NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 06 - Mahasiswi Baru

Lapangan utama Universitas Naratama sudah penuh ketika Ayla menyeberang dari kafe.

Mahasiswa baru berdiri berkelompok sesuai fakultas. Ada yang sibuk merapikan name tag, ada yang memeriksa tugas ospek, ada yang panik karena lupa membawa pita warna tertentu. Beberapa senior berkeliling dengan peluit dan pengeras suara, memasang wajah galak yang menurut Ayla terlalu niat.

Di papan besar tertulis:

Selamat Datang Mahasiswa Baru Fakultas Desain dan Media Kreatif.

Ayla berhenti membaca tulisan itu.

Desain dan media kreatif.

Guru pasti akan tertawa jika melihatnya berdiri di sini. Bara mungkin akan mengirim pesan ke grup Besi Kelabu: Mamba masuk kandang anak seni, semoga mereka selamat.

“Hei, kamu anak baru juga?”

Ayla menoleh.

Seorang gadis berkerudung warna krem berdiri di sampingnya. Wajahnya manis, pipinya sedikit bulat, dan dia membawa tote bag yang tampak terlalu penuh. Di name tag tertulis: Nisa Rahmadani - Animasi.

Ayla melihat name tag itu, lalu melihat name tag kosong di tangannya sendiri yang belum dipakai.

“Sepertinya.”

Nisa tertawa kecil. “Kok sepertinya? Kamu jurusan apa?”

“Animasi.”

Mata Nisa langsung berbinar. “Sama! Aku dari tadi takut nggak punya teman. Kamu belum pakai name tag?”

Ayla melihat name tag itu. “Benda ini wajib?”

“Wajib banget. Senior tadi sudah marah-marah cuma gara-gara ada yang tulis nama pakai spidol biru, bukan hitam.”

“Masalah hidup mereka kecil sekali.”

Nisa terdiam, lalu tertawa. “Kamu lucu.”

“Aku serius.”

“Lebih lucu lagi.”

Ayla akhirnya menulis namanya di name tag. Ayla Prameswari. Dia menempelkannya di jaket denim.

Nisa membaca nama itu dan berkedip. “Prameswari?”

“Kenapa?”

“Kamu saudara Alina Prameswari?”

Nama itu muncul lebih cepat dari dugaan.

Ayla memasukkan spidol ke tote bag Nisa tanpa meminta izin. “Kenal?”

“Siapa yang nggak kenal? Dia duta kampus tahun lalu, sering masuk akun kampus, terus keluarganya punya yayasan anak hilang itu. Cantik banget, lembut banget.”

“Lembut.”

Nisa mengangguk serius. “Iya. Kayak kalau ngomong bikin orang nggak enak hati mau jahat.”

Ayla tersenyum. “Berarti berguna.”

Nisa belum sempat bertanya maksudnya, peluit panjang berbunyi.

“Mahasiswa baru! Baris sesuai jurusan!”

Kerumunan bergerak kacau. Nisa langsung menarik lengan Ayla. “Ayo, animasi di sana.”

Ayla membiarkan dirinya ditarik.

Barisan animasi tidak terlalu panjang. Sebagian besar mahasiswa tampak membawa perlengkapan gambar, botol minum besar, dan wajah kurang tidur. Seorang senior laki-laki berdiri di depan mereka dengan ekspresi dibuat galak.

“Nama saya Dimas. Hari ini kalian ikut aturan. Tidak ada yang sok pintar. Tidak ada yang terlambat. Tidak ada yang—”

Dia berhenti saat matanya jatuh pada Ayla.

“Kamu. Kenapa baru datang?”

Ayla melihat jam. “Belum telat.”

“Saya tanya kenapa baru datang.”

“Karena sebelumnya belum sampai.”

Beberapa mahasiswa baru menahan tawa.

Dimas melotot. “Kamu pikir ini lucu?”

Ayla menatapnya datar. “Tidak terlalu.”

Nisa di sampingnya pelan-pelan mencubit lengan Ayla. Ayla menoleh. Nisa menggeleng cepat dengan mata panik.

