Di pertemukan oleh waktu, di persatukan oleh takdir.
Namun, di pisahkan oleh ketamakkan.
Aishleen Khadijah dan Albiru Adityawarman.
Dua insan berbeda karakter, awal pertemuannya begitu unik.
Diam-diam saling mengagumi dan melangitkan nama masing-masing dalam doa.
Hingga pada akhirnya dipersatukan oleh takdir.
Saat kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya, mereka harus terpisah oleh ketamakkan.
Takdir buruk apa yang memaksa mereka harus berpisah?
Akankah takdir baik menyertai keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Introvert.
...7. Introvert!...
Biru.
Hari ini, sesi pemotretan kedua akan dilakukan ditaman Menteng kota. Dari semalam Biru telah mempersiapkan segala kebutuhan untuk pemotretan. Menurut perkiraan cuaca, hari ini akan berlangsung cerah. Semoga anomali cuaca tak menggoda matahari agar perkiraan cuaca tak meleset. Karena cuma matahari yang menepati janji kepada para fotografer untuk melakukan pemotretan outdoor. Itu kalau tidak hujan!
“Gak ada yang ketinggalan kan, Tar?” Biru celingukan mencari Gentar karena tidak mendapat jawaban dari sahabatnya itu. Lalu mendengus kesal begitu melihat pria bertopi terbalik itu tengah berdiri didepan toko bunga bersandar pada folding gate.
“Mbak Dipa jutek aja cakep loh, coba kalau nggak jutek, bidadari pasti lewat.” goda Gentar.
“Merdu sekali suara buaya darat!” cibir Dipa.
Biru meringis geli mendengar ucapan Gentar, lalu dibuat tertawa terbahak oleh balasan ucapan Dipa.
“Jahad banget ngatain buaya sama calon jodoh.” Gentar memanyunkan bibir membuat Biru semakin eneg melihat tingkah sahabatnya itu.
“Lu pergi deh sana! Ganggu orang lagi kerja aja!” Dipa mengibaskan tangannya mengusir Gentar.
“Heh buaya darat! Maju sini, saatnya kerja bukan kerjain orang.” panggil Biru. Gentar pun menghampiri dirinya sembari menenteng bunga.
Biru mengernyit, menatap buket-buket bunga ditangan Gentar. “Itu apa?” Gentar menjawab jika bunga tersebut kepunyaan Kha. Gentar juga mengajak Kha untuk berangkat bersama karena satu tujuan. Biru sempat melayangkan protes, selama ini selain Mama-mamanya dan Barsha, Tidak ada satu perempuan pun yang pernah duduk di bangku mobilnya. Bukannya tak mempunyai teman atau pasangan, Ia memang tak pernah mengizinkan.
Dua puluh menit Ia dan Gentar duduk samping mobil. Menunggu Kha keluar untuk berangkat bersama. “Issh mana sih! Lama ba....” ucapannya terhenti ketika seorang perempuan bercadar keluar dari toko bunga.
Kha udah langsung pakai cadar?!
Perempuan itu tampak menautkan jari-jarinya. Mungkin masih nervous, tapi tak di pedulikan. Biru lebih memilih langsung masuk kedalam mobil karena jadwal pemotretan pasti akan mundur jika mereka terjebak macet dijalan.
“Terima kasih atas tumpangannya, maaf saya ngerepotin.”
Biru bergeming. Sedikit kesal karena menunggunya terlalu lama, sehingga membuat mereka terlambat datang. Ia menghampiri Tante Mia dan tim yang sudah menunggu dibawah pohon Flamboyan.
“Maaf terlambat.” ucapnya kikuk. Untung saja Tante Mia tak mempermasalahkan.
“Kita mulai ya!”
Kali ini Tante Mia sangat membantu, dengan cekatan Ibu dari model kembali itu menjadi pengarah gaya. Menjadi support system buat Kha yang masih saja terlihat nervous.
Beberapa kali Ia mendengus kasar. Lagi dan lagi, Kha sangat sulit diarahkan, mungkin memang bukan basicnya jadi penyesuaian pun sangat lama.
“Bisa Kha, Bisa... Sekali ini saja ya please.” Tante Mia terus memohon pada Kha. Tapi perempuan itu terlihat ogah-ogahan meskipun pada akhirnya tetap melanjutkan.
Huftt menyebalkan!!
“Lanjut, Tan....” Tante Mia mengacungkan jempol tanda siap. Aludra dan Adara sudah siap pada tempatnya, menunggu Kha yang masih mengganti cadar dengan warna yang sesuai pakaiannya.
“satu, dua, tiga. Oke!”
“Ganti gaya....”
“Nice! Take video ya....”
Pemotretan outdoor ternyata lebih menguras tenaga dan pikiran. Tantangannya Another level buat pemula seperti dirinya. Bukan hanya sekedar memotret, Ia juga harus memastikan pencahayaan yang pas untuk setiap pengambilan gambar. Pun dengan Gentar yang semakin sibuk karena harus memegang kendali drone dan reflector dalam satu genggaman tangan.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Khadijah.
