Apa yang sudah digariskan oleh takdir maka tak ada yang bisa mengubahnya.
Vevina, gadis imut dengan segala pemikiran nya yang random serta tingkah nya yang konyol tapi menyimpan rasa sakit hati atas cinta pertama yang salah.
Luke, seorang aktor muda multitalenta didunia industri hiburan. Terkenal akan keramahan dan wajah tampan nya namun sangat tertutup rapat akan kehidupan pribadi nya terutama akan cerita tentang masa lalu nya.
Sempat terpisah jauh sampai takdir kembali mempertemukan mereka dengan cara nya..!!
Akan kah takdir bisa menyatukan mereka dan berdamai dengan masa lalu yang ada??!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenariansy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali..
Setelah menempuh jarak yang tak terlalu jauh antara cafe dan toko, kini mereka telah sampai dan Yuna pun memarkirkan mobilnya dan melirik ke kursi samping dimana Vina masih terlelap.
Setelah mengantarkan apa saja makan dan minuman yang mereka beli tadi kedalam toko, Yuna kembali lagi ke mobil untuk membangunkan Vina namun yang hendak dibangunkan ternyata sudah tidak ada didalam mobil.
“Ehh.. Kemana itu anak?"
Yuna dibuat kebingungan kemana gerangan Vina yang tiba-tiba saja menghilang dari dalam mobil, tak mau memusingkan hal tersebut Yuna pun kembali kedalam toko siapa tau Vina sudah masuk kedalam toko saat dia mengantarkan kopi dan beberapa kue yang mereka beli tadi.
Dan benar saja disaat dirinya sedang melintasi ruang pantry dirinya berpapasan dengan Vina yang baru saja keluar dari toilet didekat pantry.
“Eh ni anak munculnya disini rupanya!!” omel Yuna.
“Hehehe.. Nyariin ya?” Cengir Vina
Yuna tak menanggapi ocehan Vina dan berlalu menuju meja kasir didepan, Vina mengikuti dari belakang sambil menyeruput segelas kopi yang tadi dia ambil dari pantry tak lupa juga menenteng kotak kue yang tadi mereka beli untuk dibawa kemeja biasa gunakan untuk merangkai bunga.
“Haiiii... Semuanya, selamat pagi. Ini aku bawa kue dan juga kopi tapi ambil sendiri di pantry tanganku gak bisa bawa semuanya ni.” Vina mengangkat tangan nya yang penuh menenteng kotak kue dan gelas kopinya.
“Selamat pagi juga, terima kasih boss” jawab mereka serentak.
Yang mana membuat Vina tergelak karena merasa lucu melihat para pegawainya serentak mengucapkan terima kasih walau tanpa dikomando. Yuna juga tersenyum melihat interaksi mereka dari meja kasir dengan tangan yang sibuk dengan tabletnya untuk mengecek pekerjaan serta orderan apa saja yang punya untuk hari ini selesaikan.
...----------------...
Sedangkan dibelahan dunia yang lain.
Luke tengah menyelami dunia mimpi didalam kamar pribadi yang tersedia didalam pesawat pribadi tersebut. Nampak keringat membasahi wajah hingga tubuhnya, masih dalam posisi tidur tubuh Luke bergerak-gerak gelisah dan juga napas yang tersengal sepertinya Luke sedang mengalami mimpi buruk, tak lama dia terbangun dengan berteriak memanggil sang mamah.
Lama terdiam dalam posisi duduk setelah terbangun dari mimpi buruk dengan napas yang masih memburu dan nampak juga ada lelehan air mata yang mengalir dipipi, ingatannya sekarang dibawa kembali ke masa merasakan pahitnya kenyataan dan ditinggalkan orang yang paling dia sayangi.
Ditengah-tengah lamunannya tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar yang dari tadi iya hiraukan, Luke masih diam sambil mengatur nafasnya.
“Bagaimana Ann, apa dia baik-baik saja?” tanya Edo.
“Aku rasa dia baik-baik saja, biarkan saja dia sendiri dulu.”
Anna berusaha menenangkan para anggota team yang ada disana. Anna sendiri sebenarnya merasa khawatir dengan keadaan Luke yang tiba-tiba saja berteriak dari dalam kamar, tapi dia berusaha untuk bersikap tenang agar tidak membuat yang lain semakin panik.
“Sebaiknya biarkan Luke tenang dulu. Mungkin dia bermimpi buruk tadi, yah kita tau sendiri bagaimana tiga bulan ini kita sudah bekerja keras dan dia pasti yang paling stres diantara kita semua disini.” ujar Edo panjang lebar.
