Mariana dijodohkan dengan Raka, pemuda pilihan orang tua nya . Tanpa sepengetahuan Mariana , Raka ternyata punya hubungan dengan Meli yang merupakan sahabat Mariana . Karena ketidakterbukaan Meli , akhirnya membuat kesalahpahaman . Persahabatan mereka pun Retak .
Suatu hari Mariana tersesat di hutan saat mengikuti kegiatan mapala . Namun dia tidak sendiri. Ada Revan bersamanya . Revan yang diam-diam menyukai Mariana dari dulu , akhirnya bisa mengungkapkan perasaannya . Dan ternyata Mariana juga mempunyai perasaan yang sama .
Cinta mereka terhalang restu orang tua dari Mariana . Akankah mereka bersatu ? bagaimana perjuangan Revan untuk mengambil hati kedua orang tua Mariana ? akankah persahabatan antara Mariana dan Meli kembali terjalin ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiraz Dincer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
"Mel , gw mau bicara sama lu sebentar" sentak Lina saat melihat sahabatnya tersebut dengan santai membuka majalah remaja yang sedang di pegang nya .
"lu itu pengen bicara apaan? langsung aja, basa-basi banget" sahut Meli tanpa mengalihkan matanya dari majalah yang ada di tangannya.
"Mel ,gw serius" Lina langsung merebut majalah tersebut dari tangan cewek berwajah oriental tersebut.
" Lin !" bentak Meli keras dan coba merebut kembali majalahnya tapi Lina terlebih dahulu membuangnya ke semak-semak membuat Meli naik darah.
"lu itu kenapa sih lin?"
"Seharusnya gw yang nanya sama lu ,lu itu kenapa? saat semua orang panik dan sibuk nyariin Ana tapi lu malah enak-enakan nyantai di sini sambil baca majalah kayak gini? sebenarnya ada apa dng kamu Mel??"
"Ana ,Ana , Ana dan Ana lagi? kenapa sih dari kemarin yang ada di otak semua orang cuma Ana . Apa sih istimewanya tu anak?" cerca Meli di balut emosi.
"Astaga Mel , sebenarnya ada apa lu dan Ana ? kenapa tiba-tiba lu jadi benci begini sama Ana, ingat Mel ,kita itu sahabatan dan bahkan lu lebih dulu mengenal Ana dari pada gw ?" ujar Lina tak paham dengan perubahan sikap Meli.
"Karena gw lebih dulu kenal Ana dari pada lu ,makanya gw seperti ini, gw lebih kenal Ana seperti apa dan aku bukan cewek polos kayak lu yang bisa di kacangin sama wajah malaikatnya" jelas Meli meluapkan dendam yang seolah tertanam lama dalam hatinya.
"Mey, gw sama sekali tidak mengerti dengan apa yang lu bicarakan, tapi gw yakin Ana tak seburuk yang lu bayangkan" sanggah Lina.
"Udahlah Lin , gw ngga mau mendengar lu menyebut nama cewek sialan tersebut karna itu hanya bikin mood gw jadi jelek"
"astaga meli..." ucap Lina sambil geleng-geleng kepala menghadapi si kepala batu Meli.
***
"Van..buka mata lu"ujar Ana sambil menepuk-nepuk wajah pemuda yang tak berkutik di pangkuaannya.
"Van , lu harus bertahan, gw bakal bantuin lu " suara gadis itu terdengar sedikit serak menahan tangisnya.
Tanpa buang waktu , gadis berhidung bangir itu segera memberi pertolongan pertama dengan cara mengisap tangan kekar pemuda itu dan mengeluarkan racun yang ada sebelum menjalar dan mengalir ke jantung karna itu sangat berakibat fatal dan sebagai mahasiswa kedokteran , dia cukup tahu akan hal itu.
Darah hitam bercampur darah segar langsung masuk ke mulu Ana , dengan cepat dia meludahkan nya ke semak-semak dan kemudian kembali mengulanginya hingga dia merasa racun ular tersebut benar-benar sudah keluar semuanya.
"Van.. " ujar Ana tercekat saat tubuh Revan tiba-tiba meronta-ronta mengejang tak tentu.
"Ya Tuhan Van , lu kenapa?"
Tubuh atletis Revan terus meronta dan mengejang , wajahnya kian memucat , badannya pun tiba-tiba panas.
"Van , wajah lu kenapa jadi pucat begini dan badan lu juga panas " ucap Ana di rundung kecemasan.
"Ya Tuhan , apa racunnya masih tersisa dan mulai bercampur dengan darah mu Van " gumam Ana kian cemas , dia pun dengan cepat kembali meraih tangan Revan.
"Ya Tuhan ,mengapa bisa jadi begini?" ucap Ana teriris saat melihat lengan Revan sudah membiru pertanda racun tersebut mulai bekerja.
"Van.. lu tunggu sebentar" Ana cepat berdiri dan mengarahkan pandangan ke sekelilingnya sampai pandangannya berhenti pada sebuah tumbuhan hijau yang merambat , tanpa pikir panjang dia segera berlari dan memetik beberapa helai daun tersebut lalu menggiling nya halus pada batu besar yang ada di dekat tumbuhan tersebut , dia pun kembali mendekati Revan yang masih terkapar dan sesekali masih mengejang.
