Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Mengamati
Angin malam menyisir sisi tebing itu seperti deru pisau tipis. Langit gelap tanpa bintang, seolah cahaya enggan turun mendekati lembah yang sunyi. Di puncak tebing paling tinggi, seorang perempuan berdiri dengan tubuh ramping terbungkus jubah hitam lembut yang bergerak mengikuti angin. Rambut panjangnya jatuh lurus, hitam pekat, bergoyang pelan seperti bayangan air.
Ru Lan menatap ke bawah tanpa perubahan pada wajahnya. Mata perempuan itu selalu tampak tidak memiliki pantulan emosi—datarnya bukan karena dingin, melainkan karena terbiasa melihat manusia seperti potongan kecil teka-teki yang harus dibuka lapis demi lapis.
Di bawah sana, Lin Feiyan berlatih sendirian di lembah gelap tempat kabut menggantung rendah. Cahaya biru lembut dari inti qi-nya berkedip-kedip, labil namun bersih, seperti kunang-kunang yang belum tahu cara terbang.
“Qi yang stabil, tapi terlalu jujur,” gumam Ru Lan perlahan, suaranya setenang bisikan arus air. “Dan aura… itu bukan sesuatu yang dimiliki anak sembarang tempat.”
Ia memiringkan kepala sedikit, mengamati lebih dalam. Bukan kepada Feiyan, tetapi pada potongan udara di sekelilingnya—alur-alur qi, arah angin, pola tekanan spiritual. Ada garis kecil yang tidak mengikuti pola alam, garis yang hanya muncul ketika Feiyan menusukkan jari ke arah bayangan pohon dan melepaskan napas.
“Kau menarik perhatian hal yang seharusnya tidak terbangun begitu cepat.” Matanya menyipit tipis.
Suara langkah lembut terdengar di belakangnya. Dua orang muncul dari balik kabut, mengenakan mantel gelap dengan corak perak tipis pada kerahnya. Mereka menunduk rendah, tidak berani menatap mata Ru Lan.
“Panggilan Nyonya,” ucap salah satu dari mereka, suaranya bergetar walau ia berusaha menyembunyikannya.
Ru Lan tidak menoleh. “Feiyan. Anak itu.”
Dua bawahan itu mengikuti pandangan Ru Lan ke bawah tebing. Salah satu menelan ludah ketika melihat cahaya qi Feiyan yang lembut namun bersih seperti air musim semi.
“Perintah?” tanya bawahan kedua.
“Uji dia,” jawab Ru Lan pendek. “Tapi jangan biarkan ia mengetahui siapa yang mengirim.”
Kedua bawahan itu membungkuk lebih dalam, namun tubuh mereka justru semakin kaku. Perintah Ru Lan bukan sekadar tugas; itu sekaligus ancaman halus. Gagal berarti hilang kepercayaan, dan bagi Clan Ru, hilang kepercayaan berarti lenyap dari dunia sebelum fajar.
Ru Lan menggerakkan jari. Di udara, bayangan tipis seperti garis tinta melayang sesaat sebelum menyusup ke tanah. Shadow Binding—teknik khas Ru Lan—mengikat langkah dua bawahannya ke kehendaknya. Bukan untuk menyakiti, tetapi untuk memperingatkan bahwa mereka berada dalam jarak kendalinya.
“Gunakan Low-Darkness Steps untuk mendekat. Jangan tinggalkan jejak. Dan jika anak itu menggunakan teknik yang tak biasa, laporkan.” Nada suaranya tetap datar, seolah ia hanya berbicara pada angin malam.
“Baik,” jawab keduanya serempak.
Di bawah tebing, Feiyan menarik napas panjang. Dadanya naik turun pelan, wajahnya dipenuhi peluh. Cahaya qi-nya masih belum stabil, tapi malam ini ia lebih tenang daripada sebelumnya. Ia duduk bersila di bawah pohon besar, daun-daunnya bergetar lembut.
“Aku harus menyusul yang lain…” bisiknya, lebih seperti kalimat untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada tujuan sesungguhnya. “Gao Lian selalu mengatakan aku lambat… Yan Mei ingin aku belajar bertarung lebih cepat… Xi Qinxue… dia bilang aku punya potensi…”
Ia tersenyum kecil tanpa menyadari betapa rentannya ia di tengah bayangan malam.
