"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Dua jam berlalu seperti neraka bagi Gavin Cavanaugh. Di dalam ruang rapat yang tertutup rapat itu, ia dipaksa membedah setiap sen penggunaan dana yang selama ini ia anggap sebagai rahasia amannya. Di ujung meja, Gaby duduk bagai hakim garis akhir yang tidak melewatkan satu koma pun kesalahan dalam data grafik keuangan divisi operasional. Setiap kali Gavin mencoba mengelak dengan alasan teknis, Gaby mematahkannya hanya dengan satu kalimat analisis yang tajam dan tak terbantahkan. Ketika jarum jam tepat menunjukkan waktu makan siang, Gavin terduduk lemas di kursinya dengan kemeja yang sudah basah oleh keringat dingin, sementara Gaby menutup laptopnya dengan senyuman puas yang amat dingin.
"Kerja bagus untuk permulaan, Manajer Gavin," ucap Gaby tenang seraya bangkit dari duduknya. "Sisa laporannya akan timku periksa kembali nanti malam. Sekarang, aku punya janji yang jauh lebih penting."
Gaby melangkah keluar ruangan, meninggalkan Gavin yang menatap punggungnya dengan pandangan penuh rasa frustrasi dan ketakutan yang mendalam. Di luar pintu, Edgar sudah menunggu, berdiri tegap dengan satu tangan terbenam di saku celana bahan mahalnya. Begitu melihat Gaby keluar, aura dingin di wajah Edgar langsung mencair, digantikan oleh binar penuh perhatian yang protektif.
"Bagaimana audit pertamamu, Sayang? Menyenangkan?" tanya Edgar, suaranya yang berat merengkuh indra pendengaran Gaby dengan kehangatan yang kontras.
"Sangat menyenangkan, Mas. Ternyata melihat tikus kantor gemetar di balik meja kerjanya sendiri punya kepuasan tersendiri," jawab Gaby manis, menyambut uluran tangan Edgar yang besar dan hangat untuk bertautan erat di lengannya.
Edgar terkekeh rendah, suara tawa yang maskulin dan terdengar sangat seksi di telinga Gaby. "Itu baru istriku. Ayo, makananmu sudah siap di atas. Aku tidak ingin Nyonya Addison kelaparan hanya karena mengurusi hal tidak berguna."
Mereka berdua berjalan menuju lift khusus eksekutif yang langsung mengarah ke lantai paling atas gedung Addison Group. Begitu pintu lift terbuka di lantai tertinggi, deru angin kencang langsung menyambut Gaby, menerbangkan beberapa helai rambut hitam panjangnya yang indah. Gaby menahan napas sejenak saat melangkah keluar ke area helipad.
Di tengah-tengah landasan helikopter yang luas dan menyuguhkan pemandangan lanskap pencakar langit Jakarta dari ketinggian, sebuah meja bundar dengan taplak putih bersih dari kain linen premium telah ditata dengan sangat mewah. Alat makan dari perak berkilau di bawah terik matahari siang, berpadu cantik dengan gelas-gelas kristal yang memantulkan cahaya. Dua orang pelayan pria berseragam pelayan formal berdiri dengan khidmat di dekat meja bar portabel, sementara seorang pria paruh baya bertopi koki putih tinggi tampak sedang sibuk menata hidangan di atas piring porselen.
Edgar melingkarkan tangannya di pinggang Gaby, menuntun istrinya berjalan melewati embusan angin yang cukup kencang. Dengan gerakan yang sangat jantan dan penuh tata krama kelas atas, Edgar menarikkan kursi untuk Gaby sebelum ia sendiri mengambil tempat duduk tepat di hadapan istrinya.
"Mas, ini benar-benar di luar ekspektasiku. Makan siang di atas helipad?" Gaby setengah berbisik, matanya memandangi hidangan pembuka berupa caviar mewah dan foie gras yang disajikan dengan estetika tingkat tinggi.
