Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 -BAB 2 -NEBULA (3)
Malam yang sama terasa lebih dingin. Setelah meninggalkan Nebula di perpustakaan, Arta tidak kembali ke asrama, melainkan melangkah cepat menuju laboratorium pribadinya—ruang riset terluas di Akademi Sihir. Di sini, ia bebas bereksperimen dengan rumus mana paling rumit sekalipun tanpa gangguan.
Tanpa menyalakan lampu, Arta menghampiri jendela besar yang menghadap langit malam dan merapalkan mantra penglihatan jarak jauh. Fokusnya terkunci pada permukaan bulan yang pucat.
Mungkin hanya perasaanku, tapi kastil itu terlihat sedikit lebih besar? batin Arta gelisah. Sudah berapa lama mereka membangun di sana tanpa terdeteksi radar sihir kita?
Atas perintah sihirnya, sebuah papan tulis bergerak mendekatinya. Arta menghapus seluruh rumus lama dengan satu lambaian tangan, lalu mulai mensketsa permukaan bulan dengan akurasi luar biasa. Jemarinya menari, menganalisis struktur geometris asing yang terpampang di pantulan sihirnya.
"Bangunan yang aneh... aku tidak pernah melihat struktur seperti ini di buku mana pun," bisiknya, mencoba memecahkan teka-teki fungsi menara-menara logam tersebut.
Tok, tok.
Ketukan di pintu membuyarkan konsentrasinya. Arta membuka pintu dan mendapati sosok logam yang baru saja ia temui di perpustakaan.
"Bisakah aku masuk?" suara Nebula terdengar datar namun menekan.
Arta ragu sejenak. Ia sangat menjaga privasi laboratoriumnya, namun akal sehatnya berbisik bahwa Nebula memiliki pengetahuan yang melampaui siapa pun di dunia ini.
"Si... silakan," jawabnya enggan sembari membuka pintu lebih lebar.
Nebula melangkah masuk. Mata mekanisnya memindai setiap sudut ruangan dengan ketelitian yang mengintimidasi, lalu berhenti tepat di depan papan tulis Arta.
"Apa yang kau pikirkan tentang sketsa ini?"
"Awalnya kupikir itu sebuah kastil," jawab Arta sembari membetulkan letak kacamatanya. "Bukan. Itu adalah pangkalan militer." ucap Arta lagi, membetulkan jawabanya
"Benar," Nebula menoleh perlahan. "Tetapi lebih tepatnya, itu pangkalan militer yang dibuat untuk mengawasi kalian. Saat waktunya tiba, koloni pasukan yang jauh lebih besar akan datang terus-menerus. Berdasarkan sejarah masa lalu, invasi besar akan dimulai sekitar tiga puluh hari lagi."
"Tiga puluh hari?! Secepat itu?!" Arta tersentak. Waktu sesingkat itu bahkan tidak cukup untuk melatih satu kompi penyihir tingkat menengah.
Nebula mendekat, bayangannya menutupi papan tulis Arta. "Aku tahu kau adalah orang yang berbakat di kekaisaran ini, Arta. Tapi jika kau terus bergerak sendiri, kita tidak akan pernah memiliki peluang untuk menang."
Arta terdiam. Selama ini, bakatnya yang luar biasa membuatnya menjadi penyendiri yang merasa tidak butuh bantuan. Namun sekarang, ia menyadari bahwa sihir mana saja tidak akan cukup menghadapi ancaman ini.
"Jadi... apa yang harus kulakukan?" tanya Arta, mulai menerima kenyataan pahit tersebut.
"Berbeda darimu, aku mengenal mereka. Aku tahu cara mereka berpikir, bergerak, dan menghancurkan peradaban," Nebula kembali mengaktifkan hologramnya.
Di bawah temaram lampu, kedua jenius dari dunia yang berbeda itu mulai bekerja. Mereka mempelajari fluktuasi energi musuh, jenis persenjataan mematikan, hingga alasan kelam mengapa entitas tersebut menjadi mesin pembunuh tanpa jiwa.
"Mereka bahkan bukan makhluk hidup," gumam Arta saat melihat data biologi musuh yang kosong. Ia menatap Nebula penuh selidik. "Melihatmu... aku jadi bertanya-tanya tentang jati dirimu."
"Aku tahu pikiranmu," potong Nebula. "Meskipun kami berasal dari peradaban yang sama dan diciptakan oleh tangan yang sama, kami memiliki tujuan yang bertolak belakang."
Arta menatap mata mekanis Nebula yang berpendar biru.
"Mereka adalah alat perang yang lepas kendali... dan kau adalah protokol keamanan yang diciptakan untuk menghentikan mereka?"
"Benar," jawab Nebula singkat.
Sejak malam itu, laboratorium Arta kembali disibukkan dengan diskusi yang panjang, menciptakan teori baru dan untuk menyatukan sihir Mana dengan teknologi yang lebih maju, meski semuanya hanya berupa catatan di kertas untuk saat ini.
Sementara itu, di balik dinding istana, Kekaisaran Aurellian memulai misi diplomatik terbesar: menghubungi negara tetangga dan rival lama untuk membentuk aliansi global. Badai besar akan datang dalam tiga puluh hari, dan kini dunia dipaksa untuk bersatu atau binasa bersama dalam kehampaan.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat