Arsen coline harus menelan pil pahit dalam hidupnya, Marlen Lee istri yang baru saja ia nikahi harus ternodai karena ulah seseorang yang memperkosa istrinya dimalam pertama.
Cinta Arsen yang begitu besar pada Marlen Lee. Harus berkhir dengan kekecewaan.
"Jangan pernah kau sentuh diriku! bagi ku kau hanyalah kotoran debu yang berserakan, rasanya kau tak pantas untuk ku sentuh! Hardiik Arsen.
Seorang Jendral muda bernama Alan Smith, datang sebagai perisai dan pelindung bagi Marlen. Ia sanggup menghancurkan siapa saja yang menyakiti wanitanya.
Akan kah Arsen akan menerima kembali Marlena sebagai istrinya? atau sebuah perceraian yang terjadi?"
Mampu kah Alan mengembalikan kepercayaan Marlen padanya...?
@Ada unsur Dewasa 21 + tolong bijaklah dalam membaca.
Yuk ikuti terus kisahnya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Mendalam
Marlen masuk kedalam kamar mandi, ia membuka handuk penutup tubuhnya dan langsung menyalakan shower, tubuh mulus itu diguyur air dingin, ia menangis sejadi jadinya, memukul mukul dinding didepannya. Marlen merasa dirinya kotor dan terus merutuki nasibnya yang sial, bukan saja ia kehilangan cintanya tapi juga haknya sebagai seorang istri Arsen. Hatinya begitu hancur ia merasa nasibnya sama seperti ibunya Linkin, yang ditinggal pergi Ayahnya dan menikah lagi dengan wanita lain, Marlen jatuh terduduk bersandar pada dinding, dan membiarkan tubuhnya tersirat air shower. Ia merapatkan kedua lututnya dengan tak berdaya, guyuran air terus membanjiri tubuh Marlen. tubuhnya sudah menggigil, Ia sudah tidak peduli dengan rasa dingin ditubuhnya, bahkan ia berharap mati dalam kedinginan, mengingat ingin mati, Marlen bangkit dari duduknya, ia berdiri didepan kaca menatap wajahnya sendiri, matanya telah sembab oleh airmata, guratan kesedihan terlihat jelas di wajah cantiknya, tubuh Marlen gemetaran ia mengepalkan tangan kanannya dan meninju kaca didepannya.
PRANKKK.... PRANKKK....
Darah segar berceceran dilantai, Marlen mengambil pecahan kaca di depannya, dengan rasa sakit karena luka bekas pecahan kaca tidak ia hiraukan, Marlena berhasil mengambil pecahan kaca itu yang sudah berada di tangannya, lalu menaruh pecahan kaca itu dipergelangan tangan kirinya.
"Mungkin ini lebih baik, mati ditangan ku sendiri, daripada harus hidup menderita karena hinaan Arsen, aku sudah tidak punya pilihan lagi" hiks, hiks, hiks, Marlen mulai menyayat kan pergelangan tangannya sendiri dan,,,
Dorr
Dorr
Dorr
Suara gedoran pintu dari luar kamar mandi, seketika pecahan kaca itu terlepas dari tangannya. Marlena terkejut, ia menatap pintu dengan perasaan takut.
"Nyonya! cepatlah keluar, satu jam lagi Tuan Arsen akan kembali ke mansion"
"Ba_baik lah" ucapnya dengan suara bergetar, ia begitu gusar dengan nafas yang tak beraturan.
Marlen menatap pecahan kaca yang penuh noda darah, seketika bayang bayang wajah ibunya yang terluka karena ulah Ayahnya membuat Marlen tersadar.
"Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan? membenturkan kepalanya di dinding karena merasa bersalah. "Ibu maafkan aku, aku hampir melupakanmu" hiks..
Marlen mencuci noda darah di pergelangan tangannya, untung saja goresan itu tidak sampai dalam, hanya mengenai kulit dan dagingnya, tapi tetap saja darah di pergelangan tangan itu masih menetes.
Ceklek
Marlen berjalan kesamping ranjang mengambil pakaian didalam koper, dan memakai pakaian dress panjang selutut berwarna navy, ia berdiri didepan cermin memakai makeup sedikit tebal untuk hilangkan sembab diwajahnya, wajah yang putih bersih masih terlihat guratan kesedihan walau tertutupi makeup, rambut hitamnya yang panjang ia gerai begitu saja, high heels berwarna hitam dipadu dengan tas tangan branded.
Marlen menutupi luka di pergelangan tangannya dengan sebuah sapu tangan, agar tidak terlihat bekas sayatan. Dan luka jemarinya bekas menghantam kaca ia olesi dengan makeup warna coklat agar lukanya tersamarkan.
