"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
BAB 6
Setelah kejadian itu, aku dibawa ke rumah sakit, dan langsung diperbolehkan pulang setelah menjalankan perawatan singkat. Ayah dan ibu mengambil cuti agar bisa merawat ku di rumah. Sedangkan untuk paman, ayah dan ibu hanya mengatakan kalau dia pindah ke luar negeri untuk bekerja. Namun, akun melihat ada beberapa bagian kaca dan vas yang pecah, disertai dengan salah satu kursi makan yang rusak, aku tahu kalau terjadi pertengkaran disini. Aku tahu paman dan ayah bertengkar. Karena itulah yang di lini kehidupan sebelumnya.
Aku memilih untuk pura-pura percaya dengan cerita ayah dan ibu. Dan mengenai kemampuan misterius yang kumiliki ini… aku memilih untuk memendamnya, karena ayah dan ibu pasti tidak akan percaya juga, sama seperti sebelumnya.
Bisa dibilang, aku adalah anak yang ceria ketika bersama dengan keluargaku. Tapi semenjak kejadian dengan paman, aku menjadi lebih pendiam dan pemurung dari biasanya. Aku jarang bicara tentang film kesukaanku lagi. Aku juga lebih jarang tersenyum. Dan setiap malam aku selalu terbangun karena mimpi buruk, hingga ayah dan ibu selalu datang dan memelukku.
Melihat kondisiku yang mengkhawatirkan, ibu memutuskan untuk berhenti bekerja, dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersamaku di rumah sembari mengerjakan pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan oleh paman.
“Ibu jangan khawatir.” Itu kalimat yang tidak lagi berani aku ucapkan. Rasa bersalah juga terus menumpuk ketika aku hanya diam saja meskipun ibu berusaha menghiburku. Tentu saja, hal itu membuat ibu merasa sedih.
“Maaf, ibu. Aku seharusnya tidak bersikap seperti ini.”
1 Mei 2010
Ayah dan ibu membawaku ke psikiater. Dokter bilang aku mengalami gangguan mental. Dia juga bilang agar ayah dan ibu lebih sering memperhatikanku agar tidak berubah menjadi PTSD.
25 Mei 2010
Ayah lebih sering mengambil cuti. Dan saat ini kami pergi berlibur ke Bali. Ayah dan ibu selalu memberikan yang terbaik agar aku kembali tersenyum. Mereka membawaku ke berbagai tempat. Mencicipi semua makanan enak. menaiki semua wahana seru. Berfoto di tempat yang indah. Dan melakukan apapun yang dapat membuatku kembali ceria.
Usaha mereka tidak sia-sia. Perlahan. Secara perlahan senyumanku kembali. Tawaku mulai terdengar. Dan mata kosongku kembali bersinar. Semua kejadian pahit dan menyakitkan tergantikan oleh kenangan berharga yang ayah dan ibu ciptakan. Semuanya berkilauan. Semuanya terasa hangat. Semuanya terlihat sangat indah. Aku berharap, kebahagiaan ini akan abadi selamanya. Dan aku harap, kejadian yang menyakitkan itu tidak akan pernah terjadi lagi.
…
Seolah realita sedang menamparku, harapan itu kembali pupus. Aku kembali jatuh ke dalam keputusasaan.
30 Mei 2010
Ketika kami pulang dari liburan dengan mobil, semuanya berubah dalam satu dentuman keras yang memekakkan. Aku masih ingat bagaimana kaca depan retak seperti jaring laba-laba, serpihannya berkilau aneh di antara darah yang mengalir di wajahku. Tubuhku terjepit, sulit digerakkan, napasku pendek-pendek. Di sampingku, ibu terkulai dengan mata setengah terbuka, bibirnya gemetar seolah ingin mengatakan sesuatu, sementara ayah diam tak bergerak di kursi depan, tangannya masih menggenggam setir yang sudah bengkok. Bau bensin menusuk, bercampur dengan suara mesin yang masih meraung lemah. Air mataku menggenang tanpa bisa kutahan, bukan hanya karena rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhku, tapi juga karena harapan perlahan runtuh di dadaku, digantikan sunyi yang dingin. Dan di detik-detik terakhir itu, aku hanya bisa menatap mereka—tak berdaya—sambil merasakan hidupku pelan-pelan memudar.
29 Mei 2010
Aku kembali ke 24 jam sebelumnya.
Aku langsung menangis histeris. Ayah dan ibu kebingungan melihat perubahan emosiku yang dari tertawa menjadi tiba-tiba sedih. Itu adalah perubahan yang sangat drastis. Ayah dan ibu memelukku, mencoba menenangkanku. Mereka berpikir kalau aku masih teringat dengan kejadian paman—meskipun aku tidak tahu pasti bagaimana pandangan mereka tentang kejadian itu—tapi yang membuatku seperti ini sekarang bukanlah karena hal itu, melainkan hal mengerikan lainnya yang akan terjadi.
Ayah dan ibu memutuskan untuk menyudahi liburannya dan kami pulang sehari lebih cepat dari yang dijadwalkan.
Ketika kami melewati jalanan tempat terjadinya kecelakaan di lini sebelumnya, wajah pucat ku karena ketakutan perlahan memudar digantikan dengan rasa syukur. Namun, setelah menghindar dari kecelakaan pertama, kecelakaan lainnya terjadi, kali ini kami terjatuh ke jurang.