Kalau bukan karena paksaan Tante Mia, Kha lebih memilih duduk diam di ruko sambil merawat tanamannya, atau mengajari Dipa tentang apa saja yang berkaitan dengan bunga. Menjadi model fashion hal yang teramat sangat baru baginya, harus ber- pose, meliuk kesana kemari, mengibaskan ujung gamis dan hijab sama sekali bukan keahliannya.
Bahkan pagi tadi Ia sampai membuat Mas Biru dan Mas Gentar terlambat datang ke lokasi. Hanya karena terlalu lama dirinya mematut penampilan didepan cermin.
“Udah pake cadar nggak akan ada yang ngenalin, nggak perlu malu.”
Ucapan Dara di telfon semalam pun tak mampu menepis rasa malu yang terlalu tinggi. Istiqomah memakai cadar memang keinginannya, tapi bukan untuk hal seperti ini.
Gentar menghampiri dirinya di ruko. Menawarkan untuk berangkat bersama karena tujuannya pun sama. Awalnya Kha menolak, tapi disaat bersamaan Om Abyaz mengabari jika tak bisa menjemput dirinya.
Kebetulan macam apa ini?!
Akhirnya Kha terpaksa ikut dengan Biru dan Gentar. Sepanjang perjalanan Ia diam memperhatikan jalanan dari luar jendela. Hanya sesekali menjawab pertanyaan Gentar yang absurd. Biru sendiri terlihat seperti biasa, dingin dan cuek, tak banyak bicara meski dengan Gentar.
Jeduaaaarrr!!!!
Suara gemuruh dan petir menyambar setelah kilatan bercabang nampak di langit. Awan putih mendadak bergeser digantikan oleh gumpalan abu-abu. Padahal detik lalu masih terlihat sangat cerah, prediksi cuaca meleset sempurna.
“Diseberang ada Masjid. Kita sholat Dzuhur sekalian neduh ya....” ajak Tante Mia.
Kha mengambil wudhu dan bersiap melaksanakan sholat Dzuhur. Sekilas netranya menangkap sosok Biru duduk di ambang pelataran masjid bersama Gentar. Ia menghampiri Biru.
“Loh nggak sekalian, Mas?”
Biru mendongak, “Duluan saja.”
“Sayang banget. Padahal udah disini.” Ia berlalu saat tak lagi ada tanggapan dari Biru. Menyebalkan!
Sesuai kesepakatan bersama. Pemotretan ditunda, atau mungkin dilanjutkan di tempat lain karena hujan tak kunjung reda.
Setelahnya,Tante Mia bersama anak kembar serta yang lain pamit undur diri. Pun dengan dirinya, Biru dan Gentar.
“Astaghfirullahaladzim!” Kha terkejut saat tiba-tiba jaket denim mendarat di bahunya. Begitu menoleh kebelakang, ternyata Biru melepaskan jaket untuk disampirkan ke bahu dirinya.
“Buat payung.” ucapnya lalu berlarian kedalam mobil meninggalkan dirinya.
Suasana kembali hening setelah Gentar yang biasanya meramaikan suasana tertidur lelap. Tidak ada satupun diantara Ia dan Biru berniat untuk membuka obrolan. Sampai di parkiran ruko, Kha langsung pergi setelah mengucapkan terima kasih kepada Biru sebelumnya. Biru pun sama, langsung masuk kedalam ruko mereka. Tapi tak selang lama, Pria itu telah berdiri dibelakangnya. Mengosongkan sebotol kaca minuman produk vitamin.
“Jangan sampai sakit!” ucapnya dingin. Lebih dingin dari minuman yang dia berikan.
“Bukan kuasaku.” balasnya lirih.
Helaan nafas Biru terdengar kasar dan keras, “Setidaknya kamu bisa jaga diri!”
Perasaanya dibuat miris. Seharian bersama Biru, membuatnya lebih tahu jika sikap Biru memang benar-benar tak seramah Barid. bisa dibilang Introvert. Pria satu ini, nyebelin!
Biru langsung berbalik badan begitu botol minuman berpindah tangan. “Kenapa kamu ngeselin!” tanyanya lirih. Seperti bertanya tapi tak ingin didengar.
Biru menoleh, “Karena kamu bukan siapa-siapa aku!”
“Harus jadi siapa-siapa biar kamu nggak ngeselin?!”
Nah Lo, Bi.... Harus jadi siapa???
Makasih ya buat kalian yang sudah mampir, baca, tinggalin like and komentar.
Yang cuma like doang, coba sini komentar. Kasih kritik dana saran biar aku nulisnya makin semangat.
baca bab awal,mulai tertarik
baca bab 2,mulai suka
q lanjut baca ya kak author, makasih 🙏😉
karena akan ada tahap yang namanya ta'aruf