan sendirian.
"Ya Allah, ini benar-benar sakit sekali," batin Athar sembari menahan sakitnya.
Athar berjalan tertatih menuju kamar ayah dan bundanya untuk meminta bantuan. Tapi langkahnya sangatlah lamban karena kondisinya yang semakin lemah.
"Rasakan lah akibat dari ulah mu Athar, begitulah yang kurasakan dulu ketika kamu memberiku racun," batin Mina yang mengingat kejadian tujuh tahun lalu.
Makasih Thor..
aku tunggu karyamu yang lain..