Siapkan tissue karena cerita mengandung bawang.
Apa jadinya jika sebuah pernikahan tanpa cinta harus terjadi atas unsur perjodohan?
Kiandra Anastasia seorang gadis yatim piatu berusia 17 tahun yang hidup bersama dua pembantu setianya yang menganggapnya seperti anak sendiri semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan, ternyata sejak kecil sudah dijodohkan oleh Almarhum kedua orangtuanya itu dengan seorang CEO perusahaan besar yang merupakan putra dari sahabat Almarhum Papanya, Aldo Wiryawan Prayoga nama sang CEO yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tempramen.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara Kiandra bersama Aldo? Akankah ada benih-benih cinta diantara mereka nantinya? Yuk ikutin cerita ini dari awal sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di dalam perjalanan pulang, Kia yang kelelahan pun tertidur. Ia terbangun ketika Bi Ratmi membangunkannya.
"Non Kia, bangun Non! Penghulu sudah menunggu Non Kia di bawah." Ucap Bi Lastri yang menggoyangkan tubuh Kia yang sudah di rias oleh para MUA saat ia tertidur tadi.
"Heeeehh, penghulu? Maksud Bibi apa sih, kok bawa-bawa penghulu segala? Jangan ngelawak ya Bi, Kia ngantuk, mau tidur," jawab Kia yang masih memejamkan matanya. Ia malah membenarkan posisi tidurnya dengan mengambil guling dan langsung memeluk erat guling itu dalam dekapannya. Alhasil beberapa riasan make-upnya berantakan.a
"Non, jangan tidurnya begini dong Non, Nanti baju pengantinnya rusak, make up-nya juga tuh, jadi nempel ke guling," Bi Lastri segera menarik guling yang di peluk oleh Kia dengan paksa, hingga akhirnya Kia bangun dengan terpaksa.
Mata Kia terlihat memerah, ia bangun karena ulah Bi Ratmi yang merebut gulingnya secara paksa. Kia begitu terkejut, karena melihat banyak orang yang tidak ia kenal berada di kamarnya.
Seseorang perempuan paruh baya yang terlihat begitu rapih dengan riasan make-up tebal menghampiri dirinya.
"Eh...eh siapa nih Ibu-ibu? Mau ngapain nih si Ibu dekat-dekat?" Tanya Kia dengan kedua tangannya yang seakan sedang mendorong sesuatu, Karen ketakutan di dekati oleh orang yang tak dikenalnya.
"Ayo nak Kia, kita pakai kainnya dulu yuk. Sulit jika memakaikan kain dalam kondisi nak Kia tiduran seperti ini. Nanti kita rapikan lagi riasan make-upnya, yah?" Tutur Ibu paruh baya itu, yang membuat Kia langsung melihat apa yang ia kenakan sekarang.
"Hah... Kok baju gue udah ganti, pakai baju kaya begini lagi. Bibi baju Kia siapa yang ganti? Kia gak mau pakai baju ini, ini bukan Hari Kartini Bi," Teriak Kia histeris karena terkejut.
Suara teriakan Kia sampai terdengar kelantai bawah. Dimana sudah banyak orang yang sudah menunggunya sejak empat jam yang lalu di sana. Mereka sudah berada di kediaman Kia sejak Kia berada di makam kedua orang tuanya. Cukup lama mereka menunggu hanya untuk menyaksikan pernikahan Kia dan Aldo. Yang diadakan secara mendadak atas kemauan kedua orang tua Aldo sendiri.
"Non Kia, jangan teriak-teriak! Dirumah ini banyak orang Non, malu kalau Non Kia teriak-teriak seperti ini. Non Kia harus inget pesen Nyonya, Non Kia jangan suka teriak-teriak, ini rumah bukan hutan dan Non Kia ini bukan Tarzanwati," Tegur Bi Ratmi dengan hati-hati.
"Iya Bi, Kia tahu. Tapi mau ngapain orang-orang datang kerumah Kia Bi? Kia lagi gak ulang tahun, dan acara 100 hari Papi dan Mami dah lewat. Ini juga Bibi kenapa izinin orang ini dandanin Kia kaya mau ngelenong kaya gini sih. Ini juga bukan lagi hari Kartinian, ngapain Kia dipakaikan baju kebayang kaya gini, pantesan Kia ngerasain gerah, " Tanya Kia dengan gerutunya tanpa mengecilkan sedikitpun suaranya yang masih terdengar sampai ke lantai bawah.
Orang-orang yang ada di lantai bawah yang sebagian besar ibu-ibu sudah mulai berbisik-bisik satu sama lain.
