Hai ini novel pertama ku semoga kalian suka ya...
Novel ini menceritakan perjalanan cinta anak pesantren Al Hidayah.
Penasaran ceritanya?
.
.
.
Yuk simak ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nailil Ilma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nailil ilma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6) Hari Pertama Sekolah
Hari ini adalah hari pertama ke sekolah, mereka bersiap siap untuk pergi ke sekolah. Dan mereka sampai disekolah jam 06.55, sesampainya disekolah mereka langsung disambut oleh kakak senior kelas 12.
"Oke adik adik kelas 10 sekarang silahkan kumpul dihalaman madrasah ya" ucap salah satu kakak senior, ia menggunakan mikrofon agar suaranya terdengar oleh semua murid.
Para siswa siswi kelas 10 pun segera menuju kehalaman madrasah. Mereka berlarian dan berdesak desakan karena ingin duduk didepan. Alhasil Syifa, Aisyah, Dinda dan Lina pun mendapatkan tempat duduk dibelakang.
25 menit kemudian....
"Temen temen aku ke toilet dulu ya" ucap Aisyah.
"Mau ngapain?" Tanya Syifa.
"Mau cuci baju" sahut Lina.
"Ih...apaan sih Lo Lin, orang gue nanya ke Aisyah yang jawab Lo" jawab Syifa dengan nada jengkel.
Mendengar hal itu Aisyah dan Dinda tertawa kecil.
"Aku mau buang air kecil" ucap Aisyah.
"Mau aku temenin?" Tawar Dinda
"Gak usah, aku bisa sendiri kok Din" jawab Aisyah menolak.
"Tapi kan kita baru pertama masuk ke sekolah, emang kamu udah tau toiletnya ada dimana?" tanya Dinda memastikan.
"Iya Syah, nanti kalau Lo nyasar lho... " sahut Syifa.
"Hmmm...makasih ya, tapi beneran kok aku bisa sendiri" jawab Aisyah.
"Oh, ya udah deh kalau gitu" ucap Dinda
Tanpa basa basi lagi Aisyah langsung berdiri dan melangkah keluar lapangan. Ia berputar putar untuk mencari toilet, tak lama kemudian Aisyah menemukan toilet yang dimana ada toilet khusus wanita dan pria. Aisyah langsung masuk kedalam toilet wanita. Tak lama kemudian Aisyah keluar dari toilet sambil membaca doa keluar kamar mandi. Setelah membaca doa, ia merapikan seragamnya agar terlihat rapi kembali. Setelah itu Aisyah melangkah untuk menuju halaman madrasah, namun tak lama setelah aisyah melangkahkan kakinya, Aisyah tanpa sengaja bertemu Sasa dan kedua temannya.
"Hai sa" Sapa Aisyah.
Sasa dan kedua temannya diam saja mendengar sapaan Aisyah. Bahkan, Sasa justru memasang wajah juteknya. Melihat wajah Sasa yang jutek tersebut, Aisyah langsung berjalan meneruskan langkahnya.
"Jadi guys, dia cewek yang gue ceritain tadi malem ke kalian"
Tiba tiba suara Sasa terdengar begitu lantang, membuat langkah kaki Aisyah terhenti.
"Lo tau ga, kalau cewek itu cadel"
Suaranya makin terdengar lantang, membuat mata Aisyah tiba tiba memanas. Nadanya jelas seperti orang yang mengejek, menyindir dan menghina.
"Kalau ga percaya coba aja dia suruh manggil nama kalian, Carin dan Rara, pasti dia manggilnya ga jelas, heh dasar, udah cadel, kampungan, item, dekil lagi" ucap Sasa ketus.
Sebenarnya Aisyah berkulit sawo matang, tapi Sasa menjelek jelekkan dengan bilang bahwa Aisyah hitam, agar ejekannya terlihat berhasil. Selain itu Sasa mengatakan hal itu karena dia merasa bahwa kulitnya jauh lebih putih dari pada kulit Aisyah.
Perkataan Sasa membuat air mata Aisyah menetes tak tertahankan. Ingin sekali rasanya Aisyah memberikan solasi/lem pada mulut Sasa, agar dia tidak bisa berbicara lagi seperti itu. Lalu Aisyah langsung melanjutkan langkahnya.