Dimas berjalan mendekat. “Nama?”

Ayla menunjuk name tag.

“Baca.”

Rahmat Tuhan mungkin sedang libur, karena Dimas benar-benar membaca nama itu keras-keras.

“Ayla Prameswari.”

Begitu nama itu terdengar, beberapa orang langsung berbisik.

“Prameswari?”

“Keluarganya Alina?”

“Bukannya Alina anak tunggal?”

“Aku pernah dengar ada anak angkat...”

Ayla mendengar semuanya.

Dimas juga mendengar, dan wajahnya sedikit berubah. Bukan takut, lebih seperti menemukan bahan menarik.

“Oh, keluarga Prameswari. Pantas santai.”

Ayla tersenyum tipis. “Kamu punya masalah dengan nama keluarga?”

“Saya punya masalah dengan mahasiswa baru yang merasa spesial.”

“Bagus. Aku juga.”

“Apa?”

“Aku juga punya masalah dengan orang yang merasa spesial karena pakai jas almamater lebih dulu setahun.”

Suara tawa kali ini gagal ditahan.

Wajah Dimas memerah. “Push up dua puluh.”

Nisa membelalak.

Ayla melepas ransel dan menaruhnya di tanah. “Cuma dua puluh?”

Dimas seperti tersinggung. “Lima puluh.”

“Boleh seratus sekalian? Biar kamu merasa menang.”

Nisa hampir menangis. “Ayla, jangan.”

Ayla turun ke posisi push up.

Gerakannya bersih. Cepat. Stabil. Lima puluh kali selesai sebelum Dimas selesai menyiapkan kalimat berikutnya. Mahasiswa baru di sekitarnya mulai menghitung keras tanpa sadar.

“Empat puluh delapan, empat puluh sembilan, lima puluh!”

Ayla berdiri, menepuk telapak tangan.

Tidak terengah.

Dimas menatapnya.

“Mau tambah?” tanya Ayla.

Senior itu kehilangan kata.

Dari sisi lain lapangan, seseorang bertepuk tangan pelan.

Semua menoleh.

Alina berdiri di bawah tenda panitia dengan beberapa senior dan dosen muda. Dia memakai blouse putih, rok panjang warna pastel, dan senyum lembut yang langsung membuat suasana berubah. Beberapa mahasiswa baru spontan berbisik kagum.

“Itu Kak Alina.”

“Cantik banget.”

“Dia datang jadi panitia?”

Alina berjalan mendekat dengan langkah anggun. Tatapannya hangat pada semua orang, lalu berhenti pada Ayla.

“Kak Ayla,” katanya pelan. “Kamu sudah datang.”

Panggilan itu membuat bisikan makin ramai.

Kak?

Ayla mengambil ransel.

“Kamu mengecek aku?”

Senyum Alina sedikit kaku, tetapi cepat pulih. “Aku cuma khawatir. Kamu belum terbiasa dengan kampus ini. Kalau ada apa-apa, bilang padaku, ya.”

Dimas langsung menatap Ayla dengan ekspresi baru. Jelas dia mengira telah memahami situasi: gadis kasar ini adik bermasalah dari Alina yang sempurna.

“Kak Alina,” kata Nisa tiba-tiba, sedikit gugup. “Ayla tadi nggak telat. Beneran.”

Alina menoleh padanya, tersenyum lembut. “Aku tahu. Ayla memang kadang terlihat... berbeda. Tapi dia sebenarnya baik.”

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan.

Tetapi Ayla mendengar jarum kecil di dalamnya.

Berbeda.

Sebenarnya baik.

Artinya, kalau Ayla nanti melakukan apa pun, semua orang sudah diberi bingkai bahwa dia sulit diatur.

Ayla mendekat satu langkah.

“Alina.”

Alina menatapnya. “Ya?”

“Kalau mau memujiku, jangan seperti sedang meminta orang bersabar menghadapi pasien.”

Senyum Alina membeku.

Mahasiswa baru diam.

Dimas cepat berkata, “Ayla, jaga bicara. Kak Alina hanya ingin membantu.”

Ayla menoleh padanya. “Kamu pengacara?”