"Aku selalu menyukai tempat yang tinggi, Gaby," ujar Edgar sambil membuka serbet kainnya sendiri dengan gerakan lambat yang elegan. "Di atas sini, udaranya bersih. Tidak akan ada serangga, hama atau manusia kelas rendah yang berani datang untuk mengganggu ketenangan makan siang kita. Terutama mantan tunanganmu yang bodoh itu."
Gaby tersenyum tipis, menyesap air lemon hangat dari gelas kristalnya sebelum mulai menikmati hidangan mewah tersebut. "Ngomong-ngomong tentang Gavin, laporan yang dia serahkan tadi benar-benar sebuah lelucon besar, Mas. Seperti dugaanmu sejak awal, ada selisih dana yang sangat masif di divisi operasional."
Edgar meletakkan pisau peraknya dengan denting halus, matanya yang tajam menatap Gaby dengan binar bangga yang tak disembunyikan. "Berapa banyak yang telah digelapkan oleh anak tolol itu demi membiayai model tidak tahu diri itu?"
"Tiga puluh miliar rupiah, Mas," jawab Gaby, nadanya sangat datar namun menyembunyikan ketegasan seorang Analis Senior yang mematikan. "Semuanya disamarkan dalam bentuk biaya pemasaran fiktif, sponsor acara, hingga kontrak eksklusif untuk agensi Luna selama enam bulan terakhir. Gavin mengira sistem internal tidak akan pernah mendeteksinya karena dia memalsukan tanda tangan digital dari kepala divisi lama yang sudah pensiun."
Edgar menyeringai sinis, sebuah garis senyum predator yang sangat serasi dengan atmosfer dingin di sekitar mereka meski matahari siang sedang terik.
"Tiga puluh miliar hanya demi wanita murah seperti Luna. Gavin benar-benar mewarisi kedunguan dari keluarga ibunya yang serakah. Lalu, apa rencana selanjutnya, Nyonya Addison? Apakah kau ingin aku langsung mengirimnya ke balik jeruji besi hari ini?"
Gaby meletakkan sendok peraknya, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap Edgar dengan pandangan lurus yang sarat akan strategi. "Aku bisa saja langsung menyerahkan dokumen penyimpangan dana itu ke pihak berwajib siang ini juga, Mas. Tapi menurutku, itu terlalu cepat dan tidak menantang. Membiarkan Gavin duduk di ruang kerjanya dengan perasaan ketakutan setengah mati selama beberapa hari ke depan akan jauh lebih menarik. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya hidup di bawah bayang-bayang bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan seluruh hidupnya kapan saja. Aku ingin dia memohon padaku."
Edgar mencondongkan tubuh tegapnya ke depan meja, menjangkau jemari Gaby yang melingkar di atas meja marmer, lalu mengecup punggung tangan istrinya itu dengan lembut namun penuh dengan penekanan yang mutlak.
"Lakukan apa pun yang kauinginkan, Sayang. Nikmati permainanmu. Mulai hari ini, seluruh hukum, otoritas dan aturan di kekaisaran bisnis Addison Group ini berpihak penuh padamu. Jika kau ingin bermain-main dulu dengan tikus kecil itu sebelum mematahkan lehernya, aku dengan senang hati akan duduk di sampingmu sebagai penonton sekaligus pelindung setiamu."
Perlakuan Edgar yang begitu memuliakannya membuat dada Gaby berdesir aneh. Selama lima tahun bersama Gavin, ia selalu diminta untuk memadamkan cahayanya sendiri. Gavin selalu mengeluh jika Gaby terlalu pintar, selalu menuntut Gaby untuk hidup hemat, sederhana, dan tidak menonjol agar tidak menyaingi ego kepriaannya. Namun di depan Edgar, pria matang yang statusnya jauh di atas Gavin ini, kecerdasan Gaby justru dipuji, dendamnya difasilitasi, dan harga dirinya ditaruh di tempat tertinggi. Kenikmatan ini benar-benar nyata dan terasa sangat manis.
