Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secangkir Kopi yang Canggung
Suasana di persimpangan lampu merah perlahan kembali kondusif setelah kendaraan‑kendaraan lain diberi jalan. Zehar masih berdiri di tempat yang sama, pandangannya belum sepenuhnya lepas dari sosok Alesha, meski ia segera menarik diri dan mengumpulkan kembali kesadarannya sebagai petugas yang sedang bertugas.
Detak jantungnya yang sempat berpacu kencang kini ia coba kendalikan, menyembunyikan gejolak batin di balik wajah tenang yang biasa ia tunjukkan dalam setiap penugasan.
Alesha pun berusaha menguasai dirinya. Ia menunduk sejenak, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, berusaha menyingkirkan rasa kaget yang melanda.
Tujuh tahun lamanya ia berusaha melupakan, atau setidaknya mencoba mengubur dalam‑dalam kenangan tentang pria ini, namun pertemuan tak terduga itu seolah membuka kembali pintu yang selama ini terkunci rapat.
“Baik, untuk menyelesaikan pencatatan dan pemeriksaan keterangan secara lebih tertib, kita tidak bisa melakukannya di tengah jalan yang padat ini,” ujar Zehar akhirnya, suaranya terdengar stabil meski ada nada yang sedikit berubah dari biasanya.
“Ada kedai kopi tidak jauh dari pos pengawasan kami, cukup tenang dan aman. Kita bisa menyelesaikan laporan di sana.”
Alesha mendongak, alisnya terangkat sedikit.
“Maaf, Pak, saya sedang terburu‑buru. Ada urusan mendesak di rumah yang harus saya selesaikan sore ini. Bukankah cukup mencatat keterangan singkat di tempat kejadian saja?” jawabnya dengan nada sopan namun tegas, berusaha menjaga jarak dan tidak terlihat goyah.
Zehar menggeleng pelan, tetap bersikap profesional.
“Maaf, Bu, ini prosedur yang harus dijalankan. Sebagai petugas yang menangani kasus ini, saya memastikan data dan keterangan kedua pihak tercatat dengan lengkap dan jelas agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Mengingat kondisi lalu lintas yang ramai di sini, tempat yang lebih tenang akan memudahkan keduanya. Ini bukan permintaan pribadi, melainkan perintah tugas.”
Mendengar kata 'perintah tugas', Alesha terdiam sejenak. Ia sadar, menolak secara terus‑menerus hanya akan memperpanjang waktu dan justru mengganggu urusannya lebih lama lagi.
Lagipula, menentang keputusan petugas kepolisian di tempat umum tentu tidak akan menguntungkan posisinya. Ia melirik sekilas ke arah Dinda yang berdiri di sampingnya, lalu menghela napas panjang.
“Baiklah, kalau memang itu prosedurnya,” jawab Alesha singkat.
“Terima kasih atas pengertiannya. Silakan ikuti kendaraan kami,” ujar Zehar.
Tak lama kemudian, kendaraan patroli melaju mendahului, diikuti oleh mobil sedan hitam milik Alesha. Jarak tempuhnya tidak jauh, hanya sekitar lima menit perjalanan, hingga mereka tiba di sebuah kedai kopi sederhana namun terawat rapi, terletak di pinggir jalan raya yang tidak terlalu padat.
Tempat itu tidak besar, hanya ada beberapa meja dan kursi kayu, serta dinding yang dihiasi lukisan pemandangan kota. Suasana di dalamnya tenang, hanya terdengar suara alat pembuat kopi dan percakapan pelan dari pengunjung lain.
Setelah memarkir kendaraan, Zehar mempersilakan Alesha masuk lebih dulu. Bagas tetap menunggu di luar untuk menjaga kendaraan dan mengawasi keadaan sekitar, memberikan ruang bagi keduanya untuk berbicara.
Alesha duduk di salah satu sudut ruangan dan diikuti oleh Zehar yang duduk di seberangnya.
