Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.
Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.
Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Pijit
Sudah beberapa hari ini Raka pulang larut malam. Tidak seperti sebelumnya yang bisa diprediksi, pria itu memang sedang sibuk-sibuknya sehingga ia selalu kelelahan pulang dan berangkat kerja sedikit telat.
Terdengar suara ketukan di pintu. Maya terpaksa bangun dengan meraih jilbab instannya dan membuka pintu. "Oh, Nyonya. Ada apa ya?" Ia mengucek-ngucek kedua mata.
Alika berdiri di depan pintu dengan masih memakai piyama. "Kamu bisa pijit 'kan? Tolong, pijitin dong!"
"Mmh? Nyonya kenapa? Keseleo?" Pembantu itu memperhatikan wanita di hadapan.
"Eh, bukan aku. Suamiku ...."
"Eh?" Maya membulatkan matanya. Ia segera ditarik Alika ke dapur.
"Ayo cepetan, ini udah malem. Suamiku kasihan, tadi badannya pegel-pegel. Cepat, bikin minyaknya!"
Walau segan, dengan cepat pembantu itu mengiris bawang merah dan mengambil minyak angin di kamar. Ia kemudian mengikuti Alika ke kamarnya.
Pria itu tak terkejut melihat kedatangan Maya, hanya sedikit tak nyaman. "Alika, aku rasa tak perlu. Aku bisa langsung tidur saja. Besok aku bisa pergi ke tukang pijat di mal, bisa kok," ucapnya menghindar.
Istrinya kini cemberut. "Gitu, 'kan? Tadi yang minta dipijat siapa? Aku memang gak bisa mijat sama pakai minyak angin lengket di tangan gitu. Rasanya tangan tuh seperti menjijikkan." Ia mengerut dahi membayangkan sambil memandangi jari jemarinya.
"Ya tapi, tak perlu sampai harus membangunkan Maya, nanti kalau dia gak bisa bangun pagi bagaimana?" Raka kembali mencari-cari alasan.
"Ya sudah, kita sarapan di luar aja. Susah amat sih!? 'Kan biasanya juga begitu. Iya 'kan ...?" Nyonya muda itu melipat tangannya di dada. Tiba-tiba wajah Alika berubah cerah. "Eh, tau gak? Maya pinter ngurut lho! Pijitannya enak. Pasti kamu ketagihan." Promo sang istri.
Wajah Raka berubah seketika, tapi ia tak mau berkomentar karena ia takut istrinya salah mengartikan. Maya yang bingung tak tahu harus bagaimana, ditarik Alika masuk ke dalam kamar.
Nyonya cantik itu menutup pintu. "Ayo, kok diam saja?" Kembali ia menarik pembantu itu mendekati ranjang tempat Raka yang sedang duduk dengan tubuhnya masih setengah berselimut.
Pria itu membuka selimut dan mulai membuka kancing baju piyamanya. Alika duduk terpisah di sofa dan bersandar. Raka mengikuti instruksi pembantu itu dengan berbaring telungkup di ranjang.
"Badannya pegel-pegel ya, Tuan?" tanya Maya yang duduk di tepian. Ia mencolek minyak di piring kecil yang sudah di campur bawang dan meratakannya di punggung pria itu.
Sebenarnya ia ragu melakukannya demi melihat tubuh atletis pria itu yang membuat jantungnya berdetak cepat. Bagaimana tidak, pria pujaannya membuka pakaian di hadapannya! Walaupun hanya bertelan jang dada tapi jantung ini sulit untuk diajak kompromi.
"Eh, iya ...." Di luar dugaan, pijatan wanita itu sangat nyaman untuk dokter itu. Lembut dan mengenai titik-titik lelah tubuhnya.
"Ah ... terima kasih."
Maya memijit tubuh pria itu dengan telaten di mulai dari bahu, kemudian bagian punggung. Ia mengulanginya lagi hingga terasa cukup. Beberapa kali ia mencolek minyak angin dan mulai memijat. Setelah selesai, ia mulai mengurut tangan.
Setelah berapa lama, Raka mulai merasakan perubahan. Tubuhnya relaks dan menghangat kena minyak angin. Pijatannya begitu mengena pada bagian otot yang kaku. Pria itu seperti menyerahkan tubuhnya pada Maya untuk diurut tanpa perlawanan.
Istrinya benar. Wanita itu sangat pintar mengurut. Raka bisa merasakan otot tubuhnya yang keras kembali normal. Ia melirik istrinya yang ternyata telah tertidur di sofa. Kembali ia menatap Maya yang tengah memijit tangannya. Pria itu berdehem sebentar.