Tepat saat koki pribadi mereka hendak menyajikan hidangan utama berupa wagyu steak dengan saus truffle, ponsel pribadi Edgar yang tergeletak di atas meja marmer bergetar konstan. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan darurat dari sekretaris utama yang berjaga di lantai dasar.
Edgar melirik layar tersebut dengan tatapan malas. Sudut matanya membaca pesan singkat itu. "Tuan Besar, terjadi keributan besar di lobi utama bawah. Nona Luna Fritzyara menolak meninggalkan area gedung dan sekarang Ibu Wijaya ibu nya Nona Luna baru saja datang bersama pengacara keluarga mereka. Mereka memaksa masuk ke atas untuk menemui Anda dan Nyonya Gaby."
Edgar tidak membalas pesan itu. Ia justru memutar ponselnya ke arah Gaby, menyodorkannya di atas meja dengan senyuman dingin yang sarat akan arti tersembunyi.
"Sepertinya, ibumu yang terhormat ikut turun gunung untuk membela putri kesayangannya yang baru saja diusir oleh satpamku," ujar Edgar dengan nada suara yang sangat santai, seolah-olah keributan di bawah hanyalah pertunjukan sirkus gratis. "Bagaimana, Sayang? Mau kita turun ke bawah sekarang untuk meratakan mereka atau kamu ingin menyelesaikan hidangan utamamu dulu?"
Gaby menatap nama Mama Wijaya di layar ponsel tersebut. Ingatannya langsung melayang pada tahun-tahun penuh penderitaan di rumah keluarga Fritzyara, di mana Mama kandungnya itu selalu membedakan perlakuan antara dirinya dan Luna. Ibu nya itu selalu memotong anggaran kuliahnya, yang selalu mengambil barang-barang miliknya untuk diberikan pada Luna, dan yang ikut mencaci makinya sebagai anak sialan di malam pengusiran itu.
Gaby mengalihkan pandangannya kembali pada potongan daging wagyu premium di piringnya, lalu mendongak menatap Edgar dengan senyuman kemenangan yang memukau.
"Tentu saja kita harus menghabiskan steak mewah ini dulu, Mas," jawab Gaby dengan nada tenang yang sangat anggun namun mematikan. "Membiarkan wanita-wanita serakah itu berdiri menunggu di lobi bawah dalam kecemasan dan tontonan karyawan adalah bagian dari hidangan penutup yang paling sempurna untuk siang ini."
Edgar tertawa lepas, suara tawa yang berat dan penuh kepuasan mendengar jawaban berkelas dari istrinya. "Pilihan yang sangat cerdas, Nyonya Addison. Mari kita nikmati makan siang kita, setelah ini... aku sendiri yang akan menemanimu menyambut kedatangan tamu-tamu tak diundang itu."
Setengah jam kemudian, suasana di lobi utama lantai dasar Addison Group benar-benar menyerupai sirkus publik. Ibu Wijaya, wanita paruh baya yang selalu tampil dengan perhiasan emas berlapis-lapis dan tas bermerek pameran, sedang berteriak-teriak di depan meja resepsionis. Di sampingnya, Luna menangis dengan sisa-sisa maskara yang luntur di pipinya, memegangi lengan ibunya seolah-olah ia adalah korban penganiayaan paling sadis abad ini. Di belakang mereka, seorang pria paruh baya berjas rapi yang merupakan pengacara keluarga Fritzyara berdiri dengan raut wajah tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian ratusan karyawan yang berlalu lalang di lobi.
"Panggil Gaby turun! Berani-beraninya anak durhaka itu menyuruh satpam memperlakukan adiknya seperti binatang!" teriak Ibu Wijaya, suaranya yang melengking membuat petugas keamanan di lobi harus membuat pagar betis agar wanita itu tidak merangsek masuk ke area lift khusus. "Di mana hati nuraninya?! Dia hanya wanita murahan yang merayu calon mertuanya untuk di nikahi dengan Tuan Edgar, lalu sekarang mau berlagak menjadi penguasa di sini?! Panggil dia!"