"Non Kia, kecilkan sedikit suaranya Non, hari ini memang bukan hari Kartinian, juga bukan hari ulang tahun Kia, tapi hari ini Non Kia mau dinikahkan dengan Den Aldo, Den Aldo dan orang tuanya sudah menunggu Non Kia dari tadi siang, dan sekarang sudah sore Non, ayo cepat Non pakai bajunya dulu baru kita kebawah! Kasian mereka udah nunggu dari tadi," Jawab Bi Ratmi yang membuat Kia langsung melongo, memasang wajah bodohnya dengan mata yang berkedip-kedip dengan cepat.
Mulut Kia terbuka begitu lebar. Ia mengedipkan terus matanya berulang kali dan akhirnya menampar beberapa kali pipinya kanan dan kiri. Ia sedang meyakinkan dirinya, bahwa ia sedang tidak bermimpi.
"Eh, gue mimpi apa ngelindur ya atau gimana sih nih? Emangnya gue udah lulus sekolah ya? Kok cepet amat kayanya baru tadi gue ke makam Papi sama Mami masih pakai baju seragam sekolah." Gumam Kia yang masih tak percaya dengan apa yang di ucapkan Bi Ratmi.
"Non Kia lagi gak bermimpi, ini nyata Non. Udah, ayo cepet Non, nanti Bibi kena marah sama Tuan Wirya karena lama bawa Non turun!" Kembali Bi Ratmi mengajak Kia dengan sedikit memaksa, agar Kia segera bergegas.
Mendengar ajakan Bi Ratmi, Kia malah terdiam mematung di tempatnya berpijak. Ia menghempaskan tangan Bi Ratmi yang menarik tangannya. Seketika bayangan Pak Arka datang di pelupuk matanya, dan hatinya mulai bergemuruh kembali. Ia mengingat bagaimana rasa cinta tumbuh di hatinya pagi hari tadi.
Saat Bi Ratmi dan Wanita paruh baya yang merupakan MUA itu kembai berusaha mendekati Kia kembali, Kia langsung memundurkan tubuhnya. Ia berjalan mundur mendekati meja belajarnya.
"Jangan mendekat Bi! Tolong jangan mendekat!" Pinta Kia yang sudah terpojok, tubuhnya sudah menyentuh meja belajarnya.
Kia meraba barang-barangnya, ia mengambil buku-bukunya dan melemparkan buku-buku itu ke arah Bi Ratmi dan MUA yang terus-menerus berusaha mendekatinya.
"Kia udah bilang jangan mendekat! Kia gak mau nikah sekarang! Kia masih sekolah! Kia mau sekolah bukan mau nikah! PAPI MAMI TOLONG KIA!!!!" Pekik Kia lagi dengan sekencang-kencangnya.
Aldo yang duduk di kursi meja penghulu hanya bisa menghela nafasnya kasar dan menggelengkan kepalanya, mendengar secara langsung wanita yang akan ia nikahi hari ini menolaknya.
Kepulangan Aldo dari luar negeri, bukannya mendapatkan sambutan hangat dari kedua orang tuanya, melainkan langsung mendapati todongan dari kedua orang tuanya, untuk segera menikahi perempuan yang tidak ia cintai, bahkan perempuan yang selama ini ia hindari, setelah mengetahui secara tidak sengaja pembicara kedua orang tuanya dengan kedua orang tua Kia mengenai perjodohan mereka.
Di dalam kamarnya, Kia terus saja melempar barang-barangnya sampai akhirnya ia mendapati sebuah pisau karter.Ide gila Kia pun muncul. Ia mengeluarkan pisau itu dengan menekan menekan tuas karter tersebut.
Kreeekkk!
Pisau karter menyembul keluar, banyak orang bergidik ngeri melihat pisau yang ada di tangan Kia, sebagai dari mereka menutup mata dengan kedua telapak tangannya, karena khawatir akan melihat hal yang tidak diinginkan.
"Bibi, Kia bilang jangan mendekat, kalau Bibi mendekat Kia akan nekat nyusul Papi sama Mami nih!" Ancam Kia yang membuat Bi Ratmi panik. Kia mengarahkan pisau karter itu ke urat nadi di pergelangan tangannya.
"Jangan Non Kia sayang! Jangan lakukan itu! Itu gak baik, itu dosa Non Kia," cegah Bi Ratmi yang langsung menangis histeris ketika melihat Kia menggores sedikit pergelangan tangannya menggunakan pisau karter itu, untuk menakut-nakuti Bi Ratmi yang sudah terlihat ketakutan Kia akan berbuat nekat.
Lain dengan Bi Ratmi, wanita paruh baya yang merupakan MUA itu, terus berusaha mendekati Kia tanpa rasa takut ataupun mengasihani Kia, ia seperti ingin segera menuntaskan tugasnya. Karena ia sudah lelah di buat menunggu terlalu lama sejak tadi, dalam pikirannya Kia hanya menggertak sambal dirinya dan Bi Ratmi. Jika Bi Ratmi terkena gertak sambelnya tapi tidak dengan dirinya.
