Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Clubing
Keira, Livia, dan Nolan masih berjalan santai menuju parkiran sambil ngomongin rencana malam ini.
Livia nyeletuk, “Eh, malam ini jadi kan kita ke Eclipse Club? Katanya lagi ada DJ dari luar negeri, loh.”
Nolan langsung menjerit kecil sambil tepuk-tepuk pipinya. “Aduh, jangan bilang batal ya, Beb? Aku udah dandan dari sekarang nih. Rencana mau pakai kemeja transparan sama celana ketat warna perak—biar nyala kayak disco ball!”
Keira ngakak sampai nunduk. “Kamu yakin, Nol? Nanti kamu bukan nyala, tapi dikira lampu darurat!”
Nolan manyun pura-pura tersinggung. “Ih, sombong banget! Kamu pikir aku nggak bisa jadi center of attention gitu?”
Livia nyeletuk, “Bisa sih, tapi lebih ke center of keributan.”
Keira dan Livia ngakak bareng.
“Ya ampun kalian tuh jahat banget!” seru Nolan dramatis sambil mengibaskan tangan.
“Tapi serius, Kei, kamu ikut kan? Jangan bilang mau rebahan doang kayak minggu lalu.”
Keira menarik napas. “Ikut lah. Minggu lalu aku di rumah karena Aiden pulang jam satu pagi habis balapan. Sekarang gantian aku yang keluar malam.”
Nolan langsung menepuk dada bahagia. “YES! Mama Keira akhirnya turun gunung! Udah lama banget kamu nggak party, Beb. Jangan sampai nanti kamu malu-malu kayak anak magang ya, ntar aku cubit!”
Keira menyipitkan mata. “Cubitin dulu gajimu sendiri, Nol.”
Livia ngakak. “Serius, malam ini bakalan rame banget! DJ-nya katanya ganteng parah.”
Nolan langsung nyeletuk, “Ganteng mah lewat. Yang penting lighting-nya bagus buat selfie!”
Tak lama, mereka sampai di parkiran.
Keira membuka mobilnya, Nolan langsung bercermin di jendela.
“Aduh, aku tuh pengen banget punya kulit kayak Pak Ethan. Kinclong banget, kayak habis digosok pakai body scrub berlian.”
Keira menggeleng geli. “Astaga mulut kamu, Nol!”
Nolan menoleh dramatis, ekspresinya lebay. “Say… mukanya tuh kayak hasil editan Tuhan pas lagi niat. Dingin, tapi seksi. Kalau dia nyuruh aku bikin kopi, aku rela giling bijinya pakai dengkul!”
Keira ngakak. “Dasar banci ngelantur!”
“Eh tapi serius,” sela Livia. “Pak Ethan ganteng banget, Keira. Aku yakin kamu juga terpesona.”
Keira cuma nyengir. “Ganteng sih, tapi belum tentu bisa sabar ngadepin karyawan kayak aku.”
Dari kejauhan, Ethan memperhatikan mereka diam-diam.
Ketika Keira tertawa lepas karena ulah Nolan, pandangan Ethan tak bisa berpaling.
Ada sesuatu di tawa itu—hangat, jujur, dan membuatnya candu.
Lalu pandangan mereka bertemu.
Keira mendadak kaku, matanya membesar. "Astaga… kok dia ada di sini sih?! Semoga dia nggak denger omongan aku barusan." batinnya.
“Kenapa kamu, Kei?” tanya Nolan sambil ikut melirik ke arah Keira menatap. “Oh my God, itu Pak Ethan! Astaga dia ngelihat ke sini! Aku belum dandan, Keira! Mukaku kayak spons cuci piring kering!”
Keira panik. “Diam, Nol! Jangan berisik!”
Nolan malah ngakak keras. “HAHAHA! Gila, kamu makin panik makin tolol!”
Ethan yang memperhatikan dari jauh justru tersenyum tipis—nyaris tak terlihat.
Lalu ia berbalik masuk ke mobil, meninggalkan Keira yang berdiri bengong dengan wajah memerah.