"Nyonya, mohon tenang. Anda berada di area privat korporat" petugas resepsionis mencoba menjelaskan dengan sopan, namun kalimatnya dipotong kasar.
"Diam kamu! Kamu tidak tahu siapa saya?! Saya adalah ibu dari istri bosmu! Jika Gaby tidak turun dalam lima menit, saya akan menuntut perusahaan ini atas tindakan tidak menyenangkan terhadap putri saya!" ancam Ibu Wijaya dengan sombongnya, menunjuk-nunjuk wajah resepsionis.
Ting.
Suara bel dari lift eksekutif khusus berdenting halus, namun sanggup memotong seluruh keributan di lobi dalam satu detik yang krusial. Pintu lift terbuka lebar, dan dari dalamnya, melangkah keluar dua sosok yang langsung membungkam atmosfer ruangan luas tersebut.
Edgar Emiliano Addison berjalan dengan langkah lambat yang sarat akan keagungan, tangannya menggandeng erat jemari Gaby Fritzyara yang berjalan di sisinya dengan kepala tegak. Di belakang mereka, enam pengacara internal Addison Group berbaju hitam formal mengikuti dengan langkah tegap, membawa tas kerja kulit yang berisi dokumen-dokumen hukum.
Melihat kehadiran Edgar, nyali Ibu Wijaya yang tadinya menggebu-gebu mendadak menciut setengahnya. Aura dominan sang Iblis Korporat terlalu nyata untuk dilawan dengan teriakan pasar.
"Siapa tadi yang berteriak ingin menuntut perusahaanku?" suara bariton Edgar bergema di lobi yang mendadak senyap seperti kuburan. Pria itu berhenti tepat lima langkah di depan Ibu Wijaya dan Luna, menatap mereka dengan pandangan mata elang yang sangat dingin dan menghina.
Mama Wijaya menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia beralih menatap Gaby dengan mata yang melotot penuh amarah. "Gaby! Akhirnya kamu berani turun juga! Lihat apa yang dilakukan satpam-satpam kasarmu pada adikmu, Luna! Dia diseret keluar seperti pencuri! Kamu benar-benar sudah tidak punya malu ya, setelah merebut posisi mertuamu sendiri, sekarang kamu mau menghancurkan keluarga bisnismu?!"
Gaby melangkah satu tindakan maju, melepaskan pegangan tangan Edgar sejenak untuk berdiri berhadapan langsung dengan ibu tirinya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Ibu Wijaya dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan seorang Nyonya Besar.
"Tutup mulutmu yang berisik itu, Nyonya Wijaya," ucap Gaby, suaranya tidak tinggi namun memiliki intonasi yang begitu menusuk hingga ke tulang. "Pertama, aku tidak merebut posisi apa pun. Tuan Edgar Addison memilihku karena aku memiliki otak untuk mengurus perusahaannya, tidak seperti putri kesayanganmu yang hanya tahu cara menghabiskan uang pria di atas ranjang hotel yaitu Gavin calon mantan suamiku dan juga mantan Tunanganku."
"Kak Gaby! Jaga bicaramu!" Luna menjerit tidak terima, wajahnya merah padam karena rahasia busuknya kembali dikuliti di depan umum.
"Lalu yang kedua," lanjut Gaby, mengabaikan interupsi Luna dengan dingin. "Satpamku tidak salah. Luna berada di sini tanpa izin tertulis, tanpa kontrak kerja, dan membuat kegaduhan di ruang kerja manajer operasional. Itu disebut penyusupan ilegal. Dan mengenai tuntutan hukum yang baru saja Anda sombongkan..." Gaby melirik ke arah tim pengacara di belakangnya.
