PERHATIAN!!! 19++
DEWASA
FANFICTION
MADAHINA (Madara & Hinata)
Menceritakan seorang pria bernama Madara Uchiha yang memiliki dendam pada mantan kekasihnya bernama Hikari Hyuuga yang sudah menghianati cintanya demi Hiashi Hyuuga. Dendam itu makin menjadi setelah Hikari memiliki putri yang bernama Hinata.
Dendam Madara tertuju pada Hinata, dia ingin menunjukkan bahwa dia juga bisa melawan Hiashi. apakah Hinata akan mendapatkan kebahagiaan atau penderitaan? Ataukah Madara malah mencintai Hinata dengan seoring berjalannya waktu?
By
Ucu Irna Marhamah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERHATIAN
"Apa-apaan ini! Di klan Uchiha tidak ada perayaan ulang tahun! Aku tidak suka" bentak Madara sambil melepas balon yang dia pegang.
Hinata terlihat sedih.
"Kita Uchiha bukan anak kecil! " Madara semakin meninggikan volume suaranya.
Hinata membungkukkan badannya pada Madara. "Maafkan aku"
Hinata pun berlari menjauh. Obito terlihat iba dan merasa bersalah pada Hinata.
Obito mendekati Madara. "Kenapa kau melakukan itu Madara! "
"Apa pedulimu!! Dia istriku!!"
"Aku bertanya seperti ini karena dia isterimu! "
Madara menarik bagian depan baju Obito. "Jadi sekarang kau berani padaku! "
Rin ketakutan melihat amarah dua lelaki didepannya.
"Aku memang tidak berani padamu! Tapi aku lebih tidak berani melihat gadis tak tahu apa-apa kau sakiti! "
Madara mendorong Obito hingga dia terpundur. Rin membantu Obito.
"Sekarang tolong cari dia, usianya lebih muda dariku, dia pasti tertekan.. Bahkan bisa saja dia bunuh diri" kata Rin pada Madara.
"Aku mau istirahat, lebih baik kalian pergi dari mansion ku! "
Madara berlalu kekamarnya untuk beristirahat.
Perlahan Madara membuka matanya dan melihat kesampingnya, tidak ada siapapun di ruangan kamarnya hanya ada dirinya.
"Dimana gadis itu? " perlahan dia beranjak dari ranjang yang berukuran kingsize itu dan mencari Hinata.
"Untuk apa juga aku mencarinya, dia selalu merepotkan"
Madara akan menuruni tangga tapi dia melihat pintu balkon terbuka. Dia berjalan kesana dan melihat Hinata berdiri membelakanginya.
"Hinata, apa yang kau lakukan disini?! "
Hinata membalikkan badannya menghadap Madara.
"Terimakasih dan Maafkan aku.. " katanya sambil membungkukan badannya.
Madara heran melihat tingkah Hinata.
"Terimakasih selama ini Madara -kun selalu menerimaku sebagai istrimu meski kau terpaksa menikah denganku.. Dan maafkan aku karena selama ini aku selalu merepotkanmu.. Sebenarnya aku menyukaimu. Tapi aku tidak bisa memaksamu.. Selamat tinggal.. Madara -kun "
Hinata mundur dan menjatuhkan dirinya kebawah.
"Tidak! Jangan! Kau tidak boleh mati!! " teriak Madara.
"Hhhhhh" Madara terhenyak ditempat tidurnya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
Mimpi barusan terasa nyata bagi Madara. Jantungnya seakan meloncat karena kaget.
"Tidak.. Tidak.. Dia tidak boleh mati"
Madara beranjak dari ranjangnya dan mencari Hinata dibalkon. Tidak ada Hinata disana. Dia menengok kebawah siapa tahu Hinata sudah meloncat saat dia sedang tertidur.
Ucapan Rin membuat Madara cemas. Jika iya Hinata bunuh diri, bagaimana?
Madara segera mencari Hinata keseluruh ruangan di mansionnya.
"Untuk apa juga aku mencarinya seandainya dia mati, tidak ada pengaruhnya untukku, tapi kenapa aku tidak bisa membiarkannya mati" batin Madara.
Langkah Madara terhenti setelah melihat Hinata duduk ditepi kolam renang dengan kedua kaki diselonjorkan kedalam air.
Madara segera menghampirinya. "Kenapa kau disini? "
Tidak ada jawaban. "Jangan -jangan dia hantu.. " batin Madara.
"Hinata " Madara memegang pundak Hinata. Terasa dingin. Madara menelan air liurnya. "Dia hantu" batin Madara.
Madara mengangkat dagu Hinata dengan telunjuknya agar melihat dirinya. Madara terkejut melihat mata Hinata yang sembab.
"Dia menangis" batin Madara.
"Hinata cepat masuk.. Disini dingin"
"Maafkan aku selalu merepotkanmu dan terimaka... ".
"Cukup! Jangan mengatakan itu, kau tidak boleh bunuh diri dikolam ini"
"Bunuh diri? "
"Pokoknya masuk"
Madara menarik tangan Hinata. Hinata beranjak dari duduknya dan menuruti Madara.
"Aw" ringis Hinata saat Madara memegang tangannya yang terluka. Madara melihat luka itu.
"Katakan ini kenapa? "
"Aku.. Aku ceroboh waktu mencopot bu..bunga di..dikamar"
"Madara mendengus. "Kau menangis karena aku kan? Dengar Hinata mulai hari ini jangan melakukan hal yang kekanakan. Aku tidak suka. Mengerti? "
Hinata terlihat sedih kemudian mengangguk. "Ma..maaf aku..aku hanya ingin memberikan ke..kejutan, aku..aku tidak tahu kkkauu akan marah"
Madara terlihat bingung harus bilang apa. Dia tidak mengira Hinata begitu peduli padanya.