“Iya, aku rasa juga begitu. Tapi jujur saja aku pasti akan merindukan perjalanan kita selama ini nantinya” ungkap salah satu anggota team yang lain.
Anna hanya menyimak obrolan para anggota team yang lain tanpa berminat untuk ikut dalam obrolan mereka seraya beristirahat di ruangan tengah di bagian pesawat tersebut. Anna sendiri sedang duduk salah satu bangku yang bisa dijadikan tempat tidur jika ditarik bagian kaki nya, yang mana letaknya persis di seberang depan pintu kamar pribadi yang ada di pesawat tersebut.
Anna pun mencoba untuk melanjutkan tidurnya lagi, Anna menarik napas dalam sambil melirik jam yang melingkar ditangan kanan nya.
“Tinggal beberapa jam lagi kita akan sampai dan pulang, aku harap kamu baik-baik saja Luke.”
Gumam Anna seperti sedang berbisik pada dirinya sendiri, sambil terus menatap pintu kamar Luke yang masih tertutup rapat.
...----------------...
Kembali kepada Vina yang sedang larut dengan kesibukannya yang sedang memilih dan menggunting tangkai-tangkai bunga yang akan dirangkainya.
Begitu pun dengan Yuna pun sedang sibuk dengan tabletnya dibalik meja kasir, dia sedang menghitung dan membuat laporan pemasukan dan pengeluaran toko tersebut.
Tanpa mereka sadari ada seorang pria muda yang masuk kedalam toko mereka, seorang pegawai bernama Sara pun segera melayani pria tersebut, setelah bertanya apa yang pria itu butuhkan Sara pun menawarkan dan menjelaskan beberapa macam bunga yang mungkin sesuai dengan apa yang pria itu cari.
Yuna yang tak sengaja mendengar Sara dan pria tersebut pun dibuat penasaran karena sepertinya pria tersebut tampak kebingungan diantar beberapa pilihan bunga yang Sara tawarkan, Yuna pun bangun dari duduknya dan menghampiri keduanya.
Sesaat Yuna sempat merasa tak percaya saat melihat pria yang bersama Sara, namun Yuna berusaha untuk bersikap biasa dan mencoba berdamai dengan rasa grogi yang tiba-tiba datang tanpa permisi. Lalu Yuna pun berusaha menyapa dengan ramah, Walau pun saat ini detak jantung Yuna terasa berdetak berkali-kali lebih cepat.
“Maaf apa ada yang bisa ku bantu?” tanya Yuna yang berusaha tenang dan ramah.
“Nah mas nya silahkan tanya dan boleh meminta saran dengan boss mana yang lebih cocok sesuai kebutuhan. Masnya tenang saja boss ku ini, sudah cantik, baik hati dan gak pelit lho.. Eh boss ku juga jomblo hehehe" goda Sara kepada Yuna seraya tertawa jahil lalu segera meninggalkan kedua nya kesisi bagian lain dari toko tersebut.
Mendengar kata-kata Sara menggoda dirinya, hampir saja Yuna dibuat sesak nafas seketika.
Mendengar perkataan pegawai perempuan yang baru saja meninggalkan dirinya bersama Yuna membuat pria tersebut tertawa renyah yang terlihat manis menampilkan lesung pipinya seraya menatap Yuna. Seketika kaki-kaki Yuna terasa lemas layaknya jeli, jantung Yuna benar-benar tidak aman ini.
“Hai kamu Yuna kan” tanyanya ramah dengan mempertahankan senyum manisnya.
“Hah... Eh iya, hai juga hehe” belum apa-apa yuna sudah dibuat salah tingkah.
“Hmm... Maaf kalau aku merepotkanmu, aku sedang butuh beberapa bunga untuk bisa ditaruh didalam vas-vas kecil diatas meja, ohh astaga maaf bila aku sudah tak sopan. Aku Jeje, maaf aku tau nama mu karena aku sering melihatmu membeli kopi di cafe” Jeje mengulurkan tangan nya kearah Yuna.
Yuna pun menyambut tangan yang disodorkan untuk berjabatan tangan, dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa berkenalan langsung dengan Jeje yang tidak lain adalah barista yang selama ini telah menarik perhatian juga hati Yuna dengan senyuman manis nya dan juga racikan kopi nya yang seperti candu untuk Yuna.
Seandainya bisa rasanya Yuna ingin berteriak juga berguling-guling ria dikarenakan perasaan bahagianya yang menyesakan dadanya.
Tanpa Yuna dan Jeje sadari ada beberpa pasang mata yang sedang mengintip dari tempat mereka masing-masing sembari pura-pura sibuk dengan kegiatannya. Mereka sedari tadi memperhatikan dan berusaha mencuri dengar atas interaksi Yuna dan Jeje.
