"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita penggoda katanya ?
Rima yang sedang menyajikan makan dan minuman pesanan customer dicafe tempat dia bekerja, tiba - tiba melihat ke arah lonceng pintu berbunyi menandakan ada seseorang yang datang atau pergi dari cafe tersebut.
Rima melihat tiga orang masuk dengan sigap dia berjalan menghampiri ketiga orang tersebut yang tidak lain adalah Bima bersama dengan Hilda dan Loka "permisi tuan, mari saya antar ke tempat duduk yang masih kosong" ucap Rima dengan ramah dan sopan.
Bima melihat Rima dengan tersenyum dan sedikit kagum karena Rima terlihat cantik walaupun tanpa riasan diwajahnya, tanpa Rima sadari sepasang mata sedari tadi melihat gerak gerik Rima saat pertama kali memasuki cafetaria itu.
Loka duduk disamping Hilda yang sedang melihat buku menu didepanya dengan diam, terdengar suara Bima memesan sebuah makanan dan minuman.
Bima bertanya pada Loka "bung apa yang ingin kau pesan ?" Loka menatap Rima membuat Rima terkejut saat matanya bertemu dengan mata tajam milik Loka.
Ingatan Rima seketika kembali pada kejadian malam itu "Hey apa kau sudah mencatat pesananku ?" Rima tidak sengaja menjatuhkan catatan kecil yang sedang dia pegang karena terkejut.
Mata loka tidak lepas dari Rima "ah maafkan saya nona, bisa anda ulangi sekali lagi apa saja pesanan anda ?" Hilda tersenyum dan mengangguk "baiklah aku ulangi pesananku" Loka terlihat sangat tenang bahkan seperti tidak pernah mengenal Rima.
Namun sebenarnya didalam fikiran Loka kembali mengingat malam saat dia meniduri seorang wanita digang sempit dekat rumah bordil Bella, Loka sangat mengingat mata indah milik Rima tidak lupa dengan bibir merah milik Rima yang dengan kurang ajarnya dia cecap dengan penuh nafsu.
"Untuk pesanan dia, samakan saja denganku" Hilda memberitahu Rima seraya menunjuk seseorang yang sedang duduk disampingnya yaitu Loka.
"Baik nona, selagi pesanan dibuat mohon bersabar dalam menunggu" ucap Rima memberitahu pada tiga orang dihadapanya, Rima melangkah pergi dari meja tempat Loka dan kedua temannya memesan makanan.
Mata tajam milik Loka tetap tidak lepas dari tubuh ramping Rima "kau suka dengan wanita itu ?" Bima berkata dengan bercanda saat melihat pandangan Loka tidak lepas dari Rima.
"Siapa ?" Hilda terkejut dan bertanya pada Bima "kawan kita ini sepertinya menyukai pelayan cantik tadi" Loka berdehem kemudian menghela nafasnya "tidak ada waktu untuk hal - hal seperti itu" Hilda tersenyum kikuk saat mendengar penuturan Loka.
"Mamamu selalu menelfonku dan bertanya apakah kau normal atau" Loka membekap mulut Bima membuat Bima seketika menghentikan ucapanya.
"Jaga bicaramu, ini didepan umum bodoh" Bima menahan tawanya kemudian mengangguk mengerti, Sementara Rima yang berada didalam dapur seketika menyentuh dadanya dan menghela nafas.
"Apa dia lelaki malam itu ?" gumam Rima didalam hati seakan ragu dengan prasangkanya "Iya pasti lelaki bajingan itu dia, mata mereka begitu mirip dan aku sangat mengingat mata itu walaupun dikeadaan gelap" gumam Rima sekali lagi didalam hatinya.
Matanya indah milik Rima tiba - tiba terasa panas saat kembali teringat peritiwa malam laknat yang merengut kesuciannya "HEY KENAPA BENGONG DISANA, CEPAT KAU ANTAR PESANAN ITU !!" salah satu teman Rima meneriaki Rima yang saat ini sedang menata hatinya agar lebih tegar.
"Huuuft" Rima menghela nafas sebelum bersiap mengambil makanan yang masih mengepulkan asap karena baru saja matang untuk dia sajikan kepada pelanggan cafetaria itu.
Rima seperti merasakan seseorang tengah menatapnya dari belakang namun dia sama sekali tidak berani untuk melihat kebelakang, karena saat ini dirinya tengah menyajikan pesanan makanan didekat meja Loka.
"Apa kau menyukainya As ?" Bima sengaja mengeraskan suaranya saat melihat Loka lagi - lagi memperhatikan gerak - gerik Rima "Tidak, typeku bukan wanita murahan" Bima dan Hilda terkejut dan secara bersamaan menatap Loka dengan bingung.
"Bagaimana kau mengatakan seperti itu sementara kau saja belum mengenalnya As ?" Hilda menanyakan suatu hal bodoh menurut Loka.
"Apa kau tidak melihat cara berpakaiannya ? terlihat seperti wanita murahan, dengan dua kancing teratas bajunya terbuka" Bima seketika melihat Rima dan benar saja kancing teratas baju Rima terbuka.
Rima yang mendengar jawaban dari Loka merasakan sengatan sakit yang menjalar didadanya, entah kenapa dia saat ini sangat kecewa dan ingin sekali dia menjerit didepan Loka bahwa dirinya bukan wanita seperti itu.