Dengan hati-hati Ana mengobati tangan Revan dengan tumbuhan yang sudah dia giling halus tepat di bagian patokan ular tersebut .
"Aaaakkk " terdengar ringisan halus dari mulut Revan seperti menahan pedih saat ramuan tersebut menempel di lengannya .
"Van , lu tenang , sakitnya ngga bakal lama , gw harap racun ular tersebut bisa di netralisir dengan khasiat yang terkandung dalam daun ini " ujar Ana sedikit lebih tenang.
Sreetttt....Ana dengan cepat melepas jaket hitam milik Revan dan merobek lengan kemeja miliknya dan segera melilitkannya pada lengan Revan agar daun-daun tersebut melekat dan tak jatuh .
"Aaaaakkkk.." Revan mengerang lebih keras dari sebelumnya dan tubuhnya kembali mengejang dan meronta lebih kuat dari sebelumnya.
"Van ..lu kenapa lagi ?" ujar Ana kembali panik . Dia segera meraih tubuh pemuda itu kepangkuan nya .
"Van ,gw mohon lu jangan kayak gini ,lu jangan bikin gw panik dan cemas ,gw mohon Van " rintih Ana perih tak sanggup melihat Revan seperti itu , ada ketakutan dalam dirinya kalau pemuda itu sampai kenapa-kenapa ,tapi dia tak mengerti mengapa dirinya dari tadi tak pernah rela hal buruk tersebut menimpa Revan .
"Van ..gw mohon " bisik Ana pelan dan kali ini dia tak bisa membendung air matanya dan segera mendekap tubuh pemuda itu dalam pelukannya .
Tubuh Revan yang tadinya meronta-ronta dan mengejang , perlahan mulai tenang dalam pelukan gadis itu.
"Van.." gumam gadis itu sambil melepaskan dekapannya .
Wajah Ana sedikit lebih tenang saat tubuh Revan sudah tak seperti tadi dan erangan dari mulut pemuda itu pun tak lagi terdengar , yang ada kini dia seperti anak kecil yang tertidur pulas dalam pangkuan ibunya .
"Van , makasih lu udah nyelamatin gw dan terimakasih lu udah mau bertahan " ucap Ana di sela tangisnya yang mulai berhenti , dia pun memandang lekat wajah pemuda itu hingga menimbulkan getaran tak tentu dalam dirinya entah dia sadari atau tidak , kini jemarinya membelai lembut tiap lekuk wajah pemuda beralis tebal itu . Dan dari sebuah dorongan perasaan yang tak dia sadari , perlahan dia menunduk dan mengecup kening pemuda itu dan seolah tak ingin menyudahinya hingga suara petir datang sahut menyahut dan menjatuhkan tetes air dari langit .
"Hujan" ucap Ana sambil menengadahkan tangan dan merasakan tetesan air membasahi telapak tangannya .
"Gw mesti cari tempat berteduh dengan revan sebelum hujan turun makin lebat" batin Ana.
Dengan kekuatan yang tak sebanding antara laki-laki dan perempuan, Ana tetap berusaha membopong tubuh Revan mencari tempat berteduh, tubuhnya yang mungil dan lemah karena belum di isi dengan makanan apapun tak menyurutkan niatnya berjalan dan trus melangkah dengan menahan beban seorang pemuda bertubuh tegap berisi .
~~
"Raka.." teriak seseorang dari jauh , kalau di lihat dari pakaiannya yang berwarna orange ,orang tersebut merupakan anggota tim SAR yang ikut membantu pencarian .
"Ya pak , apa anda dan yang lainnya sudah berhasil menemukan Ana !" sahut Raka antusias dan penuh harap.
"Kalau soal itu belum!"
"Jadi.."ujar raka tak bisa menyembunyikan kekecewaannya begitu juga dengan Ucok dan lainnya .
"Saya harap kalian jangan kecewa dulu ,kami baru saja mendapatkan petunjuk tentang keberadaan sahabat anda, dan kemungkinan besar mereka selamat" jelasnya.
"Maksud bapak?" ujar Raka kembali semangat.
"Tadi anggota tim saya menemukan bekas api unggun di bawah tebing sana , dan api unggun di perkirakan masih baru, sepertinya bekas api unggun tadi malam!" jelas orang tersebut sambil menunjuk ke arah matahari terbit.
"Kalau begitu kita sekarang ke sana" Raka dengan cepat mengambil langkah tapi dengan cepat di tahan oleh Ucok.
"Ka ,kita ngga mungkin melanjutkan pencarian ,awan kelihatan sangat gelap dan sepertinya mau turun hujan" cegah Ucok.
Baru saja Ucok selesai bicara hujan dan petir langsung menyambar dengan cepat membuat mereka yang ada di sana dengan cepat berteduh di bawah pohon yang cukup rindang.
Salam dari
"KEKUATAN ASISTEN DIREKTUR"
Jangan lupa feedback nya dan bantu
LIKE, VOTE, RATE dan KOMEN.
Terima kasih🤗
Salam dari
"KEKUATAN ASISTEN DIREKTUR"
Jangan lupa feedback nya dan bantu
LIKE, VOTE, RATE dan KOMEN.
Terima kasih🤗