Senyum seperti itu—tulus, polos, dan tanpa perlindungan—adalah senyum yang dapat memancing bahaya lebih cepat dari apa pun.
Feiyan berdiri, mengatur napas, lalu mulai menggerakkan tangannya mengikuti alur teknik sederhana yang dijarkan tetua: Breath of Pure Mist. Qi putih tipis muncul dari pori-porinya, membungkus tubuhnya dalam kabut lembut. Namun teknik itu terlalu dasar untuk melindunginya dari pemburu malam.
Di sisi lain lembah, dua bawahan Ru Lan bergerak cepat namun tanpa suara, langkah mereka tenggelam dalam kegelapan berkat Low-Darkness Steps. Keduanya telah menutup wajah dengan topeng hitam polos.
“Tingkat qi-nya rendah,” bisik salah satunya. “Bagaimana kita menguji tanpa membunuh?”
“Perintahnya jelas,” jawab yang lain. “Paksa dia bertahan. Itu saja.”
Mereka menghentikan langkah ketika Feiyan mulai bergerak lagi, menutup mata dan menyerap udara dingin malam. Di mata seorang pemula, area itu tampak kosong. Namun bagi orang berpengalaman, tekanan spiritual di balik pepohonan menandakan bahaya mendalam.
Feiyan membuka mata pelan ketika angin berubah arah. Ia merasakan sesuatu. Tidak jelas, tidak kuat, hanya seperti goresan halus di kulit belakang lehernya.
“…ada… siapa?” Ia memandang sekeliling.
Tidak ada suara. Tidak ada bayangan bergerak. Hanya keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu sunyi.
Ia mencoba menenangkan diri. “Mungkin hanya angin…” Tapi hatinya menolak percaya.
Dalam hitungan detik, serangan datang.
Sebuah garis qi biru gelap melesat dari balik pohon—Moon Fang Slash. Serangan itu tidak menimbulkan suara saat dilepaskan, namun ketika memotong udara, terdengar getaran rendah yang menusuk telinga Feiyan.
Ia terperanjat, tubuhnya bergerak mundur tanpa sempat berpikir, tumitnya terantuk batu. Serangan itu melewati wajahnya, meninggalkan goresan tipis pada pipi kiri.
Feiyan mengangkat tangan gemetar, menyentuh darah di pipinya. “Siapa kalian…?”
Tidak ada jawaban. Dua sosok bertopeng hitam muncul dari kegelapan.
Feiyan mundur lagi, napasnya tersengal. Qi tipis berkumpul di telapak tangannya, namun jumlahnya tidak sebanding dengan aura gelap dari dua lawan itu.
“Kenapa menyerangku?” Ia menahan napas, mencoba menemukan alasan. “Aku tidak—”
Serangan kedua meluncur, lebih cepat, lebih tajam. Feiyan mengangkat tangannya untuk menahan, qi putihnya pecah dalam benturan pertama.
Tubuhnya terlempar ke belakang, menghantam tanah. Rasa sakit menyebar dari bahu hingga pinggang, membuatnya memutar badan sambil menekan tanah agar bisa bangun.
“Aku… aku tidak ingin melawan,” ucapnya putus napas. “Kalau kalian punya masalah, kita bisa—”
Serangan ketiga datang tanpa belas kasihan.
Feiyan memiringkan tubuh, merunduk, melompat mundur, tapi teknik dasar tidak cukup menghadapi dua lawan yang realm-nya lebih tinggi. Ia menangkis satu serangan, namun serangan kedua memukul ulu hatinya dan membuatnya terbatuk darah.
Di puncak tebing, Ru Lan menatap tanpa berkedip.
“Langkahnya terlalu bersih. Sikapnya terlalu jujur.” Suaranya turun sedingin malam. “Tapi reaksi naluriahnya… itu bukan reaksi seorang pemula biasa.”
Bawahannya terus menekan Feiyan. Yang satu menyerang dengan Moon Fang Slash, yang lain bergerak cepat mengitari Feiyan dengan Low-Darkness Steps. Serangan-serangan itu tidak dimaksudkan untuk membunuh, namun intensitasnya mampu mematahkan keberanian siapa pun.
Feiyan tersungkur, tangan gemetar menahan tanah. Napasnya terputus-putus. “A-aku tidak kuat… tapi aku… aku tidak boleh jatuh…”
Ia mencoba berdiri, namun lututnya menyerah. Qi di dalam tubuhnya bergetar kacau, seperti benang yang hampir putus. Ia merasa kedinginan di ujung jari, seolah tubuhnya mulai kehilangan tenaga.