“Saya senior kamu.”

“Berarti bukan.”

Nisa menunduk, bahunya bergetar menahan tawa dan takut sekaligus.

Alina menarik napas kecil. “Tidak apa-apa, Dimas. Mungkin Kak Ayla masih sensitif. Dia baru kembali ke keluarga kami.”

Kata itu seperti umpan dilempar ke kolam penuh ikan.

Baru kembali.

Keluarga kami.

Bisikan langsung menyebar.

Ayla menatap Alina.

Hebat. Hanya tiga kalimat, dan Alina sudah memberi seluruh kampus bahan cerita.

“Kamu benar,” kata Ayla tiba-tiba.

Alina sedikit terkejut. “Apa?”

“Aku baru kembali.”

Ayla tersenyum pada mahasiswa di sekeliling.

“Jadi kalau ada yang penasaran, tanya langsung padaku. Jangan lewat cerita orang yang menangis sambil memilih kata.”

Wajah Alina kehilangan warna.

Dari tenda dosen, seorang perempuan paruh baya berdeham. “Sudah cukup. Orientasi dilanjutkan.”

Dimas tampak masih ingin bicara, tetapi dosen itu melirik tajam.

“Dimas.”

“Baik, Bu Ratri.”

Alina mundur dengan senyum yang dipaksakan. Sebelum pergi, dia menatap Ayla dengan mata basah.

Ayla membalas dengan senyum cerah.

Hari pertama belum mulai penuh, tetapi panggung sudah hangat.

Bagus.

Saat kelompok animasi mulai berjalan menuju auditorium, Nisa berbisik, “Ayla.”

“Hm?”

“Kamu benar-benar kakaknya Kak Alina?”

“Secara teknis.”

“Maksudnya?”

Ayla menatap gedung kampus di depan.

“Ceritanya panjang. Versi pendeknya, aku yang hilang. Dia yang ditemukan keluarga lebih dulu.”

Nisa terdiam.

Lalu dia berkata pelan, “Oh.”

Ayla meliriknya. “Takut?”

Nisa menggeleng. “Enggak. Cuma... kalau begitu, kenapa semua orang bilang Kak Alina anak tunggal?”

Ayla tersenyum.

“Pertanyaan bagus.”

Di seberang lapangan, Alina sedang berbicara dengan Dimas. Wajahnya masih lembut, tetapi jarinya menggenggam ponsel terlalu keras.

Ayla melihat itu dan tahu.

Pertandingan sudah dimulai.

Setelah barisan bergerak masuk auditorium, Ayla sengaja berjalan paling belakang. Dia ingin melihat siapa yang mendekati Alina setelah percakapan tadi. Tidak sulit. Dua senior perempuan langsung merapat, salah satunya Vira, yang sejak awal lebih sering melihat Alina daripada memperhatikan tugas panitia.

Alina mengatakan sesuatu sambil menunduk. Vira langsung menatap ke arah Ayla, matanya panas.

Nisa ikut menoleh. “Kamu lihat?”

“Lihat.”

“Mereka ngomongin kamu.”

“Bagus. Berarti aku hemat tenaga. Aku tidak perlu memperkenalkan diri ke semua orang.”

Nisa menghela napas. “Kamu selalu begini?”

“Begini bagaimana?”

“Seperti semua hal buruk itu hiburan.”

Ayla berhenti sejenak.

Pertanyaan itu lebih jujur daripada yang dia kira. Dia menatap Nisa, gadis yang baru dikenalnya beberapa jam tapi sudah berani berdiri di sampingnya.

“Kalau tidak dianggap hiburan,” kata Ayla pelan, “beberapa hal akan terasa terlalu menjijikkan.”

Nisa tidak langsung menjawab.

Di depan auditorium, Dimas meniup peluit lagi. Semua mahasiswa baru diminta masuk. Ayla melangkah duluan, meninggalkan Nisa yang masih memikirkan jawabannya.

Di balik pintu kaca, Alina masih melihatnya.

Senyumnya kembali lembut.

Ayla membalas dengan senyum yang jauh lebih cerah.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!