Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TETAP MENJADI ISTRI YANG PERCAYA
Eva masih duduk di ruang tunggu pusat terapi. Ponselnya bergetar pelan di tasnya.
Satu pesan masuk. Dari Bu Ratna.
“Eva.. say maaf ya aku chat mendadak. Ini aku barusan banget lihat Mas Pur di hotel daerah Kaliurang. Sama perempuan. Aku sampe lihat dua kali, takut salah orang. Tapi kok kayaknya bener Mas Purbaya deh.. Soalnya mereka keluar bareng dari dalam hotel. Maaf banget ya kalau aku lancang. Aku cuma kaget saja, langsung inget kamu.”
Eva membaca pesan itu dengan saksama, tidak juga panik. Ia mengulanginya sekali lagi, memastikan tidak ada yang ia salah pahami.
Wajahnya tetap tenang.
Laporan seperti ini bukan hal baru baginya.
Bahkan sebelum mereka menikah, ia sudah pernah mendengar hal-hal serupa tentang Purbaya. Selentingan. Peringatan. Bisikan orang lain yang seolah tahu lebih banyak tentang suaminya dibanding dirinya sendiri.
Namun selama ini, ia memilih berdiri di tempatnya sendiri.
Ia tidak suka bereaksi berdasarkan kabar dari orang lain.
Eva mengambil ponselnya dan membalas pesan itu dengan singkat.
“Oh iya Mbak, itu memang saudaranya Mas Purbaya kok. Kebetulan lagi ada urusan di Jogja, jadi Mas cuma bantu nemenin saja. Makasih ya Mbak sudah ngabarin.”
Tidak ada emosi berlebihan dalam kalimat itu. Tidak ada kemarahan. Tidak ada kepanikan.
Hanya pernyataan yang jelas.
Ia meletakkan kembali ponselnya.
Di dalam dirinya, ada sesuatu yang bergerak. Lebih seperti kelelahan yang sudah lama ia kenal, tapi tidak pernah ia tunjukkan.
Ia tetap duduk tegak.
Tetap menjadi istri yang percaya.
Eva termenung lama setelah pesan itu terkirim. Ponselnya masih berada di genggaman, tapi layar sudah gelap sejak tadi.
Pikirannya mulai merunut kembali ke kembali kejadian siang itu.
Suara napas Purbaya di telepon. Berat. Terputus-putus. Seperti seseorang yang baru saja berlari--atau melakukan sesuatu yang menguras tenaga.
“Habis naik tangga,” katanya.
Eva mengingatnya dengan jelas. Bahkan saat itu ia sempat bertanya kenapa tidak memakai lift. Jawabannya sederhana. Lift antre. Lama.
Saat itu Eva tidak berpikir apa-apa. Ia percaya saja.
Tapi sekarang, setelah pesan Bu Ratna, jawaban itu terasa... terlalu mengada-ada.
Eva juga teringat suasana di seberang telepon. Terlalu sunyi. Tidak ada suara mahasiswa. Tidak ada suara pintu. Tidak ada percakapan. Tidak ada gema lorong kampus.
Sepi.
Satu hal lagi, mereka baru saja kembali ke Jogja. Terlalu cepat rasanya jika Purbaya sudah langsung sibuk di kampus, apalagi sampai harus naik tangga terburu-buru seperti itu.
Purbaya bukan tipe dosen yang tergesa. Ia selalu terjadwal. Terukur.
Kecurigaan itu datang perlahan, bukan seperti badai melainkan seperti retakan halus pada kaca. Tidak terlihat jelas, tapi cukup untuk mengubah segalanya.
Eva menutup mata sejenak.
Ia ingin percaya.
Ia selalu ingin percaya.
Tapi kali ini, kepercayaan itu tidak lagi terasa utuh.
Lamunan itu pecah saat pintu ruang terapi terbuka perlahan.
Seorang terapis keluar lebih dulu, lalu di belakangnya Noya berjalan pelan. Tangannya menggenggam boneka kain berbentuk kelinci, boneka yang sama yang selalu ia bawa ke mana pun.
“Noya...” panggil Eva lembut.
Noya berhenti. Ia menoleh. Matanya mencari sumber suara itu.
Begitu melihat Eva, wajahnya langsung berubah cerah.
“Mama...”
Ia berjalan cepat, langkahnya kecil dan sedikit goyah. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung memeluk kaki Eva.
Seperti biasa. Noya selalu memulai dengan pelukan, bukan kata-kata.
Eva berlutut dan memeluknya balik.
“Iya... Mama di sini.”
Noya tidak langsung melepas pelukannya. Ia menempel beberapa detik lebih lama, seolah memastikan Mamanya benar-benar ada.
Eva mengusap punggungnya perlahan.
“Hari ini Noya ngapain aja?”
Noya tidak langsung menjawab. Ia mundur sedikit, lalu mengangkat boneka kelincinya.
“Kelinci...”
“Iya... kelinci.”
Noya mengangguk, lalu mengulang,
“Kelinci... kelinci...”
Ia memang sering begitu, mengulang kata yang membuatnya nyaman.
“Tadi... susun...” katanya lagi, sambil menunjuk ke dalam ruangan.
“Susun apa?”
Noya berpikir sebentar. Bibirnya bergerak pelan.
“Warna...”
“Warna apa?”
“Merah...”
Ia berhenti.
“Biru...”
Eva tersenyum.
“Pintar.”
Noya tersenyum kecil. Lalu ia tiba-tiba mengambil tangan Eva dan meletakkannya di kepalanya.