28 Mei 2010
Hal yang sama kembali terjadi. Kami pulang lebih awal. Aku bersikeras untuk melewati jalan memutar. Awalnya ayah dan ibu semakin bingung, tapi mereka mengabaikannya demi diriku dan memilih untuk menuruti permintaan anehku. Meskipun begitu, kecelakaan lainnya kembali terjadi. Kali ini mobil kami dihantam pohon besar yang tumbang akibat badai.
27 Mei 2010
Ketika ayah dan ibu mengatakan kami harus pulang lebih awal karena kondisiku, aku meminta mereka untuk tidak melakukannya karena aku baik-baik saja. Namun kali ini ayah dan ibu menolak permintaanku. Akupun mengubah permintaanku menjadi pulang dengan pesawat dengan alasan ingin menggantikan waktu yang tersisa dengan terbang di langit. Ayah dan ibu menyetujuinya.
Awalnya aku merasa sangat takut kalau akan terjadi kecelakaan lainnya, namun ketika pesawat sudah terbang dilangit, aku dapat melihat pemandangan indah dari kaca jendela. Seketika ketakutan yang aku rasakan hilang sepenuhnya. Setidaknya, untuk beberapa menit saja.
Aku melihat kawanan burung menabrak turbin pesawat. Seketika ledakan terjadi. Kepanikan memenuhi seisi pesawat. Ayah dan ibu memelukku dengan cemas. Banyak orang-orang mulai berdoa. Pramugari memberikan instruksi darurat. Namun itu sia-sia. Pesawat terjun bebas dan menghantam lautan.
26 Mei 2010
Ketika dalam perjalan menuju Bali. Ketika kami sudah menaiki kapal, aku menggila. Berteriak histeris dan berlari kesana kemari. Ayah dan ibu mengejarku, namun aku tidak berhenti. Aku terus berlari dengan ketakutan, menabrak penumpang lain, mengabaikan teriakan panik ayah dan ibu yang menggema di belakangku. Koridor demi koridor kapal feri ini tampak memanjang, meliuk-liuk seperti labirin dalam mimpi buruk. Ketakutan menjalar layaknya racun dingin yang memompa adrenalin ke ambang batas. Aku terus berlari hingga sepasang kakiku membawaku menerobos sebuah pintu besi bertuliskan “RESTRICTED AREA” yang tidak terkunci rapat.
Aku terlempar ke dalam sebuah ruangan yang kontras. Gelap, pengap, dan berbau tajam campuran solar serta besi berkarat. Suara bising yang memekakkan telinga langsung menghantam gendang telingaku—sebuah gemuruh mekanis yang masif. Di bawah sana, di dalam ruang mesin utama kapal, sebuah poros raksasa dan roda gigi interlok berukuran raksasa sedang berputar dengan kecepatan konstan yang mematikan. Itulah jantung mekanis yang menggerakkan monster besi ini membelah selat.
Pandanganku buram oleh air mata yang mengalir deras. Napas yang memburu membuatku hilang keseimbangan di atas titian besi yang licin oleh lapisan oli.
Satu pijakan keliru, dan duniaku jungkir balik.
Aku jatuh. Tubuhku meluncur melewati pagar pembatas, langsung menuju palung mekanis di bawahnya.
CRACK.
“Aarrgghhh! Sakit! Sakit...!!”
Roda gigi baja lateral menangkap kaki kananku terlebih dahulu. Rasa sakitnya tidak masuk akal—seperti dihantam palu godam berapi yang meremukkan tulang kering menjadi serpihan dalam hitungan milidetik. Besi-besi dingin itu tidak peduli—mereka terus berputar tanpa distorsi sedikit pun, menarik seluruh tubuhku masuk ke dalam titik jepit mesin pembakar utama.
Kaki tertinggal di belakang, terpotong dan hancur menjadi bubur merah. Cairan kental hangat menyiprat tinggi, mengotori dinding-dinding besi abu-abu dan pipa uap di sekitarnya. Air mataku mengalir makin deras, mengaburkan sisa pandangan yang dipenuhi distorsi warna merah darah.
"TIDAAAKK! IBUU—!"
Teriakanku terputus di tenggorokan saat silinder hidrolik dan poros engkol raksasa berikutnya menghantam dada dan panggulku. Tubuhku tergilas tanpa ampun, dipelintir dan koyak oleh torsi jutaan pon yang digerakkan oleh mesin diesel kapal. Setiap jengkal kedaginganku menyerah pada tekanan baja. Darah menyiprat kemana-mana, menetes dari sela-sela roda gigi yang terus bergerak ritmis.
Sakit yang teramat sangat itu perlahan mencapai titik puncaknya hingga mati rasa. Suara gemuruh mesin yang tadinya memekakkan telinga mulai terdengar menjauh, meredup menjadi dengungan sunyi.
Pandanganku yang memerah perlahan menggelap, berganti menjadi hitam pekat yang dingin. Kesadaranku runtuh, hanyut sepenuhnya bersama detak mesin yang terus berjalan tanpa pernah tahu apa yang baru saja dihancurkannya.
25 Mei 2010.
Di ambang keberangkatan itu, aku menangis dan menjerit sekencang yang kubisa, seolah tahu apa yang menanti di depan sana. Hingga akhirnya, tubuhku menyerah pada rasa takut, dan aku jatuh pingsan dalam sunyi.