Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 DICORET
BAB 6 DICORET
Nadia mengepalkan tangannya pelan sampai buku-buku jarinya memutih. Dadanya terasa sesak seperti ada sesuatu yang menekan kuat dari dalam, tapi wajahnya tetap datar seolah nggak terjadi apa-apa.
“Kenapa, Pak?” tanya Nadia dengan suara tenang dan datar seperti biasanya, meskipun pikirannya mulai dipenuhi banyak kemungkinan buruk.
Pak Lukas menghela napas panjang sebelum mengambil sebuah dokumen dari atas mejanya lalu menyerahkannya ke arah Nadia dengan sorot mata penuh penyesalan.
“Ada yang ngelaporin kamu ke komisi penerimaan. Mereka bilang kalau kamu anak kriminal,” ucap Pak Lukas pelan.
Nadia menerima dokumen itu lalu mulai membukanya perlahan. Matanya langsung menyipit saat melihat beberapa foto dirinya sedang merokok, balapan motor, dan beberapa foto saat dia sedang berkelahi terpampang jelas di sana.
“Siapa yang ngelaporin, Pak?” tanya Nadia sambil tetap menatap lembaran dokumen itu tanpa mengubah ekspresinya.
“Atas nama Rina,” jawab Pak Lukas sambil ikut melihat dokumen itu lalu menghela napas pelan.
Pak Lukas melepas kacamatanya lalu mengusap wajah dengan lelah sebelum kembali menatap Nadia.
“Harusnya kamu main lebih cantik, Nadia. Saya tahu selama ini kamu justru banyak menurunkan potensi tawuran antar pelajar. Tapi orang luar tetap aja nganggap kita ini sekumpulan anak berandalan.”
Pak Lukas berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan nada penuh keluhan.
“Sayang banget kamu sekolah di tempat ini, Nad. Coba kamu sekolah di sekolah unggulan, masalah begini pasti masih bisa dibantu. Sekolah kita ini udah telanjur punya nama buruk. Ditambah ada pemberitaan kayak gini, orang pasti lebih percaya itu daripada penjelasan kita.”
Nadia masih diam beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat kepalanya perlahan.
“Rina itu ibu saya, Pak,” katanya pelan.
Pak Lukas langsung membuka matanya lebar lalu menaruh dokumen itu ke atas meja sambil menatap Nadia penuh ketidakpercayaan.
“Yakin itu ibu kamu?” tanyanya pelan.
Nadia menganggukkan kepalanya kecil.
“Yakin, Pak. Lihat aja foto profilnya.”
Pak Lukas terdiam cukup lama sambil menatap Nadia. Wajah tuanya terlihat makin sulit menyembunyikan rasa kecewa dan bingung.
“Kenapa mereka sampai kayak gitu sama kamu, Nad?” tanyanya pelan.
“Saya nggak tahu, Pak.”
“Terus sekarang kamu mau gimana?” tanya Pak Lukas lagi.
Nadia menunduk beberapa saat sebelum menjawab dengan suara pelan.
“Saya belum tahu, Pak.”
Pak Lukas menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Oh ya udah. Saya sebenarnya udah coba protes, tapi katanya ini jadi atensi orang berpengaruh.”
Tatapan Pak Lukas berubah sendu saat melihat Nadia.
Sayang sekali.
Anak sejenius Nadia harus kehilangan kesempatan besarnya gara-gara ibunya sendiri.
Di sebuah sekolah mewah yang jauh berbeda dengan SMK Nusantara, Yulia sedang duduk dikelilingi teman-temannya sambil tertawa kecil menikmati obrolan.
Wajahnya cantik, sikapnya ramah, dan semua orang menyukai dirinya. Baik cowok maupun cewek selalu nyaman berada di dekatnya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Yulia melirik layar sebentar lalu pelan-pelan menjauh dari keramaian sebelum mengangkat telepon itu.
“Ada apa?” bisiknya pelan.
“Nadia udah dikeluarin dari kepesertaan olimpiade.”
Sudut bibir Yulia perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang terasa dingin.
“Bagus. Sekarang sebarin foto-foto dia.”
Telepon langsung terputus.
Nadia keluar dari ruangan kepala sekolah dengan langkah pelan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Entah kenapa sekarang dia benar-benar pengin tawuran.
Dia sudah belajar mati-matian dari kelas satu, menghabiskan waktu, tenaga, bahkan menahan banyak hal demi kesempatan itu.