Isyarat yang sangat Eva kenal.
Ia minta dielus.
Eva mengusap rambutnya pelan.
“Good boy,” bisiknya.
Noya mengulang pelan, bangga,
“Good boy...”
Lalu ia bersandar ke tubuh Eva, tenang. Tidak bertanya apa-apa. Tidak tahu apa-apa.
Di dunia kecilnya, yang penting hanya Mamanya ada.
Eva memeluknya sedikit lebih erat.
Terapis yang mendampingi Noya berdiri di samping mereka. Seorang perempuan muda dengan senyum hangat.
“Bu Eva,” sapanya pelan.
Eva menoleh. “Iya, Mbak.”
“Tadi Noya bagus sekali.”
Eva langsung menatapnya penuh harap. “Benarkah?”
Terapis itu mengangguk.
“Iya. Noya sudah lebih fokus dibanding sesi sebelumnya. Dia bisa menyusun balok warna tanpa banyak diarahkan. Tadi juga mau mengikuti instruksi sederhana.”
Eva tanpa sadar menatap putranya.
Noya sedang sibuk memainkan telinga boneka kelincinya, tidak memperhatikan percakapan mereka.
“Dia anak yang pintar, Bu,” lanjut terapis itu lembut. “Perkembangannya sangat bagus.”
Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Eva, rasanya seperti sesuatu yang lama ia tunggu.
Bukan karena ia meragukan Noya. Tapi karena dunia sering meragukannya.
Eva mengusap kepala Noya pelan. “Noya dengar nggak?” bisiknya. “Kata Mbak terapis, Noya pintar.”
Noya menoleh.
“Pintar...” ulangnya pelan, lalu tersenyum kecil.
Eva tersenyum, tapi matanya terasa hangat. Selama ini, setiap kemajuan sekecil apa pun adalah kemenangan. Bukan hanya untuk Noya. Tapi juga untuk dirinya.
Eva menggandeng tangan kecil Noya keluar dari ruang terapi.
“Kita pulang ya, Nduk.”
Noya berjalan di sampingnya. Eva menunduk, tersenyum lembut. “Noya tadi pintar sekali. Mama bangga lho.”
Noya menoleh, matanya berbinar.
“Karena Noya pintar... mama mau kasih hadiah,” lanjut Eva. “Noya mau apa?”
Noya membuka mulut, hendak menjawab. Namun suara ponsel Eva berdering. Nama Mas Poer muncul di layar. Eva langsung mengangkatnya.
“Iya, Mas?”
Di seberang terdengar suara Purbaya. “Aku sudah di Sate Klathak Pak Pong,” katanya. “Satenya lagi disiapkan, kamu nggak ada pesanan lain?”
Eva menoleh ke arah parkiran, lalu berkata spontan, “Kebetulan aku juga masih di luar. Biar aku menyusul ke sana saja, Mas. Sekalian kita pulang bareng.”
Ada jeda.
Sangat singkat. Tapi cukup terasa.
“Oh... nggak usah, Dek,” jawab Purbaya cepat. “Di sini penuh sekali. Panas juga. Kasihan Noya.”
Eva terdiam sebentar.
“Kita ketemu di tempat lain saja nanti aku hubungi lagi,” lanjut Purbaya.
“Iya, Mas.”
“Sudah dulu ya.”
Telepon terputus.
Eva menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama.
Di sisi lain, Purbaya berdiri di dekat mobilnya, ponsel masih di tangan.
Alya duduk di kursi penumpang depan. Ia melihat ke arah Purbaya tanpa bertanya. Purbaya menarik napas pelan. Ia tidak mungkin membiarkan Eva datang ke sini. Alya masih bersamanya.
“Al, Aku antar kamu dulu,” kata Purbaya akhirnya. Alya tersenyum tipis.
Mobil itu kembali bergerak, menjauh dari warung sate, menuju penginapan tempat Alya menginap.
Di depan penginapan, mesin mobil sudah mati, tapi tidak satu pun dari mereka langsung turun.
Alya menoleh lebih dulu.
Tatapan itu yang sejak tadi ditahan kini kembali terbuka. Purbaya membalasnya. Ada sesuatu yang ia coba lawan, tapi tubuhnya justru bergerak mendekat. “Aku harus pulang,” katanya pelan.
Alya tersenyum tipis. “Sebentar saja.” Kalimat itu sederhana. Tapi cukup.
Mereka masuk ke dalam kamar penginapan yang masih sama seperti beberapa jam sebelumnya. Pintu tertutup, dan jarak yang tadi sempat tercipta kembali lenyap.
Tidak ada banyak kata.
Hanya napas yang saling bertabrakan, dan rindu yang dilepaskan tanpa pikir panjang.
Purbaya tahu waktunya terbatas. Ia tahu Eva menunggu. Ia tahu ia seharusnya tidak berada di sana. Namun tubuhnya memilih mengkhianati semua.
Beberapa menit kemudian, semuanya kembali sunyi. Purbaya berdiri di tepi ranjang, merapikan pakaiannya dengan gerakan cepat. “Aku harus pergi sekarang,” katanya.
Alya duduk diam, memandangnya tanpa berusaha menahan. Ia sudah tahu bagaimana akhirnya.
Purbaya mengambil kunci mobilnya, lalu menoleh sekali lagi sebelum keluar. Di dalam dadanya, tidak ada rasa lega. Hanya kekosongan yang semakin sulit ia jelaskan.
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
bgm mas pur.. boleh😄😄