NovelToon NovelToon
SIMURA SANG PEWARIS

SIMURA SANG PEWARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Romansa Fantasi
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: LukmanÆ

Simura Seorang pangeran yang diasingkan dinegeri asing karena difitnah saudaranya. Dia menonjol dalam bidang strategi dan politik namun disisi lain ada sebuah kekuatan magis didalam tubuhnya yang sengaja ia sembunyikan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LukmanÆ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Baru

Perjalanan dari Desa Laonian menuju ibukota bukanlah perkara mudah. Jika kereta kuda membutuhkan waktu sehari penuh, maka berjalan kaki akan memakan waktu dua hari dua malam. Kereta kuda mereka terus memacu langkah di bawah naungan rembulan, melewati pegunungan yang sunyi, lembah yang curam, hingga menderu di tepian sungai tanpa jeda istirahat.

​Saat fajar menyingsing, mereka berhenti sejenak di puncak sebuah bukit untuk melepas lelah. Dari kejauhan, di balik kabut pagi, tampak siluet megah Kota Daxu, ibukota sekaligus jantung kekuasaan Dinasti Mei. Kota itu terlihat seperti raksasa yang sedang bangun dari tidurnya. Butuh setengah hari lagi bagi mereka hingga akhirnya roda kereta menyentuh jalanan berbatu di depan gerbang utama.

​Benteng kokoh yang menjulang tinggi seolah hendak menyentuh langit, dengan ribuan pasukan bersenjata lengkap yang bersiaga di atas tembok. Di gerbang utama, antrean pendatang diperiksa dengan sangat ketat. Namun, sebuah keanehan terjadi. Saat kereta mereka mendekat, para penjaga justru membukakan jalan tanpa pemeriksaan sedikit pun. Ribuan prajurit yang berjaga mendadak berbaris rapi, menundukkan kepala dengan khidmat.

​Simura, yang merasa ganjil, refleks menoleh ke arah Li Xiu.

​"Kenapa? Ada yang salah dengan wajahku?" tanya Li Xiu dengan nada datar namun penasaran.

​"Tidak ada," jawab Simura singkat sambil membuang muka, mencoba menyembunyikan kecurigaannya.

​Tak lama setelah melewati hiruk pikuk kota, mereka berhenti di depan sebuah kediaman megah dengan halaman seluas lapangan pacu. Beberapa pelayan berseragam rapi sudah berdiri menyambut. Simura turun dari kereta dengan mata yang tak berhenti mengagumi arsitektur bangunan tersebut. Bahkan rumah bangsawan terkaya di negaranya, Nesia, tampak seperti pondok sederhana jika dibandingkan dengan kemegahan ini.

​Pandangan Simura tertuju pada sebuah papan kayu besar di atas pintu utama yang bertuliskan: "RUMAH SANG PAHLAWAN".

​Tangan Simura bergerak hendak menurunkan papan itu karena merasa terlalu berlebihan, namun seorang pelayan segera menahannya dengan wajah pucat.

"Mohon maaf, Tuan. Tulisan itu adalah anugerah langsung dari Kaisar. Barang siapa yang melepasnya tanpa izin, dianggap menentang titah Kaisar," bisik pelayan itu gemetar.

Simura tertegun, lalu perlahan menurunkan tangannya.

​Mereka pun masuk ke dalam. para pelayan memandu mereka berkeliling, mulai dari balai tamu yang luas, ruang tengah yang hangat, hingga dapur dan paviliun pribadi.

​"Hari sudah mulai gelap. Silakan pilih kamar mana yang Nona suka," ujar Simura saat mereka berdiri di lorong kamar.

​"Aku tidak tertarik memilih. Aku akan tidur di kamarmu," jawab Li Xiu tanpa ragu, suaranya tenang seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia.

​"Tidak bisa! Kita bukan suami istri. Apa kata orang nanti?" Ucap Simura tersentak

​"Memang bukan. Tapi apa salahnya sekamar sebagai teman?" balas Li Xiu enteng.

"Rumah ini terlalu luas dan kita hanya tinggal berdua. Akan lebih efisien jika kita berada di satu ruangan yang sama untuk berjaga jaga." Saran Li Xiu.