Suara ketukan pintu diluar kamar, membuat ia tersadar dari lamunannya. Marlen berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Maaf Nyonya, anda diminta segera turun kebawah. Tuan Arsen sudah menunggu!" yang berbicara seorang pria bernama Hans, asisten pribadi Arsen.
Marlen mengangguk pelan, ia mengikuti langkah pria didepannya berjalan menuju lift, setelah pintu lift terbuka mereka masuk kedalam kotak berukuran kecil itu. Hati Marlena terus berkecamuk ia masih ragu menampakkan wajahnya didepan Arsen.
Ting!
Pintu lift terbuka lebar, Marlen dan asisten Hans berjalan menuju sebuah Room, pintu rooms terbuka. Marlen melihat Arsen sedang duduk disebuah meja bundar yang dikelilingi beberapa orang yang tidak ia kenal, sudah pasti itu adalah tamu undangan yang sangat istimewa. Banyak bodyguard memakai pakaian seragam militer yang berdiri mematung. Marlen terus berjalan dengan wajah sedikit tertunduk. Asisten Hans berhenti disalah satu kursi kosong disamping Arsen.
"Silahkan duduk Nyonya" ucap Hans sopan.
Marlen menoleh sekilas pada Arsen yang terlihat tegang dan muram, ia mendudukkan tubuhnya di kursi makan masih dengan wajah tertunduk. Marlen memainkan jemari tangan di pangkuannya, tanpa Marlen sadari seorang pria tampan, gagah dan berwibawa sedang menatapnya dalam.
"Tuan Smith, perkenalkan ini istriku Marlena" kata Arsen menatap kearah Marlen yang masih terpaku ditempatnya, tapi Marlen masih tetap diam. Dengan kesal tangan Arsen mencubit paha Marlen, hingga Marlen tersentak kaget dan mengangkat wajahnya. sontak ia langsung berdiri dari duduknya dan mengangguk memberi hormat
"Selamat Pagi Tuan Smith" ucap Marlen sopan, senyuman canggung terlihat dibibir nya.
Alan Smith bangun dari duduknya "Pagi Nyonya Collins, Semoga Pernikahan kalian diberkati" Alan mengangkat gelas berisi wine ditangannya sambil berkata "Mari kita bersulang" semua yang berada dalam satu meja berdiri sambil mengangkat gelas, dan meneguknya bersama. Mata Alan tidak pernah lepas dari pandangannya menatap Marlen yang terlihat murung.
"Terima kasih Tuan Smith atas kedatangan Anda, sungguh ini suatu kehormatan bagiku." tutur Arsen mengangkat gelasnya kembali dan meneguk wine itu habis.
"Mari silahkan Tuan Tuan, kita menikmati hidangan pagi ini" kata Arsen ramah
"Sayang!" menoleh pada Marlen "Tolong kau ambilkan beef steak untukku?! ucapan Arsen terlihat ramah dan manis, ia tersenyum penuh arti seakan tersirat rasa sakit dihatinya.
"Tentu saja" kata Marlen tersenyum canggung.
Marlen berdiri dan mulai mengambil beef steak permintaan Arsen, lalu menaruhnya keatas piring. Saat itu Alan Smith melihat luka di pergelangan tangan Marlen yang terbalut sapu tangan, hati Alan begitu sakit, jantungnya berdebar kencang, desiran darahnya bergejolak. Ia menarik nafas dalam untuk menghilangkan rasa sakit dihatinya. Melihat Marlen terluka mata Alan berkaca-kaca, ia membuang pandangannya kesamping, sambil hembuskan nafas kasar.
Marlen menaruh piring berisi beef steak di depan Arsen.
"Thanks you my wife"
Mereka semua menikmati sarapan pagi bersama, Marlen yang tidak bisa menikmati makan pagi itu hanya mencicipi salad buah. Selesai mereka beramah tamah Mr Smith berserta anak buahnya berpamitan, mereka pergi keluar dari rooms itu, saat sudah diluar ruangan Alan berbicara pada anak buahnya.
"Kau jaga wanita itu? aku tidak ingin melihat dia menderita, kabari padaku setiap aktivitasnya" ucapan itu ia tujukan pada orang kepercayaan nya.
"Baik jendral!" Pria itu membungkuk memberi hormat.
Setelah memberi perintah, Alan Smith melangkah pergi menuju mobilnya di ikuti anak buahnya dibelakang yang memakai seragam militer.
'
'
'
'
'
'
@Bersambung
@Jangan lupa untuk LIKE setelah membaca, bantu Author untuk VOTE/HADIAH, sertakan juga KOMENTAR positifnya
tapi mmg itu skenario nya Thor 🤭🤭