Vina yang kini berada dijarak yang tak terlalu jauh dari tempat Yuna dan Jeje berdiri itu pun berusaha untuk bisa mencuri dengar apa yang sedang Yuna dan Jeje bicarakan dengan berpura-pura mengambil beberapa bunga dari ember-ember kecil yang memang disediakan untuk menaruh bunga yang ada didekat Yuna berdiri.
Yuna pun sadar dengan kegiatan Vina yang berniat untuk menguping, Yuna berusaha tetap tenang didepan Jeje tapi saat Jeje berpaling atau berbalik untuk mengambil bunga yang iya inginkan.
Yuna pun melototkan matanya kearah Vina dan melemparkan benda-benda kecil yang bisa iya raih didekatnya dengan maksud menyuruh Vina untuk pergi dari sana. Sadar Yuna yang berusaha mengusirnya, membuat Vina pun kembali kemejanya dan melanjutkan pekerjaannya dengan bibir yang manyun.
......................
Disore harinya, Yuna dan Vina kini sudah berada didalam mobil dalam perjalan pulang kekediaman Vina. Yuna sudah berjanji untuk menginap malam ini dirumah Vina. Vina yang duduk disebelah Yuna yang sedang mengemudi sedang asik berselancar dimedia sosialnya sampai perhatiannya terpusat pada satu postingan yang begitu iya rindukan.
“Yeeiiiiii.... Anna pulaaaanggg!!!!!!!! Yuna, Anna pulang....”
Vina berteriak heboh dan secara reflek menggoyang-goyangkan tangan yuna yang sekarang baru saja memarkirkan mobilnya didepan garasi rumah keluarga vina.
Yuna pun tak kalah heboh mendengar berita yang vina sampaikan, sahabat mereka sudah kembali setelah lama bekerja diluar. Mereka segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah, didalam rumah sendiri tampaklah terlihat mbak jum dan beberapa orang lainnya sedang sibuk menyiapkan dan menata meja dihalaman samping yang akan digunakan untuk makan malam sesuai permintaan Jack.
Yuna dan Vina pun dengan sigap membantu mbak Jum untuk menyiapkan meja dan juga beberapa keperluan yang lain yang dirasa dibutuhkan untuk jamuan makan malam nanti, suasana rumah pun masih terlihat sepi hanya mereka dan beberapa asisten lainnya yang membantu.
...----------------...
Sedangkan di lokasi yang berbeda tampak para anggota team sang artis satu persatu pamit untuk pulang kediaman masing-masing, setibanya mereka tadi dijemput oleh mobil kantor untuk diantarkan kekantor dulu untuk beberapa keperluan dan setelahnya baru lah mereka membubarkan diri.
Luke dan Anna masih duduk disofa yang ada di lobby kantor tersebut, suasana kantor pun sepi karena memang sudah diluar jam kerja hanya ada beberapa karyawan yang lembur dan juga beberapa security yang berjaga. Luke masih menyandarkan kepalanya kesandaran sofa dengan menutup mata nya, Anna hanya memperhatikan tau kalau Luke sedang tidak baik-baik saja tapi Anna hanya diam saja. Bila sudah saatnya Luke sendiri pasti akan bercerita sendiri tanpa ditanya.
“Baiklah, kau mau ikut atau langsung kembali ke apartemen?” tanya Anna kepada Luke yang masih betah memejamkan mata nya.
“Aku ikutlah, aku sudah lapar” jawab Luke yang langsung bangun dari duduk nya dan berjalan keluar menuju mobilnya yang sudah terparkir tepat didepan lobby kantor.
Anna yang melihat itu pun dengan sigap bangun dari duduk nya dan berlari mengejar Luke, dalam hati nya merutuki Luke yang main pergi saja tanpa aba-aba.
"Giliran makan aja cepat bangunnya" kesal Anna seraya mengejar Luke yang sudah masuk kedalam mobil.
Luke sendiri sudah duduk di kursi penumpang disebelah kursi pengemudi, yang mana membuat Anna semakin kesal. Dimana mau tidak mau dirinya lah yang harus mengemudikan mobil tersebut dan Anna sangat tidak suka mengemudikan mobil apalagi harus menjadi supir seperti saat ini, Anna pun masuk dan duduk di kursi kemudi dengan muka masam dan ngedumel pelan sambil mulai menyalakan dan menjalan kan mobil tersebut menuju rumah orang yang sangat iya rindukan selama ini.
💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕💜
Terima kasih untuk dukungannya 💜borahe💜
panjang bnget narasi nya..
kok gk di pisah2