"Ehm ehm...kayaknya dia ngerasa kesindir tuh" Teriak Sasa.
Walaupun Aisyah mendengar begitu jelas apa yang dikatakan Sasa, tapi Aisyah terus melanjutkan langkahnya seolah olah Aisyah tak mendengar apapun. Disepanjang perjalanan menuju halaman madrasah, Aisyah hanya sibuk mengusap air matanya yang terus berjatuhan. Saat sudah mendekati halaman, Aisyah berhenti sejenak, ia berusaha untuk menenangkan dirinya, menahan air matanya agar teman temannya tak menyadari kalau Aisyah baru saja menangis. Setelah dirinya tenang, Aisyah kembali berjalan dan duduk kembali di dekat teman temannya. Namun usaha Aisyah sia sia, dalam sekejap teman temannya sudah menyadari bahwa Aisyah baru saja menangis.
"Lo abis nangis Syah" Tanya syifa saat Aisyah datang.
"Eng, enggak kok siapa juga yang nangis" Jawab Aisyah mengelak.
"Terus mata Lo kenapa merah" tanya Syifa.
"Iya Syah, hidung kamu juga merah" sahut Dinda.
"Emmm... itu tadi mataku kena debu, terus tadi tiba tiba aku pilek" Kata Aisyah.
Mendengar hal itu Syifa, dinda dan Lina mengangguk secara bersamaan. Tak lama kemudian terdengar suara siswi sedang berteriak semangat diiringi dengan tepukan tangan yang begitu kompak.
"Ada apa sih kok pada teriak teriak" Tanya Dinda kepada ketiga temannya.
"Heh, ada apa sih kok pada teriak teriak gitu" Tanya Lina pada gadis disebelahnya, yang entah kelas 10 apa dia.
"Itu didepan ada mas ganteng" Jawabnya bahagia.
"Mas ganteng? Siapa dia?" Tanya Lina penasaran.
"Kak Fariz" Jawab gadis tersebut.
"Yaelah bilang kak Faris aja ngapa sih, ga usah mas ganteng, ribet amat" ucap Lina.
"Ya abisnya kak Fariz gantengnya gak ketulungan sih" jawab gadis tersebut, matanya hanya fokus ke depan, melihat seorang lelaki yang dijulukinya sebagai 'mas ganteng'.
Lina hanya bisa nyengir mendengar jawaban gadis tersebut.
"Didepan ada kak Fariz" bisiknya pada Dinda.
"Didepan ada kak Fariz" Bisik Dinda pada Syifa.
"Ada kak Fariz" Kali ini Syifa yang berbisik pada Aisyah.
"Hah, mana? mana kak Fariz?" Tanya Aisyah terkejut.
"Syah, Lo kenapa sih kaget banget, biasa aja kali dengernya. Tuuu...kak Fariz ada didepan" Jawab Syifa sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah depan.
Mendengar ucapan Syifa, Aisyah hanya bisa tersenyum miring dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah itu Aisyah mengarahkan pandangannya kedepan, berusaha untuk melihat kak Fariz.
"Haduh, kok nggak kelihatan sih" Lirih Aisyah.
"Katanya Lo udah ketemu dia tadi malem di mushola" Ucap Syifa pada Aisyah.
"Hehe,,, iya juga sih" jawab Aisyah.
"Apa jangan jangan kamu juga suka sama kak fariz?" Tanya Dinda yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka.
"Eh, siapa yang suka sih" ucap Aisyah.
"Jawab aja, Lo pasti suka kan?" Ucap Syifa menggoda.
Mendengar ucapan sahabatnya aisyah menjadi salah tingkah, dan ia memilih untuk duduk diam dari pada harus menghadapi pertanyaan yang membuatnya bingung harus menjawab apa.
...*********...
imajinasi penulis aneh pake banget...
Nulis cerita harus disesuaikan dg fakta.... sekolah, pesantren... kesan nya ece-ece... penghinaan banget utk dunia pendidikan....
gadis santri murahan banget kesannya....
sekolah umum aja ga gitu amat....
tolong yaa penulis...
titip dia yaa Allah
di tunggu ke lanjutannya 🙏 affwan