Salah satu penyerang mendekat, pedang qi terangkat, ujungnya mengarah tepat ke jantung Feiyan.
Feiyan mengangkat wajah dengan mata melebar ketakutan. Napasnya tercekat. Ia tahu serangan itu tidak bisa ia hindari.
Di kejauhan, Ru Lan mengerutkan kening kecil. “Hampir terlalu mudah.”
Dan tepat saat pedang qi itu meluncur menuju jantung Feiyan—
sesuatu berubah.
Pedang qi itu menembus udara dengan garis sempurna, meluncur menuju dada Feiyan tanpa keraguan. Dalam jarak sedekat itu, tak ada teknik dasar, tak ada refleks, tak ada keberuntungan yang mampu menyelamatkan. Tubuh Feiyan terpaku oleh rasa takut yang membuat napasnya terhenti. Udara terasa terlalu padat untuk dihirup. Ia hanya menatap ujung pedang qi itu—cahaya biru gelap yang seolah hendak memutuskan hidupnya.
Namun dalam sepersekian detik, udara di belakang Feiyan berubah. Bukan angin. Bukan tekanan qi. Bukan apa pun yang pernah dirasakan manusia.
Udara retak.
Seperti kaca tipis yang dipukul benda halus, muncul garis hitam melengkung, tipis seperti rambut, menggantung di udara tepat di belakang punggung Feiyan. Ruang itu sendiri melengkung, terdistorsi, seolah menolak keberadaan dunia di sekitarnya.
Retakan itu tidak berbunyi, tetapi getarannya menusuk tulang. Bawahan Ru Lan yang menyerang tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Moon Fang Slash yang semula lurus menghantam jantung Feiyan, berubah arah setengah jengkal ke kanan—cukup untuk tidak menembus tubuhnya. Serangan itu menggores batu di sampingnya, memecahkan permukaannya dalam pola tak beraturan.
Feiyan hanya merasakan angin panas melewati dadanya. Tubuhnya tersentak mundur, namun ia tidak tahu apa yang terjadi. Ujung pedang qi itu nyaris membunuhnya—nyaris menyentuh kulitnya—tapi tiba-tiba terpental, seperti ditolak oleh sesuatu yang tak terlihat.
“A-apa…?” suaranya pecah.
Retakan hitam itu berdenyut pelan, seolah bernapas. Cahaya di sekelilingnya menggelap, lalu kembali terang, seperti kedipan mata dari sesuatu yang sedang tertidur tetapi hampir terbangun.
Lawan yang menyerang terhuyung, menatap udara di belakang Feiyan dengan mata melebar ketakutan.
“Apa itu…? Ruang… retak? Tidak mungkin—”
“Diam,” bisik rekannya, tetapi suaranya sendiri bergetar.
“Kau lihat sendiri! Itu—itu bukan teknik manusia!”
Feiyan memalingkan kepala pelan. Matanya menangkap garis hitam itu. Hanya sebentar—sebelum ia berkedip, dan retakan itu menghilang, lenyap seperti asap yang tertiup angin.
“…tadi… apa?” Feiyan menatap tangannya sendiri, lalu punggungnya yang kosong. Tidak ada apa pun. Tidak ada cahaya aneh. Tidak ada retakan. Tidak ada bukti bahwa sesuatu baru saja menyelamatkannya dari kematian.
Ia mengepalkan jari. “Aku… berhalusinasi?”
Tapi tubuhnya masih bergetar keras. Ia tahu perasaannya tidak salah. Ada sesuatu yang muncul. Sesuatu yang menolak kematian yang seharusnya menimpanya.
Di atas tebing, Ru Lan membeku.
Untuk pertama kalinya malam itu, mata datar perempuan itu berubah—meski sedikit. Ada kilatan yang istimewa, dingin, namun penuh rasa ingin tahu yang mematikan. Jari Ru Lan terangkat perlahan, seolah ingin menyentuh udara jauh di bawah sana.
“…Void.” Suaranya turun seperti patahan es. “Retakan ruang… muncul dari tubuhnya.”
Ia menunduk sedikit, rambutnya jatuh melewati bahu, menambah aura gelap yang mengelilinginya.
“Anak itu… membawa sesuatu yang seharusnya tidak bisa disebutkan.”