Salah satu pengacara senior Addison Group langsung melangkah maju, membuka sebuah map, dan menyerahkan selembar kertas resmi ke hadapan pengacara keluarga Fritzyara.
"Ini adalah surat gugatan resmi dari Addison Group atas nama Nyonya Gaby Addison," ucap pengacara tersebut dengan tegas. "Kami menuntut Nona Luna Fritzyara atas tindakan pencemaran nama baik, penyusupan tanpa izin dan kerugian moral korporasi sebesar lima puluh miliar rupiah. Jika dalam waktu dua puluh empat jam tuntutan ini tidak dipenuhi, kami akan langsung memprosesnya ke jalur pidana malam ini juga."
Wajah Ibu Wijaya seketika pucat pasi, warna kulitnya berubah seperti kertas kosong. "L-lima puluh miliar?! Gaby, kamu gila?! Dari mana kami punya uang sebanyak itu?! Kamu sengaja ingin memeras orang tuamu sendiri?!"
"Orang tuaku?" Gaby tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat sinis dan menyakitkan. "Seingatku, suamiku sudah memperingatkan suamimu lewat telepon tadi siang. Keluarga Fritzyara sudah mengusirku dan menganggapku sebagai aset gagal. Jadi, jangan pernah membawa-bawa kata orang tua di depanku, karena bagiku, kalian tidak lebih dari sekadar orang asing yang sedang mencoba mengemis perlindungan."
Ibu Wijaya beralih menatap Edgar dengan pandangan memohon, mencoba menggunakan taktik manipulasi lamanya. "Tuan Edgar... tolong dengarkan saya. Gaby ini anak yang manipulatif. Dia sengaja menikahi Anda hanya untuk menghancurkan kami! Pernikahan ini salah, Tuan! Dia tidak mencintai Anda, dia hanya memanfaatkan kekayaan Anda!"
Edgar melangkah maju, memajukan tubuh besarnya hingga bayangannya menutupi tubuh Ibu Wijaya sepenuhnya. Pria itu merangkul pinggang Gaby dari belakang, menarik tubuh istrinya hingga menempel erat pada dada bidangnya yang kokoh di depan mata semua orang di lobi.
"Aku tahu dia memanfaatkan kekayaanku, Nyonya Wijaya," jawab Edgar dengan nada suara yang sangat santai namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Dan aku dengan sangat senang hati menyerahkan seluruh kekayaanku, kekuasaanku, dan hukum di negeri ini agar bisa digunakan oleh istriku untuk menghancurkan kalian semua. Bukankah itu esensi dari sebuah pernikahan yang saling menguntungkan?"
Edgar menatap pengacara keluarga Fritzyara yang sudah gemetar memegang surat gugatan. "Bawa dua wanita berisik ini keluar dari gedungku sekarang juga sebelum aku menambahkan surat penyitaan atas seluruh aset rumah tinggal mereka besok pagi. Dan pastikan mereka tahu... siapa pun yang berani membuat Nyonya Addison mengerutkan keningnya, berarti mereka sedang memesan tiket menuju neraka finansial mereka sendiri."
Gavin yang ternyata diam-diam ikut turun dan menyaksikan kejadian itu dari balik pilar lobi, hanya bisa terduduk lemas di lantai marmer dengan tubuh yang gemetar hebat. Ia menatap Gaby yang kini tersenyum penuh kemenangan di dalam pelukan protektif ayahnya.
Di lobi yang megah itu, di hadapan ratusan pasang mata yang kini menatap keluarga Fritzyara dengan pandangan menghina dan jijik, Gaby tahu bahwa kenikmatan dari sebuah pembalasan dendam yang elegan baru saja dimulai. Dan bersama Edgar Addison, ia akan memastikan bahwa setiap air mata yang pernah ia jatuhkan dulu, akan dibayar dengan kehancuran total dari orang-orang yang pernah menyakitinya.