Keira memegang dadanya pelan. “Ya Tuhan… kok aku deg-degan gini.”
Nolan menepuk bahunya dramatis. “Selamat ya, sayang. Mulai hari ini kamu resmi terjerat pesona Pak CEO Ethan!”
“Udah ah, aku duluan, takut bus-nya keburu jalan,” ujar Livia sambil melambaikan tangan.
“Aku nebeng Keira aja!” seru Nolan, sambil melambaikan tangan kayak host acara gosip sore.
“Loh, sejak kapan kamu nebeng aku?” Keira melotot.
Nolan cengar-cengir. “Sejak motor aku disita satpam, Say. Katanya parkir ngaco. Padahal aku cuma nyempil dikit di depan mobil HRD.”
“Nyempil apaan? Itu namanya ngejepit mobil orang!” Keira ngakak.
"Abisnya waktu itu parkiran penuh, Say. Jadi ya udah aku parkir motorku di sana." sahut Nolan santai.
Keira sampai geleng-geleng. “Ya ampun, Nol, kamu emang paling niat bikin masalah.”
...----------------...
Interior mobil hitam itu sunyi, hanya suara mesin yang halus memecah udara malam kota.
Ethan duduk di kursi belakang dengan jas terbuka, dasinya sedikit longgar, matanya masih menatap kosong ke luar jendela. Lampu jalan memantul di iris kelamnya—bayangan Keira yang tertawa di parkiran tadi masih berputar di kepalanya.
Rowan, yang kini duduk di kursi sopir, sesekali melirik lewat kaca spion. “Bos,” panggilnya pelan.
Ethan tak langsung menjawab.
“Bos?” ulang Rowan, kali ini sambil melambaikan tangan kecil di depan spion.
Ethan menoleh sedikit. “Apa?”
Rowan tersenyum kecil, nada bicaranya berubah dari sopan jadi lebih santai—jauh dari gaya formal asisten kantor.
“Bos, malam ini anak-anak ngajak ngumpul di Eclipse Club. Katanya mau reuni kecil-kecilan geng Dominion. Bos harus ikut, dong. Kan Bos ketuanya.”
Begitulah Rowan, karena dia bukan sekedar asisten Ethan melainkan sahabat geng di Dominion.
Ethan menatap Rowan datar. “Gue sibuk.”
Bahasa Ethan juga jauh dari kata formal jika di luar kantor.
Rowan ngakak pendek. “Sibuk apa? Sibuk mikirin Bu Keira?”
Tatapan Ethan langsung menusuk ke arah spion. “Mulut lo mau gue jahit?”
Rowan buru-buru mengangkat tangan kiri, setengah tertawa. “Santai, Bos. Gue cuma nanya, nggak nuduh.”
Ethan bersandar, tangannya mengetuk-ngetuk lutut. “Dominion masih suka nongkrong di sana?”
“Ya iyalah,” jawab Rowan santai. “Tempat itu udah kayak markas tetap. Si Dante sama Rama malah udah booking area VIP, katanya cuma bakal ramein anak inti aja.”
Ethan menghela napas pelan, menatap ke luar jendela yang dipenuhi cahaya neon. “Dante masih suka bikin ribut?”
Rowan nyengir. “Namanya juga Dante. Kalau nggak bikin ribut, bukan dia. Tapi sekarang udah lebih kalem kok. Dia buka bengkel bareng anak-anak, lumayan sukses.”
Ethan hanya mengangguk tipis.
Beberapa detik hening, lalu Rowan kembali bicara, kali ini dengan nada yang lebih akrab. “Bos, udah tujuh belas tahun, loh, sejak terakhir kali kita nongkrong bareng semua anggota. Gila, waktu cepet banget. Dulu kita cuma anak motor yang doyan ribut di jalan, sekarang lo jadi CEO. Gue aja masih nggak nyangka.”
Ethan menatapnya dari spion, wajahnya datar tapi mata sedikit melembut. “Kita nggak berubah, Row. Cuma main di arena berbeda.”