Pelayan datang menghampiri, dan Zehar memesan dua cangkir kopi hitam serta segelas air mineral. Ia menatap buku catatan yang sudah dibukanya, mencoba memulai percakapan dengan nada yang sepenuhnya formal.
“Nama lengkap?” tanyanya, pena sudah siap di tangan.
“Alesha Camellia,” jawabnya singkat.
“Alamat tempat tinggal?”
Alesha menyebutkan alamatnya dengan jelas dan lugas. Zehar mencatatnya satu per satu, namun jemarinya terasa sedikit kaku saat menuliskan nama yang dulu sering ia ucapkan dengan penuh kasih sayang, kini harus ditulis dalam lembar laporan resmi.
“Pekerjaan?”
“Direktur Operasional.”
Zehar berhenti sejenak, mengangkat wajah perlahan. Matanya menatap Alesha lebih dalam, ada rasa kagum sekaligus rasa terkejut yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Ia ingat betul, tujuh tahun lalu wanita ini baru saja lulus kuliah dan sedang berjuang mencari jalan keluar dari kesulitan ekonomi keluarganya. Kini, ia telah menduduki jabatan tinggi yang hanya bisa dicapai oleh segelintir orang.
“Sudah cukup jauh perjalananmu,” kata Zehar tanpa sadar, suaranya berubah menjadi lebih lembut, tidak lagi bernada petugas.
Alesha menegakkan punggungnya, tatapannya menjadi waspada.
“Begitu juga dengan Bapak. Dulu hanya perwira muda yang baru bertugas, kini sudah menjabat sebagai Ajun Komisaris. Selamat atas kenaikan pangkatnya.”
Ada nada dingin dan sedikit sarkasme dalam ucapan itu, seolah ingin menegaskan bahwa mereka sekarang adalah dua orang asing yang baru bertemu kembali, bukan lagi dua insan yang pernah saling berjanji. Zehar menyadari perubahan nada itu, ia meletakkan penanya perlahan, lalu menatapnya dengan pandangan yang lebih tulus.
“Aku tidak bermaksud mengganggu kenyamananmu, Alesha. Aku sendiri juga tidak pernah membayangkan akan bertemu lagi denganmu di sini, dalam situasi seperti ini,” ujarnya pelan, kali ini tanpa menggunakan sebutan resmi.
“Selama tujuh tahun ini, aku selalu berharap kabar baik untukmu.”
Kedua cangkir kopi yang dipesan tadi diletakkan pelayan di atas meja. Uap panas mengepul naik, membawa aroma khas kopi yang menyebar ke seluruh meja, namun tidak mampu menghangatkan suasana yang terasa kaku dan dingin di antara mereka.
Alesha memegang gagang cangkirnya, jemarinya menyentuh permukaan keramik yang hangat, namun hatinya terasa dingin.
“Harapan yang bagus, tapi kenapa harus menghilang begitu saja tanpa kabar? Kenapa pergi seolah tidak pernah ada apa‑apa di antara kita?” tanya Alesha tiba‑tiba, suaranya sedikit bergetar menahan emosi yang sudah lama terpendam.
“Kau tahu betapa sulitnya saat itu? Keluargaku sedang terpuruk, dan satu‑satunya orang yang aku percaya malah pergi begitu saja.”
Zehar menunduk, memandang permukaan kopi yang masih beriak terkena hembusan napasnya. Ia tahu, suatu saat ia pasti harus menjawab pertanyaan ini, meski ia sendiri tidak yakin apakah jawabannya akan memuaskan atau justru menambah luka.
“Aku tidak pergi karena ingin meninggalkanmu, Alesha,” jawabnya perlahan namun mantap.
“Saat itu aku mendapat penugasan mendadak ke daerah perbatasan yang jauh dan terisolir. Komunikasi terputus total selama bertahun‑tahun, bahkan surat pun sulit sampai. Aku tidak punya pilihan, tugas itu bersifat wajib dan tidak bisa ditunda. Aku tidak bisa memberitahumu apa pun karena aturan kerahasiaan yang ketat.”
