NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Pengasuh yang Berani Menendang

Dan apa pun yang Susanto Kevin bawa pagi itu, ternyata memang bukan kabar baik.

Laki-laki itu masuk sepuluh menit kemudian dengan senyum yang terlalu rapi. Kemeja birunya licin, rambutnya tertata, dan cara ia menyapa semua orang membuatnya tampak seperti tamu keluarga yang sangat sopan.

"Ardian," katanya hangat. "Sudah lama tidak ketemu."

Tan Ardian tidak menjawab.

Koran di tangannya sudah dilipat. Piring wrap gandum di depannya masih tersisa setengah, tetapi suasana sarapan yang tadi hampir normal hilang tanpa jejak.

Kevin seolah tidak menyadari itu. Ia menoleh pada Darren, menepuk bahunya ringan. "Darren, makin sibuk ya sekarang. Jadi pengganti Koko pasti berat."

Darren tersenyum kaku. "Lumayan."

Sekar berdiri di dekat meja samping, membawa teko air hangat. Ia belum pernah bertemu Kevin, tetapi tubuhnya sudah lebih dulu tidak suka. Orang ini bicara lembut, tetapi setiap kalimat seperti punya ujung kecil yang sengaja diarahkan ke tempat sakit.

"Ini pengasuh baru?" Kevin akhirnya melihat Sekar.

"Budiman Sekar," jawab Sekar.

"Oh." Senyum Kevin tidak berubah. "Nomor delapan puluh delapan, ya? Hebat. Kamu sudah bertahan sampai pagi kedua."

Sekar meletakkan teko di meja. "Saya juga terkejut masih hidup."

Darren langsung batuk. Ardian melirik Sekar sekilas, lalu kembali menatap Kevin.

"Mau apa?"

"Kasar sekali." Kevin tertawa kecil. "Aku datang karena Om Hendrawan minta aku mengecek keadaanmu. Dia khawatir."

Ardian tidak bergerak, tetapi udara di sekelilingnya langsung mengeras.

Darren cepat berkata, "Papa bisa telepon langsung kalau mau."

"Beliau sibuk. Tapi kebetulan..." Kevin mengangkat ponselnya. "Beliau sudah menunggu."

Sebelum ada yang sempat menolak, Kevin menyalakan video call dan mengarahkannya ke layar di ruang makan. Wajah Tan Hendrawan muncul. Pria paruh baya itu memakai setelan formal, duduk di ruang kerja dengan rak buku tinggi di belakangnya. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh penilaian.

"Ardian," katanya.

Ardian menatap layar. "Pak Tan."

Panggilan itu membuat Darren menunduk. Sekar menangkapnya. Seorang anak memanggil ayahnya dengan nama keluarga seperti memanggil rekan bisnis. Jaraknya lebih dingin daripada lantai marmer.

Tan Hendrawan menatap kursi roda Ardian sekilas. "Aku dengar Felicia datang kemarin."

"Kalau sudah dengar, kenapa bertanya?"

"Aku bertanya karena ingin tahu apakah kamu masih bisa mengendalikan emosimu."

Kevin duduk di kursi samping seolah ia hanya penonton, tetapi ponselnya berada pada sudut yang sangat pas. Layar menangkap wajah Ardian, kursi roda, dan sebagian tubuh Sekar di belakang.

Sekar menyipitkan mata.

Ini bukan kunjungan.

Ini panggung.

Kevin menghela napas. "Om, mungkin jangan terlalu keras. Ardian masih sensitif. Kemarin saja, kata Felicia, dia langsung memanggil bodyguard."

"Felicia masuk tanpa undangan," kata Darren cepat.

Kevin menoleh padanya. "Darren, orang yang matang bisa menyelesaikan masalah tanpa mempermalukan perempuan."

"Perempuan yang mana?" Sekar tiba-tiba bertanya.

Semua menoleh.

Kevin tersenyum. "Maaf?"

"Yang dipermalukan itu Nona Felicia atau Pak Tan?"

Senyum Kevin berhenti setengah detik.

Tan Hendrawan di layar berkata dingin, "Siapa dia?"

"Pengasuh baru," jawab Kevin sebelum Darren sempat bicara. "Maaf, Om. Mungkin belum paham batas."

Ardian meletakkan tangan di sandaran kursi. Sekar melihat jarinya mulai mengepal.

Kevin melanjutkan dengan suara lembut. "Aku cuma khawatir. Setelah kecelakaan, banyak orang di kantor mulai bertanya apakah Ardian masih mampu berpikir stabil. Kalau setiap masalah diselesaikan dengan marah, bodyguard, atau memecahkan barang, nanti para pemegang saham..."

"Cukup," kata Ardian.

Kevin justru menurunkan suaranya. "Ardian, aku temanmu. Aku hanya mau membantu. Jangan sampai Om Hendrawan makin kecewa karena kamu tidak bisa menerima kenyataan."

Kata kenyataan itu jatuh seperti batu.