Kia yang merasa terancam dan terpojok dengan langkah wanita paruh baya itu yang tak kunjung berhenti, akhirnya membuat Kia berbuat nekat. Ia menggores lagi, namun kali ini lebih dalam di pergelangan tangannya yang tadi, hingga darah pun keluar dengan deras dari sayatan tangan Kia. Bi Ratmi yang melihatnya, seketika berteriak histeris melihat darah keluar dengan deras dari pergelangan tangan Kia.
"TIDAK!!! NON KIA... TOLONG.....TOLONG, PAK TOLONG NON KIA PAK!!!" Pekik Bi Ratmi yang berlari sambil menangis, ia menghampiri Kia yang terjatuh lemas melihat darah keluar begitu deras dari tangannya.
Bukannya menangis ataupun panik, Kia malah tersenyum melihat Bi Ratmi.
"Selamat tinggal Bi, Kia mau on the way nyusul Papi sama Mami. Bibi baik-baik ya sama Pak Ujang," Ucap Kia yang merasa pandangannya mulai kabur.
"Jangan Non! Jangan tinggalin Bibi Non?Bangun Non! Maafin Bibi Non, maafin Bibi yang maksa Non, Bibi cuma jalanin perintah dan amanah Tuan Non, gak ada maksud lain." Balas Bi Ratmi yang sudah tak di dengar lagi oleh Kia, karena Kia mulai tak sadarkan diri diatas pangkuan Bi Ratmi.
Aldo dan Wirya segera berlari dengan cepat ke kamar Kia yang berada di lantai atas, setelah sebelumnya MUA paruh baya itu berlari tergesa-gesa menghampiri mereka berdua yang duduk di kursi meja akad nikah, MUA itu memberitahukan perihal keadaan Kia yang berbuat nekat mengakhiri hidupnya, karena tak mau di nikahkan oleh Aldo.
Sesampainya di kamar Kia. Wirya segera mengikat pergelangan Kia menggunakan kain untuk menghentikan pendarahan pada tangannya. Aldo yang bertubuh kekar dan atletis segera menggendong tubuh mungil Kia ala bridal style, Aldo mempercepat langkah kakinya begitu juga dengan Wirya keluar dari kediaman gadis itu.
"Dad, siapkan mobilnya!" Pinta Aldo pada Wirya yang terlihat cemas melihat wajah pucat pasi Kia yang sudah banyak mengeluarkan banyak darah.
"Sudah Al, pakai saja mobil siapapun yang ada di paling luar!" Seru Wirya sekenanya, karena dilanda kepanikan.
Keluarga mereka di landa kepanikan luar biasa karena ulah kenekatan Kia. Mereka tidak lagi mempedulikan pandangan para tamu, yang merupakan tetangga rumah Kia ataupun juga kerabat dekat mereka, yang sudah mulai berbisik-bisik satu sama lain.
Mereka mendapati mobil salah satu kerabat mereka yang berada dalam barisan paling luar, yang memudahkan mereka untuk keluar dari perumahan itu, Aldo memasukkan tubuh Kia dan menidurkannya dengan kepala Kia berada diatas pangkuan sang Mommy.
"Cepet masuk masuk Aldo!" Pinta Tami dengan nada suara yang tinggi, ia terlihat begitu cemas dan panik. Ia ingin sekali anaknya bergerak cepat untuk segera membawa calon menantunya itu kerumah sakit.
"Iya Mom..." Jawab Aldo yang kemudian bergegas berlari ke pintu mobil, tepat di samping kursi pengemudi.
Aldo membiarkan Sang Daddy yang mengendarai mobil milik salah satu kerabat dekat mereka yang meraka pinjam.
Wirya mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi, hingga membuat anak dan istrinya ketakutan. Karena ia melakukan aksi salip-menyalip mobil di depannya.
"Dad, bisakah lebih pelan sedikit! Kita bisa celaka bersama-sama, kalau Daddy membawa mobilnya dengan kecepatan seperti ini. Bukannya menolong Kia, kita malah ikut menyusul Om Andra dan istrinya, nanti." Ucap Aldo yang menatap tajam sang Daddy.
"Diam kamu Aldo! Jangan asal bicara! Kamu tidak lihat, Kia harus segera di tangani kalau tidak dia bisa pergi untuk selama-lamanya, Daddymu ini akan sangat merasa bersalah jika itu sampai terjadi." Balas Wirya yang tak mau mengurangi kecepatan mobil yang ia kendarai.
"Terserahlah... lagi pula ini semua bisa terjadi karena keinginan kalian bukan? Mungkin sudah takdirnya, jika kita hari ini akan mati bersama-sama." Sahut Aldo dengan sinis nya, yang kemudian lebih memilih untuk diam menikmati pemandangan diluar jendela.