"Darimana kau tabu hari ini hari ulang tahunku? "
"Dari Obito-kun"
"Jangan panggil dia dengan sebutan KUN"
"Ma.. Maaf"
"Ayo tidur, ini sudah tengah malam"
♡♥♡♥♡♥♡
Hari mulai pagi
Perlahan Hinata membuka matanya dan melihat Madara masih tertidur lelap.
"A..apa aku harus membangunkannya? Ini sudah pukul 7"
Hinata memegang bahu suaminya. "Madara -kun..sudah pukul 7, apa kkau tidak akan ke kantor? "
Hinata merasakan suhu badan Madara meningkat dia memegang kening suaminya.
"Hhh.. Kkkau demam" Hinata segera membawa kompresan dan membenarkan posisi tidur Madara agar terlentang.
Hinata pun meletakkan kompresan itu dikening Madara.
Madara terbangun karena merasa sesuatu yang dingin menempel didahinya. Dia melihat Hinata yang menatapnya dengan cemas. Hinata menyelimuti badan Madara.
"Kenapa Hinata? "
"Kkau demam.. Apa.. Kkau tidak menyadarinya? "
"Bukan.. Maksudku kemarin aku membuatmu sedih dan menangis, tapi kenapa kau masih peduli padaku? "
Hinata mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Madara.
"Se..sekarang kan kkau su..suamiku. Me..meski kau ti..tidak menyukaiku, aku..aku harus menjalankan kewajibanku.. La..lagipula yang kemarin itu ke..kesalahanku"
Madara sangat kesal dengan perasaannya yang terasa bercampur aduk. Hinata terus mengganti kompresannya.
Smartphone Madara berdering. "Tolong angkat" kata Madara.
Hinata mengangkat panggilan dari klien Madara. "I..ini da..dari Obito -kun "
"Jangan panggil dia KUN... Tanya saja untuk apa dia menelepon"
Hinata terlihat bercakap-cakap dengan orang disebrang sana. Hinata pun mengakhiri panggilannya.
"Di..dia bilang ada kepentingan di kantormu.. Kkau ha..harus datang"
"Lalu kau bilang apa? "
"Kubilang kkau sedang sakit "
"Kan ada kau, pergilah ke kantorku"
"Ta.. Tapi kau.. "
"Kau peduli padaku kan Hinata? Jadi pergilah.. Aku bisa mengurus diriku sendiri "
"Kkau yakin? "
"Iya, sekarang kau Uchiha, kau berhak memegang perusahaanku untuk sementara"
"Ha..hati-hati dirumah ya, ji..jika membutuhkan se..sesuatu hubungi aku ya"
Hinata pun berlalu. Madara menghela napas berat. "Dia memang mencintai ku"
Sesampainya di kantor Uchiha, banyak karyawan yang menyapa Hinata.
"Selamat siang Ny. Uchiha " sapaan itu yang sering didengar Hinata yang membuat pipinya merona.
Hinata kagum dengan perusahaan Uchiha yang besar sekali. Hinata memasuki ruangan suaminya yang hampir seluruh dindingnya terbuat dari kaca.
Asistennya Madara memasuki ruangan Madara.
"Ny. Uchiha, saya Molly asistennya Tn. Uchiha. Apa ada yang bisa saya bantu? "
"Panggil klien Tn. Madara "
"Baik"
♡♥♡♥♡♥♡
Obito dan Uchiha lainnya datang keruangan rapat bersama klien dari Uzumaki, Yamanaka, dan Nara.
Mereka pun duduk dikursi yang sudah disediakan. Hinata memasuki ruangan tersebut.
"Ah? Kenapa Madara Uchiha jadi cantik begitu? "
"Ah? Madara? Kenapa kau terlihat langsing? "
Hinata terkejut mendengar ucapan klien suaminya itu.
"Ti.. Tidak.. Aku bukan Madara -kun.. Aku Hyuuga Hinata.. Ah.. Bukan-bukan, aku Uchiha Hinata istrinya Uchiha Madara.. Mari kita mulai saja rapatnya Tn"
♡♥♡♥♡♥♡
Madara menatap langit-langit kamarnya. "Jika aku terlalu baik, aku tidak bisa membalas dendam"
"Aargghh ini menyebalkan! "
Terdengar suara pintu diketuk. Madara menoleh. "Masuk"
Hinata pun masuk sambil membawa nampan berisikan semangkuk bubur dan segelas susu coklat.
"Bagaimana Hinata? "
Hinata duduk ditepi ranjang kemudian menyimpan nampan ke meja disamping ranjang. "Rapat klien "
"Jadi begitu "
"Silakan dimakan" Hinata memberikan mangkuk itu pada Madara.
Madara menatap Hinata penuh arti.
Hinata tidak mengerti dengan arti tatapan itu.
"Kau tidak lihat aku sedang sakit? "
"Ma.. Maaf"
Hinata menyuapi Madara. Dengan santai Madara menerima suapan Hinata. Setelah buburnya habis, Hinata memberikan obat dan susu coklat.
"Kenapa susu coklat? "
"Ka..karena aku menyukai coklat, ku..kupikir Madara -kun suka"
"Aku suka"
"Le.. Lebih baik Madara -kun istirahat"
By
Ucu Irna Marhamah
Sukses iya untuk karyanya.
Jangan lupa mampir di karya pertamaku, yang menceritakan seorang cowok letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
tapi nama tokohnya itu lo
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘
ijin promo ya kakak
mampir di novel ku
"AKU WANITA KUAT"
naksir ibunya kok malah jdi mantu😥
ika widya