Ardian tidak menjawab, tetapi tangan kanannya mencengkeram sandaran kursi sampai buku jarinya memutih. Napasnya masih terkendali, hanya terlalu pelan. Sekar pernah melihat orang menahan sakit di Pijat Bahagia. Ada yang berteriak, ada yang mengeluh. Ada juga yang diam sampai tubuhnya gemetar.

Ardian tipe terakhir.

Tan Hendrawan menatap dari layar. "Aku memberi perusahaan pada Darren sementara bukan tanpa alasan. Kalau kondisimu sekarang membuatmu mudah dipancing, lebih baik kamu fokus pada pemulihan. Jangan ikut campur urusan PT Lestari Group."

Darren langsung pucat. "Papa, Koko tidak..."

"Diam, Darren."

Darren menutup mulut.

Kevin memiringkan tubuh, suaranya makin halus. "Lihat, Ardian? Semua orang cuma ingin kamu tenang. Tidak perlu memaksa diri jadi seperti dulu. Tidak apa-apa kalau sekarang kamu..."

"Kalau sekarang dia apa?" tanya Sekar.

Kevin menoleh. "Mbak, ini urusan keluarga."

"Oh, saya kira ini pertunjukan. Soalnya layar dinyalakan, sudut kamera diatur, dan Pak Kevin bicara seperti sedang jadi pembawa acara."

Darren tersedak napas.

Ardian menatap Sekar. Untuk pertama kalinya pagi itu, sesuatu di matanya bergerak.

Kevin berdiri pelan. Ia masih tersenyum, tetapi matanya dingin. "Kamu berani sekali untuk pengasuh baru."

"Saya juga baru tahu tamu bisa datang ke rumah orang lalu menginjak lukanya sambil bilang khawatir."

"Mbak Sekar," Kevin mendekat satu langkah. "Kamu tahu tidak siapa yang kamu bela?"

Sekar melihat tangan Ardian makin mengepal. Kulit di sekitar jarinya memerah. Ia tahu pria itu bisa meledak kapan saja. Dan kalau ia meledak, Kevin menang. Tan Hendrawan akan melihat apa yang ingin mereka lihat: Ardian yang tidak stabil.

Sekar bergerak lebih dulu.

Ia berdiri di depan kursi roda Ardian, lalu tanpa ragu menggenggam tinjunya.

Tangan Ardian panas dan keras. Ia tersentak, seperti tidak biasa disentuh saat marah.

"Pak Tan," kata Sekar pelan, tidak menoleh. "Pinjam marahnya sebentar. Biar saya yang pakai."

Ardian membeku.

Kevin tertawa pendek. "Drama sekali."

Ia mengulurkan tangan, mungkin hendak menarik Sekar menjauh, mungkin hanya ingin membuatnya mundur. Sekar tidak menunggu tahu. Tubuhnya berputar, lututnya menekuk, dan kakinya menghantam sisi paha Kevin dengan gerakan cepat yang pernah ia pakai untuk mengusir pria mabuk di depan Pijat Bahagia.

Kevin kehilangan keseimbangan.

Brak!

Ia jatuh ke sofa samping, wajahnya berubah antara kaget dan sakit.

Darren melompat. "Astaga!"

Di layar, wajah Tan Hendrawan membeku.

Sekar masih berdiri di depan Ardian, satu tangan tetap menggenggam tinju pria itu. Napasnya cepat, tetapi suaranya stabil.

"Maaf, Pak Kevin. Refleks. Di rumah saya, kalau ada orang mendekati orang sakit dengan niat buruk, kami biasanya usir dulu, baru tanya sopan atau tidak."

Kevin menatapnya dengan mata menyala. "Kamu gila?"

"Belum. Kalau sudah, tendangan saya lebih tinggi."

Darren seperti ingin bertepuk tangan, tetapi takut mati.

Tan Hendrawan akhirnya bersuara. Dingin. Berat.

"Ardian, pengasuhmu menyerang tamu di depan mataku."

Ardian perlahan menarik tangannya dari genggaman Sekar. Wajahnya kembali kosong.

"Dia melindungiku."

"Sangat mengecewakan."

Kalimat itu pendek, tetapi efeknya lebih kejam daripada bentakan. Bahu Ardian menegang. Sesaat, Sekar merasa genggaman yang baru dilepasnya seperti masih ada di telapak tangan.

Lalu Ardian mengangkat laptop kecil di meja samping dan melemparkannya ke lantai.

Layar pecah. Video call mati seketika.

Ruang makan hening.

Kevin masih duduk di sofa, menahan pahanya. Darren berdiri kaku. Sekar menatap laptop yang hancur, lalu menatap Ardian.

Wajah pria itu sedingin saat pertama kali mereka bertemu.

"Budiman Sekar."

Sekar menelan ludah. "Iya, Pak Tan."

Suaranya turun, pelan dan tajam.

"Kamu dipecat."

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!