​Simura menghela napas panjang, tahu bahwa berdebat dengan Li Xiu adalah hal sia sia.

"Ide bagus. Kalau begitu, aku akan mengambil kasur tambahan dari kamar sebelah." ucap Simura

​Li Xiu ingin memprotes sebenarnya bukan kasur terpisah yang ia inginkan. namun lidahnya kelu. Akhirnya, malam itu mereka tidur dalam satu ruangan yang sama, namun dengan dua ranjang yang berjarak. Simura menyadari wajah Li Xiu tampak muram dan kesal, tapi ia memilih bungkam karena tidak mengerti di mana letak kesalahannya.

​"Kenapa dia? Apa aku salah bicara?" gumam Simura dalam hati sambil merapikan selimutnya.

​"Dasar perjaka tidak peka!" dengus kecil Li Xiu diranjang seberang sambil memunggungi Simura

​Keesokan paginya, kicau burung di dahan pohon persik membangunkan Li Xiu. Ia melihat sisi kasur Simura sudah tertata sangat rapi, tanda Simura sudah bangun lebih awal. Li Xiu berjalan menuju jendela dan menyibak tirai. Di bawah sana, ia melihat Simura sedang berbincang santai dengan seorang pelayan di balai tamu. Sebuah senyuman manis terukir di wajah Li Xiu. perasaan kagum yang selama ini ia simpan perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

​Di ruang makan, Simura sudah menunggu. Meja panjang itu dipenuhi hidangan mewah ala perjamuan istana. Simura merasa sangat sungkan, ia berkali kali mengajak para pelayan untuk duduk makan bersama, namun mereka menolak dengan hormat karena terikat tata krama.

​Tiba tiba, langkah kaki halus terdengar. Sosok wanita cantik dengan riasan tipis dan pakaian sutra khas budaya Timur muncul. Itu adalah Li Xiu. Simura sampai lupa menyuapkan makanannya, tertegun melihat kecantikan wanita di depannya.

​"Tumben... Nona berdandan," kata Simura, suaranya sedikit parau karena canggung.

​"Kenapa? Kau tidak suka? Aku bisa menggantinya sekarang," jawab Li Xiu, kembali ke mode dinginnya yang khas.

​"Bukan begitu. Nona tampak sangat... cocok dengan riasan itu," puji Simura kikuk.

​Mendengar itu, jantung Li Xiu berdegup kencang. Ia nyaris tersipu, namun harga dirinya berhasil menutupi rona merah di pipinya. Untuk mencairkan suasana, Simura menawarkan teh dengan tangan yang sedikit gemetar, yang diterima Li Xiu dengan gerakan anggun.

​Setelah sarapan, mereka bersantai di taman belakang. Simura berencana pergi ke serikat pedagang untuk membeli keperluan harian, dan Li Xiu dengan antusias meminta ikut. Namun, baru saja mereka hendak bersiap, seorang pelayan berlari terengah engah menghadap mereka.

​"Tuan! Nyonya! Di depan gerbang... ada puluhan pasukan berbaju zirah perak sedang berbaris!" ucap Pelayan itu panik

​Sontak, Simura dan Li Xiu saling pandang. Simura segera bergegas menuju gerbang depan untuk melihat siapa yang berani mengusik ketenangan rumah itu.​(Bersambung)

1
3RSEL
cerita nya bagus dan mudah di pahami, alurnya juga menarik.Meskipun tidak dijelaskan dengan detail tingkatan kekuatan si cerita ini.Semangat terus Thor.
3RSEL
semangat terus Thor
3RSEL
sejauh ini cerita nya bagus dan enak dibaca.Tetap semangat, berkarya tidaklah mudah jadi sehat sehat selalu.Pertahankan alur ceritanya, efesien tidak bertele-tele namun tetap jangan terlalu dipaksakan.😁😁😁Maaf bukan menasehati hanya keinginan saya saja ✌️✌️✌️
LukmanÆ: ok, makasih sarannya👍👍
total 1 replies
Leha Rahman
lanjut Thor 😍
Andira Rahmawati
hadir..
Alia Chans
First baca 1 bab dah seru
semangat thor ✍️🤭😉🌹


kalo berkenan mampir juga ya thor😉🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!