Di lembah, dua bawahan yang masih ketakutan akhirnya memutuskan untuk mundur. Mereka melompat ke belakang, tubuh mereka kembali menghilang ke dalam kegelapan. Rencana awal untuk menguji Feiyan berubah jadi keinginan untuk segera pergi. Apa pun yang baru saja mereka lihat bukan sesuatu yang ingin mereka hadapi lagi.
Feiyan mencoba berdiri, tubuhnya masih terhuyung. “Tunggu!” Ia memaksa langkah maju, namun lututnya hampir runtuh. “Siapa kalian? Kenapa—”
Tidak ada jawaban. Kedua penyerang menghilang begitu cepat, seolah mereka tidak pernah berada di sana. Hening kembali menyelimuti lembah, tapi hening itu bukan hening yang aman—ada sesuatu yang terasa menggantung, seperti bayangan yang menolak pergi.
Feiyan memegangi dada, napasnya masih kacau. Ia memandang langit. “Apa… benar hanya angin?” Bisikannya pelan, hampir tidak terdengar.
Ia meraba area belakang punggungnya, tempat retakan hitam itu tadi muncul. Kulitnya dingin. Ada sensasi halus di sana—bukan luka, bukan rasa sakit, tetapi semacam getaran tipis yang tidak bisa dijelaskan. Seolah ruang di sekitar tubuhnya masih belum stabil.
“Aku takut…” Ia mengakui itu dalam hati, sesuatu yang jarang ia lakukan. “Tapi aku juga… tidak mengerti apa yang sebenarnya dikejar oleh semua orang…”
Ia memejamkan mata sebentar, mencoba menenangkan diri.
Di atas tebing, Ru Lan akhirnya melangkah mundur. Bayangan di sekelilingnya menipis, lalu berkumpul lagi di bawah telapak kakinya. Aura dingin merembes dari setiap gerakannya.
Ia tidak memanggil kembali bawahan yang gagal. Ia tidak terlihat marah sedikit pun. Justru ada ketertarikan baru yang memuncak di matanya.
“Kau hampir mati,” ucapnya lembut, seolah berbicara pada sesuatu yang jauh di bawah sana. “Tapi kau tidak mati.”
Ia menyentuhkan ujung jarinya ke udara. Kabut tipis berkumpul, membentuk garis melengkung, menirukan bentuk retakan ruang yang ia lihat sebelumnya.
“Sebuah Void Crack (retakan kecil dalam ketiadaan) … muncul saat anak itu terpojok. Itu bukan kebetulan.”
Ia turun satu langkah dari tebing, lalu berhenti. Tidak melompat, tidak mendekat. Ia hanya berdiri, menatap lembah seolah sedang memetakan alur nasib seseorang.
“Feiyan…” Untuk pertama kalinya nama itu keluar dari bibirnya. “Apa yang tersembunyi dalam tubuhmu?”
Perempuan itu memejamkan mata sejenak. Ketika ia membuka mata lagi, tatapannya tajam seperti pisau yang baru diasah. Angin malam menggigil di sekitarnya, seolah dingin itu datang dari dirinya.
“Anak itu harus diawasi.”
Ia memutar tubuh, jubah hitamnya berkibar pelan. Setiap langkahnya meninggalkan getaran halus pada udara, seperti bayangan yang sedang menutup mata untuk berpikir.
“Kalau retakan itu muncul lagi…”
Ru Lan berhenti, menatap rembulan di atas sana.
“…aku pribadi yang akan turun tangan.”
Di bawah tebing, Feiyan akhirnya merosot ke tanah, memeluk lutut sambil mencoba menenangkan napas. Malam terasa lebih panjang dari biasanya. Ia merasa diawasi, meski tidak bisa melihat siapa pun.
“Aku hanya… ingin kuat,” ucapnya lirih. “Tapi kenapa harus seperti ini…?”
Ia tidak tahu bahwa jauh di atas sana, Ru Lan masih memandangnya, mata perempuan itu berkilat seperti kilau logam dingin.
“Void… dalam tubuh anak itu?” bisiknya, sangat pelan namun penuh intensitas.
Cahaya bulan melewati wajah Ru Lan, memperjelas garis dingin di sudut bibirnya. Dalam diam, ia sudah membuat keputusan: Lin Feiyan bukan lagi sosok kecil yang bisa diabaikan.
Ia adalah teka-teki—dan Ru Lan akan menjadi orang pertama yang membukanya.