Tapi sekarang semuanya hilang.
Padahal dia bahkan belum sempat bertanding.
Kepalanya rasanya penuh sampai sesak.
Nadia nggak kembali ke kelas. Dia malah berjalan keluar sekolah tanpa tujuan sambil membiarkan angin menerpa wajahnya.
Di depan sebuah warung kecil, Nadia berhenti lalu mengeluarkan uang dari saku.
“Scorpion lima ribu, Pak.”
Pemilik warung nggak banyak bicara. Dia langsung memberikan tiga batang rokok pada Nadia.
Nadia mengambil satu batang lalu menyalakannya memakai korek api milik tukang warung sebelum berjalan lagi tanpa tujuan jelas.
Dadanya terasa berat.
Rasanya sekarang dia benar-benar pengin mukul orang.
Saat melewati sebuah gang kecil, langkah Nadia tiba-tiba berhenti.
Di sana dia melihat beberapa pria sedang mengelilingi seorang cewek berseragam sekolah elit.
Seragam itu sama persis dengan sekolah Yulia.
“Manis... ayo dong, jangan lari terus,” ucap salah satu pria dengan seringai menjijikkan.
“Pergi kalian!” teriak gadis itu sambil menangis ketakutan.
Beberapa pria mulai mendekat ingin memeluk gadis itu.
Plak!
Sebuah batu kerikil langsung menghantam kepala salah satu dari mereka sampai darah mengalir dari pelipisnya.
Semua orang langsung menoleh.
Di ujung gang, Nadia berdiri sambil menatap dingin ke arah mereka.
“Kurang ajar! Dasar cewek jalang! Hajar dia! Sekalian kita nikmatin dua-duanya!” teriak salah satu dari mereka.
Nadia sama sekali nggak bergerak mundur.
Di tangannya, sebuah balok kayu sudah digenggam erat.
Satu orang langsung menerjang ke arahnya.
Tapi Nadia menghindar dengan gerakan cepat.
Bugh!
Balok kayu menghantam perut pria itu sampai tubuhnya terlempar ke belakang.
“Sialan! Serang bareng!” teriak mereka marah.
Lima orang maju bersamaan.
Tapi Nadia sama sekali nggak gentar.
Mungkin di hari biasa mereka masih punya kesempatan.
Tapi hari ini berbeda.
Energi Nadia sedang di puncaknya karena kemarahan yang sejak tadi dia tahan.
Satu per satu tubuh mereka jatuh ke tanah dengan wajah babak belur.
Nadia memukul mereka tanpa ampun sampai akhirnya mereka kabur sambil menahan sakit dan rasa malu yang begitu dalam.
“Terima kasih, Kak... namaku Lena,” ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya dengan wajah yang sekarang sudah jauh lebih tenang.
Nadia hanya menatap tangan itu beberapa detik tanpa menyambutnya.
Lena jadi menarik tangannya lagi dengan canggung.
“Nama Kakak siapa?” tanya Lena pelan.
“Nadia.”
Belum sempat Lena bicara lagi, Nadia langsung mendahuluinya.
“Gue anter sampai jalan besar. Nanti telepon orang tua lo atau pesan ojol di sana. Jangan pesen di sini, bahaya.”
Lena terdiam.
Meskipun cewek di depannya kelihatan dingin tanpa ekspresi, dia masih sempat memikirkan keselamatannya.
“Mari ikut gue.”
Nadia langsung membalikkan badan.
Lena sampai harus berlari kecil mengikuti langkah Nadia yang cepat.
Begitu sampai di jalan besar, Nadia berhenti lalu menoleh sebentar.
“Gue masih harus balik sekolah. Naik ojek pangkalan aja, bilang temennya Nadia. Mereka bakal nganterin lo aman.”
Setelah mengatakan itu, Nadia langsung berbalik lalu berlari kembali ke arah sekolah.
Dia baru saja menemukan cara supaya bisa kembali masuk jadi peserta olimpiade.
Lena cuma menggaruk kepalanya sambil melihat punggung Nadia yang semakin menjauh.
Padahal dia bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih dengan benar.
“Nadia... dari SMK Nusantara...” gumam Lena pelan.
“Hm... baiklah. Akan gue ingat baik-baik.”
Beberapa menit kemudian sebuah mobil mewah berhenti di pinggir jalan.
Lena masuk ke dalam mobil itu sambil masih memikirkan sosok gadis dingin yang baru saja menolongnya.
libas saja mereka si pecundang