Rowan terkekeh, lalu menyalakan musik pelan dari radio mobil. “Ngomong-ngomong, anak-anak bakal seneng banget kalau lo nongol. Lo tau kan, mereka semua masih nganggep lo legenda.”
Ethan menatap gelap malam di luar.
Ia ingat masa-masa mudanya—raungan motor, bau bensin, udara malam yang dingin. Dan, tentu saja, satu malam di Eclipse Club… malam di mana semuanya berubah.
“Mungkin nanti gue mampir,” ucapnya pelan.
Rowan menoleh cepat, senyum lebar di wajahnya. “Serius, Bos? Wah, anak-anak bakal heboh banget, sumpah.”
Ethan kembali bersandar, menutup mata sejenak. “Kalau gue dateng bukan buat nostalgia. Gue cuma mau tahu… siapa aja yang masih setia sama nama Dominion.”
Rowan tersenyum kecil, nada hormat tapi juga penuh kebanggaan. “Masih banyak, Bos. Karena selama lo masih ada, Dominion nggak bakal mati.”
Ethan hanya mengangguk tipis, tapi di wajah dinginnya terselip satu ekspresi samar—campuran rindu dan harapan akan kehadiran seseorang.
...----------------...
Suara hair dryer dan musik dari kamar Keira menggema ke seluruh rumah. Keira berputar di depan cermin sambil dandan heboh. Dress hitamnya pas di badan, rambutnya dicatok rapi. Ia tampak puas dengan hasilnya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka—Aiden muncul dengan ekspresi datar, memegang gelas susu. “Serius, Mama mau pergi pake baju segitu... terbuka?” katanya dingin, menatap ibunya dari ujung kaki sampai kepala.
Keira menatap balik lewat cermin. “Hei, gue masih muda, oke! Jangan bilang terbuka, ini namanya elegan seksi. Lagi pula Mama mau clubing, bukan pengajian!”
Aiden menatap ibunya tanpa ekspresi. “Mama yakin nggak malu kalau nanti orang kira Mama tante-tante haus perhatian?”
Keira langsung menoleh cepat. “Aiden Rhys! Mulut kamu tuh kayak siapa sih?! Eh—jangan bilang belajar dari Nolan, ya?”
Aiden mengangkat bahu cuek. “Belajar dari Mama.”
Keira mendengus. “Dasar anak kurang ajar. Nih ya, Mama cuma mau healing dikit. Jangan banyak protes! Kamu di rumah aja, jangan keluyuran, jangan balapan, jangan bawa geng kamu itu nongkrong di depan rumah!”
Aiden memutar bola matanya. “Tenang aja, Ma. Aku bukan anak kecil.”
“Bukan anak kecil? Tapi tiap malam masih minum susu! Nih, Mama tinggal bentar aja, jangan bikin ulah. Kalau rumah kebakar, Mama bakar kamu beneran, paham?!”
Aiden mengangguk malas. “Ya, ya. Paham. Tapi... jangan mabuk lagi, Ma. Kemarin aja Mama nyanyi ‘Cinta Karena Cinta’ di ruang tamu sampai tetangga kirain ada dangdutan.”
Keira langsung memukul pelan lengan anaknya dengan tas kecil. “Kurang ajar! Kamu diem aja sana! Nih Mama pergi biar otak Mama nggak meledak ngurusin kamu terus!”
Aiden hanya menatap ibunya yang sudah sibuk ngambil parfum dan tas.
Sebelum keluar, Keira sempat menunjuk Aiden dengan gaya emak-emak galak, “Kalo Mama pulang dan rumah berantakan, siap-siap aja kamu mama panggang bareng motor kamu itu!”
Aiden mengangkat tangan datar. “Noted, Komandan.”
Keira mendengus, lalu berbalik sambil menahan senyum. “Dasar anak es batu.”
Lalu ia keluar rumah dengan langkah percaya diri, heels-nya berketuk nyaring di lantai, meninggalkan Aiden yang hanya geleng-geleng sambil menghela napas panjang.
"Untung sayang." gumam Aiden meminum susunya sambil berjalan ke kamarnya.
...****************...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