Seorang wanita cantik yang bernama Hellen Keller bercita-cita menjadi seorang dokter namun cita-citanya harus punah karena kejadian yang ia alami saat usianya berumur 13 tahun ...
Hellen menjadi saksi mata pembunuhan di salah satu gedung tua ..
apakah kehidupan Hellen akan tenang ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka manga toon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penuh keyakinan....
Kini waktu pun terus berganti hari dan tak terasa kini sudah dua minggu sejak pemakaman Rey kekasihnku .
Saat ini aku mulai kembali berkutat dengan rutinitas ku seperti biasa walau suasana hatiku saat ini masih berduka namun aku terus menguatkan diriku untuk tetap bertahan tanpa kehadiran pria tampan ku .
Aku mengabaikan rasa sedihku dengan cara mengalihkan pikiran ku , ku salurkan kesedihan ku dengan membaca banyak buku-buku tebal tentang pekerjaan ku walaupun itu tidak membantuku sama sekali namun aku tetep berusaha untuk tidak bersedih kali ini .
" Hellen Keller , periksa pasien diruang A-35 sampai A-38 , berikan aku laporan tentang perkembangan mereka saat ini " suruh Dokter Smith seraya memberikan sebuah map berkas kepadaku
" baik dok " sahut ku seraya bangkit dari dudukku
Aku pun berjalan menuju salah satu ruangan yang disebutkan oleh Dokter Smith . ku ketuk pintu itu dengan pelan dan membukanya secara perlahan , Setelah memasuki ruangan tersebut aku langsung memasang senyum ramah ku untuk menyapa para pasien yang berada di sana mau seburuk apapun kondisiku saat ini aku harus memperlihatkan wajah paling baik untuk para pasien ku pikirku .
" Bagaimana perasaan anda saat ini tuan ? " Tanyaku pertama kali setelah bertemu dengan pasien pertama ku
Pasien tersebut pun mulai menceritakan perasaannya yang semakin membaik dan aku sebisa mungkin memeriksa pasien tersebut dengan baik juga tanpa melakukan kesalahan apapun .
Selesai dengan ruang pertama , aku pun kembali memeriksa pasien lainnya di ruangan selanjutnya hingga sampai di ruangan terakhir . saat aku ingin memeriksa pasien terakhir ku , aku melihat seorang anak kecil yang sedang sibuk dengan mainan di tangannya dia terlihat sendirian tak ada siapapun yang menemaninya saat itu .
" Permisi . Hay anak tampan " ucap ku ramah sambil tersenyum lembut hingga membuat anak itu menatap kearah ku dan ikut tersenyum
" Dokter cantik " ucap nya dengan suara riang .
" Jadi siapakah namamu adik kecil ?? " Tanya ku seraya menduduki kursi kosong yang ada di sisi ranjangnya
" Lucky Dokter " sahutnya masih dengan senyum manis di bibir mungilnya
" Baik lucky . Oya sayang , dimana kedua orang tuamu saat ini " Tanyaku padanya namun anak itu memasang wajah sedih seketika .
" Kedua orang tua Lucky sudah tidak ada Dokter " ucapnya dengan wajah sedih namun sedetik kemudian anak kecil itu langsung tersenyum seperti semula seolah tak merasakan sedih sedikitpun sama sekali saat itu
" Kata Ibu Panti , Ayah dan Ibu Lucky sekarang sudah berada ditempat yang paling indah di surga , jadi Ibu panti bilang Lucky tidak boleh sedih " sambungnya dengan nada bicara yang antusias dan tetep menampilkan senyum manisnya
Aku yang mendengarnya pun terdiam sejenak rasa iba kini masuk kedalam ulu hatiku .aku mengelus pucuk kepala anak kecil itu sambil tersenyum lembut kearahnya .
" Ayah dan Ibu lucky pasti bahagia memiliki lucky . Maka dari itu lucky harus menjadi anak yang baik agar mereka tidak sedih di sana . okey " ucap ku dengan senyum lembut seraya masih mengelus pucuk kepalanya
Saat melihat Lucky perasaanku kini sedikit menghangat saat melihat anak kecil itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan senang di tambah lagi dengan senyum yang terus terukir di bibirnya membuat hatiku ikut senang melihatnya .
Saat ini aku sudah kehilangan tiga orang yang paling berharga dalam hidupku Ayah , Ibu dan juga Rey kekasih ku , kini aku seorang diri tidak memiliki siapapun yang aku gunakan untuk menjadi sandaran ku namun setelah aku melihat lucky aku merasa malu pada diriku bagaimana tidak anak itu sudah sendiri sejak kecil namun anak itu masih bisa tegar menghadapi hidupnya sampai saat ini pikirku .
Aku pun menyelesaikan tugasku dengan baik walau pun lebih banyak diam dan patuh aku tetep mengerjakan nya dengan sungguh-sungguh . Ku lepaskan jas dokter yang melekat pada tubuhku saat itu dan berjalan keluar melewati koridor rumah sakit , ada beberapa orang yang berpapasan denganku yak seperti biasa mereka tidak akan menyapaku dan aku pun tidak perduli akan hal itu .
Saat ini aku sudah berada didepan rumah sakit seraya menunggu taksi yang akan membawaku menuju kekantor polisi . Kini aku dengan penuh keyakinan ingin melaporkan pembunuh itu , tidak perduli jika dia akan membunuhku keesokan harinya atau suatu hari nanti karena yang aku inginkan saat ini adalah pertanggung jawaban darinya karena sudah membunuh kekasihku .
.
.
.