Alesha mendengarkan, namun wajahnya masih terlihat ragu.
“Selama tujuh tahun? Tidak ada satu kesempatan pun untuk mengirim kabar? Dunia ini tidak sebesar itu, Zehar.”
“Kau tidak tahu seperti apa tempatnya di sana,” jawab Zehar dengan nada yang lebih dalam, matanya menatap lurus ke mata Alesha.
“Jalanan terputus, sinyal telepon tidak ada, dan kami hidup dalam kesiagaan penuh setiap hari. Aku sering berpikir, mungkin lebih baik jika aku tidak menghubungimu. Bagaimana jika suatu saat aku tidak bisa kembali? Aku tidak ingin membuatmu menunggu dalam ketidakpastian yang lebih menyakitkan.”
Keheningan menyelimuti meja mereka lagi. Hanya suara sendok yang beradu dengan cangkir saat Alesha mengaduk kopinya pelan. Namun, keheningan itu segera dipenuhi oleh pertanyaan yang selama ini terpendam di hati Zehar. Ia menatapnya dengan pandangan yang menyimpan rasa ingin tahu sekaligus rasa terluka.
“Alesha,” panggilnya pelan namun tegas.
“Ada satu hal yang sampai sekarang masih membuatku bertanya‑tanya. Saat aku bertugas di sana, sebelum komunikasi terputus sama sekali… kau mengirimkan pesan itu, memutuskan hubungan kita secara sepihak tanpa penjelasan apa pun. Kenapa kau melakukan hal itu? Jika memang aku pergi tanpa kabar, setidaknya saat itu kita masih punya kesempatan untuk bicara. Kenapa kau mengambil keputusan itu sendirian?”
Alesha tertegun. Jemarinya yang memegang sendok berhenti bergerak. Wajahnya memucat seketika, lalu perlahan berubah menjadi pucat pasi yang menyembunyikan gejolak batinnya.
Ia menunduk dalam, tidak sanggup menatap mata Zehar. Di dalam hatinya, ia tahu alasan sebenarnya, karena utang budi orang tuanya, karena permintaan keluarga Argantara, karena takut jika Zehar tahu kebenaran. Ia takut jika menceritakan semuanya, Zehar akan merasa sakit hati, merasa tidak berdaya, atau justru memaksakan diri berkorban demi dirinya.
Rasa berat menyelimuti dadanya. Ia ingin jujur, namun lidahnya terasa terikat rapat. Akhirnya, ia mengangkat wajah perlahan, matanya berkaca‑kaca namun berusaha tetap tegar.
“Zehar… aku mengerti kenapa kau bertanya hal ini,” ucapnya dengan suara yang pelan namun mantap.
“Aku punya alasannya, percayalah. Tapi untuk saat ini… aku belum bisa memberitahukannya padamu. Bukan karena aku ingin menyembunyikan sesuatu untuk menyakitimu, tapi justru karena aku takut jika kau tahu alasannya nanti, hatimu akan lebih sakit dan kecewa. Aku belum sanggup mengatakannya sekarang.”
Zehar terdiam mendengar jawaban itu. Ia melihat ketulusan dalam sorot mata Alesha, melihat ada beban berat yang ia pikul sendiri. Rasa penasaran dan rasa terluka itu perlahan berubah menjadi rasa iba dan pengertian. Ia mengangguk pelan, menerima jawaban itu meski belum sepenuhnya lega.
“Baiklah,” jawabnya akhirnya.
“Aku tidak akan memaksamu untuk bicara sekarang. Aku hanya berharap, suatu saat nanti, saat kau merasa siap, kau mau menceritakan semuanya padaku. Setidaknya agar aku tidak terus menerka‑nerka dalam kebingungan.”
Alesha menghela napas panjang, merasa sedikit lega karena Zehar tidak mendesaknya lebih jauh.
