Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.
Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.
Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Sorot lampu inframerah berkedip tajam, memotong kepulan uap badai salju pagi di Stasiun Periferi No. 4. Namun, alih-alih menghadapi sergapan langsung unit tempur korporasi yang terdeteksi sebelumnya, Ren memilih untuk bergerak mendahului takdir. Berbekal pelacakan sinyal anomali elektromagnetik yang ditangkap oleh The Core Engine miliknya, ia meninggalkan gerbong Vanguard Carriage (Mk. 1) yang baru saja selesai dirakit sementara waktu, menyusuri jalur rel terbengkalai menuju kedalaman Zona Periferi yang paling dihindari oleh para pemulung: Sektor Industri Tua.
Wilayah itu dulunya adalah jantung pengolahan logam dan perakitan komponen lokomotif sebelum dunia membeku menjadi neraka putih. Kini, yang tersisa hanyalah kerangka pabrik berkarat setinggi puluhan meter, cerobong asap raksasa yang membeku, dan tumpukan besi tua yang terkubur di bawah lapisan es abadi setebal bermeter-meter. Suasana di tempat ini jauh lebih sunyi, mencekam, dan dipenuhi oleh bau belerang serta ozon yang pekat.
Ren melangkah hati-hati di atas reruntuhan rel mati, tubuhnya dibalut jubah compang-camping yang dikibarkan angin badai. Di dalam dadanya, The Core Engine berdenyut dengan frekuensi yang semakin cepat, mengirimkan gelombang sinyal penunjuk arah yang berkedip di tepi lapis pandangannya.
Sinyal itu semakin dekat, batin Ren dingin.
Ia mendaki tumpukan kontainer kargo raksasa yang telah berkarat dan tertimbun salju, lalu merendahkan tubuhnya di balik tepi atap gudang pabrik yang separuh runtuh. Dari tempat persembunyiannya yang tinggi, ia menatap ke arah pelataran luas di bawah sana—sebuah bekas lapangan bongkar muat kereta yang kini dikelilingi oleh genangan air es hitam dan tumpukan mesin rusak.
Di tengah pelataran itu, sebuah pemandangan mengerikan tengah berlangsung.
Seorang pemuda seusia dirinya tampak terpojok di sudut dinding beton yang retak. Pemuda itu mengenakan mantel kerja bengkel yang robek-robek dan kotor oleh oli hitam. Ciri yang paling mencolok dari dirinya adalah rambutnya yang berwarna biru terang—warna aneh yang tidak lazim di dunia atas, kontras dengan pucatnya kulit wajahnya yang dipenuhi peluh dan noda arang. Di tangan kanannya, pemuda itu menggenggam sebuah alat kejut elektrik portabel yang berdengung mengeluarkan percikan listrik biru, sementara tangan kirinya memeluk erat sebuah kotak logam kecil berisi komponen sirkuit yang dilindungi dengan sisa-sisa tenaga hidupnya.
Di sekeliling pemuda berambut biru itu, empat ekor makhluk mengerikan mengitari dengan gerak-gerik mematikan. Mereka adalah Mutan Es Bawah Tanah—manusia atau makhluk hasil eksperimen korporasi yang gagal, tubuh mereka membengkak dengan kulit transparan berwarna kebiruan, urat-urat nadi yang memancarkan cairan kimia beracun, serta cakar panjang tajam dari tulang yang menembus daging jari-jari mereka. Makhluk-makhluk itu mendesis rendah, mengeluarkan uap dingin dari rongga mulut mereka yang menganga lebar.
"Sial... sialan kalian!" geram pemuda berambut biru itu dengan suara parau yang bergetar hebat. Napasnya terengah-engah, uap panas mengepul dari bibirnya yang pucat. "Aku sudah bilang, rancanganku bukan untuk senjata militer mereka! Kenapa kalian terus mengejarku?!"
Salah satu mutan es berukuran paling besar mengeluarkan suara lolongan serak, lalu melompat menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa, mengayunkan cakar tajamnya langsung ke arah kepala sang pemuda.
Pemuda itu mengangkat alat kejut elektriknya, mencoba menepis serangan tersebut.
Bzzzt!
Percikan listrik menyambar tubuh mutan itu, membuatnya meraung kesakitan dan terpental mundur sesaat. Namun, serangan itu menguras sisa daya baterai alat kejut di tangan pemuda tersebut. Lampu indikator di alat itu berkedip merah beberapa kali, lalu padam sepenuhnya. Alat itu kini tidak lebih dari sepotong besi tak berguna.
Tiga mutan lainnya melihat celah tersebut. Mereka mendesis buas, bersiap menerkam mangsa mereka secara bersamaan dalam hitungan detik.
Di atas atap gudang, Ren tetap bergeming. Ia tidak langsung bergerak turun untuk menolong. Matanya yang tajam mengamati setiap gerak-gerik pemuda di bawah sana, menganalisis situasi dengan kepala dingin yang dipinjamkan oleh sistem.
Siapa dia? Kenapa mutan-mutan itu memburunya? Dan apa isi kotak logam yang dipeluknya erat-erat itu?
Berdasarkan analisis singkat dari gelombang energi dan sisa-sisa peralatan di sekitar pemuda itu, Ren menangkap satu kesimpulan penting: pemuda berambut biru itu bukanlah sekadar pemulung biasa. Dari pola sirkuit dan cetak biru darurat yang terlihat menonjol dari kantong mantelnya, orang itu adalah seorang mekanik jenius—seseorang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang mesin, sistem traksi, dan teknologi kelistrikan purba yang selama ini dimonopoli oleh Korporasi Frost-Guard. Seseorang yang diasingkan atau diburu karena menciptakan sesuatu yang ditakuti oleh para penguasa dunia atas.
Seseorang yang memiliki keahlian yang sangat, sangat dibutuhkan oleh Ren untuk menghidupkan dan memperkuat gerbong keretanya.
Di bawah sana, mutan es terbesar kembali melompat, membuka rahangnya lebar-lebar untuk mencabik tubuh sang pemuda yang kini sudah terjatuh ke atas tumpukan salju akibat kehabisan tenaga. Pemuda berambut biru itu memejamkan matanya rapat-rapat, mengangkat sebelah tangannya secara refleks untuk melindungi wajahnya, sementara kotak logam di pelukannya terlepas dan menggelinding di atas es.
Ren menarik napas dalam-dalam. Jantung mekanis di dadanya berdetak keras, memompa gelombang energi panas yang langsung mengalir ke seluruh otot lengannya.
Ia melangkah maju ke tepi atap, tangan kanannya meraih gagang Rust-Bite Blade di pinggangnya, sementara matanya menatap tajam ke arah arena pertempuran di bawah sana tanpa ragu sedikit pun.