Berniat ingin membatalkan perjodohan dengan bersandiwara bersama seorang wanita yang tak sengaja ia tabrak.
Siapa sangka, bahwa ternyata wanita itulah yang akan di jodohkan dengan nya.
Bagai buah simalakama, nasi sudah menjadi bubur, dirinya sudah terlanjur mengatakan ingin menikah dan mencintai wanita tersebut.
Lalu, bagaimana kelanjutan kisah keduanya setelah menikah?
Akankah rasa cinta itu tumbuh? Atau malah harus berakhir setelah keduanya menemukan cinta sejati masing-masing?
Yuk, simak kisahnya om dokter Bastian dan gadis bar bar Denisa.
follow IG mommy : @Mommy_Ar29
Follow TikTok : @Mommy_Ar95
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ada pakaian
Acara berlangsung dengan cukup lancar, dan kini, Bastian serta Denisa sudah berada di dalam kamar Hotel yang di sediakan oleh mama Melda dan mama Irish. Kamar ini berbeda dengan kamar yang di pakai Denisa atau Bastian saat make up tadi.
Bastian langsung melenggang masuk ke dalam kamar mandi karena tubuhnya sangat gerah dan lengket. Sementara Denis, ia masih diam bergeming di samping tempat tidur. Ia kembali teringat akan kata kata orang tuanya, bahwa dirinya harus mau berusaha membuka hati untuk Bastian, ia harus bisa menerima semuanya agar hidup nya terasa lebih ringan tanpa beban.
Seperti yang di katakan oleh papa nya, yang mengatakan bahwa pernikahan hanyalah sekali seumur hidup. Yang mana artinya, bahwa cepat atau lambat dirinya dan Bastian akan selalu bersama sampai maut memisahkan. Dan juga, dirinya cepat atau lambat akan menjadi istri sepenuhnya.
Namun apakah dirinya sudah siap, memberikan kesucian nya pada Bastian? Apakah malam ini? besok? Lusa atau—
Membayangkan hal itu saja sudah mampu membuat tubuh Denisa merinding disko, ia samapi bergidik dan menggelengkan kepala nya berulang kali agar menghilangkan beberapa pikiran negatif itu dari kepala nya.
“Mandilah,” kata Bastian yang baru selesai dari kamar mandi.
Ia melangkahkan kakinya menuju lemari dan mencari pakaian, ia berfikir bahwa semua sudah di siapkan oleh mama nya, tapi ternyata dia salah. Tidak ada satupun baju nya di sana. Sementara itu, Denisa yang sudah berada di dalam kamar mandi juga langsung merendam tubuhnya di dalam bath tub, ia mencoba menenangkan pikiran nya dan meri lex kan tubuhnya setelah seharian menjamu tamu undangan.
“Astaga, mama!” seru Bastian begitu kesal, karena ia tidak juga menemukan pakaian apapun di sana, hanya ada satu bathrobe di dalam lemari dan itu pasti akan di gunakan oleh Denisa nanti.
Tok tok tok
Berulang kali Bastian mengetuk pintu kamar mandi, namun Denisa tak menghiraukan nya, ia masih anteng bermain busa sabun di dalam bath tub tanpa memperdulikan Bastian.
Padahal, niat Bastian begitu baik, ia hanya ingin memperingatkan Denisa agar tidak membasahi pakaian dalam nya, karena di dalam kamar itu tidak ada pakaian apapun, namun gadis itu tetap kekuh dan tidak perduli hingga membuat Bastian menyerah.
Bastian pun memilih merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menari selimut nya. Ia tidak tahu harus berbuat apa, karena handphone saja ia tidak ada. Bahkan, telepon Hotel pun seolah sengaja di matikan agar Bastian tidak bisa menghubungi siapapun.
‘Mama benar benar kelewatan!” geram Bastian dengan kesal, sudah pasti ini adalah ulah mama nya. Mama nya begitu hafal bahwa dirinya setiap kali mandi pasti akan membasahi baju, sehingga ia tidak akan mau memakai baju sebelum nya, dan kini mama Irish sengaja tidak memberikan nya baju ganti pasti agar dan Denisa melakukan malam pertama.
Cklek!
Denisa keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang ia lilitkan sebatas dada dan di atas paha. Karena ia lupa membawa bathrobe, dan saat dirinya membuka lemari pakaian, ekspresi nya sama dengan Bastian. Terkejut karena tidak menemukan pakaian sehelai pun di sana, hanya bathrobe sat dan itu tanpa pakaian dalam, bagaimana bisa? Jerit Denisa frustasi.
“Aku sudah mengetuk pintu dari tadi, kamu tidak perduli tidak mau mendengarkan ku!” saut Bastian menghela napas kasar.
“Terus aku gimana? Masa aku gak pakai dalaman yang bener aja dong!” serunya kecewa dan kesal.
“Memang nya kenapa? Bukankah kalau malam pertama tidak membutuhkan itu?” kata Bastian menatap Denis dnegan senyum menyeringai, sebenarnya Bastian tidak berniat melakukan malam pertama dengan Denisa, namun dirinya hanya menggoda Denisa karena ternyata menyenangkan melihat waja galak nan bar bar itu berubah jadi ketakutan.
dulu pas kia ngidam kn om Abas yg repot