Pembantu itu tahu tuannya pasti hendak bicara. Ia terlihat tersipu-sipu menunggu. Sebenarnya sudah sejak tadi ia mengurut tubuh pria itu sambil terkadang tersipu-sipu.
Hawa parfum mahal yang lembut langsung menyeruak ketika pria itu membuka pakaiannya. Apalagi saat mengurut, bau tubuh pria itu terkadang mengganggu pikirannya yang mengembara entah ke mana. Beberapa kali pikiran nakal itu lewat dan ia hanya bisa tersipu. Ia hanyalah seorang pembantu yang sedang mengada-ada.
"Eh, kamu ... belajar dari mana bisa mengurut begini?" Raka berusaha menampilkan wajah datar saat bicara dengan Maya untuk memecah keheningan. Ini mengingat istrinya bisa bangun sewaktu-waktu. Namun saat ia melirik istrinya, wanita itu tetap masih nyenyak tertidur.
"Oh, nenekku tukang urut di kampung, Tuan. Dia sempat mengajariku sebelum meninggal."
"Oh, maaf. Eh ... bagus juga." Terlihat sangat kaku pria itu menjawab ucapan Maya, tapi ia harus lakukan. Di saat malam dan hanya mereka berdua yang masih bangun di kamar yang sama, rasanya tidak sopan tidak mengajaknya bicara.
"Eh, sudah selesai, Tuan." Maya mengakhiri. "Apa Tuan mau dibalur di depan juga?"
Raka bangun dan memutar tubuhnya menghadap wanita itu. "Apa harus?"
Wanita itu seperti malu melihat pria itu bertelan jang dada menghadapnya. Pipinya merah merona melihat pemandangan tubuh atletis itu berbaring di hadapan. "Eh, iya, Tuan. Sepertinya Tuan masuk angin sedikit. Apa Tuan mau dikerokin?"
"Apa? Eh, tidak usah. Dikerok itu tidak baik buat kesehatan," jawab pria itu cepat. Ia memang sangat canggung dengan hanya mengobrol berdua saja dengan pembantunya itu.
"Hah?"
"Eh, maksudku, tidak usah." Pria itu baru sadar, pengetahuan Maya terbatas karena pendidikannya yang cuma tamat SMA. Seperti juga istrinya sehingga ia tidak mau membahas hal-hal yang terlalu rumit agar ia tak perlu menerangkannya lagi.
"Oh, ya sudah." Namun kemudian Maya ingat sesuatu. "Oh atau ... Tuan mau minum jamu tolak angin. Biar sebentar Saya buatkan." Baru saja ia hendak berdiri, tangan pria itu menahannya.
"Eh, tidak usah." Raka cepat menarik tangannya kembali karena wanita itu melirik ke arah cengkraman tangannya. "A-aku sudah ngantuk dan ingin tidur. Sudah malam juga. Sebaiknya kau beristirahat saja. Tidak enak 'kan, kamu bolak-balik ke kamarku walaupun ada istriku juga di sini." Ia melirik sang istri. Terlihat sekali ia gugup dan berusaha untuk tidak menyulitkan pembantunya itu di tengah malam.
"Oh, iya, Tuan." Maya memaklumi. Mungkin pria ini tak mau terlihat berduaan dengannya, walaupun ada sang istrinya di situ yang sebenarnya sudah tidur. "Tidak apa-apa, Tuan. Aku bisa buatkan besok pagi kalau Tuan masih belum sehat."
"Eh ya, terima kasih."
Maya pamit, tapi sebelum pergi pria itu turun dari ranjang.
"Tunggu sebentar." Raka mengambil sesuatu dari dompetnya. Dua lembar uang merah dan disodorkan pada wanita itu dengan beberapa kali lipatan. "Ini untuk jajan kamu. Terima kasih."
Maya menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih, Tuan." Ia mendekapnya dan keluar menutup pintu. Sesampainya di kamar, ia memandangi uang pemberian pria itu. Pria tampan bertubuh wangi itu.
Maya meluruskan lipatan uang baru yang didapatnya dari Raka dan menyimpannya di dompet dengan rapi. Rencananya ia takkan menggunakan uang itu kecuali terdesak. Uang itu adalah pemberian pertama sang pria untuknya. Maya menyembunyikannya di bawah bantal. Ia kemudian tidur dengan senyum terukir di wajah. Berharap ada mimpi yang indah untuknya mampir malam ini.
+++
Raka terkejut saat keluar kamar, istrinya masih ada di rumah. Padahal dia sendiri sudah telat bangun pagi karena setelah sholat subuh, ia tidur kembali. "Alika, kamu ngak ngantar Ardha sekolah?" tanyanya saat menuruni anak tangga. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor.
Bersambung ....