Mutia Syakila
Seorang gadis desa yang berparas cantik dan di juluki kembang desa, ia berumur 20 tahun, mempunyai adik perempuan satu , namun orang tuanya bercerai saat ia masih SMA. sesuatu yang sangat mengharuskan jika anak perempuan pertama pasti menjadi tulang punggung keluarga, apalagi ayahnya memiliki sakit jantung.
Ia bekerja siang malam untuk menhidupi keluarga dan pengobatan ayahnya. Dan cobaannya tidak sampai disitu, karena ia bertemu dengan sorang lelaki Yaitu Rangga aditiya yang membawa cinta sekaligus luka bagi mutia
Bagaimanakah kelanjutannya, ???
#Tinggalkan jejak setelah membaca yaa para readers tercintah🤗❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First kiss
" Ini den berkasnya " ucap sang supir.
"Terimaksih"
Ranggapun mengeluarkan selembar kertas dan bollpoint untuk mutia tanda tangan.
Sekarang cepat tanda tangan.
Sebelum mutia tanda tangan ia membaca sekilas isi perjanjian itu
"Apa-apaan ini.. kenapa aku harus selalu ada di saat kau butuh. Bagaimana kalau aku sedang bekerja di restoran ini?" Tanya mutia.
"Jangan banyak tanya cepat tanda tangan sebelum aku berubah fikiran dan mentiga kali lipatkan hutangmu!" Ucap rangga dengan penuh ancaman. Dan mutia langsung tanda tangan karena ia takut hutangnya di tiga kali lipatkan.
"Dasarr manusia licik" gumam mutia
Ranggapun tersenyum puas, dan langsung menyeret mutia keluar cafe.
"Hey tunggu.. lepaskan aku. Kita mau kemana? Aku belum selesai bekerja"
"Mulai sekarang kamu berhenti bekerja dimanapun dan hanya boleh bekerja denganku"
"Lepaskan aku" bentak mutia
Rangga melepaskan genggamannya dan menoleh.
"Apa lagi hmm"
Tangan mutia terkepal dan matanya memerah sedikit karena menahan amarah.
"Dengarkan aku baik-baik pria angkuh.. yang pertama aku tidak hanya bekerja padamu untuk membayar hutang, karena aku butuh uang untuk menghidupi keluargaku. Dan yang ke dua, walaupun aku sudah menandatangani surat perjanjian itu, bukan berarti kamu mengatur segala hidupku" ucap mutia dengan suara penuh tekanan dan mata tajam
Rangga emosi mendengar ucapan mutia, dan dia langsung menarik tangan mutia untuk masuk ke dalam mobil, lagi-lagii mutia memberontak dengan mengigit tangan rangga.
"Ahhhh shittt dasar wanita gila.." ucap rangga ketika tangannya di gigit. Dan kesempatan itu langsung di gunakan oleh mutia untuk berlari melapaskan diri. Namun baru beberapa langkah pinggang mutia di tahan dan terkejut ketika tubuhnya melayang
"Ahhhh turunkan akuu" yah rangga mengangkat tubuh mutia yang ramping dan di masukan ke dalam mobilnya.
"Diamm.. jangan banyak bicara" ucap rangga dengan ketus
Mutia duduk dengan wajah yang kusut sambil melihat ke luar jendel .
" Mau kemana kita sebenarnya? Kau tau aku sedang bekerja nanti aku di marahi oleh bos.. oh astagaa bisa-bisa aku di pecat" mutiapun mengomel sambil meratapi nasibnya.
"Heii.. cepat turunkan akuuuu" teriak mutia sambil menggoyang-goyangkan bahu rangga.
"Kalau kau tidak menurunkan aku..."
Cupppp ..
Mata mutia membulat sempurna saat merasakan ada yang menepel di bibirnya jatungnya berdegup kencang karena ini petama kalinya ia di cium. Perlahan ranggapun mulai memainkannya. Mutia berusaha melepaskan pagutan itu dan rangga sedikit melepaskannya.
"Akhhhhhh.. kau.." ucapan mutia terhenti lagi saat lagi-lagi rangga mencium bibirnya untuk kedua kali nya. Mutia memncoba melepaskan pagutan itu namun sia-sia. Dan akhirnya mutia mengigit bibir rangga dengan kuat.
"Awwwwww" pekik rangga
"Kenapa kau mengigit bibirku"
Plakkkkk.. mutia sudah benar-benar merasa di lecehkan oleh rangga dan ia benar-benar benci dengan pria yang ada di hadapannya.
Rangga yang mendapatkan tamparan keras, langsung menatap mutia dengan tajam sampai-sampai mutia menelan salivanya karena gugup
"Beraninya kau menamparku.. "
"Itu pantas untukmu karena kau telah menciumku.. dasar pria mesum" ucap mutia dengan memberanikan diri
"Dengarr yahhh.. aku bisa memberikan gajih 10kali lipat dari gajih yang kau dapatkan dari restoran itu" ucap rangga dengan penuh penekanan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah mutia.
"Dan kauu.. diamlah sebelum aku benar-benar marah dan berbuat lebih dari yang tadi"
Jantung mutia tak berhenti berdegup kencang karena wajah rangga sangat dekat dengan mutia.
"B.. ba..ik.. aku diam" ucap mutia dengan terbata-bata.
Akhirnya keheninganpun terjadi dan mereka berlarut dalam fikirannya masing-masing.
Dan akhirnya sampai di apertemen rangga.
"Keluar" ucap rangga karena mutia hanya berdiam diri di dalam
"Ehh iyah"
Mutia keluar dan langsung di tarik tangannya oleh rangga.
Setelah sampai di dalam apertemen lalu rangga menghempaskan dirinya di atas sofa.
"Wahhhhh bagus sekali apetemennya" gumam mutia sambil terus melihat setiap sudut ruangan itu.
"Heyy" bentak rangga
"Ehh ayam ayammm.." mutiapun kaget dan mngeluarkan latahnya
"Apa kau mau berdiri terus di situ?"bentak rangga lagi
"Ehh iya aku duduk" mutia baru saja ingin mendaratkan tubuhnya di atas sofa empuk itu, namun
"Siapa yang menyuruhmu untuk duduk"
"Lalu aku harus apa" tanya mutia dengan wajah kesal.
"Cepatt masakk.. aku lapar"
" Dasarr cowo kasar" gumam mutia sambil menghentakkan kakinya.