“Terima kasih sudah mengerti. Suatu saat nanti, aku akan menjelaskan semuanya dengan jujur.”
Perlahan, ketegangan yang terasa sejak awal mulai sedikit mengendur. Mereka tidak membahas masa lalu yang menyakitkan secara mendalam lagi, hanya berbagi gambaran sekilas tentang kehidupan masing‑masing selama tujuh tahun terpisah. Zehar bercerita sedikit tentang tugasnya di daerah yang penuh tantangan, tanpa menyebutkan detail berbahaya, sedangkan Alesha menceritakan perjuangannya membangun karir dari posisi paling bawah hingga mencapai posisinya sekarang.
Setiap kali salah satu berbicara, yang lain mendengarkan dengan saksama, seolah ingin menebus waktu yang hilang selama bertahun‑tahun itu. Suasana yang tadinya terasa canggung dan dingin kini mulai terasa lebih hangat, meski masih ada jarak yang terjaga. Kopi di cangkir mereka sudah setengah dingin, namun tak satu pun yang terburu‑buru untuk meminumnya.
“Jadi, insiden tadi sudah selesai dicatat dengan baik?” tanya Alesha akhirnya, berusaha kembali pada alasan resmi kehadiran mereka di kedai itu.
“Sudah lengkap. Pengemudi van itu juga sudah mengakui kesalahannya, dan proses penyelesaiannya bisa dilakukan secara damai atau melalui jalur asuransi, sesuai kesepakatan kalian,” jawab Zehar sambil menutup buku catatannya.
“Kau tidak perlu khawatir, aku akan mengurus sisanya agar tidak merepotkanmu lagi.”
Alesha menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.
“Terima kasih atas bantuannya, Pak.”
Sebutan “Pak” itu terdengar kembali, namun kali ini tidak lagi terasa kaku atau formal sepenuhnya. Di balik sebutan itu tersimpan rasa hormat, sekaligus pengakuan bahwa di antara mereka kini ada perbedaan posisi dan jarak waktu yang telah mengubah segalanya.
Zehar berdiri lebih dulu, membayar tagihan kopi itu meski Alesha sempat menolak untuk membayarnya sendiri.
“Biarkan aku yang membayarnya. Sekali lagi, maaf jika membuat waktumu terbuang sore ini.”
“Tidak apa‑apa. Setidaknya…” Alesha berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara pelan,
“…setidaknya aku tahu kabarmu sekarang.”
Mereka melangkah keluar dari kedai kopi itu menuju kendaraan masing‑masing. Sore hari semakin larut, langit berubah menjadi jingga kemerahan yang indah. Sebelum masuk ke mobil, Zehar menoleh sekali lagi.
“Alesha, jika suatu saat butuh bantuan apa pun, jangan ragu untuk menghubungi aku. Ini nomor telepon dan alamat kantorku,” katanya sambil menyodorkan secarik kertas bertuliskan nomor kontak yang bukan milik pribadinya.
Alesha menerimanya tanpa berkata apa‑apa, memasukkannya ke dalam saku tasnya dengan hati‑hati. Pandangan mereka bertemu lagi, kali ini tidak lagi penuh keterkejutan, melainkan penuh rasa ingin tahu dan perasaan yang masih samar‑samar.
“Baiklah, hati‑hati di jalan,” ujar Zehar.
“Kau juga,” jawab Alesha singkat.
Mobil mereka melaju berlawanan arah, meninggalkan kedai kopi yang menjadi saksi percakapan canggung namun perlahan mencair itu.
Di dalam mobil masing‑masing, keduanya tenggelam dalam pikiran yang sama nahwa pertemuan ini hanyalah awal dari segalanya, dan mereka sama‑sama sadar bahwa masa lalu yang telah terkubur itu kini mulai bangkit kembali.
kalah saing kmu erhan
real sahabat ini mah😍
kalau bisa up banyak y. plis 🙏